Selingkuh Berujung Santet

Selingkuh Berujung Santet
9. Asap


__ADS_3

"Ee ... gimana ya neng. Yaudah deh kita coba ketuk aja pintu gubuknya." ujar tukang ojek agak ketakutan.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun mengetuk pintu gubuk itu, tetapi tidak ada respon sama sekali.


"Aduuh, gimana ini kang. Mana udah gelap lagi." gerutu Luna juga sudah mulai khawatir.


Tukang ojek hanya diam pasrah tidak bisa berkutik, bibirnya pucat, hari sudah gelap sedangkan mereka sama sekali belum mendapat petunjuk. Tiba-tiba di tengah keheningan mereka yang terdiam, pintu gubuk yang terbuat dari kayu itu terbuka dengan sendirinya.


"Creeeet." Bunyi pintunya sama persis seperti saat mereka ke rumah Mbah Ompong pertama kali.


Bulu kuduk mereka mendadak berdiri dan hembusan angin dingin menusuk pori-pori kulit membuat mereka semakin merinding.


"Kang kita masuk aja yuk ke gubuknya, siapa tau orang tadi ada di dalam." ujar Luna sembari buru-buru mengambil HP yang ada di tas selempangnya untuk menghidupkan flash dikarenakan keadaan di sana sangat gelap gulita.


"Eneng yakin?" tanya tukang ojek ragu-ragu.


"Ya yakin lah kang, kita berusaha aja dulu, daripada cuma kita berdua di sini, udah gitu gelap gulita lagi." ucapnya seraya menyalakan flash.


"Yaudah deh neng, akang ikut aja." sahutnya berjalan di belakang Luna.


"Permisi..." ketus Luna saat sudah melangkahkan kaki masuk ke gubuk itu.


Setelah mereka telusuri, ternyata gubuk itu hanya sebesar persegi empat, dinding dan atapnya terbuat dari daun nipah, dan lantainya terbuat dari papan yang sudah hampir keropos. Mereka lihat sekeliling gubuk itu ada pelita yang sudah menyala.


"Tuh kang, ada pelita. Otomatis ada dong penghuninya." ujar Luna merasa lega.


"Iya sih neng, tapi dari tadi kok nggak ada penghuninya yang menampakkan diri ya."


"Yaudah gini aja deh kang. Sebenarnya saya tuh capek banget, ya mau gimana lagi saya harus membayar tebusan ke Mbah Ompong secepatnya, kalau nggak saya bayar nanti saya digangguin terus sama sosok-sosok yang mungkin aja itu suruhan Mbah Ompong, dia kan sakti. Kita malam ini nginap di sini aja deh kang dulu, besok pagi kalo udah terang baru kita cari lagi tempat Mbah Ompong." jelas Luna panjang lebar yang sepertinya sudah tampak kelelahan, karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.

__ADS_1


"Iya iya neng." balasnya singkat.


Malam itu mereka memutuskan untuk beristirahat di gubuk itu, mereka tidur berjauhan sekitar tiga meter.


"Aduuh Mas Dito pasti nyariin aku nih. Mau aku hubungi, sinyal nggak ada lagi." gumam Luna kesal dalam hati sekaligus merasa khawatir. Karena tidak ada jalan keluar lain lagi, ia pun secepatnya memejamkan mata untuk tidur, sementara tukang ojek tampaknya dari tadi sudah terlelap.


Sekitar sepuluh menit dari Luna memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara orang berjalan mengelilingi gubuk yang mereka tumpangi untuk beristirahat itu, suaranya terdengar sangat jelas. Luna yang spontan mendengarnya pun tercengang bukan main sampai tidak berani bergerak, namun karena takut ia pun memilih untuk mengabaikannya dan berusaha melanjutkan tidur.


Semakin Luna mengabaikan suara itu, semakin kencang suaranya. Keringat dingin bercucuran membasahi sebagian tubuh Luna, ia masih belum berani untuk membuka kelopak matanya. Kemudian dalam sekejap, suara orang berjalan itu hilang seketika. Luna pun bernapas lega setelah itu.


Namun ketenangannya itu tidak bertahan lama ketika terdengar lagi suara orang seperti mengesot di lantai gubuk itu. Jantung Luna seakan-akan ingin melayang saking kencangnya berdetak.


"Apa itu tukang ojek ya?" pikirnya.


Karena sudah kaku berbaring menghadap ke kiri, Luna pun memberanikan diri untuk mengubah posisinya ke sebelah kanan. Dan ketika ia tidak sengaja membuka mata, ia melihat ada sesosok kuntilanak sedang mengesot dari arah pintu mendekati mereka. Rambutnya panjang dan kusut, wajahnya rusak penuh darah, tapi tidak memiliki kaki.


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!" teriak Luna histeris ketakutan.


"Kenapa neng?!" tanyanya spontan.


"Ii-itu kang! ada kuntilanak mendekat ke kita!" Luna gemetaran tidak berdaya sambil menunjuk ke arah kuntilanak yang mendekat ke arah mereka itu.


"Astaghfirullah!!!" teriak tukang ojek juga.


Kuntilanak itu mengesot semakin mendekat ke arah mereka.


"Lari kang! Lari!"


Merekapun memberanikan diri untuk berlari keluar gubuk, mareka berlari sangat kencang sampai motor tukang ojek dan HP Luna pun ketinggalan di gubuk. Mereka berlari menembus hutan lebat yang tadi mereka lewati. Tapi malangnya mereka terpisah dan hilang jejak satu sama lain.

__ADS_1


Menyadari bahwa tukang ojek yang tadi bersamanya sudah tidak ada lagi di sekitarnya, tubuh Luna pun lemas dan jatuh pingsan tidak berdaya.


***


Luna bersikeras membuka matanya, dan saat matanya sudah terbuka ia mendapati dirinya tengah terbaring lemas di gubuk yang ia datangi kemarin bersama tukang ojek, yaitu gubuk yang terakhir kali ia melihat kuntilanak ngesot. Tapi anehnya, di gubuk itu hanya ada dirinya, ia tidak melihat ada tukang ojek di sana.


"Kenapa aku bisa sampai di sini lagi ya?" ketus Luna seraya membangkitkan tubuhnya yang sedang terbaring.


"Aww, kepalaku sakit banget."


"Kang? Akang tukang ojek? Akang di mana?" seru Luna memastikan tukang ojek apakah ada di sana."


Mengingat kemarin motor mereka mogok di tengah hutan lalu di bawa ke gubuk itu, ia pun berjalan melangkahkan kaki ke luar untuk melihat motor, khawatir tukang ojek meninggalkannya sendiri.


"Loh... Kok motornya nggak ada sih?!" ujar Luna panik.


"Ini juga kenapa sih aku ada di tempat ini lagi?! Apa semalam aku mimpi ya? Nggak ... nggak, gue yakin banget semalem gue nggak mimpi. Terus ini ngapain aku ke sini lagi. Woy siapapun kamu yang udah bawa aku ke sini cepetan balikin aku! Aku pengen pulang! Aku nggak suka di sini!" teriaknya marah.


"Mas Dito ... Mas Dito gimana ya di sana." Mendadak Luna mengingat Dito lalu mulai meneteskan air mata.


"Tolong! Gue pengen pulang!" teriaknya lagi sesegukan.


Karena tidak mau hanya diam saja, ia pun memilih untuk mencari jalan keluar meninggalkan gubuk itu. Luna kembali menyusuri hutan lebat dengan berjalan kaki, dan pakaian yang ia gunakan waktu terakhir kali pergi ke tempat itu sudah tidak berupa lagi.


Sekitar tiga puluh menit Luna berjalan ia belum sama sekali menemukan tanda-tanda kehidupan manusia di tengah hutan itu. Tidak menyerah begitu saja, ia lalu terus berjalan lagi sampai kira-kira memakan waktu sejam.


Keringat panas bercucuran membuat tubuh Luna mengeluarkan bau tidak enak. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada sebuah asap yang mengepul, dengan penuh keyakinan Luna pun semakin semangat berjalan menuju sumber asap itu berharap ada yang bisa menolongnya.


Dan benar saja, sekitar dua ratus meter mendekati sumber asap itu, ia melihat ada sekumpulan orang yang tidak jelas apa yang mereka lakukan, tapi yang pasti Luna yakin bahwa itu adalah benar orang.

__ADS_1


"Akhirnya ... aku ketemu juga sama orang di hutan ini." ungkapnya kegirangan lalu mulai melangkahkan kaki lagi.


Saat baru satu langkah ia berjalan, tiba-tiba dari belakang bahu Luna di ketuk oleh seseorang.


__ADS_2