
Meski hari kadang terburuk, mengucap syukur adalah sikap paling manjur. _Drfgs.
"Ayah..." Budi baru aja melangkah keluar meninggalkan kamar.
"Sena bodoh gak sih Yah?" tanya Sena dengan tatapan nanar. Budi berbalik mengambil alih peran, menghempaskan pantat di bibir kasur.
"Satu tambah satu berapa?"
"Sena serius Yah."
"Jawab."
"Dua Yah,"
"Berarti kamu masih pinter, makanya sekolah biat gak bodoh apalagi di bodohi."
Budi menghempaskan punggungnya, kedua tangannya menyilang di belakang leher mencoba menjadikannya bantalan.
"Ayah gak mau dengar hal yang terburuk lagi, sekarang ucapkan apa yang terjadi. Telinga Ayah tak jenuh mendengar,"
Terdengar Sena menghela napas panjang, "Gak tau Yah, dia tiba-tiba pukul Sena dengan sekali pukulan. Sena mungkin belum siap, dia pergi tanpa Sena tau siapa gerangan."
"Lalu?"
"Sena penasaran, apa sebenarnya yang ia inginkan."
"Dia naik apa?"
"Mobil hitam, iya mobil itu. Coba Sena ingat lagi mobil itu Yah."
Budi tersenyum, ia senang anaknya sekarang sudah mulai terbuka. Ia mengerti meski sulit untuk mengembalikan masa lampau yang indah. Yang namanya hidup selalu ada perubahan termasuk pola pikir pandang.
Budi harap putranya ini semakin dewasa menyikapi semua.
"Udah malem, istirahat terus tidur." tepuk Budi pada bahu Sena tiga kali lalu dirinya beranjak pergi.
"Ingat! Jangan hilang, oke?" balik Budi tersenyum.
Sena hanya membalas senyuman harapan.
***
Setelah berganti pakaian, menata segala keperluan. Ada satu lagi yang ia lupa, oiya dirinya harus membawa obat anti nyeri dan juga air minum yang banyak, hari pertama itu tidak mudah.
Kamar tidurnya sudah ia rapikan, selimut sudah ia lipat dengan rapi. Rambutnya yang makin hari kian memanjang ia ikat saja, lagi pula musim kemarau seperti ini tak membuat dirinya selalu dingin, pasti keringat berjalan beriringan sambut-menyambut.
Kaki kecilnya melangkah menuruni tangga, melihat semua suasana. Totebagnya ia taruh di sofa ruang tamu, mengambil air minum pada gelas membawakan ke kamar bercat putih itu.
Tak perlu mengetuk pintu, pintunya sudah terbuka ia dapati perempuan duduk melihat luar rumah di dekat jendela yang tertutupi gorden berenda abu-abu.
"Ma?"
__ADS_1
Perempuan dengan di tumbuhi uban itu menoleh ke belakang tersenyum membuka kedua tangan ingin menerima pelukan.
"Minum dulu Ma,"
"Peluk dulu Mama," akhirnya Nadine memeluk penuh kehangatan meski selalu diiringi oleh dada sesak yang menghujam. Dia harus bertahan.
"Mama tadi bikin teh?" tanya Nadine melihat ada secangkir yang berisi setengah teh yang sudah mendingin.
Nara tersenyum melihat anaknya sudah tumbuh dewasa, "Iya Mama pengen diet kayaknya."
"Jangan bilang ini teh diet?" Nadine mengambil cangkir tersebut dan mencium aroma teh yang sudah tak beraroma.
"Mama merasa sedikit berat, mungkin." Nara terkikik mengucap kata itu sambil mengusap perutnya yang mulai mengembung.
"Mama tadi juga masak?"
Nara mengangguk, dalam hati Nadine bersyukur melihat ini semua.
"Yaudah deh Ma, Nadine berangkat kuliah dulu ya." gadis itu mencium tangan, dan mencium pipi kanan kiri Nara gemas.
Nara tersenyum, matanya berkaca-kaca sejenak.
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam, oiya Nad. Mama kok jarang lihat temen kamu datang ke rumah ya? Mereka sibuk?" Nadine terhenti, bingung lagi mau jawab apa.
"Iya Ma mereka sibuk," jawab Nadine seadanya lalu pergi mengendarai motornya.
***
Sena tersenyum mendengar itu, lagian Gema tau dirinya tak menyukai kacang.
"Eh lo tapi kan phobia kacang kan yak? Suka lupa gue kadang. Nama lo juga lupa, hahhaha..." sambungnya terus sampai nanti Gema bakal capek dengan sendirinya tapi Gema tak pernah merasa capek dengan hal ini. Jadi kemungkinan besar jika dia diam adalah dirinya sedang tidur.
Gema melepas helm sesaat dirinya dan Sena sampai di kampus. Gema melihat ujung bibir Sena yang masih lebam, meski ia tahu Sena sedikit memolesnya dengan foundation bundanya.
"Ceilah kayak cewek lo!"
"Biarin, lah lo cewek kayak cowok."
Sena tak sengaja melihat Nadine sedang di parkiran motor, kesusahan melepas helmnya sendiri.
"Duluan deh Gem, gue ada urusan."
Gema memukul lengan Sena sedikit keras, "Kayak orang sibuk aja lo."
"Emang sibuk,"
Sena tepat di belakang Nadine, tanpa Nadine sadari tentunya.
"Butuh bantuan Bu?" celetuk Sena, Nadine dengan kagetnya berbalik.
__ADS_1
"Eh Na, ngagetin kayak kunti aja."
"Aku cowok ya,"
"Bantuin ***-" tanpa aba-aba permisi Sena membantu melepaskan helm di bawah dagu gadis itu. Nadine terpaku.
"Dah selesai, helm baru ya?"
"Punya bokap, eh."
"Oooo... "
Nadine mengamati wajah Sena, ada yang aneh tangannya tak sengaja terulur memegang luka lebam itu.
"Aww,"
"Kenapa?"
"Biasa... ee..."
"Kamu berantem?"
"Biasa ceroboh kan akunya,"
"Oh tak kira berantem, tapi gak mungkin berantem kan?"
Sena grogi, dirinya bingung mau bersilat lidah apalagi.
"Udah enggak semenjak itu,"
Nadine berjalan meninggalkan area parkiran bersamaan dengan Sena.
"Jangan diulangi lagi ya, setelah kejadian itu."
Sena tersenyum, sembari ingatannya mengingat masa itu.
"Yap, pasti dong."
"Eh nanti ke perpus yuk, cari bacaan biar gak jenuh."
"Bukannya itu malah mengundang kejenuhan?"
"Coba deh kamu merangkak dari kejenuhan itu sendiri, buku gak buruk amat kok percaya deh."
Matahari cepat berputar hingga ia lupa jika awan telah hilang.
....
Salam senyuman,
Derfagustin.
__ADS_1