SeNadi(n)

SeNadi(n)
Silakan Berpijak


__ADS_3

Langkah demi langkah menyulitkan, tapi tunggu pemberhentian terakhir dan lihat apa yang akan terjadi. _Drfgs.


....


Tangan Sena meremas kuat tatkala pakaian yang ia kenakan begitu rapi, tak seperti biasanya. Ia tahu ini bakal berharga, dirinya belum tahu pasti yang ia ingat hanya janji pada diri sendiri. Berharap cerminnya retak, dan waktu itu pula ia akan mencoba memperbaiki.


"Gema udah jadi kerupuk tuh ..." teriak Nusy di kala mentari masih malu-malu untuk bekerja hari ini.


Sena menuruni tangga dari kamar kebanggaanya lantai dua menuju lantai bawah, dan tak berusaha sampai terlalu bawah.


Mencium tangan orang tua satu per satu sebagai tanda pamit dan selalu di selipkan harapan dan doa di setiap usapan kepala sebelum pergi benar-benar membawa.


Di dalam perjalanan, Gema duduk di jok belakang masih sibuk mengubek-ubek tasnya. Bukan bedak maupun lipstik yang di cari, tapi ini harga diri.


"Charger gue ketinggalan, balik Na!" teriak Gema tepat di telinga Sena, proses mengendarainya hampir oleng sebelum tangan kirinya sedia menopang segala yang tak seimbang. Sedang tangan kanan Sena refleks menutup telinganya yang mulai terluka.


Sena menghentikan motornya, Gema sudah tak sabar dan mengoyak-oyak bahu Sena dan kembali berteriak, "Buruan Curut!"


"Lo mau kita mati di tengah jalan karna gagal nyebrang? Ini masih ada mobil di belakang, mau puter balik." jelas Sena geram.


Dua menit setelah mereka balik mengambil charger, kembali mereka menuju perjalanan menuju kampus.


"Lipstik? Bedak? Kaca?" celetuk Sena mencoba mengingatkan di saat lampu merah menghentikan.


"Apaan sih, emang gue punya?"


"Lah, kan lo cewek Miau."


"Gak semua cewek punya begituan dan menjadi sama." jawab Gema dengan pasti sedang Sena hanya "Paan sih,"


Kampus Saturnus cukup ramai apalagi ini masanya Maba untuk memulai segalanya, untuk UNSat cukup berbeda menyambut para Mabanya tidak langsung di beri permainan menggiurkan atau tugas menumpuk di depan mata. Mereka hanya mengenalkan tentang mahasiswa, apa sih mahasiswa beserta isinya.


Mengetahui senior berkoar di depan sana, Gema dengan segera menarik Sena paksa agar berada pada barisan depan.


"Gem, lo gak punya temen selain gue apa? Ah, gue gak mau baris paling depan."


Gema menoleh ke belakang mendengar cuitan tak berfaedah dari Sena, "Eh curut, gue belum kenalan sama mereka jadi gue kenal cuma sama lo! Lagi pula tubuh tiang listrik tuh baris paling depan biasanya," geram Gema kembali menarik Sena.

__ADS_1


Sena menahan tarikan Gema, "Eh tunggu, bukannya tambah ngalangin yang lain goblok!" tukas Sena.


"Ya tapi kaaaan,"


"EH YANG DI SANA, CEPAT BARIS!!!" teriak salah satu senior wanita beralis tebal, kemungkinan besar keturunan Shincan tingkat menengah.


Sena tak bisa melawan lagi, dia sudah kalah kali ini. Biasanya dirinya akan menang dari seorang Gema, cewek cerewet yang bergaya tomboy. Tapi, satu hal yang Sena kagumi dari gadis itu, tak pernah ia lihat seorang Gema bersedih atau berputus asa, dia selalu kuat dan ceria.


Setelah dua jam penuh kegiatan pembuka berlangsung berisi pengenalan, pengelompokan dan tugas ringan, kini saatnya ishoma berlangsung.


Mata Sena tak berhenti menatap seorang gadis di seberang yang membawa plastik hitam besar mengumpulkan beberapa sampah yang berserakan. Bukannya makan yang ia lakukan, mulutnya terkunci, padahal makanan tersebut tak berbayar.


"Buruan Na, bentar lagi waktunya dzuhur loh." peringat Gema menoyor pelipis Sena membuat Sena meringis bukan tanpa sebab, tangan Gema yang berlumur sabal menempel lekat di pelipis Sena.


"Gemaaa," marah Sena menatap sinis Gema.


"Halo, perkenalkan namaku Bayu Dwi Atmojo Divandra, kalian?" celetuk tanpa diundang di tengah perkelahian dua orang di depan Sena dan Gema. Lelaki tembam, bertubuh gemuk nan tinggi murah senyum kini menghantarkan tangan mengajak bersalaman.


Gema menyambut dengan antusias, setelah beberapa detik terdiam.


"Hahahhaha ... O ya kenalin gue Sena," balas Sena di sambut hangat Bayu. "tapi bisa gak, gak pake salaman. Gue gak mau kena sambelnya Gema dua kali, hahhahaha..."


Gema memanyunkan mulutnya dan memukul pelan Sena, Sena menjauh.


"Pake tangan kiri,"


"Sama aja,"


"Gue makan tangan kanan ya, kiri buat cebok dodol!"


"Ih, lebih jorok dong."


Bayu tersenyum melihat tingkah teman barunya itu.


"Mau ya jadi teman Bayu,"


"Mau dong," balas Gema kemudian Sena hanya mengangguk.

__ADS_1


Suara adzan berkumandang~


"Buruan makan gih Na, gue duluan ya sama Bayu kalo cewek ribet." ucap Gema berlari menuju masjid kampus. Lain hal sebenarnya Gema kebelet pipis, dan dia tak suka mengantre.


Sena kembali membuka kotak makannya, ia tidak tega untuk menghabiskan. Setelah tiga suapan, rasanya tak bisa masuk dengan baik dalam pencernaannya.


Sena berdiri bersiap membuang makanan tersebut ke kotak sampah, dan segera menyusul Bayu juga Gema salat.


"Eh, tunggu!" Sena menghentikan proses pembuangan ke tong sampah, seorang wanita yang ia tak asing akan suara indahnya menghentikan. Tak hanya proses pembuangan sampah, juga dunianya.


Perempuan berambut lurus bergelombang kecokelatan itu mendekat pada Sena.


"Jangan dibuang, kalau bisa dihabiskan. Masih banyak di luar yang membutuhkan, tolong hargai itu." ucap gadis itu cepat-cepat dan berlalu.


"Maaf Nad," ucap Sena membuat gadis itu menghentikan langkah.


"Sebelum kamu minta maaf, sudah kumaafkan Na, aku juga yang salah." balas gadis bernama Nadine Candraniv Hilmay tanpa menoleh kebelakang. Seolah tahu apa yang sebenarnya dibicarakan.


Sena berjalan mendekati Nadine, dengan perasaan campur aduknya ia mendekati Nadine.


"Bisa kita bicara lebih lama?" tanya Sena menuai harap.


Nadine tersenyum, senyum yang menyayat hati Sena. Bisa-bisanya ia menyakiti hati wanita hebat di depannya ini.


"Sudah zuhur Na, habiskan makananmu lalu salat, jangan sampe telat ya." sekali lagi Nadine menutupnya dengan senyuman manisnya.


Sena terdiam, tak bisa berkutik melihat langkah kaki Nadine yang mulai menjauh. Sena segera menghabiskan makanan, walau serasa pahit yang alami berkat ulahnya sendiri.


Jelas, dirinya belum puas dengan semua ini. Selain kuliah, mulai detik ini Sena berjanji akan memperbaiki segala yang rusak, atau hampir roboh dalam hidupnya.


Tak bisa ini depresi menguasai diri dan semua berakhir yang sesuai harapan.


....


Salam senyuman,


Derfagustin.

__ADS_1


__ADS_2