Sentuhan Cinta

Sentuhan Cinta
BAB 5


__ADS_3

Zahra masuk ke dalam rumah dan mencium tangan kedua orang tuanya, dan langsung memasuki kamarnya. Setelah selesai, mandi dan menunaikan solat magrib, Zahra keluar dari kamarnya dan membantu ibunya di dapur menyiapkan makan malam.


"Bu Zahra mau tanya boleh?"


"Mau tanya apa nak?"


"Bu kok zahra baru lihat ya rumah yang di depan rumah kita itu loh, ada seorang anak kecil"


"Oh itu, cucunya Jeng Ratna dari anaknya yang pertama dia itu seorang duda. kenapa kamu suka sama dia mau ibu jodohkan?"


" Tidak mau Bu, Zahra cuman tanya aja."


" oh kirain Ibu kamu suka sama duda beranak satu"


"ya engga lah bu,orangnya itu ampun kasar banget, Zahra gak mau punya suami seperti dia, untung aja Mas Adit gak seperti itu."


"Kamu ini jangan bicara seperti itu nanti kamu suka lagi sama dia. Ibu gak habis pikir sama kamu selalu saja banggain dia, dia itu cuman mau mainin perasaan kamu saja, percaya sama Ibu."

__ADS_1


"Ibu Mas Adit tidak seperti laki-laki itu, tadi aja Zahra di bentak, padahal kan Zahra cuman temenin anaknya yang sendirian di depan rumah, mana mungkin aku suka dengan pria seperti itu"


"Masa sih orangnya seperti itu, Ibu juga belum lihat sih anaknya Jeng Ratna seperti apa. Ya terserah kamu aja deh ibu cuma kasih tau kamu, ya udah Ibu mau panggil Ayah dulu ya." Zahra pun hanya menggangkukan kepalanya.


Setelah Ibu dan Ayah nya turun dan menuju ruang makan. Mereka pun makan malam dengan damai dan hanya dentingan sendok yang beradu, setelah selesai makan Ayah menatap anaknya yang sendang cemberut.


"Kenapa muka mu di tekuk seperti itu Nak"


"Gak apa-apa Yah, hari ini Zahra cuman kesel aja"


"Ibu..." Ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya ga papa kalau kamu suka sama duda juga yang penting kamu bahagia sama dia, Ayah setuju-setuju aja kok. Dari pada kamu laki laki itu gak ada kejelasan sama sekali dalam hubungan kalian usia kamu itu udah cukup loh untuk menikah."


"Ih Ayah sama Ibu sama aja bikin Zahra tambah kesel aja" Zahra pergi ke kamarnya.


******

__ADS_1


Di sisi lain setelah makan malam selesai Andra pergi ke ruang kerjanya.


Tok.. tok..


"Masuk, ada apa Bunda kemari?"


"Bunda ingin bicara sama kamu?" Andra pun hanya diam dan memfokuskan pandangannya pada layar laptop.


"Kamu kenapa selalu ngelampiaskan kemarahan mu itu kepada anak kamu, dia tidak bersalah Andra."


"Bunda tau setiap Andra melihat wajah Manda selalu teringat pada wanita itu dan penghianatan nya, dan Andra gak suka kalau dia bicara dengan seorang perempuan Bun, semua perempuan sama." dengan suara mulai meninggi rahangnya mulai mengeras


"Dia masih kecil Dra, dia itu masih memerlukan kasih sayang darimu dan apa yang kamu pikirkan semua itu salah, tidak semua wanita seperti itu."


"Sudahlah Andra cape debat sama Bunda, Bunda bisa bilang seperti itu, karena Bunda tidak merasakan apa yang Andra rasakan" Andra pergi meninggalkan Ratna yang masih ada ruangan kerja dengan perasaan kesal.


"Bunda juga merasakan apa yang kamu rasakan Andra, Bunda juga merasakan rasa sakit yang kamu rasakan selama ini." Gumam di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2