Selingkuh Berujung Santet

Selingkuh Berujung Santet
6. Bermimpi


__ADS_3

"Mas setelah kamu talak perempuan itu kita bakalan nikah kan?" tanya Luna sembari membuka kancing bajunya saat sudah di oyo bersama Dito.


"Iya sayang, kita nanti bakalan nikah kok. Lagian juga buat apa aku mempertahankan Ana lagi, ia sudah tidak bisa memberiku apa-apa, hasrat biologis saja ia tidak bisa sejago kamu, dan sekarang masalah keturunan ia juga tidak bisa." jawab Dito menjelekkan Ana.


Dito yang berprofesi sebagai pengusaha pariwisata membuat Luna ingin sekali menikah dengannya. Bukan semata hanya karena mencintai Dito, namun juga ingin menguasai hartanya.


Mereka pun mulai bercinta.


Saat mereka mulai berpelukan di kasur, Luna merasakan hal aneh lagi. Kali ini seperti ada yang memeluknya dari belakang, padahal Dito yang memeluknya itu jelas-jelas ada di depan matanya.


"Aaaaaaa!!!" teriak Dito kaget melihat ada tangan keluar dari belakang Luna. Tangannya hitam gosong serta berkuku panjang mengelus-elus bagian pinggul Luna.


"Apa itu!!!" teriaknya lagi melompat dari kasur.


"Kenapa Mas?!" tanya Luna cemas.


"Ada tangan gosong di belakang kamu!" tunjuknya ke arah belakang Luna.


Saat mereka lihat-lihat di sekitar belakang tubuh Luna, tangan hitam gosong tadi hilang seketika, lenyap bagai di telan bumi.


"Busettt! Pantesan tadi ada yang kasar-kasar." gumam Luna dalam hati mengingat tadi ia merasakan ada yang seperti memeluknya dari belakang.


"Mungkin kamu salah liat kali Mas." Luna mencoba berpikir positif dan meyakinkan Dito.


"Eee... Kayaknya sih." ujar Dito ragu-ragu.


"Kok aku dari tadi ngalamin kejadian aneh terus ya." ketus Luna merasa janggal atas apa yang dialaminya dari tadi.


Mereka pun melanjutkan bercinta lagi.


"Mas aku minta kita jangan pake pengaman lagi ya."


"Kenapa sayang? Kamu kurang puas kalo pake pengaman?" tanya Dito.


"Bukan gitu yang, Ana kan nggak bisa kasih kamu keturunan lagi, gimana kalo kita coba aja kali ini nggak pake pengaman. Siapa tau jadi Mas." ketusnya memberi saran.

__ADS_1


"Eh iya juga ya sayang... Yaudah kita jangan pake pengaman aja kali ini." ucap Dito menyetujui saran Luna.


Saat Dito mulai menancapkan senjatanya ke punya Luna, tiba-tiba Luna merasakan sakit luar biasa. Bukan sakit karena nikmat, melainkan sakit seperti tertusuk benda tajam.


"Aaaaa!!! Sakit Mas!" teriak Luna kesakitan.


"Tuh kan kamu keenakan." Dito mengira Luna berteriak karena keenakan dengan senjatanya.


"Udah mas, berhenti! Ini bener-bener sakit, bukan enak!" teriaknya lagi menyuruh Dito untuk berhenti.


Akhirnya Dito pun berhenti.


"Sakit gimana sayang?" tanya Dito penasaran.


"Udah kita balik aja yuk, nanti kita lanjut di rumah aja. Sekarang aku pengen kamu segera talak si Ana." Luna memutuskan untuk pulang saja karena merasa ada yang tidak beres dengan dirinya dari tadi."


***


Dito dan Luna pulang ke rumah dengan bergandengan tangan. Ana yang sedang memasak di dapur pun sontak tidak percaya melihat kedatangan mereka seperti itu.


"Mas... Maksudnya apa ini?" tanya Ana dengan suara lesu, jantungnya berdebar kencang.


"Luna... Maksudnya apa ini?" tanya Ana lagi ke Luna.


"Sebentar lagi, aku akan menikah dengan Mas Dito Mbak. Dan kamu akan segera di talaknya. Dan satu lagi, waktu kamu ngeliat aku berduaan di kamar sama Mas Dito itu, itu beneran kita lagi berduaan kok Mbak, bukan karena aku ngambil pakaian kotor. Hahahah!" jelas Luna mengatakan semua kebenarannya lalu tertawa licik.


"Mas... Yang dikatakan Luna itu nggak bener kan?"


"Iya... Yang dikatakan Luna itu bener Ana. Aku udah capek tau nggak sih sama kamu, kamu nggak bisa bahagiain aku, kamu nggak bisa kasih turunan ke aku! Buat apalagi coba aku pertahanin kamu." sahut Dito membentak.


Ana yang mendengar langsung kata-kata itu keluar dari mulut Dito seketika syok sampai tidak bisa menatap mereka berdua, Ana tertunduk sekali.


"Aku nggak nyangka loh Mas kamu setega ini ke aku, aku bener-bener nggak nyangka." ujarnya menahan tangis.


Ketika Ana menangis tersedu-sedu menahan sakit, Luna tidak sengaja melihat ada sesosok perempuan kurus kering yang memakan janin Ana tadi, sedang memperhatikannya di pojok dapur.

__ADS_1


"KOK ADA LAGI SIH?!" gumamnya tidak percaya dalam hati.


Mata sesosok itu menyorot Luna dengan tatapan yang sangat tajam. Karena takut di lihat seperti itu, Luna pun meminta izin ke Dito untuk pergi ke kamarnya sebentar dalam rangka melarikan diri dari penampakan sosok itu.


"Mas aku ke... Kamar du... Dulu ya." pintanya gugup.


"Ngapain sayang?"


"Mau mandi, soalnya gerah banget aku." Luna langsung berlari kecil pergi ke kamarnya, sesekali ia menengok ke belakang untuk memastikan sosok yang ada di pojokan itu sudah hilang. Sementara Dito dan Ana masih diam di tempat.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau Mas... Aku ikhlas. Menikahlah kamu dengan wanita itu, dan biarkan aku pergi malam ini juga ke rumah orang tuaku." ungkap Ana dengan penuh kesabaran, walau masih ada air matanya yang menetes. Pantang bagi perempuan berpendidikan sepertinya untuk mengemis dengan seorang laki-laki macam Dito.


"Oh, bagus dong. Malahan aku seneng banget kamu pergi sendiri tanpa aku suruh. Lagian ini juga kan rumah aku, bukan rumah kamu. Kamu kan cuma numpang di sini." ujar Dito menyombongkan diri di depan Ana.


Ana sempat menatap tajam mata Dito sebentar sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Dito kemudian membereskan semua pakaiannya untuk pergi selamanya dari rumah itu.


Di sisi lain, Luna masih mondar mandir ketakutan di kamarnya. Ia berusaha untuk memberanikan diri jika bertemu sesosok itu lagi atau mengalami hal aneh lainnya.


"Tok...Tok...Tok! Sayang? Kamu masih mandi nggak? Aku mau masuk nih." seru Dito di balik pintu kamar Luna.


"Hah, Mas Dito." buru-buru ia membuka pintu kamarnya.


"Belum Mas, aku belum mandi." jawabnya selepas membuka pintu.


"Loh? Mau aku temenin?" Dito menawarkan diri untuk menemani Luna mandi.


"Ee, boleh kok Mas. Perempuan itu gimana? Udah kamu talak?"


"Hahah! Malahan dia sendiri yang memilih pergi dari rumah ini sayang."


"Asyik! Gua bakalan lebih mudah buat nguasain harta Mas Dito kalau gini." celetuk Luna dengan semangat dalam hatinya.


Malam itu Ana langsung angkat kaki dari rumah suaminya, dan malam itu juga Luna dan Dito memutuskan untuk tidur berdua walaupun belum memiliki status. Jadi di rumah itu hanya ada Luna dan Dito.


Kira-kira pukul sebelas malam mereka baru tidur. Saat Luna baru beberapa menit memejamkan matanya, ia lalu bermimpi. Ia bermimpi di kejar-kejar di gunung oleh sosok-sosok yang tidak enak jika dipandang. Dan tentu saja juga ada sosok perempuan kurus kering yang memakan janin Ana. Selian itu, sosok hitam besar, sosok seorang laki-laki gosong dan memiliki kuku yang panjang juga mengejarnya. Sosok-sosok ini seperti tidak asing di ingatan Luna. Mereka mengejarnya sampai Luna tidak tahan lagi untuk berlari. Hingga pada akhirnya Luna pun lelah dan pasrah ketika sosok-sosok itu mendekati Luna dengan jarak yang dekat.

__ADS_1


"Aaaaaa!!!" teriak Luna bangun dari tidurnya di sertai keringat dingin.


Dito yang ada di sampingnya juga kaget lalu terbangun. "Kenapa sayang?" tanya Dito cemas.


__ADS_2