SeNadi(n)

SeNadi(n)
Alasan Semula


__ADS_3

Bagaikan sumur yang terkuras, kita menghilang bersamanya. _Drfgs.


...


Pandanwangi tak memberi angin segar, sudah di katakan jika semua apa yang kita pikirkan tak akan benar-benar jadi kenyataan. Terus mengais puing-puing harapan di sela kesedihan yang terukir di wajah anaknya, Sena dan kini keduanya merasakan hal yang sama. Sena telah berusaha ia tahu itu, sedang Nusy dan suaminya bekerja lebih keras dari biasanya.


Satu hari penuh Sena kembali mengurung masa kehidupannya, tak lagi gemericik suara dibuatnya. Nusy bahkan sudah ingin mematahkan asanya sendiri, Budi selalu di dekat dan menguatkan.


ceklek ...


Pintu kamar Sena terbuka, kini dirinya keluar dengan penampakan tak bisa di jabarkan sebagai anak rapuh, bahkan dirinya telah mengapur bagai debu di pinggir jendela rumah. Laki-laki itu benar-benar dalam masa depresi tingkat tinggi, tak mau berkomunikasi sama sekali bahkan dengan diri sendiri ia membenci. Kesalahan akan kesedihannya membuat dirinya kehilangan banyak hal, ia membenci semua ini.


Kembali, jalanan terasa lebih menggiurkan di banding menikmati heningnya kamar tanpa ada angin keluar, sebab segala celah ia tutup rapat-rapat beserti jiwanya.


"Makan dulu Na, " ucap Nusy sudah sumringah melihat anaknya mau keluar dari kandangnya.


Sena terdiam, tanpa membalas senyuman atau gelengan kepala. Ia tetap, tetap bermuka masam, kusut tak ada ekspresi manusiawi di sana. Nusy kembali cemberut, tanpa ada salam pamit atau sekedar cium tangan. Sena merasa semua tak ada dan dirinyalah yang menanggung derita, tak pernah bahagia, sedih yang merajalela.


Tanpa ia tahu, jika dirinya terjatuh maka yang terluka adalah orang sekitarnya. Sadar belum menghampiri Sena.


***


Budi membawa dua cangkir teh dingin, dengan dua es batu kecil di masing-masing cangkir putih bergambar upin ipin ukuran sedang itu. Sena yang dahulu memilih cangkir ini sebagai hadiah pernikahan 20 tahun mereka. Setiap di minum, mereka merasa mengemut kepala upin ipin dan rasanya seperti lolipop jika diutarakan. Lucu memang, Sena yang mengawali ini semua.


Tanpa tahu takdir berencana lewat masa, sedih mulai menghampiri atas kehilangan suatu yang berharga baginya.


"Sudahlah Bun, Sena tahu tempat dia pulang," ucap Budi menenangkan Nusy, untuk kesekian kalinya sebab tak hanya hari ini seorang Gradang Sena Rafons lama tidak pulang ke rumah, tanpa jejak maupun di manakah ia akan tidur tak begitu ia persoalkan, satu hal paling penting sekarang depresi hilang dan hengkang.


***


Suara merdu mengalun tanpa jejak, menjadikan Sena semakin bungkam menikmati indahnya kesedihan yang mendalam. Kakinya terkatuk, ingin mengutuk tanah yang tiada putus asa menopang dirinya. Buliran keringat menguap tatkala terpaan angin mengudara menyapa dirinya. Pikiran kembali bersuara, hentikan ini semua adalah kemauan hati.


Dibawah pohon rambutan pinggir jalan dirinya berada, butuh tempat dan jarak agar menjauhi rumah yang penuh kenangan buram. Ini soal kepergian sahabat, tapi sedihnya tiada kira bagi Sena. Bukan tanpa alasan, Lulu benar sangat spesial tanpa Sena sadari ada kehidupan lain yang harus dilanjutkan.

__ADS_1


Pandanwangi ia harap masih ada, entah mengapa perlahan laju motornya mengajak dirinya menuju tempat surga dunia ayahnya. Semoga niat awal ayahnya dapat ia temukan di sana.


Langit merekah jingga, membawa pesan tersendiri baginya. Sena mengendarai sepeda motornya tak terlalu cepat, juga tak terlalu lambat. Dirinya menikmati prosesnya.


"Ya benar, Ayah benar." ucapnya dalam hati sembari menebar senyuman samar bagi dirinya sendiri.


Setelah ia dengan yakin memarkirkan sepeda di sebelah motor matic seorang yang tak mungkin ia kenali, kembali dengan mantapnya dua kakinya ia gayuhkan menuju isinya sebuah Pandanwangi.


Sekelebat ingatan tentang masa kecilnya yang berkunjung di sini bersama ayah membuatnya tersenyum, seharusnya dirinya bersyukur masih ada banyak yang peduli dan sayang padanya. Bayangan itu tiba-tiba hilang tatkala ada seorang anak kecil menangis di seberang ia menopang badan.


"Mau beli dua Paaa ..." rengeknya sesenggukan mengusap ingus yang mulai keluar dari dua lubang pernapasannya.


Sena terdiam mulai menelusup, apakah yang sebenarnya terjadi dan apa yang anak kecil itu harapkan.


"Kan di rumah udah ada lima," balas ayahnya sembari mengusap rambut pendek kepala putranya itu. Bukannya membaik, anak itu terus meronta. Jika belum benar-benar terwujud maka diajak pulang bukan kemauan awal.


"Mulai nakal ya kamu?!" geram ayahnya siap memukul anak berusia fajar di pagi hari, kira-kira masih TK.


"Tahu apa kamu soal orang tua? Sudah beri orang tua kamu apa hari ini? Hah?!" sentaknya, ini membuat Sena kembali terdiam dan merutuki diri sendiri. Tapi, menurutnya tindakan kali ini juga tidak salah.


Tanpa menunggu jawaban dari Sena, lelaki gundul itu pergi menarik anaknya yang telah terdiam sembari melihat ke belakang ialah tempat Sena terdiam dan menunduk berkat ucapan pria dewasa itu.


Kakinya belum juga memasuki area Pandanwangi sudah ingin kembali. Apa yang telah ia lakukan selama ini, dua hari sudah ia mengambang di jalanan tanpa arah. Bahkan sedetik pun ia tak memikirkan tentang bundanya yang setiap pagi menyiapkan handuk dan sarapan yang dengan usaha bisa bercita rasa seperti masakan ayahnya. Atau sudah berapa kali ayahnya mencuci sepeda motor setiap hari jika tak ada dirinya yang diajak main catur atau menanam tanaman di belakang rumahnya.


Dering ponsel mengalun nada membasuh-Hindia menyadarkan pikiran campur aduk miliknya.


"Halo Gem?"


"Bunda," balas seorang yang telah memanggilnya tanpa memperhitungkan kata apa yang terucap lagi, Sena kembali pada sepeda motornya yang terparkir di sana tadi.


"Cepet amat sep, gak jadi beli atau uangnya ketinggalan atau gimana nih?" ucap tukang parkir di sebelah Sena, tak lupa selembar dua ribuan ia serahkan walau ini tak begitu lama. Anggap saja ini sebagai penutup mulut bagi tukang parkir yang terbilang cukup cerewet.


Dengan segala kemampuan motornya melaju, ia usahakan. Di dalam kehidupan pasti cepat-cepat selalu datang di tengah perlahannya kita.

__ADS_1


***


Pandangan pertama setelah perjalanan yang menurutnya panjang kali ini, adalah terbaringnya Nusy di ranjang kamarnya. Lemah, pucat sulit untuk di definisikan jika yang sakit bukan hanya fisik.


Dengan segera Sena memeluk erat wanita yang berjuang keras tak hanya waktu melahirkannya juga kehidupannya selama ini.


Tak ada lontaran kata-kata hanya pelukan hangat yang mengajak bicara, semua tahu rindu melekat dari masing-masing. Gema yang semula membawa nampan sehabis memberi obat berjalan keluar menuju dapur, tersenyum sejenak melihat anak dan ibu yang tiada henti mengadu rindu dan maaf dalam pelukan.


Budi pun begitu pula, tersenyum sekilas dan bersyukur dalam hati.


Sena mengurai pelukan, melihat raut wajah Nusy sejenak yang mulai letih dan keriput yang menjalar, bekerja setiap hari tanpa imbalan gaji sepeser pun, pekerjaan seumur hidupnya tak ternilai jangkauannya. Tak semua orang mampu, bekerja sebagai seorang ibu dan benar-benar seorang ibu bukanlah pekerjaan sekedar melahirkan anak.


Nusy mengusap rambut ikal Sena yang mulai memanjang, ia cium puncak kepalanya masih wangi. Nusy rasa aromanya masih sama ketika Sena berumur dua tahun, walau sampo-nya sudah berbeda usia.


"Sena gak mau liat Bunda nangis," ucap Sena datar tanpa tatapan mata seperti biasanya ketika ia melihat sekilas mata Nusy mulai merah dan berair.


Nusy menghentikan sebelum hujan sebentar lagi turun, "Sudah lupa tanggal? Sampai gak ucapin sama sekali."


Sena memegang kedua tangan Nusy memberi kehangatan di sana, "Apapun Bunda, jika Sena mampu akan Sena lakukan."


"Lanjutkan hidup semestinya, kuliah ya?"


Sena yang dari tadi masih menunduk seketika menatap mata bundanya dan mencari celah di sana.


"Tapi kan Bun-" ucapan Sena terpotong ketika Nusy menunjukkan telunjuk dan menggoyangkan ke kanan kiri di depan wajah Sena dengan tatapan yang Sena pahami, jangan di langgar kan sudah janji.


Jika bukan mereka alasan pertama untuk kembali semestinya siapa lagi? Apakah ada pihak kedua, ketiga maupun ke empat sebagai alasan membenarkan arah jalan kehidupan.


.....


Salam senyuman,


Derfagustin.

__ADS_1


__ADS_2