
Bukan aku cengeng, tapi memang terkadang air mata itu jatuh dengan sendirinya tanpa sebab.
.
.
.
.
Sebagian wanita mempunyai rasa sangat sensitif sekali. Begitu sensitif hingga mengingat masa lalu kelamnya saja sudah menitikan air mata, bukan berarti kita sangat cengeng atau manja. Tapi memang sungguh hati yang lemah lembut itulah yang membuat kita gampang tersentuh.
Dan aku merasakannya, pada anak-anak yang terlantar dan tidak mendapatkan hak mereka untuk bahagia. Seperti masa kecilku yang kurang bahagia dan baru aku dapatkan di saat usiaku tidak lagi remaja.
Menjadi dewasa itu banyak sekali keluhan, tapi menjadi dewasa untuk diriku tidak lagi ada kata keluhan yang menyakitkan. Hanya keluhan biasa, tentang lelahnya pekerjaan dan pekerjaan, Hanya itu saja tidak lebih.
Jangan tanya aku selalu mengeluh pada siapa bila bukan pada lelaki yang datang dan aku memeluk tanpa rasa malu lagi.
" Udah nangisnya?" Tanya Fathur, kembali memberikan aku tissu.
" Udah." Jawabku ketus.
" Dasar, cengeng."
" Ih.. Kasihan tau! Mengingatkan aku pa-,"
" Udah gak usah di terusin, nanti malah nangis lagi." Potongnya, sambil memberikan aku suapan es cream yang di belinya.
Ya benar, aku akan menangis kembali bila meneruskan ucapanku yang terpotong oleh Fathur. Fathur tau bagaimana cara untuk aku tidak lagi membahas masa lalu kecilku yang sangat miris hingga siapa yang akan mendengarnya ikut bersedih.
Mereka akan kasihan, tapi aku tidak suka di kasihani. Bukan aku sombong, tapi rasa kasihan itu seakan sedang mengolokku dengan mereka yang akan membicarakan aku di belakang hingga rasa kasihan akan berubah menjadi ejekan dan bahan gosib yang tiada henti.
Aku tidak peduli mereka mengasihaniku, dan aku tidak akan mengemis untuk mendapatkan perhatian dari mereka walaupun keadaanku yang sangat memilukan.
" Sudah makan?" Tanyanya.
" Sudah, sudah habis juga. Kalau nungguin kamu bisa-bisa aku pingsan."
" Maklum, calon direktur banyak kerjaan."
__ADS_1
" Cih!"
Fathur tertawa dan mengacak rambutku. " Masih belum terlalu malam, Mau pulang apa jalan ke taman kota." Menawariku untuk jalan bersama.
Masih belum terlalu malam, tapi melihat wajahnya terasa kasihan. Pulang dari kantor sempat-sempatnya ingin bertemu denganku dan mengajak makan malam atau jalan bersama.
Fathur tidak pernah lelah setiap hari menyempatkan waktu untuk melihat diriku secara langsung tanpa mau bervidio call atau telpon. Kecuali, bila Fathur mendapatkan kerjaan di luar kota, atau aku yang pergi ke luar kota tanpa dirinya tentunya.
Seperti dia, yang dulu selalu menemani dan menjagaku setiap waktu, meskipun pada akhirnya kita akan berjauhan untuk menggapai keinginan. Dia yang meninggalkan sejuta kenangan dan harapan padaku sampai saat ini.
Karena dia pernah berkata.
" Tunggu aku, kita akan bersama."
Dan begitulah ucapannya, hingga sampai sekarang aku masih menunggunya. Entah sampai kapan, karena aku terlalu setia hanya dengan ucapannya. Dan dia yang selalu mengirimiku surat kabar tanpa mau berbicara langsung lewat telpon.
" Pulang saja deh, aku capek." Jawabku. Dan tidak ada paksaan dari Fathur bila aku mengatakan lelah.
Fathur bukan lelaki pemaksa, lelaki sabar dan lelaki yang sangat perhatian sekali. Cara dia memperlakukan aku membuat para wanita pasti akan iri dan bila nanti dia sudah mempunyai kekasih atau istri, aku dan dia tidak akan bisa lagi seperti ini. Meskipun begitu, aku berharap persahabatan kita tak akan pernah putus walau kami sudah berkeluarga.
Kami berjalan menuju parkiran, berjalan bersama dengannya sambil canda tawa dan menoleh ke belakang saat ada suara wanita memanggil Fathur.
Aku dan Fathur mengerutkan kening, sama-sama mengingat siapa yang menyapa Fathur meski aku tidak di sapa wanita itu juga.
" Aku Sellyn Thur. teman kuliah kamu dulu, ingat ka!" Imbuhnya.
Dan aku baru ingat siapa wanita di hadapanku saat ini.
Wanita dari keluarga kaya dan sombong.
Ah.. Rasanya malas sekali bila bertemu dengannya, bukan dengannya juga. Dengan yang lainnya juga malas sekali bertemu, mengingatkan aku pada masa kuliah yang selalu di kucilkan hanya karena aku anak berbeasiswa dan miskin tentunya.
Ah.. Jangan lupa, anak dari seorang odgj.
Ya, sebagian dari teman kuliahku tau, aku anak dari seorang odgj dan anak haram yang tidak tau siapa bapaknya.
Jangan tanya mereka tau dari mana? Tentunya bukan dari mulutku sendiri. Ada yang tidak suka denganku apa lagi dekat dengan Fathur, hingga itu kenapa mereka mau mencari tau latar belakangku dan mulai mengolok aku yang selalu menyendiri tanpa teman kecuali Fathur.
" Oh... Iya baru ingat. Ada apa." Jawab Fathur.
__ADS_1
Datar sekali jawabnya anak ini, membuatku menahan tawa saat melihat wajah sebal teman kuliahku.
Sungguh menyedihkan.
" Kabar kamu gimana? Lama banget ya kita tidak bertemu, apa lagi kamu gak pernah datang kalau ada reonian."
" kabarku baik. Banyak kerjaan, jadi enggak bisa datang."
" Datang lah kapan-kapan, teman-teman banyak yang cariin kamu."
" Iya."
Menyebalkan bukan jawaban Fathur? Tapi aku suka. Entahlah, jahat sekali aku ini padahal sesama wanita. Mungkin karena aku masih punya rasa marah dan dendam dengan wanita di hadapanku ini.
Karena dia, yang sudah menyebarkan aib keluargaku dan membuatku menjadi bahan olokan.
Jahat sekali.
Aku benci itu.
Sellyn menatapku mulai dari atas sampai ke bawah. Masih sama, tidak ada ramah tama dan wajah bersahabat padaku. Aku hanya tersenyum tipis, tidak peduli apa yang dia lihat dariku sekarang.
Aku bukan dia, yang masih menjadi beban hidup ke dua orang tuanya. Aku dan dia sama-sama sudah imbang, tidak perlu lagi untuk aku menundukkan kepala seperti dulu saat aku masih menjadi orang miskin.
Bukan sombong, tapi memang aku harus tunjukkan sekali-kali bila aku bisa melebihi dirinya tanpa bantuan siapapun.
" Penampilan kamu sedikit berubah ya, kerja di mana sekarang?" Tanyanya sinis.
" Di butik Aruni."
" Pantas sekali berubah penampilannya." Jawabnya tersenyum sinis.
Aku hanya bisa membalas senyuman, mungkin dia mengira aku masih sama seorang karyawan. Aku tidak masalah, tidak peduli dan tidak perlu untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya, meskipun rasanya aku ingin sekali.
Tapi aku ingat dengan ucapan dia.
" Tetaplah rendah hati, meski semuanya sudah tercapai."
Ya, dan aku tidak ingin menjadi wanita sombong meski aku sudah memiliki semuanya.
__ADS_1