Seperti Bintang

Seperti Bintang
Bab 1


__ADS_3

Kehidupan itu, seperti abu-abu. Tidak putih dan tidak hitam. Tapi terlihat terang, seakan mengatakan untuk tetap kuat.


.


.


.


.


Ternyata, menjadi dewasa itu penuh dengan kerumitan. Serumit apa yang aku jalani selama hidup ini.


Bila aku ingin meminta, aku ingin menjadi anak kecil saja. Tanpa beban dan tanpa berpikir. Tapi nyatanya.. Selama ini kehidupan kecilku tak seindah apa yang aku bayangkan juga.


Menjadi anak kecil, memang mengasyikkan. Tak ada yang harus berpikir keras, tak harus mengeluarkan tenaga extra dan tak harus bersabar menghadapi kerasnya kehidupan para dewasa.


Aku tau, sebelum aku menjadi besar kehidupan orang dewasa sangat kejam, sekejam apa yang pernah aku lalui selama ini. Selama lima belas tahun aku lalui penuh dengan rintangan, penuh dengan ketidak adilan dan penuh air mata tanpa ada yang tau bagaimana mentalku.


Jangan tanya bagaimana mentalku saat ini. Ada rasa trauma dan ada rasa kuat meskipun aku berpura-pura kuat di hadapan semua orang. Tapi nyatanya, aku masih menangis bila sendiri dalam kegelapan malam, bersama bintang yang selalu menyinar meski tak terang.


Ada yang pernah bilang padaku.


" Jadilah bintang, meskipun sendiri dia tetap bersinar. Walaupun tak seterang bulan."


Ya, kata itu yang selalu aku suka. Menjadi Bintang, meskipun sendiri dan tak teralu terang. Tapi dia bisa di lihat, walaupun kecil dan tak terang. Dan akan selalu menjadi penggemar bagi orang-orang yang menyukai namanya.


Dan aku membuktikannya, bintang yang kecil, bintang yang tak terang, kini sudah terkenal dan menampak indah di langit malam.


***


" Selamat atas pembukaan butik barunya Mbak Dita." Ucap tamu datang menghadiri membukaan toko baruku.


" Terima kasih bu. Terima kasih juga ibu sudah mau datang dalam pembukaan butik baru saya." Ucapku, membalas jabatan tangan tamuku.

__ADS_1


" Sama-sama. Semoga sukses selalu Mbak Dita."


" Amin bu, amin."


Aku aminkan doa-doa dari para tamu yang datang menghadiri pembukaan butik ke dua aku ini. Tiada henti aku mengumbar senyum senang bahagia dengan apa yang aku dapatkan dengan keberhasilan dan kerja kerasku.


Satu persatu para tamu pulang, meninggalkan butik yang kini sudah terlihat mulai ada pengunjung datang bersama dengan pasangannya.


" Mbak Dita ya?" Tanya pengunjung.


" Iya, ada yang bisa saya bantu mbak?"


" Ah.. Kebetulan sekali bisa bertemu sama mbak Dita! Saya sama calon suami saya ingin cari gaun pengantin mbak." Ucap pengunjung wanita dengan senang.


Seakan senang sekali bertemu denganku, meskipun aku bukan perancang gaun internasional. Tapi setidaknya aku tidak amatiran dan selalu memuaskan para claen butik pengantinku.


Ya, aku seorang desainer gaun pengantin dan gaun pesta. Sejak berumur sepuluh tahun hobbyku menggambar gaun-gaun princes dalam dongeng, berimajinasi dengan khayalanku sendiri ingin menggambar baju ala-ala pesta ulang tahun.


Dan ketika berumur empat belas tahun aku sempat berhenti menggambar. Bukan karena malas, tapi karena aku sakit hati buku-buku yang selalu penuh dengan coretan tanganku di robek dengan orang yang membenci aku.


Sepasang calon pengantin tersenyum memasuki butik, melihat-lihat dengan antusias ketika aku sendiri yang melayaninya dan meminta pegawaiku untuk mengambil buku serta pensil di dalam ruanganku.


Dulu, aku tidak bermimpi bisa menjadi seorang desainer gaun pengantin dan gaun pesta terkenal. Aku hanya anak haram, dari wanita gila yang kini tinggal di rumah sakit jiwa.


Pantas, aku mendapat julukan anak gila di jauhi teman-temanku dan di bully habis-habisan. Tapi aku tidak gila, tidak. Seratus persen aku wanita normal meskipun mengalir darah dari wanita gila.


Benci? Ya, sempat aku membenci ibuku yang tak normal karena sudah melahirkanku di dunia ini. Tapi, ketika ada orang memgatakan padaku.


" Jangan membenci keadaan, bagaimanapun itu kamu harus menerimanya. Karena pada dasarnya, kamu di pilih untuk menjadi kuat."


Ya, Dia mengatakan padaku seperti itu. Di pilih sang pencipta untuk menjadi kuat. Kuat akan batin, hati dan raga. Dan jangan membenci keadaan, karena bagaimanapun tak akan bisa mengubah garis kehidupan. Tapi aku bisa mengubah kehidupanku menjadi baik.


Garis kehidupanku sudah di tentukan pada sang pencipta. Aku bisa bersedih, aku bisa marah, aku bisa benci. Aku terlahir dari wanita gila, aku terlahir dari keluarga miskin dan aku bisa menjadi sukses itu semua dari ketentuan sang pencipta.

__ADS_1


Tak ada yang mudah memang menjalani kehidupan, karena kehidupan penuh dengan lika-liku dan perihnya garam bertabur di atas luka bakar.


" Iya, saya ingin yang seperti ini mbak dita. Simpel, dan elegan."


Menunjuk satu foto gaun ala princes, dari bahan chifron polos berlapis menjadi rok kembang dan motif tiga dimensi bagian atas busana.


" Pilihan yang bagus mbak." Pujiku pada claen, membuatnya tersanjung dan aku mulai menjelaskan detail gaun yang di pilihnya.


Aku membiarkan dulu bagaimana keinginan claen-claenku memilih gaun dalam contoh foto galery. Bila tidak ada yang cocok, mereka akan mengatakan keinginnya dan aku akan mengimajinasikan dalam bentuk coret-coretan kertas hingga membentuk gambar gaun dan meraka akan mengatakan


" Iya, seperti ini."


Bukannya kita harus memenuhi keinginan claen hingga puas dan senang. Apa lagi pernikahan itu sekali seumur hidup. Menjadi tampil bak ala cinderella, di puji semua para tamu akan membuat para pengantin senang dan merasa bahagia. Dan merasa puas akan penampilan malam sempurnanya.


Begitupun dengan butikku, akan mendapat pujian dan akan terkenal dari cerita-cerita orang tentang kepuasan membeli gaun di tempat butikku. Hingga para pendengar mulai penasaran dengan karya-karya desainku. Dan tertarik dengan apa yang di sukai dalam foto model gaun pengantin.


Bukankah itu yang di namakan promosi gratis tanpa harus bersusah payah lagi mencari claen. Memanfaatkan cerita-cerita pujian hingga tertarik untuk mendatanginya, mencobanya dan mulai tertarik untuk membeli.


Bagiku kepuasan klaen sangat menguntungkan. Dan bisa membuat butikku menjadi terkenal dari cerita-ceritanya pujiannya.


" Jangan lupa besok jam sepuluh kita feeting ya mbak." Ucapku tersenyum menjabat tangan claenku.


" Sama mbak Dita kan?"


" Saya tidak janji ya mbak, tapi saya akan usahakan." Balasku dengan senyum, meskipun aku tau wanita di hadapanku ini sedikit kecewa.


" Jangan khawatir mbak, ini ada asisten saya, mbak Tika namanya. Malah bagus dan detailan asisten saya dari pada saya."


Aku memperkenalkan asisten ke duaku, asisten kepercayaan untuk menangani feeting baju dan juga mengawasi butik ke dua ku bersama dua karyawan baru.


" Saya Tika, asisten mbak Dita, mbak." Ucapnya mengulurkan tangan pada claen yang di balas menjabat tangan dan senyuman.


Aku mengantarkan clainku sampai teras butik, melambaikan tangan dan tersenyum mengantar kepergiannya yang sudah puas dengan model gaun pengantin pilihannya.

__ADS_1


#Pelanggan pertama di butik ke duaku.#


__ADS_2