
Angin berhembus tidak satu per satu, mati satu tidak bakal tumbuh seribu yang ada sedih menuju. _Drfgs.
Jendela di ujung kamar sepetak 2x2 terbuka, mata terbelalak tanda tak mengantuk berkat rasa lapar yang mengusik. Bukan lain tempat yang di cari, sebongkah bau ikan menyengat penciuman tanda makanan siap di hadang.
Kreeek...
Tanpa sengaja suara terjadi, ini bukan curi-mencuri ini haknya dan dirinya tak akan kena dosa.
Kloteng...
Kembali terdengar wadah alumunium favoritnya terbalik akibat bruntalnya rasa lapar akan dirinya, rumahnya sedikit kotor begitu pun dirinya dua hari sudah ia tidak mandi. Meski begitu ia senang tidak mandi selama itu, menurutnya itu biasa dan akan menyenangkan dirinya lagi pula akan menghemat air 5% ini untuk generasi yang akan datang kelak.
Lapar tak lagi mengusik kini dirinya kembali pada singgasana raja empuk tertera di ujung sana, lebih menggiurkan di banding sebelum kenyang.
***
Pagi telah kembali, kendati matahari masih malu-malu di balik awan membalut di pagi menuju siang sehabis waktu sarapan.
Kedua kelopak mata terbuka sejenak efek silau cahaya entah dari mana datangnya, berkat sang ibunda membuka tirai jendela kamar pribadinya sebelum rengekan kecil terkoar dari mulut baunya.
"Bunda ..." rengek lelaki bercelana boxer tanpa mengenakan atasan tertutup selimut tebal tema shaun the shep enam bulan lalu terakhir ia cuci. Jangan tanya baunya, yang penting senyaman itu.
__ADS_1
Nusy berdecak di depan keranjang anak tercinta, menghela napas beberapa kali. Bahkan ia sudah selesai mandi sehabis mencuci dan memasak berbagai teman nasi.
Di jam segini, putra kebanggaan yang kini tak dibanggakan malah seperti kanebo sobek yang sepatutnya di buang, tak berguna.
"Sena!" teriak setiap paginya Nusy bak siaran tv tayang setiap pagi.
Sedang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut ikal mulai panjang hanya bergumam, serasa mulut tak bisa di buka beserta matanya.
"Bantuin bunda nyapu kek, nyiram tanaman atau nyiramin duit ke bunda malah berkah. Dengan tiduran tanpa aturan jam bisa berakibat pendeknya usia setiap manusia!" omel sekaligus wejangan Nusy membuat sang empu merasa tersindir dan bangkit dari nyaman pelukan kasur.
"Bunda ikhlas?!" sahut Sena dengan raut muka seribu duarius. Nusy hanya mencebikkan bibirnya.
Nusy tak menggubris, segera ia menarik selimut dengan sekali tarikan bau yang segar merusak indra penciuman berkoar.
Dengan segera Nusy menahan napas, menjapit lubang hidungnya dengan kedua jari kanannya, melotot tajam pada Sena.
"Sudah berapa lama hemat detergen? Bunda gak pernah ajarin kamu sehemat itu hingga membuat kamu semenjijikkan itu Sena!"
"Sulit perasnya Bun," elaknya.
"Gak usah, kan ada matahari."
__ADS_1
"Gak setiap cahaya mampu menghidupkan," ucap Sena tanpa kejelasan berujung rebahan.
***
Turut berduka cita atas kepergian si Lulu ya bro...
Semoga amal kebaikan diterima di sisiNya, ikhlasin,
Yang sabar, yang tabah, yang patah akan tumbuh yang hilang kan berganti~
Gue maafin kok segala kesalahan dia selama ini, pernah bikin condet di muka gue.
Ciyee ... Yang bersedih. Besok ke pasar hewan deh, gue temenin.
Mati satu tumbuh seribu kok, bukan sedih yang menuju.
Baru sebagian chat masuk terbaca di ponsel Sena, tak terbesit niatan untuk membalas. Yang ia tahu meratapi semua ini terjadi, berharap dia kembali. Mengikhlaskan tak semudah yang diucapkan. Butuh penjelasan dan perjalanan yang kuat dalam melepaskan.
...
Salam senyuman, -Derfagustin.
__ADS_1