
"Aaaa...!!"
Mendengar teriakkan suara Mika, spontan saja Salwa bergegas keluar menghampiri gadis tersebut. Dasi serta rompi nya belum ia kenakan gara-gara mendengar suara Mika yang paling diutamakan nya. Ia melihat Mika berjongkok. Tubuhnya gemetar dan mencengkram kuat rambutnya sendiri dengan Isak tangis histeris. Salwa pun berjongkok.
"Ada apa?" Tanya Salwa khawatir. Ia memeriksa tubuh Mika, takutnya gadis itu terluka. Namun, saat ditanyai, Mika hanya menggeleng dan tampak ketakutan setengah mati. Salwa merengkuh tubuh gemetar Mika, agar ia merasakan sedikit lebih tenang.
Saat gadis itu sudah tenang, Salwa langsung bertanya secara perlahan-lahan apa yang telah terjadi? Dan tak memaksanya.
"Cerita sama gue? Kenapa tadi Lo teriak?"
Gadis itu sesenggukan sambil berderai air mata. Wajah yang putih semakin pias bak mayat hidup. Tubuhnya pun ikut gemetaran.
Mika tak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-kata. Lalu ia merentangkan satu tangan menunjuk ke arah tak jauh di sampingnya. Salwa lantas mengikuti arah yang ditunjuk oleh gadis itu. Yang dilihatnya sesuatu seperti Poto dan baju seragam milik Mika? Apa ada yang salah? Pikirnya. Ia pun mengambilnya.
Sedangkan Mika, gadis itu tak mau melihat nya ia memalingkan wajah dan masih gemetaran takut.
Salwa menderaikan baju sekolah mika. Ia amat terkejut. Melihat kain putih bersih itu di penuhi oleh banyak coretan berwarna merah dan tulisan mengacam.
...Hidup dan matimu itu ada di tanganku....
Salwa mencengkram kuat baju itu dengan perasaan yang geram. Matanya melotot marah.
Sekejap kemudian, perhatian Salwa tertuju pada sebuah Poto yang tergeletak diubin tidak jauh baju berada. Diraih Poto tersebut dan dilihat.
Salwa semakin terbelalak kaget dengan tangan menutupi mulutnya sendiri. Mata nya melotot sempurna ketika melihat Poto. Mika, diberi tanda silang berwarnah merah darah dan bertuliskan. Mati!!..
__ADS_1
Seperti tulisan yang ada di baju Mika.
Salwa menoleh pada mika yang ketakutan, ia sangat sedih dengan apa yang menipa mika sahabat barunya itu, tanpa banyak acara lagi Salwa langsung memeluk tubuh Mika dari samping. seeakan memberikan dukungan dan kasih sayang, seperti seorang ibu pada anaknya.
Dan ia berbisik" semua akan baik-baik aja. Gue akan selalu ngelidungun lo, Mika." Ucap Salwa menenangkan dan mengusap punggung mika dengan lembut.
Kejadian itu sering sekali terjadi sampai detik ini. Mika, masih belum berani untuk melaporkan pada siapapun. karna ia pikir ini hanya orang iseng saja, namun lama kelamaan teror semakin menjadi-jadi dan membuat mika was-was.
Mika memang memiliki kekasih bernama Kael, dia tidak ingin membebani Kael. lebih dalam lagi, Mika Takut jika masalah ini di campuri kael, malah semakin membuatnya terancam. Dan itu pun hanya Salwa seorang yang tahu.
**
Di ruang UKS.
Setelah larut dalam diam, Salwa membuka suara dan membuyarkan suasana hening yang tercipta di dalam ruang UKS.
"Gue, lapor ke kepala sekolah,ya?"kata Salwa sambil mengegam tangan dingin mika, " gue nggak bisa biarin Lo kayak gini. Gue sayang sama Lo, Mika. Lo temen gue."
"Jangan" sahut Mika lemah.
Sontak saja Salwa langsung bangkit dari kursi dengan emosi, bahkan pergerakan Salwa membuat decitan ujung kaki kursi begitu terdengar nyilu dan waja mengeras dengan sorot mata tajam.
"Ck..!, Gue heran sama pemikiran Lo yang cetek ini, mau Lo itu apan si?! Gue bilang kael nggak boleh? Kepala sekolah juga engak boleh" cercar Salwa meninggikan suaranya.
"Lu, bisa mati mendadak gara-gara mikirin semua teror ini. apa Lo mau? nggak, kan?!! Gue nggak bisa, biarin si pelakunya hidup bebas, sementara lu menderita. Jagan cegah gue kali ini!."
__ADS_1
Dengan emosi yang masih menggebu-gebu Salwa langsung melangkah akan tetapi, tangannya tiba-tiba di raih dan itu menghentikan langkahnya. nafasnya masih naik turun tidak beraturan dia lantas menoleh. Jari jemari pucat mika memegang tangannya dengan lembut. Lalu di tatap sang empu. Seraut wajah pucat dengan bola mata sayu, menatap ia dengan memelas.
"Gue mohon sama Lo. Jangan bilang sama kepala sekolah terutama kael...."
Baru saja salwa ingin mengutarakan isi kepalanya, kata simple mika menghentikan dan membuat Salwa terbelenggu.
"Plis!!."
Sontak saja Salwa menghela nafas berat, gadis ini tahu saja jika ia tidak tegaan orangnya, Apa lagi saat wajah mengenaskan mika memohon. Tentu saja Salwa terbawa suasana.
"Oke. puas Lo, giniin gue" pekik Salwa memutar bola mata malas.
Spotan saja ditempat salju yang putih nan dingin terbitlah matahari yang terik dan mencairkan es.
Yaa....
Begitulah gambaran wajah mika saat ini. Ia tersenyum lebar dan semakin membuat Salwa memasang wajah kesal.
"Salwa yang terbaik deh," ucap mika tersenyum manis
"Asal, Lo senang. Tapi cuma untuk kali ini aja."sahut Salwa tersenyum malas.
...
...
__ADS_1