Selingkuh Berujung Santet

Selingkuh Berujung Santet
10. Syok


__ADS_3

Karena kaget, Luna pun spontan menoleh ke belakang.


"Akang?" ketusnya.


Ternyata orang yang mengetuk bahu Luna dari belakang barusan adalah tukang ojeknya.


"Huhhh ..." Luna bernapas lega karena bisa bertemu dengan tukang ojek lagi.


"Akang kemana aja?" tanya Luna penasaran.


Tapi tukang ojek sama sekali tidak meresponnya, ia hanya diam mematung dengan tatapan kosong.


"Kang? Kenapa? Kok diam?" tanya Luna sekali lagi.


"Bibir akang kok pucat?" lanjutnya.


Mendadak mata, hidung, dan telinga tukang ojek mengeluarkan darah yang mengalir deras tepat di hadapan Luna. Luna yang jelas-jelas melihatnya itu pun tercengang dan langsung berlari menyusul asap yang ia temui tadi, ia berlari kencang sambil sesekali melihat ke arah belakangnya. Tukang ojek itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari posisinya tadi dan anggota tubuhnya yang berlubang masih tetap mengeluarkan darah.


"Aku yakin itu pasti bukan akang tukang ojek!" ketusnya sambil berlari.


Setelah berlari sejauh dua ratus meter tanpa jeda, akhirnya Luna pun sampai di titik di mana ia menemukan asap tadi. Dan benar saja, di sana terdapat lima orang yang sedang menumbuk sesuatu di lesung yang besar, lesung itu tampaknya terbuat dari kayu.


"Permisi ..." ucap Luna memulai.


Ke lima orang tadi pun menghentikan aktivitasnya. Tatapan orang-orang tersebut lalu menyorot ke arah Luna.


"Saya sedang mencari rumah Mbah Ompong, saya tersesat dari kemarin. Apakah kalian bisa membantu saya?" ungkap Luna menjelaskan maksud dan tujuannya menghampiri lima orang tersebut.

__ADS_1


Dengan sigap orang-orang itu pun segera merespon pertanyaan Luna.


"Kalau boleh tau nak ini siapa dan dari mana ya?" tanya salah satu orang.


"Nama saya Luna, saya dari kota. Saya ke sini mau bayar tebusan sama Mbah Ompong, tapi dari kemarin saya malah tersesat bersama tukang ojek yang saya bawa nek." ungkap Luna menjelaskan ke semua orang di sana yang kebetulan ke lima orang tersebut adalah nenek-nenek.


"Sepertinya kamu sangat kelelahan, mampir ke rumah kami dulu yuk, nanti kami antar ke rumah Mbah Ompong." tawarnya dengan sopan.


Hati Luna senang sekaligus takut saat nenek-nenek itu menawari Luna untuk mempir ke rumahnya. Senang karena akhirnya ia bisa menemukan orang, dan takut karena khawatir nenek-nenek itu bukanlah manusia.


"Ayok nak." ajak nenek-nenek itu seraya berjalan menuju rumahnya yang berada tidak jauh dari sekitar sana.


Luna pun mengikuti dari belakang. Sambil berjalan, entah kenapa Luna merasa ragu-ragu untuk melanjutkannya, tapi karena tidak ada pilihan lain dan ingin segera pulang juga ia pun mau tidak mau mengikuti nenek-nenek itu. Dan tidak lama setelah itu, sampailah mereka di rumah yang mereka tuju.


"Mari masuk nak." ajak nenek-nenek itu ramah ke Luna.


Luna pun melangkahkan kaki masuk ke rumah itu dengan perasaan was-was.


Sebagian dari mereka pergi ke dapur menyiapkan air untuk Luna dan sebagiannya lagi bertanya dengan Luna kenapa ia sampai bisa tersesat di sana.


"Ee ... nak, kok sampai bisa tersesat di sini ya?"


Luna pun menjelaskan dengan panjang lebar kepada nenek-nenek itu kenapa ia sampai bisa tersesat di situ, mulai dari bertemu seorang pemuda yang memakai pakaian serba hitam, hingga ia bertemu tukang ojeknya yang tiba-tiba keluar darah dari mata, hidung, dan telinganya.


"Begini ya nak, kampung ini merupakan benar kampung tempat tinggalnya Mbah Ompong. Mbah Ompong itu memang sangat sakti, jadi jangan pernah macam-macam dengan beliau apalagi nak ini sampai lupa untuk membayar tebusannya. Tapi yang perlu nak tau, memang sudah menjadi rahasia umum di kampung ini kalau ada yang datang dengan niat jahat pasti akan di sesatkan." tutur salah satu nenek-nenek di situ.


"Niat jahat? Niat jahat gimana ya maksudnya nek?" tanya Luna kembali mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Banyak orang yang datang ke Mbah Ompong untuk memenuhi hasrat mereka yang kurang puas dengan dunia, ada yang ingin balas dendam seperti santet, pesugihan, bahkan susuk untuk memikat lawan jenis juga ada. Tapi selama niat jahatnya itu tidak dilangsungkan di kampung ini, ya aman-aman saja nak. Biasanya kalo ada yang berniat jahat mau dilangsungkan di kampung ini orangnya pasti mati. Jika nak sudah terlanjur tersesat seperti ini pasti ada niat jahatnya."


"Memang benar saya datang ke Mbah Ompong untuk balas dendam nek, tapi niat jahatnya itu tidak saya langsungkan di kampung ini kok. Buktinya aja saya masih selamat sampai sekarang." sanggah Luna dengan tegas karena merasa dirinya di tuduh punya niat jahat yang akan dilangsungkan di kampung itu.


"Sebentar nak, tadi naknya bilang pergi sama siapa ke sini?"


"Sama tukang ojek saya nek. Katanya dia juga udah sering ngantar orang ke sini buat ketemu sama Mbah Ompong."


"Begini ya nak, menurut penerawangan nenek orang yang kau bawa itulah yang berniat jahat untuk dilangsungkan di kampung ini, makanya kalian disesatkan. Dia berniat untuk memperkosa naknya karena naknya ini sangat cantik." ungkap nenek yang dari tadi bertanya dengan Luna itu yang sepertinya sakti juga.


Pernyataan nenek itu benar-benar membuat Luna tercengang sampai tidak bisa menggerakkan bibir untuk mengeluarkan kata-kata.


"Ee ... kata nenek tadi orang yang berniat jahat di sini akan mati? Berarti tukang ojek yang berdarah tadi itu sudah mati nek?" tanya Luna bergetar masih tidak percaya.


"Iya benar nak."


"Nek, bantu saya ya. Daun sirih sama paku yang saya bawa dari rumah kemarin untuk membayar tebusan ke Mbah Ompong, hilang pas saya bawa berlari." pinta Luna panik kepada nenek-nenek itu.


"Iya akan kami bantu kok nak. Sebaiknya nak minum dulu ya." sahutnya seraya memberikan air putih kepada Luna yang sepertinya sangat kelelahan. Luna pun meminum air itu dengan gesit karena memang ia sangat haus.


Setelah itu, Luna pun di antar oleh salah satu nenek-nenek di situ untuk membayar tebusannya ke tempat Mbah Ompong. Dan singkat cerita, ia juga di antar sampai jalan raya oleh neneknya tapi menggunakan sepeda dikarenakan kampung itu masih belum terlalu modern, sampai di jalan raya barulah Luna pulang dengan naik angkot menuju rumahnya.


Luna jera untuk datang ke tempat itu lagi, jera karena takut di ganggu oleh sosok-sosok kiriman Mbah Ompong, hingga masih trauma dengan tukang ojek yang ingin memperkosanya hingga mati dengan penuh darah.


***


Luna melangkahkan kaki masuk ke rumahnya. Keadaan rumah masih sama seperti biasa saat terakhir kali ia meninggalkannya untuk membayar tebusan. Luna mengalihkan pandangannya ke dinding dan melihat jam baru menunjukkan pukul satu lewat lima belas siang. Ia ingat betul bahwa ia berangkat waktu itu adalah sekitar jam satu siang pas pada tanggal sebelas Juni. Ia juga tidak lupa untuk mengecek kalender di rumahnya dan benar saja, tanggal masih berada di angka sebelas Juni. Seharusnya ia kembali ke rumah pada tanggal tiga belas Juni karena ia tersesat sampai dua hari di sana.

__ADS_1


Karena masih syok dan tidak percaya dengan apa yang di alaminya barusan Luna pun memilih untuk mengabaikannya saja lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi seraya menunggu Dito pulang dari kantor. Lagian juga dia sudah tau pasti setelah pulang dari kampung itu waktu hanya akan berputar sebentar.


"Sayang, aku pulang!" seru Dito yang baru pulang dari kantor.


__ADS_2