Seperti Bintang

Seperti Bintang
Bab 5


__ADS_3

Tunjukkan senyum mu, dan nikmati expresi wajah orang yang sudah merendahkanmu.


.


.


.


.


Aku nikmati makan malamku di restoran cepat saji, duduk bersantai di sebelah jendela kaca sambil memperhatikan lalu lalang pengendara.


Hari sibuk maupun hari libur tak ada ketenangan di jalanan kota, selalu ramai dengan pengendara entah kemana tujuan mereka. Tapi yang pasti mereka sedang mencari uang untuk kebutuhan hidup.


Tidak gampang mencari uang. Panas hujan badai akan di terjang, sakit ringan sampai berat pun mereka masih tetap harus bekerja, apa lagi seperti para karyawan yang mempunyai kontrak kerja di perusahaan dan bekerja ikut orang. Butuh surat ijin dari dokter tentunya, agar mereka tidak mendapatkan sp dan juga pemecatan secara sepihak.


Mencari pekerjaan di kota sangat susah, apa lagi seperti aku dulu yang masih berstatus mahasiswa. Banyak yang tidak mau menerima lamaranku, tapi ada juga yang mau menerimanya dengan kita yang harus bisa mengatur waktu agar tidak bertabrakan dengan jadwal kerja.


Beruntungnya aku dulu bekerja di salah satu cafe yang menerima status masih pelajar. Bekerja sepulang dari kuliah dan bila telat harus wajib menggantikan waktu di hari liburnya.


Memang aku mempunyai beasiswa di tempat kuliahku, tapi aku tidak mempunyai biaya kebutuhan hidupku kecuali bekerja serabutan. Tidak mungkin kan aku meminta pada pihak dosen untuk menampung kehidupanku?


Lucu sekali kalau iya.


Mendapatkan beasiswa saja sudah bersyukur, apa lagi mendapatkan penampungan hidup.


Aku nikmati roti berisian daging dan sayur. Tidak sengaja mataku menangkap dua anak kecil dengan yang satu mengorek sampah dan yang satu sedang menatapku di luar sana dengan mata sendu dan sedih.


Aku tersenyum miris, mengingatkan aku seperti diriku yang kecil dulu. Aku lambaikan tangan ke arahnya, untuk datang padaku.


Dia tersenyum senang sambil menyolek temannya untuk melihatku. Sekali lagi, aku menyuruh mereka untuk mendekat padaku. Memang mereka berjalan padaku, tapi dua anak kecil tidak masuk ke dalam restoran dan Mereka hanya berdiri di depan kaca tepat di depan mejaku.


Aku tau kenapa mereka tidak masuk ke dalam, apa lagi dengan pakaian yang mereka pakai dan tanpa alas kaki.


Bibirku mulai bergerak dan mengucap tanpa suara. " Tunggu di situ." Sambil menunjuk meja makan dengan payung besar di atasnya.


Mereka mengangguk senang dan duduk seperti apa yang aku perintahkan.


Aku bereskan sisa makananku, aku mulai kembali memesan makanan beserta minuman untuk anak-anak dan tidak lupa membungkusnya juga untuk mereka bagi di rumah.

__ADS_1


Aku keluar menemui mereka, membawa nampan bersama satu pegawai restoran yang mungkin mereka tau aku sedang kesulitan membawa makanan sendirian.


" Maaf ya, lama." Ucapku, mulai duduk di samping mereka yang menunggu.


" Iya tidak apa-apa kak." Jawabnya.


" Makasih mas." Ucapku pada pegawai restoran.


" Sama-sama Kak."


" Sudah cuci tangan? Kalau belum cuci tangan dulu di situ." Tunjukku pada wastafel di sebelah pintu masuk.


Mengangguk semangat, berlari menuju watafel sambil tertawa senang. Begitu senang, hingga aku bisa merasakannya juga. Hal, kecil yang bisa membuat mereka bahagia dengan makanan sederhana.


Sederhana, tapi tidak dengan kaum seperti mereka yang tidak pernah makan-makanan cepat saji. Bukan karena pelit, tapi memang mereka tidak bisa membeli meskipun mereka bisa, tapi mereka tidak akan mau membelinya. Karena makanan restoran terbilang mahal dengan uang yang di kumpulkannya sedikit susah dan hanya mendapatkan satu porsi makan saja.


Lebih baik mereka membelinya di tempat biasa, meski rasanya sedikit berbeda.


Gadis kecil ini mengingatkan aku pada diriku sendiri, makan dengan lahap dan menyisakan lauk yang masih banyak. Sungguh sayang bila di makan sekaligus, karena belum tentu besok akan bisa makan kembali.


Miris bila aku mengingat masa kecilku. Setiap hari haeus menelan ludah sendiri kala teman-temanku begitu gampang membeli jajanan yang mereka suka dan begitu enaknya bekal sekolah makanan yang di masak ibunya setiap hari.


Iri hati sekali, dan sakit saat aku menahan air mata dengan mereka yang selalu mengejekku.


Tapi, bukan berarti tidak pernah merasakan makanan enak. Aku pernah merasakannya, ketika aku menangis di hadapan kakekku dan kakekku akan mengusahakan cucunya bisa memakan makanan yang enak seperti teman-temannya.


Rasanya aku juga bersalah saat aku sadar bila kakek bekerja keras demi aku yang hanya ingin makanan enak tanpa memikirkan kesehatannya. Sudah cukup aku mengadu dan meminta pada kakekku karena aku tidak ingin membuat beliau terluka dan sakit lagi.


Dan mulai detik itu aku bersumpah tak akan menyia-nyiakan dan membuang makanan yang aku beli, Karena aku merasakan betapa perih menahan lapar dan betapa sedihnya di luar sana masih banyak orang kelaparan.


Dia pernah bilang padaku.


" Sekecil apapun yang kamu beri, doa mereka untuk kamu yang akan di kabulkan."


Dan ya, seberapapun aku kasih pada mereka, mereka akan mendoakan aku dan aku akan merasakan doa mereka yang terlebih dulu terjabah oleh sang pencipta.


" Makasih ya kak sudah belikan kita makanan!" Riang gadis kecil.


" Sama-sama." Jawabku tersenyum." Oh iya, nama kamu siapa."

__ADS_1


" Keke."


" Kalau kamu?" Tanyaku pada lelaki sedikit tinggi dan duduk di sebelah si gadis manis.


" Ouoa...." Jawabnya antusias.


Dahiku berkerut mendengar suaranya.


" Namanya Umar kak." Jawab gadis kecil. " Dia bisu." Imbuhnya, yang membuatku kini mengerti dan mengangguk.


" Rumah kalian di mana?"


" Di sana." Tunjuknya.


" Jauh?"


Jawabnya Mengangguk bersama.


" Boleh Kakak anterin pulang?"


Saling menatap dan ragu untuk menjawab.


" Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, lain kali saja. Bagaimana?"


" Iya, lain kali saja kak." Jawab Keke gadis kecil.


Aku tidak memaksa mereka, mungkin mereka memang tidak ingin di antarkan pulang atau mereka masih ingin mengambil botol-botol bekas di jalanan.


" Bawa ini, buat kalian makan nanti di rumah."


" Makasih kak!" Riang keke bersama Umar menerima bingkisan makanan yang sudah aku siapkan.


Aku pandangi mereka, saling mengintip plastik besar dan senang sekali melihat apa yang ada di dalamnya.


Sungguh, makanan seperti mereka dapat ini yang membuat hati mereka senang dan belum tentu akan mereka dapatkan kembali lain waktu.


Melihat mereka berjalan bersama berjalan dengan riang tanpa mempedulikan beratnya karung yang di bawa. Aku hanya bisa memperhatikannya hingga senyumku pudar dan setetes air mata membasahi pipiku. Dan tangan kekar dari sampingku mengusapnya dengan lembut.


Fathur.

__ADS_1


Dan aku memeluknya, membenamkan wajahku pinggangnya dengan dia yang mulai mengusap lembut rambutku.


__ADS_2