
"Maaf.... Bu, Saya sudah tidak sanggup untuk mempertahankan. Senopati di sekolah ini," ucap sang kepala sekolah,pada wanita yang ada dihadapannya itu.
Ibu Senopati menghembuskan nafasnya dengan kasar," Bu tolong berikesempatan lagi untuk Senopati." Mohon ibu Senopati.
"Maaf Bu,tapi kali ini kelakuan senopati sudah sangat melebihi batas sewajarnya."
Lagi dan lagi ibu Senopati menghebuskan napasnya dengan kasar.
"Saya sudah urus semua surat pindah Senopati," kata kepala sekolah itu,sambil menupukan berkas-berkas yang ada di meja, lalu memberikan pada ibu Senopati.
Ibu senopati menerima berkas-berkas yang di berikan kepala, lalu ia menghela napas pasrah.
"Ya, sudah. Bu, saya mohon maaf atas perlakuan anak saya selama ini"ucapnya.
Sang kepala sekolah hanya tersenyum. Ia pun sebenarnya tidak tega untuk mendiskualifikasi Seno dari sekolah tapi, apalah daya ini kesepakatan bersama dan tindakan anak itu melebihi batas sewajarnya.
Mama Sandra beranjak dari duduknya sambil menggenggam erat berkas tersebut. Ia pun pamit pada kepala sekolah. Setelah itu bergegas keluar dari sana.
Sesampainya di luar ruangan kepala sekolah dilihatnya sang putera sedang duduk-duduk santai di lorong sekolah, merokok dan makan kacang dengan kulitnya dibiarkan berserakan di ubin yang dingin.
Mama Sandra menggeleng heran. Bagaimana tidak? Dirinya di dalam sana berjuang keras agar anak itu tidak dikeluarkan dari sekolah dan lihatlah bagaimana tingkah Seno ugal-ugalan.
Seno menoleh ke arah samping kanan dilihatnya si cewek cupu korban bulan-bulanan para anak Borjuis berjalan. Saat gadis itu melintas di hadapannya, kaki kekar Seno langsung di selonjor kan akibatnya cewek tersebut tersungkur ke lantai.
Brukk!
"Woy!! Mata empat kalo jalan liat-liat mangkanya" kata Seno marah.padahal dirinya yang menjegal langkah si wanita.
Sandra yang menyaksikan hal tersebut, spontan saja berlari menghampiri wanita yang dibuat jatuh oleh anaknya.
"Kamu gak kenapa-kenapa? Ada yang luka, gak?"Mama Sandra membantunya bangun.
Gadis itu menggeleng takut, ia pergi tanpa sepatah kata pun meninggalkan mereka. Mama Sandra memandang punggung gadis itu dengan cengo. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Senopati. Sang mama menghampiri Seno, lalu menjewer telinga nya bak anak seekor kucing liar.
"Pulang kamu. Cuma bisa bikin ulah"cercar sang mama menarik telinga Seno dari tempat sana.
Dengan tampang tanpa dosa Senopati langsung merangkul sang mama dengan wajah sengaja di imut-imut kan. "Sakit, mah...."ucapnya manja.
__ADS_1
"Kamu tahu di jewer itu sakit? Terus kenapa tadi jegal anak orang?"cerewet sang mamah menguatkan jeweranya. "Sakit. Iya, sakit?!!"
Dengan polosnya Seno manggut-manggut sambil mencebikkan bibirnya.
"Pulang!"kata mama Sandra dengan suara andalannya, dan menarik ujung baju seragam Senopati.
Seno menghela napasnya. Ia sudah seperti anak kucing saja? Pikirnya.
.
Tuan Deno Gratama berjalan melangkah cepat sambil membawa sebuah kertas. Wajah yang tegas dan tanpa senyum terukir di sana, tampaknya ia sedang marah pria paruh baya itu masuk kek dalam ruangan yang sepertinya sebuah kamar, Sorot matanya tajam dan tanpa perhitungan pria jatuh baya itu melempar sebuah kertas tepat di wajah Seno yang sedang bermain game.
"Puas kamu bikin malu keluarga?! Kamu pikir papa,mama sekolah kamu buat jadi jagoan kayak di film-film?. hayar orang sesukanya, untung saja pak Darwin Tidak membawa masalah ini kek jalur hukum. Dan Tidak memasukkan kamu kek penjara!" Omel papa Deno dengan emosi menggebu-gebu.
"Udh sih, pah. santai aja, Seno juga enggak buat dia sampai mati ini."kata Seno santai sambil menyimpan kertas tersebut di atas meja.
Deno menggeram marah. Bagaimana tidak? Anak pak Darwin patah tulang sampai di rujuk ke rumah sakit akibat ulahnya. Dengan seenak jidat anak ini bilang begitu seakan-akan tidak terjadi apapun, di mana rasa bersalahnya?
"Anak kurang ajar!"pekik papa Deno meninggikan suaranya. Melangkah ia menghampiri puteranya seraya tangan kekarnya mengambil majalah yang tergeletak di atas meja dan dilipatnya.
Sontak saja Seno langsung terlonjat takut, berdiri ia dari sofa saat mengetahui lunggang langgang sang papa yang pasti akan memukulnya dengan majalah yang dipegangnya.
"Pakek nanya lagi. Mau hukum kamulah!"jawab Seno mendekat.
Seno memekik sial. Jika dihadapkan dua pilihan, antara di hukum orang tuanya atau menghadapi ratusan lawan di Medan perang. Seno pasti akan memilih lebih baik mati melawan musuh daripada harus di hukum oleh papa, mamanya.
Jangan salah berandalan-berandalan gini juga seorang Senopati sangat takut terhadap keganasan orang tuanya bila sedang marah. Terutama sang papa. Karena prinsip Senopati selalu satu ; "takut kedua orang tua. Bukan berarti harus takut pada musuh"
Seno menelan ludah kasar. Tidak ada lagi cara untuk menghindari amukan sang papa. Ahhh!! Sebuah lampu ajaib tiba-tiba muncul di saat yang dibutuhkan dari benaknya. Seno tersenyum licik.
"Jangan harap dengan senyuman aneh seperti itu, kau bisa membodohi papa?"ujar papa tajam.
"Mana mungkin aku berani membodohi papa, sang panutan dalam hidup Seno... Bener gak, kek?"cetus Seno menatap ke arah belakang tubuh sang papa.
Mendengar kata 'kek' sontak saja Deno langsung memutar balik badannya. "Papa, ngapain ke sini?"katanya takut.
Ternyata di belakang tubuhnya tidak ada seorang pun yang berdiri di pintu. Seno menggeram kesal. Seno tahu jika papanya sangat takut terhadap sang kakek apalagi menyangkut perihal dirinya. Pasti kakek akan marah besar.
__ADS_1
"Argh! Seno!"papa Deno berbalik badan dengan niatan mau memarahi laki-laki remaja itu, tapi sial Seno sudah menghilang di tempat. Deno menghampiri jendela yang terbuka dan yakin anaknya pasti kabur lewat sana. Dan dugaannya benar saja, Seno baru saja meloncat dan memijakkan kakinya di tanah.
"Seno! Mau ke mana kamu? Jangan pergi. Kau sedang papa hukum."teriak Seno dari lantai dua kamar milik Seno. "Senoo!!"
Seno berbalik badan melihat ke arah sang papa berada, ia tersenyum sambil membersihkan tangannya sebab menyentuh tanah.
"Seno. Diam kau di situ. Ini perintah."teriak papa Deno.
"Apa, pah? Seno gak denger. Nanti lagi, pah. Ngomongnya... Seno, mau menghirup udara bebas dulu. Bye, papa...."Seno melambaikan tangan sambil melangkah santai menuju gerbang rumah.
"Selangkah lagi kau keluar dari sana. Papa, gak segan-segan buat hukum kamu lebih dari yang sebelumnya. Seno. Kau dengar papa!!"Ancam Deno bernada tinggi, namun Seno acuh tak acuh dan tetap mengindahkan peringatan itu.
Sandra yang berada di dapur mendengar keributan di luar rumah. Suaminya berteriak keras memekik sang putera tunggal mereka. Ia pun menyudahi kegiatan rumah tangga, mencuci tangan sambil berkata ; "apalagi yang dibuat anak itu? Sampai si papa marah-marah begitu?"
Setelah mengeringkan tangan dengan tisu. Sandra melenggang pergi dari dapur, melangkah keluar rumah mencari keributan antara suami dengan anaknya.
"Ini peringatan terakhir. Seno. Jangan nekat keluar dari sini!!"
Sandra melihat sang suami di lantai dua berdiri di dekat jendela kamar milik Seno tengah memekik kesal. Entah apa penyebabnya. Ahh!! Kini Sandra tahu penyebabnya saat sudah melihat ke lain arah. Dilihatnya sang anak memanjat tembok rumah.
Sandra berdehem kecil. Sontak saja Seno menengok ke sumber suara dan dilihatnya sang mama menatapnya tajam sambil melipat tangan di dada dan menggeleng pelan.
"Ehh. Mama... Sejak kapan di situ?"tukas Seno. Ia berdiri di atas tembok yang lebarnya sekitar telapak tangan orang dewasa dan menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Turun. Nanti kau bisa jatuh ke bawah sana?"perintah Sandra mengingatkan.
Seno menggeleng tidak mau.
"Cepat."
Deno yang melihat sang istri yang sedang memarahi anak nakal itu sedikit lega, mungkin saja Seno mau mendengarkan perintah sang mama.
Ia melenggang pergi dari kamar. Saat sampai di luar rumah yang Deno liat hanya sang istri seorang tanpa melihat sang anak berada.
"Dimana, Seno?"
Sandra menoleh pada sang suami sambil menghela napas pasrah dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Dilihat dari wajah sang isteri di yakini bahwa dia gagal membujuk Seno yang akhirnya kabur dari rumah.
__ADS_1
"Anak nakal" papa Deno mendengus, lalu pergi masuk kek dalam rumah.
jangan lupa kasih dukungan buat aku ya