SeNadi(n)

SeNadi(n)
Icip Kejenuhan


__ADS_3

Bila boleh di kata, jenuh selalu berakhir luruh dan tiada takjub memeluk hiruk pikuk patuh. -Drfgs.


"Gimana udah jenuh belum?"


"Gak bakal jenuh kalo sama kamu Nad,"


"Gembel..."


Dua insan masih berkutik pada kedua buku tebal dengan beda genre, yang satu buku sastra sedang satunya lagi buku sosial. Yang mereka tahu ini bakal bermanfaat bagi masing-masing.


"Sekali doang, aku gak pernah kan dulu gombalin kamu."


Tak ada jawaban, hening sejenak. Sena menatap wajah gadis yang mengubah raut wajahnya. Sena kembali ditatap tajam pada kedua bola mata kecokelatannya.


"Sekarang hubungan kita gimana Na?"


Cukup sudah Sena sangat tidak ingin mendengar kata-kata ini tepat dilontarkan Nadine gadis yang ia sayangi.


"Jawab Na, setahun bukan waktu yang sebentar buat aku di gantungin." Sena masih terdiam ia menundukkan kepalanya tatkala dengan sengaja ia melihat mata Nadine membendung air sialan itu. "masalahnya cuma Lulu kan?"


"Ini bukan tentang Lulu, ini tentang kehilangan." tukas Sena mengangkat dagunya sesaat nama itu ia sebutkan.


"Bahkan aku juga sedang kehilangan Na, kita semua bakal ngerasain yang namanya kehilangan!" Nadine mulai mengeluarkan semua apa yang selama ini mengganjal. Air mata sudah jangan di tanya lagi, mereka sudah berselancar ria mengalir pada pipi lembutnya.


"Aku belum bisa menerima semua ini Nad,"


"Tanpa kamu sadari ada hati lain yang terluka?"

__ADS_1


"Apapun sudah aku usahakan untuk bangkit kala itu tapi gak bisa, aku terlalu lemah Nad. Sampai aku lupa jika aku melupakan seseorang, maaf." Sena kini berani menatap mata gadis di depannya ini.


Langit memang telah jingga, derap langkah kaki tak seriuh tadi. Semilir angin yang kian lekat merdu pula teriringi oleh ocehan burung gereja yang siap menyambut senja.


Sedang di ruang sunyi, penuh buku-buku tebal mengitari mereka. Bagai saksi bisu gejolak perasaan yang bercampur emosi ini. Hati mungkin saling menggenggam, namun yang namanya status selalu jadi pembicaraan hangat tak hanya untuk orang lain tapi juga penting bagi wanita yang selama ini seperti mendaki sendiri sementara ada lelaki lain di belakang yang beberapa kali menoleh belakang dan selalu ragu melangkah lebih jauh.


"Aku harap perasaan itu masih ada Nad," lirih Sena menyentuh kedua tangan Nadine ada harapan di sana.


Nadine mendongak, "Mau hilang sebenernya Na, bahkan hatiku bilang semua ini menjenuhkan. Ibarat kamu sama buku, tapi entahlah aku sendiri gak ngerti lagi."


Nadine benar-benar lega menyuarakan ini, 12 bulan tertuntut oleh hati dan luka membuatnya tak bisa mengontrol ucapan lagi.


Sena tak mampu berucap lagi, ia memang salah dalam hal ini. Benar-benar salah dan ia juga membatasi dirinya untuk tak menyalahkan terlalu dalam, ia bakal mengontrol segala pikiran buruk yang selama ini mengubah hidupnya bahkan melukai perasaan yang tak ia pernah harapkan.


Tangannya mengulur dan segera memeluk Nadine tanpa permisi tanpa ambisi, ia tahu menyakiti hati adalah kejahatan terbesar menurutnya.


"Balik yuk,"


"Udah sore ini Na...." jelas Nadine mengusap air mata yang sudah mengering dan segera merapikan benda miliknya.


"Ohh, tak kira..." Sena masih merasa kecewa.


"Cepetan! Aku gak bawa ganti soalnya," Sena yang masih duduk segera berdiri menyusul Nadine yang melangkah cepat melewati koridor.


Selama perjalanan pulang, hanya angin dan mesin kendaraan yang bersahutan. Dua insan ini masih berkecamuk dengan perasaan masing-masing, Nadine paling pemikir.


Sesampai di perumahan, gerbang bercat cokelat mereka menghentikan kendaraan.

__ADS_1


Nadine melepas helm, lalu menyerahkan pada Sena.


"Bukannya itu helm Papamu?"


Baru saja Nadine melayangkan helm kepada Sena, ia tarik kembali. "Eh, bukannya tadi aku berangkat bawa motor ya?!"


"Ha?" Sena memastikan Nadine tidak sedang becanda.


"Bukannya tadi aku bawa motor Na, kenapa aku di bonceng kamu?!" panik Nadine hingga ia berjalan ke kanan kiri seraya berpikir.


Sena menggaruk tengkuk, merasa bersalah juga dirinya membonceng Nadine selama 20 menit dengan keheningan hingga kesadaran tak mereka jumpai yang tertupi dengan lamunan.


Nadine menelepon seseorang, "Halo Wan? Sama Redo gak? oh, iya minta tolong dong motor gue di kampus keep ya,"


"Kamu kenapa? Kok bisa sih? Ampun deh, iya aman kok." suara di seberang samar terdengar.


"Untung kunci motor gue bawa, makasih ya Wan."


"Masama cantik, jangan lupa makan jaga kesehatan selalu ya." Sena mendengar itu, telinganya memanas dan dirinya mulai terkapar akan cemburu.


Nadine menutup obrolan, sejenak mengangguk pada Sena. Bak menjelaskan bakal baik-baik saja.


"Yaudah Na, kamu bisa pulang makasih buat hari ini, aku lega sekarang. Aku harap kamu bakal bisa keluar dari lubang mencekam itu, tidak baik lama-lama." ucap Nadine berjalan mundur sembari melambaikan tangan pendek tak lupa ia sematkan senyuman hangat di sana.


Sena membalas hanya dengan ulasan senyum yang sedikit di paksa, pahit rasanya mengalami semua ini. Ia pikir semua ini akan segera mereda dan dirinya bakal baik-baik saja, nyatanya semua itu susah.


....

__ADS_1


Salam senyuman,


Derfagustin.


__ADS_2