
Bukit memang tinggi, tapi setelah kau daki dan dirimu di puncak serasa semua sama, semua bisa berubah dengan cara takluk. _Drfgs.
....
Langit abu mengudara menciptakan keharusan untuk berteduh, Desember tak pernah lekang dari musim hujan.
Gema memandang lekat lelaki yang kini berdiri di sampingnya, ia terlihat gugup serta resah. Gema tahu lelaki ini sangat rapuh, lelaki yang ia kenal jarang kuat. Hatinya seperti perempuan ia kira, depresi serasa baju setiap harinya.
"Kenapa Na? Kalo masalah Lulu belum usai ya-"
"Gak usah sebut nama Lulu!" potong Sena memasang mata elang yang siap menerkam Gema.
Gema mencebikkan bibirnya, ia tak peduli akan keseriusan Sena.
"Lagian kemarin kan udah gue ingetin beli jas hujan di musim hujan, malah beli payung emang lo jalan kaki?"
"-apa lo gak punya duit, ciah..."
"Mulut diem bisa gak sih, makin deres nih hujannya, suara lo itu kayak pemanggil hujan!"
"Loh malah bagus dong, berarti gue pemanggil rezeki." jelas Gema siap-siap akan menang.
Sena kembali menoleh dengan menyipitkan mata, "Tapi, gak semua hujan itu rezeki."
"Ya kecuali hujan dari pelupuk mata," Gema tertawa terpingkal setelahnya melihat tingkah Sena yang mematung sedang berpikir.
Berkat hujan mengguyur, Sena mengingat kembali kenangan yang terpatri di hati. Sakit, sendu dan berharap terobati setelah ini.
***
Nusy tak mengerti pakai resep apa lagi, dia sudah membuat nasi goreng yang bakal mirip dengan buatan suaminya tapi tak bakalan bisa. Nusy ingin sekali membuatkannya untuk Sena, mengobrol tentang masalah hari ini dan berharap patah semangat hidup tak mereka jumpai lagi. Bukankah peran ibu diharapkan dalam berbagai aspek.
"Bunda?"
"Bunda...."
Nusy tersentak mendengar panggilan itu hingga centong nasi di genggamannya tercuat melayang dan berakhir di kepala Budi yang baru saja dari taman memasuki pintu dapur.
"Pikir kepala ayah rice cooker apa?" keluh Budi dengan nada santai, dirinya jarang membentak atau berkata keras yang menurutnya pemicu naik darah dan muramnya suasana.
Nusy hanya meringis, sedang pelaku utama dari kisah ini tanpa peduli mencicipi sepiring nasi goreng di depan Nusy, entah untuknya atau bukan yang penting dirinya lapar sekarang.
"Sena! Cuci tangan!" bentak Nusy memukul ringan punggung tangan Sena yang bergerak bebas memunguti beberapa suap nasi tiada henti. Walau dalam hati senang Sena bisa menyukai masakannya, namun dari dulu meski masakan bundanya tak seenak ayahnya Sena tetap memakan makanan itu tanpa komentar sedikit pun. Tapi Nusy sadar, bahwa dirinya belum bisa jadi ibu yang baik bagi putra semata wayangnya itu.
"Bunda kenapa masaknya banyak macemnya sih, nasi goreng pula semua?" tanya Sena tak henti mengunyah makanan.
"Bunda itu..." ada jeda sesaat.
"Jadiin masakan Bunda, identitas Bunda jangan tiru-tiru lah. Siapa yang bilang masakan Bunda gak enak?" sambung Sena menatap lekat Nusy, Nusy tersenyum melihat pernyataan putranya sejenak meluluhlantakkan jiwanya.
__ADS_1
"Gimana kuliahnya?"
"Biasa aja,"
"Temennya udah banyak belum?"
"Masih sama Gema miau-miau,"
Nusy mengambil centong nasi baru, sebab centong yang tadi terbang entah kebawa Budi atau dibuang atau bisa jadi buat menanam cabe di taman samping rumah.
"Ya kamu ajak kenalan dong, biar makin banyak temen. Setahu Bunda temen kamu yang dulu di telan paus, hilang semua."
"Mungkin Bun," Nusy memandang raut wajah Sena yang menduga sebentar lagi bakal sedih dan terpikir semua ini.
***
"Artikel lo udah selesai?"
"Siap kan jalani mata kuliah hari ini?"
"Jangan bolos, inget bolos temennya monyet."
"Udah makan, udah minum?"
"Curuuuut ..."
Sena terdiam berhenti melangkah tatkala Gema benar-benar teriak di telinganya, Sena sebenarnya sudah kebal tapi kali ini mereka berada di tempat umum tepatnya di ruang temu dalam kampusnya.
Gema hanya memutar kedua bola mata malas, dalam hati bodo amat.
Bayu dengan keringat mengucur berlari dari arah belakang mendekat ke dua insan yang kini bersitegang mata.
"Halo gengss...Maap telat,"
"Denda 100 ribu," sahut Gema melayangkan telapak tangan pada Bayu. Bayu tersenyum dan mengusap dahinya kemudian memberikan pada Gema.
"Ini Gem,"
"Gila! Jorok lo!" Gema berlari menuju kamar mandi, lagi pula ia juga kebelet pipis jadi sekalian.
Sena menahan tawa, Bayu yang mengetahui itu mendekat dan Sena menjauh berjalan mundur.
Brukkk ...
Berbagai lembaran kertas bertebaran di lantai, Sena segera membantu dan Bayu malah terdiam melongo.
"Maaf Nad,"
"Gak papa Na, santai cuma kertas yang berantakan." ucap Nadine menekankan kata berantakan, seolah ada yang Sena berantakan selain kertas yang Nadine bawa.
__ADS_1
Sena merasa apa yang ia berantakan, dirinya mencoba menguatkan. Bangkit dan berpikir, semua tak berakhir di sini.
"Gimana artikelmu Na? Gak ada masalah kan, aku tahu kepintaranmu masih melekat." papar Nadine menatap mata cokelat Sena yang ia rindukan.
"Baik sih, emang kalo ada masalah boleh tanya ke senior?"
"Apapun masalahnya, aku selalu terbuka kok Na." jelas Nadine selalu di selingi senyuman indahnya. Sungguh hati Sena selalu menjadi lumer berkat senyuman itu.
Jika boleh Sena membunuh waktu akan ia lakukan sekarang, dia tak tahu lagi mengapa dulu betapa jahatnya dirinya meninggalkan dan melupakan gadis seperti Nadine ini.
Dan kini mereka berjalanan beriringan, tanpa sadar Sena mengikuti langkah Nadine yang sebenarnya beda tujuan. Bayu yang berada sudah dijauhi Sena dan bingung akan keakraban mereka berlalu dan mencari Gema ke toilet.
"Nadine, aku cari kamu loh dari tadi." celetuk seorang lelaki berkulit sawo matang, bercelana jeans sobek menatap sinis Sena. "oh kamu sama anak maba ngapain? Dia bikin ulah?" nada tinggi lelaki itu mulai mengalun.
"Apaan sih Wan, dia itu temen gue. Jangan coba-coba lo usilin!" ucap Nadine menarik Sena mencari jalan lain yang sempat terhalang tubuh Wanda.
"Eh, lo cewek gue ya!"
Degh...
Hati Sena menciut, mengerti tingkah Sena yang menghentikan langkah. Nadine menoleh, "Gak ada kata kita ya diantara lo sama gue Wan," ucap Nadine pelan namun pasti terdengar di telinga masing-masing. Memberi kelegaan di satu pihak, di lainnya kesal bukan main.
Wanda kini sedang memiliki musuh baru, dan Sena berada pengawasannya sekarang.
Sena kembali berjalan mengikuti Nadine yang berjalan kecil di depannya.
"Ambil jurusan apa Nad?"
"Psikologi sosial dan lingkungan, kamu? Pasti seni kan?"
"Dari dulu sampe sekarang tebaknya selalu benar."
"Tapi aku selalu salah kan?" Sena memajukan langkahnya supaya menjajarkan mereka.
"Aku yang selalu salah," balas Sena mengusap pelan puncak kepala Nadine membuat sang empu menunduk.
Aromanya masih Sena kenali, serasa Nadine memang setia pada satu pilihan, samponya.
"Samponya tetap sama ya dari dulu,"
"Kalo udah cocok kenapa harus pindah ke yang lain,"
Tak ada kata-kata lagi yang terucap di antara mereka. Kampus hari ini menyapa dengan baik, hanya hembusan ocehan beberapa mahasiswa yang berkutik pada tugas di telinga mereka. Serasa suasana kali ini menuntun lagi.
"Sena!" dua pasang insan itu menoleh ke belakang meski pemilik nama hanya satu.
....
Salam senyuman,
__ADS_1
Derfagustin.