Senopati

Senopati
Bab 7. teror


__ADS_3

Terlihat lapangan ramai oleh anak-anak kelas XI IPA 2. Yang sedang melakukan olahraga, karna ini adalah jam mata pelajaran PJOK yang dilakukan diluar kelas. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok ada yang bermain basket, bermain bola volly dan putsal.


Sorak sorak terdengar ramai yang berasal dari siswa perempuan yang sudah berolahraga tadi.mereka masing-masing memberi semangat pada teman-teman cowo yang tengah bermain basket dan putsal.


Mika duduk di tribun penonton barisan belakang, sambil meneguk minumannya terlonjat kaget hampir membuatnya tersedak akibat seseorang secara mendadak mengagetkannya. Ia pun menoleh ke samping untuk melihat orang itu, dan ternyata itu Salwa temannya.


Salwa mengerutkan keningnya seraya ditatapnya wajah Mika. "Kenapa muka Lo?"Tanya Salwa.


Mika tersenyum sambil menggelengkan kepala menandakan ia baik-baik saja.


"Emmm. Kita kan udah olahraga. Ganti baju, yuk? Gerah nih."ucap Salwa heboh sambil mengipasi dirinya dengan tangan.


"Ayo."


Mika setuju. Ia pun lantas bangkit dari tribun dan melenggang pergi meninggalkan lapangan bersamaan dengan Salwa. Di sepanjang Perjalanan menuju ruang ganti khusus wanita banyak sekali tatapan tajam yang terlontar teruntuk mika.bahkan, banyak diantara Mereka yang mengunjunginya.


Salwa menatap miris pada mika. Gadis itu benar-benar hebat menahan semuanya seseorang diri tanpa ada rasa putus asa di dalam dirinya.


Dia gadis yang kuat yang pertama Salwa temui.


"Gua salut sama Lo,mika." Kata Salwa takjub.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Lo, bisa tahan ngadepin semua yang menimpa Lo, padahal mereka kalo ngomong kaya kurang didik. Ngatai lu gila dan semacamnya padahal menurut gua mereka lebih gila!!, Klo itu gua yang dikatain. Huh! gue bom tuh Mulut!" Ucap Salwa gregetan sendiri.


Mika membalas dengan senyuman. Ia sebenarnya di dalam lubuk hati yang terdalam mika benar-benar lelah. Akan semua itu. Ia terus menerus diteror oleh seseorang yang misterius dan hampir membuatnya gila beneran. Tetapi, berkat keteguhan dirinya dan dukungan orang yang sayang padanya, ia mampu.


Akhirnya, mika dan Salwa sampai juga di ruang ganti yang mereka tuju. Di dalam sana sudah ada beberapa anak yang telah mengganti baju olahraga dengan seragam sekolah.


Melihat mika dan Salwa melangkah masuk mereka langsung mendelik dan menyudahi kegiatannya. Lalu berlari keluar karena takut.


"Buruan. Gua nggak betah seruangan sama orang hilang akal." Celetuk salah satunya.


"Woy! jaga omongan Lo. Mika juga temen kita." emosi Salwa tidak terima dan menunjuk wanita yang tadi berbicara.


"Lo kali temennya. Gue mah gak mau!" Sahut Satunya dengan memaki.


Mika tidak bisa membiarkan mereka terus-terusan melontarkan makian satu sama lain.


"Udah. Kalian jangan pada berantem,"Lerai Mika dengan gaya bicara yang lemah lembut.


Sontak saja langsung mendapat cacian yang lebih kejam dari sebelumnya. Ia bisa terima, tetapi tidak dengan Salwa. Gadis itu malah merasa sangat terhina akan ucapan mereka. Salwa terus membela Mika hingga membuat tiga gadis itu kalah telak dan pergi dengan kekesalan yang terpancar dari wajah mereka.


"Dasar pelacur!"maki Salwa kesal.


"Salwa."Sahut Mika membulatkan mata se-akan dia sedang marah. Namun, tidak cocok untuk wajah malaikatnya.

__ADS_1


Mood Salwa yang hancur seketika sirna saat melihat wajah konyol Mika sampai membuatnya ingin tertawa keras.


"Marah? Itu bukan identitas asli Lo, Diatmika. Lo keliatan konyol malahan. Hahaha!"Kata Salwa tertawa.


"Nggak, apa. Asal Lo seneng,"sahut Mika bermimik polos.


Salwa tersenyum tipis. Lalu merentangkan dua tangan, "mau peluk...."


Mika lantas menyambut senang, ia memeluk tubuh Salwa.


"Ya, udah. Gue ganti baju dulu, ok?"Salwa melepas pelukannya. Mika pun mengangguk samar.


Setelah itu, Salwa melangkah mengambil baju yang tersimpan di dalam loker. Lalu masuk ke tempat ganti.


Mereka memang sering bergantian jika ganti baju. Bukan tidak ada ruang kosong lagi, melainkan salah satu dari mereka harus ada yang berjaga di luar takutnya, ada orang iseng dan mengerjai mereka berdua. Tidak hanya Mika saja menjadi bulan-bulanan korban bully itu juga berimbas pada Salwa. Dia harus tanggu konsekuensi bila berteman dengan Mika.


Selagi Salwa berganti baju di sana dan di ruang itu juga hanya ada mereka berdua, Mika pun melangkah mendekati loker berada. Ia mengambil anak kunci di saku bajunya. Lalu memasukkannya ke lubang kunci hingga terdengar suara antara logam besi. Pintu loker terbuka. Isi dalam loker ada baju miliknya.


Namun.....


Di atas lipatan baju miliknya, terlihat sesuatu tampak bak Poto. Diambilah olehnya dan dilihat.


Sementara itu, di dalam ruang ganti. Salwa menatap wajahnya pada pantulan cermin sedang saja besarnya. Terlihat ia tengah mengancingkan kancing yang terakhir.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari luar.


"Aaaa...!!!"


__ADS_2