SeNadi(n)

SeNadi(n)
Berkisah ...


__ADS_3

Ketulusan tentang persamaan bukanlah keharusan, perbedaan juga mampu kita tuluskan sebelum beda itu benar-benar pergi. -Drfgs.


....


Jalanan kini masih lenggang, tak padat merayap berkat waktu masih belum jam ribut-ributnya memenuhi jalanan. Dua lelaki anak dan bapak yang kini menikmati udara pagi, masih bisa mereka selami. Jangan sampai saja, polusi yang mengambil alih.


"Kenapa ayah yang bonceng, kan seharusnya Sena yang nyetir?" celetuk Sena setengah perjalanan setelah saling diam menikmati dinginnya pagi selepas guyuran hujan semalam.


"Ayah pengen rasain aja bonceng kamu kayak dulu anter ke sekolah, sekarang kan jarang bahkan gak pernah. Sudah merasa bisa naik motor sampai lupa siapa yang pertama ajarin," tukas Budi dengan segenap hati. Sena merasakan kerinduan itu pula sebetulnya.


"Ayah bisa aja," gumam Sena tak mampu terdengar di telinga Budi yang sibuk mengemudi dengan berhati-hati tanpa kebut hanya ada sedikit kabut menyelimuti perjalanan, intinya mereka ingin menikmati perjalanan ini. Cepat sampai bukanlah tujuan sesungguhnya.


"Hidup itu seperti mengendari motor Na, jangan terlalu ngebut nikmati perjalanannya lihat sekelilingmu, cepat sampai bukanlah tujuan awal."


"Kenapa pergi harus menyakitkan sih Yah,"


"Soal Lulu?"


"Ayah sudah tahu,"


Tak segera Budi jawab, ia hentikan motornya. Ada taman pinggir jalan yang cukup sepi, ia tepikan.


Mereka berdua segera turun, Budi menuntun Sena untuk mengambil duduk. Rehat sejenak itu penting.


"Memang melepaskan itu gak mudah Na, apalagi soal Lulu kucingmu."


Sena menarik napas, ingin sekali membalas bahwa Lulu itu lebih dari sekedar hewan peliharaan.


"Jangan coba-coba menggantikan Yah,"


"Ayah tahu Lulu spesial, tapi hidupmu lebih spesial dari sekedar meratapi kepergian Lulu." terang ayahnya kesekian kali berharap ini bisa didengar Sena untuk segera berbesar hati.


Seorang Sena hanya terdiam, entah memikirkan atau segera menyingkirkan ucapan-ucapan penghibur laranya.


Kembali Budi berdiri, segera mengendarai menuju Pandanwangi tempat singgah hari ini.


"Ayo, nanti aja mikirnya. Tapi, ingat jangan terlalu lama nanti terlambat."


"Ayah...." rengek Sena, Budi menyuruh anaknya yang kini mengendarainya.

__ADS_1


Sebelum Sena benar-benar tersesat dengan telaten Budi mengarahkan.


***


Pandanwangi merupakan tempat sebuah harta karun tersembunyi bagi Budi, pecinta burung banyak yang ke sini. Dengan berbagai jenis burung hampir semua ada, bahkan hewan lainnya pun tersedia jika ada yang mau memelihara. Tidak hanya itu, berbagai tanaman bunga dan buah-buahan penyumbang oksigen lengkap tersedia di sini.


"Burung Ayah udah banyak, kenapa mau beli lagi. Udah izin Bunda?"


"Belum dan tidak perlu izin, lagi pula Ayah gak beli burung kamu tahu Ayah sudah punya kan," celetuk Budi dengan selingan menggelikan itu berhasil membuat Sena menahan tawa.


"kalo mau ketawa jangan ditahan, kasihan tawa gak bersalah."


"Ayah mau beli pengganti Lulu?" ucap Sena mengetahui gerak-gerik Budi mendekati kandang kucing dengan bulu tebal-tebal.


Sena mendekat, melihat salah satu kucing persia mirip Lulu hanya saja badannya tak segemuk Lulu, bulunya bahkan lebih bersih punya Lulu meski Sena jarang memandikannya.


"Ayah ingin beli tanaman, besok tanggal istimewa Bundamu." ucap Budi menyadarkan lamunan Sena menatap kucing di dalam kandang.


"Ini tanggal berapa Yah?"


"Bahkan kamu lupa ini bulan apa?"


"Desember akhir Sena,"


"Sudah hampir setahun dong Sena mati,"


"Hush... Jaga setiap perkataanmu, jika diberi waktu jangan dibuang sembarang masih banyak yang membutuhkan bahkan dirimu sendiri masih butuh."


Berbagai tanaman dan debat pilihan telah berlangsung sengit, kenapa tidak salah satu mengalah atau menyamakan pendapat? Maaf ini bukan tentang kebiasaan yang selalu menyamakan untuk di samakan. Budi dan Sena mulai menikmati itu, tujuan hanya satu ingin membahagiakan seorang wanita dalam hidup mereka.


Mungkin sepenggal atau sepatah kata terucap dari masing-masing individu berbeda hingga menjadikan itu debat. Dari situ mereka menemukan celah sifat, ingin menjadikan yang terbaik untuk tetap terbaik.


"Jadi deal ya Yah, beli dua satu tanaman bunga anggrek satunya pohon bibit jeruk purut," jelas Sena sehabis debat panjang sebelum proses tawar menawar dengan pedagang pula. "kenapa jeruk purut sih Yah?" bibit jeruk purut adalah pilihan Budi, ia tahu ia juga harus memberi suatu yang kiranya bakal bermanfaat seperti pohon jeruk purut misalnya, ia tahu Nusy sering membuat sambal pecel. Pecel tanpa daun jeruk tak bisa hidup, maka ia akan memprioritaskan kebutuhan istrinya pula.


"Jangan bilang kamu mau lihat Bundamu sedih gara-gara daun jeruk membusuk di kulkas saat mau bikin pecel,"


Sedang Sena hanya ber-oh ria mendengar penuturan Budi. Ia sekarang mengerti.


Tawa kini mulai tercipta dari Sena, Budi juga lega. Sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan Pandanwangi, beli gado-gado di pinggir jalan adalah kebiasaan menyenangkan yang diimpikan di setiap perjalanan.

__ADS_1


"Sena, eh apa kabar?" celetuk tiba-tiba dari seorang laki-laki berjas almamater kampus universitas.


Sena merasa pemilik nama dan tak lagi asing dengan suara laki-laki itu mendongak, beringsut sejenak dari kegiatan makan gado-gado.


"Messi, lo?" balas Sena, pada teman SMAnya nama menyerupai pemain sepak bola tapi Sena tahu meski begitu, Messi tidak menyukai sepak bola ia lebih menyukai bulu tangkis atau voli pantai.


"Eh, iya Na. Gue kuliah di kampus depan, lo sekarang kuliah di mana? Batang hidung lo lama gak seliweran."


Sena sejenak terdiam, mencoba meresapi kata-kata Messi. Dirinya tersinggung.


"Gue di-"


"Halo nak, kenalin Budi bapak dari seorang Sena," sela Budi di tengah saling sua anak remaja.


Messi menyambut dengan sopan bahkan dengan senyuman dan cium tangan. Lalu kembali Messi pada nostalgia teman.


"Eh kemarin, Nadine ngerayain ulang tahun kecil-kecilan sih. Lo kok gak datang? Jangan bilang kalian..."


Sena menunduk, tersenyum kecut. Sekarang ingin sekali dirinya membelah diri berpencar hingga tak ada seorang pun mengenali belahan dirinya. Sena ingin ke Pluto, berharap planet itu masih berada atau membakar diri di depan matahari.


Obrolan yang lebih dominan Messi membicarakan seorang wanita bernama Nadine, dan tentang bangku perkuliahan. Sena hanya membalas gumam; oh, iya, gitu ya? Begitu seterusnya. Untung Budi cepat menghabiskan gado-gado, segera menarik Sena dari lubang kenangan yang buram. Gado-gado Sena dibiarkan setengah tak di persilahkan ke mulut, sudah kenyang ocehan Messi sepertinya.


***


Kembali bongkahan mendung kenangan dan lain hal membuat Sena marah pada dirinya sendiri. Bahkan dirinya berhenti melanjutkan ke jenjang kuliah berkat gap year yang ia hampiri. Satu lagi ada seorang yang kini menanti, tapi tak Sena sadari. Sena terlalu rapuh untuk menguatkan ini semua.


Kasur tempat tidurnya tidak terasa empuk lagi, bahkan keadaan semakin mencekam. Ketakutan dan depresi kembali siap menerkam, satu-persatu berjalan berjajar rapi di depan pikirannya sebelum itu terjadi dengan segera ia ambil ponsel di nakas, mencari kontak seseorang dan menghubunginya.


"Ha-lo?" sapanya gemetar, lidah serasa tak bisa di kondisikan.


"Iya? Siapa ya?" jawab seseorang di seberang masih terdengar halus untuk diutarakan seorang perempuan. Telinga kiri Sena yang menerima suara itu seketika ingin melepas diri.


Tut.Tut.Tut ....


...


Salam senyuman,


Derfagustin.

__ADS_1


__ADS_2