SeNadi(n)

SeNadi(n)
Untung Tak Hilang


__ADS_3

Mencerna demi kata setelah ingin mungkin jadi kita. _Drfgs.


Pandangan jelmaan itu mengabur seolah bertindak kejam menjadi buta dalam sekejap, rautan titik jemu mengudara dalam perasingan akankah seorang Sena mampu menahan tidak iba pada hewan liar berkaki empat berbulu belang itu. Tubuhnya basah, antara di guyur hujan dan bandel mencari tempat teduh. Badannya sedikit menggigil, lagi-lagi ia akan menangis meski bukan dia yang mengalami. Malang sudah nasib kucing itu, ia tahu sembilan nyawa adalah jabatannya tapi untuk urusan kembali sudah takdirnya.


"Jangan dulu!" teriak Sena pada kucing malang meringkuk di sampingnya tepat di bawah kursi besi halte tempat ia menunggu seseorang.


Sena membongkah tasnya berharap yang diharap ada di dalam tasnya, mencoba berimajinasi bahwa tasnya itu kantong Doraemon. Tisu dan sebungkus roti keju ada di dalamnya, kan harapan kali ini bisa terwujud.


Kucing tersebut seolah tak kuat menahan beban hidup ini, ketika Sena berjongkok dan memberinya makan kedua matanya bahkan sudah sulit di buka. Dengan ragu sesekali Sena mengusap bulu kucing tersebut yang membasahi bulunya. Tangannya gemetar, ingatan tentang Lulu kembali terngiang.


"Lo bisa Na, lo bisa!" ucapnya penuh tegas pada dirinya sendiri setelah ia mengusap bersih bulu kucing penuh kasih sayang, Sena segera memberi kehangatan dengan menutup kain penutup hidung yang sering ia bawa, ini pemberian Bundanya cukup lebar dan lebat untuk memberi kehangatan berasa langsung dari seorang ibu.


Kedua bola mata kucing pun mulai membukan bahkan mengaung, kucing tersebut berdiri dan mengendus lalu memakan makanannya. Sena tersenyum.


Deru suara mobil mengudara, mobil hitam berhenti tepat di halte, sang penumpang turun.


Sejenak Sena mencerna siapakah gerangan, sebelum benar-benar....


Bugh....


Satu pukulan keras menghempas Sena mengakibatkan ia tersungkur, setelah ia tahu ujung bibirnya berdarah ia menoleh orang tersebut menghilang dalam sekejap.


***


"Ya lo nya aja ****** main gini aja lo kalah Bay!"


"Aku kan tidak bisa melakukan permainan yang membingungkan ini Gema bagaimana kita bisa menggeser kuda ini ke depan?"


"Ya tinggal geser aja lo kan punya tangan," begitu nyaring suara menyatu dengan suara imut milik Bayu yang belum bisa memainkan permainan di atas papan hitam putih ini.


Dert..dert...

__ADS_1


"Bentar ponsel gue bunyi."


"Iya Tan? Sena udah pulang? Oke nyebrang ini, assalamualaikum."


Gema memukul pundak Bayu, "Eh Sena dah pulang, ngerjain tugas di sana aja." tarik Gema pada Bayu yang sedang berupaya membereskan papan catur.


"Ini di beresin dulu,"


"Udah gak papa nanti juga balik sendiri."


Bayu mencari tas ranselnya di balik jaket dekat sofa ruang tamu Gema. "Maksudnya?"


"Kayak dora lo ya, nanya mulu!"


"Siapa dora?"


Gema sudah berusaha menarik lengan Bayu keluar rumah menggiring ke rumah Sena yang hanya tinggal nyebrang jalan.


"Temennya Nobita,"


"Nah, itu lo tau." Gema menoleh ke arah Bayu yang memang benar-benar polos. "lo waktu kecil nonton apaan sih gak tau Dora?"


"Aku dulu waktu kecil dilarang nonton kartun, kata Mama gak baik dengan masa pertumbuhan aku." jujur Bayu.


Gema tak begitu mendengarkan, entah ia harus bersyukur atau tidak menemukan manusia langka seperti Bayu. "Assalamua- Sena!"


Gema kaget melihat keadaan Sena terduduk di sofa depan ruang tamu dengan muka membiru di bagian bibir, Nusy sedang membantu mengobati dengan mengompres es batu yang di balut handuk kecil. Sena sesekali meringis.


"Kena-"


Tangan Sena menahan Gema, menghadapkan telapak tangan mengisyaratkan untuk diam, sekali ini saja mungkin.

__ADS_1


Gema duduk di samping Sena yang merasa kesakitan, sedang Bayu mengikuti rasa iba menyelimuti.


***


Ponsel Sena dari tadi kedap-kedip, sebuah tanda ada panggilan masuk yang mengudara tak ia gubris, ia masih tak menyangka dengan orang yang membuat dirinya tak bisa makan rendang buatan bundanya. Bisa pun makan tapi tidak benar-benar merasakan.


Pintu terbuka, sebelumnya terketuk beberapa kali sebab tak ada respon penghuni jadi diam dapat di definisikan menjadi 'iya' meski tak diucapkan.


"Anak Ayah jagoan sekarang pake berantem segala," kekeh Budi sembari menepuk pundak Sena, ada rasa bangga di sana.


"Sena gak berantem Yah,"


"Terus apa? Latihan MMA? Atau sepak bola?" tawa Budi menggelegar memenuhi kamar Sena, sementara Sena menahan tawa agar tak tertawa.


"Masalah cewek pasti nih,"


"Ayah... Sena gak berantem," rengek Sena bak anak kecil minta dibelikan jajan.


"La terus apa? Anggap Ayah bukan Ayah, kayak temen sendiri gitu."


Sena menatap wajah Ayahnya yang terlihat penuh harap agar Sena menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sena gak tau, tiba-tiba ada seorang lelaki pukul Sena hingga tersungkur lalu pergi tanpa berucap."


"Heh?" sejenak hening. "untung tak hilang."


"Apa Yah?"


"Kamu."


...

__ADS_1


Salam senyuman,


Derfagustin.


__ADS_2