Senopati

Senopati
Bab 2


__ADS_3

Mobil hitam berhenti di depan gerbang asrama. Sang sopir keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil. Lalu keluarlah Seno dari sana dengan wajah terlihat kurang bersemangat. Pak sopir mengambilkan koper dari bagasi dan meletakkannya di samping Seno.


"Pokoknya kamu harus sekolah yang bener. Mama, gak mau kamu berbuat ulah lagi. Dengar baik-baik perkataan mama, Seno?!"ucap Mama Sandra mengingatkan dari dalam mobil.


"Hmmm...."


"Ayo pak, pergi,"kata mama Sandra.


"Baik, Bu."


Pak sopir masuk ke mobil. Pintu kaca mobil di bagian penumpang ditutup. Mobil itu langsung melenggang dari sana meninggalkan Seno yang berdiri di depan gerbang asrama di temani kopernya saja.


Tidak berselang lama mobil itu pergi, pak satpam berjalan menghampiri gerbang lalu membukakannya dan berkata; "Nungguin ya? Maaf bapak tadi kebelet...."


"Emang gue peduli,"celetuk Seno melangkah masuk.


Sontak saja pak satpam terbelalak kaget sambil mengelus dada. "Anak gak ada akhlak bicara pada orang tua seperti itu." Kata pak satpam menggeleng pelan sambil menutup pintu gerbang.


Saat masuk di lingkungan asrama, Seno disuguhi pemandangan pohon hijau berjajar rapi di pinggir-pinggir jalan. Udaranya sejuk karena ini masih pagi hari dan di sana pun bersih.


"Lumayan,"gumam Seno pelan sambil manggut-manggut. Kemudian Seno melanjutkan melangkah sambil menyeret kopernya menuju bangunan yang akan ia tinggali.


Langkah Seno terhenti kala di hadapannya sudah terlihat bangunan putih yang berdiri kokoh nan besar itu. Ditatapnya gedung yang bertuliskan besar *ASRAMA PRIA* dengan malas.


"Kau pasti Brian Senopati? Murid pindahan dari SMA MARDIKA, kan?"kata seorang wanita setengah baya yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


Seno mengernyitkan dahi. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu, terlebih lagi si wanita berambut panjang dan wajahnya putih ketebalan oleh bedak.


"Harap sweater nya di lepas jika tidak mau dihukum. Karena ini aturan sekolah,"kata Bu Dewi tegas.


Seno menoleh sebentar, kemudian ia langsung melepas sweater yang dikenakannya. Tanpa sepatah kata pun yang dikeluarkan Seno. Pria itu langsung nyelonong pergi dari hadapan Bu Dewi.

__ADS_1


Bu Dewi cengo melihat sikap anak didiknya pergi tanpa pamit dan berkata; "Astaga. Aku dianggap apa oleh anak bau kencur itu? Setan, kah?"


Seno berjalan gontai sambil menyeret kopernya di lorong asrama. Ia melihat pintu-pintu kamar masih tertutup rapat, sebab jam segini para murid masih belum bangun. Setiap kamar berhadapan dengan kamar lainnya dan yang membedakan adalah setiap pintu diberi nomor.


Seno berhenti di depan pintu kamar bernomor angka 10. Pintunya terbuka sedikit, Seno yang tahu itu kamarnya langsung masuk ke dalam. Pertama kali dilihatnya seorang cowok yang sepertinya teman satu kamar tengah terciduk sedang memakai celana kolor dan tidak sengaja ia melihat Dalamanya berwarna pink dengan gambar hello Kitty.


Di dalam hati Seno ingin sekali tertawa ngakak saat melihat karakter hello Kitty  yang di pakai cowo itu.


Mimik kaget dan sok dramatis melihat Seno berdiri dan masuk kamar tanpa mengetuk pintu.


Kemudian berkata,"hai,gue Delon prawidja. Lo pasti murid baru,Brian Senopati,ya?"


Dengan polosnya Delon tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Seno cuek, akibatnya Delon malu dan langsung menurunkan tangan.


"Gue kasih tau,di asrama ini ada seorang guru pengawas asrama pria.


Namanya pak Indro, orangnya super duper galak dan paling di takuti di sini" oceh Delon.


Seno sih masa bodo alias tidak perduli,mau segalak apapun itu pengawas tidak akan pernah bisa mengalahkan galak mama nya.


Tapi karena mulut cerewet teman sekamarnya ini Seno jadi tidak bisa tidur. "Gue kasih tau lagi,  jam 7 pas kita harus udh siap dengan seragam sekolah dan pak Indro akan keliling memeriksa setiap kamar. Jika kamar berantakan, pak Indro bakal kasih hukuman. Jam 07.30 kita pergi kek sekolah....."


"Udah?" Pekik Seno memotong perkataan Delon.


"Masih banyak lagi yang belum gue ceritain sama Lo"


"Berisik,gue ngantuk,mau tidur"


"Oke," kata Delon gagu.


Selagi ada waktu 1 jam sebelum pak Indro berkeliling asrama, Delon dan Seno kembali kek kasur masing-masing untuk tidur lagi.

__ADS_1


Kring! kring!


Alarm berteriak keras 1 jam sudah berlalu. Sontak saja Delon langsung bangun dari kasur dan mengambil seragam sekolahnya dari dalam lemari.gerkaanya cepat saat memakai seragam, setelah itu Delon merapikan tempat tidur dengan cepat sebab ia tidak mau kena hukuman.


"Seno, Seno,ayo cepet bangun trus beresin karus lu sebelum pak Indro keliling...Seno?"


Delon menggoyakan tubuh Seno. Tapi nihil cowo itu tetap saja tidak mau bangun walau suara Delon keras.


"Yaudah. Kalo lu mau di hukum mah?gue mah ogah"kata Delon sambil keluar kamar.ia berdiri  di depan pintu kamarnya melihat teman-temannya sudah berbaris rapi di depan pintu kamar masing-masing.


Pak Indro memeriksa kamar yang dilewatinya.wajah terlihat sangat garang karna jarang sekali pak Indro tersenyum, bila ia tersenyum kesannya menyejukkan hati malah tambah menyeramkan.pak Indro membawa senjata pamungkasnya yaitu rotan sebesar pulpen. Kecil tapi bila dipukulkan sakitnya 1 minggu.


"Dasi dirapihkan,"kata pak Indro kepada Arya si penghuni kamar 02.


Sontak saja Arya menggagguk takut lalu membetulkan dasi nya.


Seditik kemudian Seno keluar kamar menguap sambil meregangkan otot-ototnya.teman-temanya sontak dengan serempak melihat Seno dengan tatapan yang tidak terartikan.


Mukin mereka berfikir. Benar-benar mau kenalan sama keganasan rotan pak Indro. Jika menelisik kek arah raut wajah seno, tampaknya pria itu tidak perduli dengan apa pun yang meraka pikirkan tentangnya.


Selai memeriksa kamar 1-7, dan hasilnya memuaskan. pak Indro pun melangkah kek kamar selanjutnya yang merupakan kamar milik Seno dan Delon.


Delon terlihat tegang saat pak Indro melihat tempat tidur miliknya.pak Indro pun menoleh pada Delon dengan tatapan tajam yang semakin membuat cowo itu bak diteror.


Setelah itu, pak Indro mengalihkan pandangan matanya kek arah tempat tidur sebelah ranjang milik Delon. Ia terbelalak melihat keadaan kasur yang tidak pantas di sebut tempat tidur. Selimut tidak dilipat, sepatu tidak ditempatkan pada tempatnya dan sebuah koper di biarkan begitu saja.


"Banyak sekali pelangaran yang kau perbuat dan seharusnya kau dihukum. Tetapi hari ini saya maklumi sebab kamu murid baru disini"kata pak Indro.


Seno hanya memutar bola matanya jengah.dengan tubuh berseder pada dinding ia menatap pada guru yang ada di hadapannya itu "kalian siap-siap.setelah itu sarapan pagi"


Sesudah mengatakan hal itu, pak Indro pergi dari sana untuk melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


"Lo beruntung hari ini engak dapet hukuman dari pak indro" Katanya Delon pada Seno. Namun Seno tidak perduli cowok  itu melangkah masuk kek kamar.


jangan lupa kasih dukungan buat aku


__ADS_2