
Semakin kita di atas, semakin banyak orang yang berjilat ludah.
.
.
.
.
.
" Mbak Rani ya." Tanyaku pada sepasang kekasih.
" Iya. Mbak Dita kan?" Tanya balik.
" Iya, saya Dita mbak. Maaf ya mbak kami telat, soalnya macet."
" Enggak apa-apa mbak, kita juga barusan datang. Silahkan duduk mbak."
Aku mengangguk dan duduk di depan sepasang calon pengantin yang meminta untuk bertemu di salah satu cafe sedikit jauh dari tempat butikku, tempat itu ada di dalam mall tengah kota dan aku mengiyakan saja apa yang claenku inginkan. Sekali-kali juga aku perlu ruang terbuka bersama claenku membahas tentang rancangan baju pesta yang ingin di gunakan untuk pernikahannya.
Aku tidak sendiri, aku bersama asistenku. Kami mulai berdiskusi, mulai menunjukkan foto-foto baju pengantin di butik sebelum mereka memutuskan bila ingin memakai konsep bajunya yang mereka inginkan sendiri. Tapi tetap dengan aku yang sebagai desainernya.
Konsep baju pengantin wanita sedikit rumit, tapi bisa aku mengerti dan aku pahami bagaimana keinginannya. Dari mulai kebaya berpayet, dan baju pesta resepsi dengan model elegan.
Butuh dua jam lamanya kami berdiskusi dan merasakan puas saat claenku senang dengan desain baju yang di inginkan. Meskipun belum jadi.
" Aku harap hasilnya sesuai yang aku inginkan ya mbak."
" Pasti kami akan usahakan sesuai yang mbak Rani inginkan."
" Ya mbak, aku percaya. Terima kasih." Ucap Claenku.
" Sama-sama mbak. Nanti untuk selanjutnya, akan di hubungi asisten saya ya mbak."
" Iya mbak."
__ADS_1
" Terima kasih sudah percayakan saya mbak Rani." Akhiriku pembicaraan dengan claenku sambil menjabat tangannya.
Hampir satu jam lebih dan itu membuatku bukan sangat lelah, tapi juga menguras otak. Tapi tidak apa-apa, yang terpenting semua itu deal dan sesuai dengan konsep yang di inginkan claenku.
Memuaskan.
Tanpa lagi adanya tunda menunda karena belum menemukan konsep yang di inginkan. Bila seperti itu, tingkat kewaspadaanku akan menyala. Karena mendapatkan claen dengan banyak konsep dan keinginan akan membuatku mulai enggan menerima permintaan dan kerja samanya.
Tapi karena aku orang yang profesional meskipun mengeluh tetap saja aku menerima claen seperti itu.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan uang dan kesempatan untuk aku menjadi orang terkenal.
Ambisiku terlalu besar.
Ya, ambisiku memang terlalu besar, terlalu besar untuk aku menjadi desainer terkenal dan juga tentunya menjadi orang kaya.
Karena apa?
Karena aku tau, menjadi orang kaya tidak akan pernah di remehkan meskipun kita mempunyai masa lalu yang sangat buruk sekalipun. Sejatinya orang bermuka dua, akan menjilat ludahnya sendiri demi kembali mendekati orang yang sudah kaya.
Aku heran dengan orang-orang, kenapa segitunya menghindar atau tidak ingin berteman dengan kaum miskin. Apa mereka takut tertular miskin, atau mereka tidak sudi mempunyai teman miskin dan hanya ingin berteman dengan sesama kaya saja.
Aku percaya, Tuhan itu adil. Bisa membolak balikan kehidupan asal kita selalu berdoa dan yakin padanya, karena hanya sang pencipta yang bisa menentukan kehidupan kita dan takdir yang sudah di tentukan.
Seperti dia yang pernah bilang.
" Setiap ujian orang berbeda-beda, dan kebahagian akan datang bila kamu bisa melewatinya. Percaya saja sama Tuhan mu, karena di dunia ini hanya sang pencipta yang bisa membuat perubahan hidup."
Ya, hanya Tuhan yang bisa merubah kehidupan dan aku orang yang tidak boleh pantang menyerah untuk ingin menjadi wanita berkarir.
" Tolong taruh di ruangan saya ya Na, saya mau keluar sebentar." Ucapku pada asistenku setelah sampai di depan butik.
Hanya mengantarkan asisten kembali ke butik dan aku kembali keluar menuju ke tempat di mana waktunya aku berkunjung menemui Ibu ratu yang pastinya akan menungguku di bawah pohon sambil menimang boneka bayi.
" Iya mbak."
Tidak perlu bertanya dan mengatakan pada asistenku ke kemana aku pergi. Asistenku sudah hafal dan sudah tau kemana tujuanku di jam hampir menjelang sore. Hanya Asistenku yang tau, dan tidak pernah menceritakan tentang kondisi ibuku pada yang lain.
__ADS_1
Mungkin itu aib dan harus di privasi.
Atau mungkin segan denganku. karyawan lain tau dari cerita-cerita kalau aku anak desa, anak tidak mampu dan sukses bisa mendirikan usaha sendiri di kota. Tapi mereka tidak tau tentang orang tuaku, tentang ibuku dan tentang siapa bapakku.
Ah.. Bapak.
Sepertinya aku tidak pantas menyebut beliau bapak. Aku tidak tau siapa bapakku, bagaimana wajahnya dan di mana beliau sekarang. Sudah aku bilang, aku ini anak... Bisa di bilang haram dan terlantar.
Tapi tidak apa-apa, masih ada ibuku meskipun beliau mempunyai penyakit gangguan jiwa dan Setidaknya aku bersyukur karyawanku tidak ada yang tau tentang kondisi ibuku kecuali Asistenku.
Ya, asistenku. Dan hanya dia yang bisa aku percaya selama empat tahun bekerja denganku. Dan Asistenku ini juga gadis yang tidak suka mengurusi urusan orang lain, seperti diriku yang tidak suka mengusik kehidupan orang lain karena hidupku sendiri sudah terlalu berat untuk aku pikirkan saat ini.
Sebelum aku menuju ke rumah ibuku, aku mampir ke toko roti. Membeli kue kesukaan beliau, yang bila beliau makan selalu senang dan khusyuk sekali.
Ah.. Dan tunggu, aku tidak akan lupa pula membelikan roti untuk menyogok penjaga dan yang sudah mau merawat ibuku. Tentunya hal itu akan mempermudahkan aku masuk ke sana.
Selagi aku mampu, apapun akan aku lakukan.
Ya, apapun aku lakukan demi ibu.
" Enggak mau coba yang lain mbak Dita buat ibunya? Ada menu baru nich!" Ucap kasir, sambil menotal belanjaanku.
" Menu baru apa, kalau ada coklatnya aku mau coba satu saja."
" Dualah mbak sekalian."
" Bisa di tawar gak!""
" Boleh.. Tapi harganya aku naikin dulu ya. Baru mbak boleh nawar."
" Ih.. Sama saja kalau gitu. Ya sudahlah dua."
" Oke mbak." Ucap Kasir dengan riang dan mengambil roti menu baru.
Terlalu sering aku berbelanja roti, bisa di bilang hampir satu minggu lima kali aku datang ke toko ini untuk membelikan kesukaan ibu. Hingga itu kenapa wanita berjilbab ini tau namaku dan akrab denganku.
Ya, mungkin memang harus begitu dengan castamer, Harus ramah dan mudah senyum. Apa lagi kita sudah berlangganan, tak canggung untuk kita saling menyapa dan juga saling bercanda. Tapi tidak semuanya castamar berlangganan seperti diriku ini, Yang mudah bercanda dan juga akrab dengan para karyawan.
__ADS_1
Karena sifat orang berbeda-beda, hingga banyak orang kaya yang sombong ingin di hormati dan di segani. Tapi mereka lupa dengan adat saling menghargai.