
"Nggak kok Mbak aku cuma kedinginan aja, soalnya baru pernah mandi tengah malam gini."
Belum sempat Ana menyahut jawaban Luna, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari arah pintu, yang ternyata orang itu adalah Dito.
"Sayang, aku pulang." pekik lelaki itu.
"Ehh sayang... lama banget sih baru pulang, kan aku jadi kangen." sahut Ana menebar kemesraan dengan manja di depan Luna seraya menyambut tangan Dito lalu menciumnya.
Baru-baru ini Ana mendapat firasat kalau Luna pembantunya itu menyukai suaminya. Walaupun ia sudah menganggap bahwa kejadian kemarin di kamarnya itu adalah sebuah kesalahpahaman, entah kenapa firasatnya itu sangat kuat. Sehingga ia pun sengaja menebar kemesraan di depan Luna untuk membuktikan bahwa filingnya itu benar atau tidak.
Saat melihat Ana mencium tangan Dito kemudian berpelukan, Luna diam-diam membuang muka lagi. Ternyata saat ia membuang muka itu terlihat oleh Dito yang tengah berpelukan dengan Ana. Namun Dito tidak bereaksi apapun, karena harus bersikap profesional di depan istrinya, walau pada akhirnya Luna harus menahan cemburu.
Karena muak melihat Ana dan Dito berpelukan, ia pun memutuskan untuk segera membawa barang-barang belanjaan Ana ke dalam kulkas saja.
***
"Mas, aku nggak suka ya kamu bermesraan sama perempuan itu di depan aku!" ketus Luna ke Dito lewat chat.
"Cling!" suara notifikasi pesan itupun tersampaikan ke HP Dito, tapi karena ia sudah tertidur dengan pulas malam itu, jadi yang mendengar notifikasi itu hanyalah Ana. Ana tentu penasaran dengan siapa orang yang mengechat suaminya tengah malam begitu, dan dengan spontan tangannya langsung meraih HP Dito yang berada di atas meja kerja milik Dito dekat tempat tidur mereka.
"Lino?"
" Siapa Lino?" tanya Ana sendiri.
"Mas, aku nggak suka ya kamu bermesraan sama perempuan itu di depan aku!" baca Ana dalam hati tapi dengan bibir yang masih bergerak.
"Kok pesan sama nama kontaknya nggak nyambung sih." gumam Ana.
__ADS_1
Karena tidak mau mengganggu Dito yang sedang tertidur pulas setelah seharian lembur bekerja, ia pun memilih untuk menyimpan dulu pertanyaannya, dan kembali menanyakannya besok. Masalah orang yang mengirim pesan itu ia abaikan begitu saja tanpa menaruh curiga apapun, karena mengingat orang yang ia curiga hanyalah Luna.
Di sisi lain Luna semakin marah dengan Dito, karena dari tadi sama sekali belum ada balasan dari pesan yang ia kirim.
"Mas Dito udah berubah sekarang!" teriaknya geram menahan amarah.
Ini bukanlah kali pertamanya Luna bersikap agresif ketika cemburu, bahkan ia pernah berniat mendorong Ana dari bukit saat ia di ajak oleh Ana dan Dito liburan ke puncak hanya karena cemburu melihat mereka berfoto bersama di bukit.
***
Pagi itu Ana bangun lebih awal dari biasanya, yaitu jam tiga pagi. Luna yang baru bangun sekitar jam empat pun kaget dibuatnya.
"Mbak, cepet banget bangunnya? Ini juga banyak banget masakan, emangnya mau ada apa Mbak?" tanya Luna yang baru bangun sambil mengucek matanya.
"Udaah, kamu cuci muka dulu gih sana, nanti bantuin Mbak masak telor balado ini." sahut Ana dengan wajah yang tampak sangat bahagia.
Tidak terasa jarum jam pun sudah berada di angka tujuh. Dan sekitaran jam segitulah Dito baru bangun dari tidurnya. Hari ini adalah hari minggu, hari di mana kantor tempat Dito bekerja sebagai bos libur. Dito turun dari tangga dengan hanya mengenakan kaos putih bercelana pendek sambil mengucek-ngucek kepalanya dengan handuk, tampaknya ia baru selesai mandi. Luna yang sedang mengepel lantai pun terpana melihat ketampanan Dito kala itu. Karena di rumahnya ada istrinya, Dito terpaksa mengabaikan Luna yang sedang memandanginya itu karena takut ketahuan. Ia hanya lewat begitu saja dengan cuek kemudian melangkahkan kaki menuju dapur untuk minum air putih. Luna juga tidak bisa melakukan apa-apa tatkala Dito menyuekinya dengan angkuh walau sebenarnya Dito terpaksa.
"Ehh sayang, kok banyak banget sih makanannya? Enak-enak semua lagi. Widihh...aku langsung mau makan aja dong kalau begini." ujar Dito yang baru sampai di dapur kemudian bergegas menarik kursi di meja makan untuk menyantap semua makanan yang dibuatkan istrinya.
"Iya sayang makan aja, ini semua buat kamu kok." ungkap Ana sembari mengambilkan Dito beberapa sendok nasi ke dalam piring.
Luna yang tidak sengaja mendengar hal itu ketika lewat seketika langsung memasang wajah tidak suka alias cemberut. Di tambah ia melihat Ana menyuapi Dito saat makan malah semakin membuat emosinya meledak-ledak.
"Perempuan itu kenapa sih suka banget cari perhatian ke Mas Dito?! Nggak suka deh aku lihatnya! Kayak sengaja banget." gumamnya dalam hati ketika menaruh pel di dekat kamar mandi.
Walau sudah berbicara seperti itu, Luna tetap saja penasaran dengan apa yang dilakukan Dito dan Ana yang sedang berduaan di meja makan. Untuk menutupi rasa penasarannya, ia pun memberanikan diri mengintip di celah pintu. Di sana ia melihat Ana mengeluarkan sesuatu di saku dasternya. Setelah Luna perhatian dengan teliti, benda itu ternyata adalah tespek.
__ADS_1
"TESPEK?!" ucap Luna dengan pelan dan terkejut luar biasa.
Tidak berhenti sampai di situ, Dito kemudian mencium wajah Ana berkali-kali, bahkan memeluknya, sempat juga mengelus-elus dan mencium perutnya. Tidak tahan lagi, Luna pun berlari sambil menangis sesegukan ke kamarnya.
"Kok bisa sih perempuan itu hamil?!"
"Jadi perempuan itu bangun pagi-pagi cuma buat ngasih kejutan ke Mas Dito!" teriak Luna dengan pelan sambil sesegukan. Ia menengkurapkan tubuhnya di kasur, menangis tanpa suara.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara riuh pikuk di ruang tamu. Karena penasaran lagi, Luna pun mengintipnya lagi.
"Siapa sih mereka? Rame banget, apa itu keluarga besar mereka ya?" tebak Luna seraya mengusap air mata di pipinya.
Sedang asyik mengintip, mendadak bahu Luna di tepuk dari belakang. Ia pun buru-buru menyelesaikan mengusap air matanya itu.
"Luna kok kamu di sini? Bantuin aku hidangin makanan buat keluarga aku yuk." ucap orang yang menepuk bahu Luna itu, dan ia langsung berpaling ke belakang.
"Ehh, Mbak Ana. Maaf ya tadi aku ee..." jawab Luna dengan gugup.
"Kenapa Luna? Tadi kamu ngapain? Kok mata kamu merah gitu sih?" serentetan pertanyaan sengaja Ana lemparkan ke Luna untuk melihat reaksinya tadi setelah mengintip Ana dan Dito di dapur. Sebenarnya ia tau bahwa Luna baru saja mengintip mereka dengan melihat bayangan tubuhnya di lantai. Di tambah beberapa saat tadi Luna menghilang sebentar membuat Ana semakin yakin bahwa Luna mencintai suaminya.
"Luna? Kok cuma diem sih? Jawab dong." desaknya.
"Eee... Aku."
Belum sempat Luna menjawab semua pertanyaan Ana, ia dipanggil dulu oleh keluarganya yang ada di ruang tamu.
"Anaaaa, kok lama banget sih?" teriak salah satu anggota keluarganya.
__ADS_1
Karena sudah di panggil, tanpa basa basi lagi dengan Luna ia pun segera menyusul keluarganya di ruang tamu. Sementara anggota keluarganya yang lain membantu membawa masakan dari dapur ke ruang tamu juga. Ada makan besar di rumahnya hari itu dalam rangka syukuran Ana dan Dito yang baru mendapat keturunan.