Senopati

Senopati
Bab 6


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10:30,


Yang menandakan waktu belajar-mengajar sudah di mulai, tapi tidak dengan Seno. Karena hanya dirinya seorang dengan santai-santai bolos di kantin ralat bukan hanya Seno tapi ada dua sepasangan manusia di pojok kantin sedang bermadu kasih.


Seno menenggak minuman yang ia beli dari kantin tersebut


pandangannya teralihkan pada laki-laki dan perempuan yang sedang bercincang-bincang itu, yang berada di ujung kantin.


Lalu tangan Seno mengelap bibir tebalnya itu menggunakan ibu jarinya. lalu dia tersenyum, siapapun yang melihat senyuman, Seno.Sudah di pastikan mereka akan mengangap Seno seperti seorang psychopath.


Seno merengkan otot-otot tangannya, lalu dia bangkit dari kursi kantin. Seno melempar botol minuman itu ke tempat sampah dan tepat sasaran.


"Tepat sasaran, Lo emang hebat Sen," puji nya pada diri sendri.


Mata tajam Seno kembali melihat dua sejoli yang masih mengobrol dengan serius, lalu pandangannya semakin tajam. kala wanita itu mengeluarkan barang yang terbungkus plastik hitam. Lalu wanita itu memberikan pada laki-laki yang di hadapannya itu.


"Seno, gila lu. Gua cariin dari tadi-"


Delon langsung diam tidak berkutik ketika, Seno. menatap dirinya seakan ia adalah mangsa yang empuk untuk di jadikan santapan.


"Gila serem banget njir...," gumang Delon.


"Apa?"


"Ha-,eh." Ucapan Delon dengan gagu, Delon menatap Seno.Yang masih diam pada posisinya, "njir gua udh kaya gadis yang lagi di goda om-om" umpat Delon.


"Apa?!" Kata Seno sedikit menaikan okaf dalam kata-kata yang di ucapkan.

__ADS_1


Seno sudah jengah pada teman sekamarnya ini," lu, kenapa sih!! Ck, mirip kek orang bego."umpat Seno


Lalu dia meninggal kan Delon, yang masih tidak bergeming di tempat.


Delon yang baru sadar bahwa dirinya ditinggal Seno langsung terbirit-birit mengejar sosok pria di depannya.


"Seno. Tungguin!"


***


Di dalam kelas, pak Eko tengah berdiri di hadapan anak didiknya, menjelaskan materi yang dipegang oleh dirinya pelajaran Sejarah. Para murid mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pak Eko seakan tak ingin melewatkan satu patah kata pun.


" 5 Maret 1948 batuan obat-obatan dari Mesir tiba di Indonesia. Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan---"


"Assalamualaikum!"


Penjelasan yang pak Eko sampaikan terpotong oleh suara seseorang yang tiba-tiba datang dan mengalihkan pandangan se-isi kelas menuju ke arah pintu. Mereka melihat di sana berdiri Seno dengan Delon.


Melangkah Seno ke dalam kelas santai tanpa menghiraukan tatapan tajam dari pak Eko padanya. Sedangkan teman sekelasnya yang mayoritas perempuan malah curi-curi pandang pada Seno. Seno sih cuek bebek saja.


"Halo, pak?"Sapa Delon sambil berjalan mengikuti Seno dari belakang.


Pak Eko menatap cengo pada kedua murid. Dengan seenak jidat mereka berjalan santai seakan-akan ia tidak pernah ada di kelas ini.


"Kalian berdua, keluar."pekik pak Eko marah.


Sontak saja Seno dan Delon berhenti di tempat. Lalu keduanya serempak menoleh ke arah suara itu berasal. Delon menenguk ludahnya kasar saat melihat wajah merah padam pak Eko.

__ADS_1


"Apa, pak?"tanya Seno biasa saja.


"Keluar!!"


Pak Eko berteriak dan menampakkan urat lehernya sambil menunjuk ke arah luar kelas.


***


Delon terus menerus mendengus keras dan memekik kesal mengingat dirinya bersama dengan Seno harus dihukum oleh pak Eko memberi hormat kepada bendera di lapangan padahal matahari sedang terik-teriknya di ubun-ubun kepala.


"Sial. Sial! Kepala gue mau pecah kepanasan."Delon membeo sedari tadi.


Sementara itu, Seno malah dengan santai berjongkok sambil melempar lempar batu ke sembarang arah. Lalu ia mendongak menatap wajah melas Delon yang kepanasan.


"Ck!! banyak bacot lu, tinggal duduk pusing amat"


Delon mendelik kearah Seno yang berjongkok tanpa mengindahkan hukuman dari guru.


"Sorry gua anak baik-baik"protes Delon, "pantesan lu sering banget dikeluarin dari sekolah, ternyata kelakuan Lo, emang brengsek."ledek Delon dengan nada lemes andalannya.


Seno menatap Delon dengan tajam.


"Shitt!! Cari mati Lo?!"ujar Seno.


Sontak saja ancaman Seno membuat Delon bergidik ngeri dan mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu juga dengan Seno.


Pandangan Seno teralihkan pada sesuatu objek yang menarik perhatiannya dan sukar untuk dilewatkan. Dia melihat Kael berjalan di koridor sekolah membawa sesuatu di tangannya sambil berlari dan sangat mencurigakan.

__ADS_1


"Itu kan Kael? Bawa apa dia? Mencurigakan."celetuk Delon dengan cengengesan pada sosok tersebut.


Seno bangkit dan tidak menggubris perkataan Delon. Seno heran pada Delon. Delon tidak pernah melihat situasi di mana harus bercanda dan harus serius, Seno hanya mengangkat bahu acuh seakan-akan dia tidak perduli, padahal di dalam hati Seno dia penasaran dan sedikit perduli.


__ADS_2