
Untuk proses lepas-melepaskan bukanlah kemudahan, untuk menuju ikhlas tak semudah yang diucapkan. -Drfgs
....
Awan membendung sekelebat senyuman di raut wajah lelaki yang kini duduk di area balkon kamarnya bersandar di dinding tembok bercat putih, tak peduli akan putih kaosnya berkat cat yang mulai mengelupas berkat sang ayah membelinya di saat diskon di akhir tahun, tahu saja bagaimana kualitasnya tak sebaik ekspektasi.
Angin berdesir tanda tak mampu pergi menyendiri, mencari teman tuk dihinggapi memberi kasih sepi di senja menuju matahari kembali. Lelaki tersebut mengosongkan pikiran tanpa tahu tujuan, dua bulan sudah mengikhlaskan adalah tindakan yang harus ia lakukan tak kunjung bersua. Nusy sang ibunda tiba-tiba membawa senampan berisi camilan roti dan segelas es teh kesukaan putranya yang kini bukan seperti manusia. Meratapi segala yang seharusnya pergi bukanlah suatu hal mudah. Helaan napas kasar selalu keluar dari lubang penciuman Nusy, apalagi tindakannya kini. Keresahan tak berujung berarti membuat Nusy takut akan masa depan Sena.
Langkah kakinya ia lajukan mendekat ke arah Sena, merunduk menyamakan senderan Sena di dinding bersamaan mengikuti arah pandang anak kebanggannya. Sekilas mengulas senyuman, ingin menceritakan sedikit cerita untuk menarik anaknya dari kabut awan hitam.
"Tadi bunda ikut senam loh," seru Nusy pada Sena yang masih tak berkedip melihat daun yang jatuh dengan ikhlas sebab angin yang mengajak. "bunda bayar tiga ribu tadi, yang lain bayar lima ribu malah, hahaha ..." sambung ceritanya kembali berharap Sena menyambut dengan sahutan menyenangkan seperti biasanya.
Sena lahir 19 tahun silam terlahir secara sunsang berkat kelincahannya. Tubuh mungil berkat cacing yang menggerogoti tak meruntuhkan semangat Nusy dan Budi membesarkan Gradang Sena Rafons. Dengan pupuk kasih sayang membuatnya tumbuh ceria, tapi kali ini sempat-sempatnya awan mendung menghadang tanpa jeda.
Butuh ribuan cara untuk menyingkirkan, dan kembali menuntun keceriaan datang. Tapi abaian berkat besarnya kesedihan membentengi semua tak mengizinkan bahagia atau bahkan senyuman pelangi memasuki Sena.
***
Bulan Desember segera berakhir, Sena merubah pola hidupnya menjadi liar. Irit bicara, jarang pulang ke rumah adalah kebiasaan baru yang menghampirinya. Pulang larut tanpa tahu pagi, siang, sore dan malam. Sering menghabiskan di jalan, bukan bercengkerama dengan teman tapi petang. Beribu tangisan tersembunyi dari Nusy melihat perubahan Sena.
Ingin sekali Nusy memanggil Lulu dan menyuruhnya menghentikan ini semua. Lulus sekolah menengah telah berganti, saatnya jenjang berikutnya yang seharusnya di hadapi bukan malah membebaskan diri dari kenyataan hidup.
Ceklek ...
Pintu berlapis kaca terbuka, jam menunjuk 2 pagi tertera di jam dinding dekat televisi ruang keluarga samping kiri. Sena pulang masih dengan wajah tak sempurna, ada hiasan lebam kebiruan dan sedikit merah cairan dari dalam tubuh yang mengandung trombosit dan kawannya.
__ADS_1
"Sudah jadi preman sekarang," ucap tenang dari mulut Budi dini hari membaca koran tanggal kemarin, sebab tukang koran tak akan datang di jam dini hari seperti sekarang.
Sena menghentikan langkahnya, dengan sekuat tenaga ia menahan tubuh agar tak goyah, ia percaya kedua kakinya kuat. Merasa dirinya masih dalam pengawasan orang tua, meski dirinya tak pernah mendengarkan apapun nasihat yang dilontarkan.
Hanya denting jam yang riuh di sini, Sena mencari kata-kata yang pas untuk membalas ucapan ayahnya. Budi melipat koran, meletakkan di bawah meja bundar dekat televisi besar. Berjalan mendekat, usia yang mengikis dan beberapa uban yang mulai singgah tak mampu membuat dirinya terlihat muda dengan menggebu-gebu jalannya. Gaya tenang tanpa membentak adalah prinsipnya membicarakan semuanya. Bicara keras tak semua berujung penyelesaian.
Keningnya berkerut menampakkan tiga lapisan, mata kecokelatan yang ia wariskan pada Sena mendelik meneliti wajah lebam anaknya yang kini terdiam dengan wajah tak peduli sedikit pun. Budi melihat itu, dia bersedih anaknya tak lagi memiliki perasaan. Jangan sampai ketakutannya datang. Jarinya meneliti wajah muda Sena. Ada raut wajah kekecewaan yang membuncah. Ingin hadir di setiap masalah anaknya, namun sang pemilik tak pernah menerima tamu membiarkan dirinya memikul sendirian. Dengan tarikan kedua tangan ke tubuh Sena, Budi segera memeluk putranya sebelum ia lontarkan beberapa kata bahkan sampai detik ke lima ia belum mampu mengucapkan sepenggal kata. Hanya tepukan tanda kekuatan, Sena meneteskan air mata dengan datar. Ia sadar dirinya masih memiliki perasaan. Sedih yang merajalela tak mampu di sembuhkan, ucapnya pada diri sendiri menyimpulkan itulah kebenaran.
Dua lelaki berbeda generasi kini sedang melankolis, tubuh saling berpatah hati. Dengan satu permasalahan yang tidak bisa diselesaikan. Sebetulnya keikhlasan kuncinya, tapi terlalu berat untuk dilakukan bagi Sena.
Tak ada yang menghentikan bahkan dirinya sendiri.
"Besok ikut ayah ke pandanwangi ya," ucap Budi seraya melepas pelukan tak lupa ia tutup dengan tepukan kekuatan kembali.
"Ayolah, luangkan waktumu sebentar bersama Ayah..." bujuk Budi sebisa mungkin. Ia tahu sudah ribuan kali ia lontarkan ajakan ini selepas awan hitam itu menghampiri Sena dan merubah bruntal sikapnya. "Ayahmu tak selamanya punya waktu Sena," sambung Budi menghentikan langkah Sena.
Lelaki yang kini memutuskan mulai memanjangkan rambut ikalnya sebahu itu sejenak berpikir, "Bangunin Sena kalau jam 6 belum bangun Yah," tukasnya lalu melanjutkan langkah kakinya.
Budi tersenyum sekilas, "Jangan lupa bersihkan luka sebelum tidur," seru Budi sesaat Sena telah menaiki tangga sedang Sena hanya melambaikan tangannya.
Seulas senyum kini kembali menyinari Budi, ia harap ini sapu untuk menyingkirkan awan hitam yang terlalu tebal pada Sena.
***
Aroma roti bakar mengarungi kedua lubang penciuman Sena, Budi tahu cara terbaik membangunkan jagoan yang kini tidak lagi kecil. Sena segera membuka kelopak matanya, melihat sang ayah di depan mata di ranjang kasurnya.
__ADS_1
"Ada selai cokelat kesukaan kamu, ayah yang buat bundamu hanya bikin susu cokelat ini. Sarapan, mandi, jangan lupa pakai sabun."
Sena tersenyum, tidak lama hanya sedetik. Segera ia raih nampan berisi roti bakar favoritnya, bagi Sena ayahnya lah koki terhebat baginya bukan berarti bundanya tak jago masak. Hanya saja lidahnya sudah terlalu nyaman dengan masakan sang ayah. Ditariknya selimut sebelum sebongkah roti bakar ia masukkan ke dalam mulut menjadi sarapan.
Budi kembali muncul di balik pintu, sebelumnya ia belum benar-benar pergi dari kamar Sena.
"Ayah tunggu di depan, jangan kesiangan macet bukan teman kita." ucap Budi di depan pintu sebelum ia benar-benar pergi untuk turun ke bawah memanaskan mesin motor yang akan ia gunakan bersama Sena pergi bertualang di Jumat pagi.
Tidak menunggu hingga setengah jam Sena bersiap, ingat Sena tak diwarisi kebiasaan lama bersiap seperti Nusy sang ibunda.
Nusy berkacak pinggang, melihat Sena berkat sabun mandi dengan campuran parfum yang sedikit mengusik acara masak-masaknya di pagi hari.
"Jangan lupa pakai helm," ucap Nusy sedikit namun penuh kasih sayang.
Sena dengan sekuat tenaga ia ulaskan senyuman pada ibunda, cukup berat. Tapi akan ia biasakan.
Sebelum ia pergi tak lupa ciuman di tangan dan pipi ia hantarkan selanjutnya salam.
"Walaikumsalam," balas Nusy dengan segenap ekspektasi.
....
Salam senyuman,
Derfagustin.
__ADS_1