Seperti Bintang

Seperti Bintang
Bab 3


__ADS_3

" Kapan nikah, jangan lama-lama. Kasihan ibu kamu sudah ingin punya cucu."


" Iya, cepat lah nikah! Nunggu apa lagi. Sudah sama-sama mapan."


" Ih.. Cantik loh. Awas nanti pacar kamu kabur kalau tidak cepat di ikat."


" Cepat nyusul."


Begitulah ucapan-ucapan saudara Fathur dan masih banyak lagi yang harus aku dengar. Aku dan Fathur sama-sama diam, sama-sama tersenyum, mengangguk dan terkadang membalas jawabannya dengan seadanya saja. Karena aku bingung sendiri harus menjawab apa.


Aku dan Fathur hanya sahabat tidak lebih dari apa yang orang kira. Kita memang kemana-mana selalu bersama, hingga mengira kita adalah sepasang kekasih, Padahal tidak.


Tapi fathur lah yang lebih sering mengajak aku ke tempat pesta pernikahan. Alasannya memang begitu. Selalu di tanya kapan nikah dan kapan nyusul atau di jodoh-jodohkan.


Siapa yang tidak marah sih, di tanya seperti itu. tentunya kita akan marah, apa lagi di jodoh-jodohkan. Ini bukan jaman siti nurbaya, ini jaman modern yang harus memilih sendiri meskipun pasangan yang di pilih tidaklah tampan. Yang penting, kaya.


Kata Fathur, Ah.. Basi.


Dan malas bila harus mendengarnya. Tapi apa yang di katakan orang-orang memang benar, Fathur sudah mapan sudah sukses dan sudah waktunya untuk ke jenjang yang lebih serius. Bukan lagi harus mengejar yang tak pasti kapan bisa ajak untuk hidup bersama selamanya.


Aku juga heran, Fathur ini tampan, mapan dan juga kaya. Siapa yang tidak suka dengan lelaki ini, semua wanita tergila-gila dan suka dengannya. Tapi justru Fathurlah yang enggan berpacaran dan masih menunggu seorang wanita yang sedang mengejar karir.


Aku penasaran, siapa yang sedang di tunggu Fathur. Begitu lamanya dia mau menunggu seorang wanita sampai rela tidak berpacaran.


" Apa?" Ucapnya padaku.


" Kamu sedang nungguin siapa sih! Penasaran banget, sumpah!"


" Kepo."

__ADS_1


Aku berdecak, selalu kan membuatku penasaran. Dan tidak mau mengasihtahukan aku siapa wanita yang sedang di tunggunya.


Tujuh tahun aku bersama Farhur tidak pernah aku melihatnya kencan dengan wanita kecuali jalan denganku. Ya, hingga itulah kenapa semua orang menganggapku pacarnya. Dan bodohnya aku.. Tak menghiraukan ucapan mereka.


" Mau makan lagi gak, aku masih lapar."


" Hah!"


" Menghadapi para ibu dan bapak sangat sulit. Makan pun jadi gak tenang."


Bisa saja satu temanku ini. Memang benar menghadapi bawel dan cerewetnya ibu-ibu sangat menguras tenaga dan menahan sabar agar ucapan yang kasar tidak keluar dari bibir kita.


Seperti aku yang harus sabar menghadapi castamer butik, yang memesan baju pengantin dengan banyak keinginan ini itu. Yang sangat sulit sekali rasanya untuk aku memenuhi. Tapi itu tidak membuat aku menyerah dan malah justru tertantang sampai castamarku suka dan mengatakan.


' Ya ini, yang saya mau'


Bagaimana rasanya, lega. Dan aku senang bila castamerku senang dengan desain baju pengantinku.


" Jangan menyerah, tetap semangat. Hadapi apapun itu dengan tenang dan kamu akan melihat hasilnya."


Dan Ya. Ucapan itu selalu terbukti. Ketika aku tetap tenang dengan apa yang sedang Tuhan uji padaku. Seperti awal-awal aku bertekad mengejar beasiswa dari kampus kota besar, meninggal desaku dan juga ibuku yang aku titipkan di rumah sakit jiwa kota kelahiranku.


Betapa susahnya awal aku di kota, dengan modal tekat dan uang saku dari hasil memecah celengan jago yang aku kumpulkan setiap menerima upah buruh kerja serabutan.


Ya, hidupku di desa sangat-sangat sulit lebih sulit ketika aku berjuang di kota sendiri. Dulu, aku tinggal bertiga, ibu, aku dan kakek dari ibuku. Kakekku baik sekali, bukan sekedar kakek biasa. Beliau menjadi garda depan untuk aku, hingga beliau meninggalkan aku dan ibu selamanya di saat usiaku menginjak empat belas tahun.


Dan bagaimana nasibku setelah di tinggal kakek.


Hancur sekali, mentalku sangat down sampai aku terpuruk dalam kesedihan. Dan aku harus bangkit, ketika aku sadar tidak ada lagi yang harus menafkahi aku dan ibu.

__ADS_1


Aku terpaksa mengurung ibuku di rumah saat aku sekolah hingga aku bekerja serabutan. Aku tidak bisa membiarkan ibuku di luar kala tidak ada lagi yang mengawasi ibuku.


Bila masih ada kakek, mungkin ibu tidak akan lebih gila dan mengamuk sampai membanting semua barang hanya karena setiap hari selalu di kurung dalam rumah.


Bila mengingatnya, sungguh hatiku sedih dan aku sangat kejam pada ibuku. Tapi itu demi kebaikan, juga keselamatan ibu dan tentunya aku lelah harus mencari ibu di luar sana setelah bekerja.


Dua tahun aku mengurus ibu sendiri, sampai aku sering sekali mendapat amukan, cakaran dan lemparan barang dari ibuku. Mungkin itulah aku harus tega, menyerahkan ibuku pada dinas sosial yang mendapat laporan dari para tetangga karena merasa kasihan denganku.


Awalnya sedih, sedih sekali sampai aku berulang kali mendapat perhatian dari para tetangga yang melihatku menangis dan hidup sendirian. Tapi aku sadar dengannya ibuku di bawa ke rumah sakit jiwa, aku berharap pada Tuhan semoga ibuku sembuh dari penyakitnya walaupun kemungkinannya kecil.


Karena aku hanya memiliki ibu, hanya ibu.


" Tadi katanya sudah kenyang, tapi kenapa sampai nambah nasi gitu?" Goda Fathur.


" Menghadapi kenyataan kalau aku tidak bisa jauh dari makanan meskipun sudah kenyang." Jawabku, membuat Fathur tertawa.


Lucu sekali, awal aku bilang tidak ingin makan karena masih kenyang. Tapi tetap saja aku tergiur dengan makanan yang membuatku tidak bisa untuk tidak mencicipinya meski berulang kali.


Memang Fathur ini bisa membuat pendirianku roboh, karena membawaku ke tempat makan favoritku.


Pecinta pedas.


Ya, aku pecinta pedas. Makan apapun harus ada sambal kalau tidak ada sambal rasanya ada yang kurang saja.


Seperti kehidupanku yang penuh dengan rasa pedas dari omongan orang. Seperti itulah untuk aku termotivasi dari ucapan orang yang membuatku sedikit sakit hati, tapi akan aku buktikan bila anak dari penyakit gangguan jiwa ini bisa mewujudkan cita-cita dan juga kesuksesannya tanpa bantuan siapapun.


Catat, Tanpa bantuan siapapun.


Karena aku tidak suka dengan orang-orang yang akan mengungkit tentang mereka yang sudah menolong kita. Dan aku tau, bila mereka melakukannya hanya ingin di puji.

__ADS_1


Munafik.


__ADS_2