SeNadi(n)

SeNadi(n)
Bukan Laksana Air dan Api lagi.


__ADS_3

Sengaja menggaduhkan agar senyap tak lagi ungkit, masa lalu tidak terlalu pahit hanya akhirannya saja yang tiada sanding. _Drfgs.


Pranggg....


"Jangan pernah sentuh aku lagi! Pergi dari sini!"


Lelaki berperawakan tegap, berlengan panjang itu membungkuk menyamakan posisi lawan bicaranya, sembari tangan kanannya menyalurkan kehangatan yang membawa aura dingin.


"Aku mau kita kayak dulu lagi, aku rindu keluarga kecil kita, masakanmu, atau bahkan kopi buatanmu. Aku rindu kalian," ucapnya penuh dengan penekanan dan tangis. Lelaki yang tak tahu gengsi menangis di depan wanita ini. Lagaknya ia tak mengurusi itu, ucapan tadi memperjelas keinginannya.


"Aku yang gak sudi melihatmu di rumah ini lagi, pergi dari sini atau ku panggil polisi?!"


Lelaki itu menunduk, menahan tangis yang kian pecah. "Aku masih mencintai kalian, kenapa semua berakhir seperti ini?"


"Kamu yang memulai kamu juga yang mengakhiri Sat!"


Tangan kekarnya memeluk paksa wanita di depannya ini, "Aku tau kamu masih menyayangiku Ra, aku minta maaf untuk kemarin. Aku menyayangi kalian, sungguh."


"Aku gak bi-bisa.... huhu, kamu terlalu jahat untuk semua ini."


"Aku janji bakal jadi suami dan papa yang baik buat kalian,"


"Tak perlu janji, jika nanti bakal diulangi untuk diingkari." dalam kondisi memeluk, walau lawannya makin meronta dan isak menyeruak. Tak menyurutkan niat awal lelaki itu.


"Jelas ini semua salahku Ra, aku gak sanggup lagi. Ibu menyuruhku untuk pergi,"

__ADS_1


"Jika kamu sudah mengucap janji suci pernikahan, bukan hanya di depan para keluarga tapi juga pada Tuhan dan kamu dengan seenaknya mengingkarinya."


"Aku sadar ini tak mudah tapi sekali lagi kalian adalah hidupku, aku bahkan tak pernah benar-benar meninggalkan. Maaf,"


***


Setelah baju renangnya terlalu ketat untuk menemani renangnya, ia memilih piyama selepas mandi keramas. Kebahagiaan hakiki menurutnya meskipun sepele, setelah pulang dari kampus dengan penuh drama tadi ia lebih suka menenggelamkan masalah dengan berenang.


Bahkan ia belum menemui sang mama yang mungkin sudah tertidur pulas di kamarnya. Sebenarnya Nadine lebih sering tidur sekamar dengan Nara, namun lemari baju dan peralatan pribadinya malas ia pindah ke kamar mamanya, ia tak ingin juga nanti bakal mengotori kamar perempuan yang telah mencetuskan dirinya di bumi ini.


"Ma?" panggil Nadine lembut tatkala ia melihat Nara telah meringkus di balik selimut dengan tidurnya yang terlihat nyenyak dari pada malam-malam sebelumnya.


"Mama sudah tidur ya?" tanya Nadine pada dirinya sendiri.


Nadine memilih beranjak menuju dapur, membuat susu hangat di sana. Sembari mengingat kembali ucapan yang ia lontarkan pada Sena, entah apakah akan berdampak buruk nantinya. Nadine tak pernah ingin berpikiran buruk selepas ini. Ia yakin bahwa ucapan dan tindakannya benar.


Nad?


Nadine tak perlu membuka pesan tersebut, ia dapat melihatnya saat pop up layar pesan beralun.


Nadine hanya menghela, sedikit malas ia membalas apalagi malam begini. Sungguh ia mengantuk, entah kenapa sehabis menangis lalu berenang bawaanya ngantuk. Sementara susu cokelat merasa tidak berbuat apa-apa di genggaman tangan kiri Nadine.


Beberapa kali ia mengucek mata, baru mau melangkahkan kaki menuruni kursi. Pengirim pesan tadi menelepon.


"Ha-halo Nad?"

__ADS_1


"Dah malam Na, aku ngantuk sumpah gak boong."


"Kamu gak papa kan? hmmm... soal tadi?"


"Aku baik dan aku harap kamu bakal membaik, udah ya ngantuk aku. See you..." tutupnya dan segera menaiki tangga kamar Nara menyusul dalam mimpi di sana.


Nadine selalu mengusel Nara, bak anak kecil yang ingin mencari kehangatan. Nara sudah terlihat begitu pulas, syukur dalam hati Nadine ia haturkan kepada Tuhan. Tak biasanya Nara dapat nyenyak walau jam malam masih menunjuk 9 malam. Ia harap hal baik bakal datang padanya.


Nadine sedikit menjauh takut mengusik tidur mamanya, ia ambil bantal kesayangan di dekat pelukan Nara.


"Basah?" bingun Nadine tatkala meraba bantal kesayangannya.


Ia menegakkan badannya menyalakan lampu.


Tak hanya bantalnya namun pipi mamanya terlihat berair, Nadine menyadari kamarnya ber-AC serta tak mungkin juga itu keringat.


Deru napas Nadine bergulat dengan pikiran-pikiran buruk.


"Siapa yang menyakiti hati Mama? Aku tak ingin memaafkannya." bisik Nadine menghancurkan hatinya, usahanya selama ini tak bakal sia-sia selepas tangis dari Nara membuatnya terhempas saat ini.


Sampa Nara terjadi apa-apa, lagi. Nadine tak bisa memaafkannya, sungguh ini janjinya.


....


Salam senyuman,

__ADS_1


Derfagustin.


__ADS_2