Seperti Bintang

Seperti Bintang
Bab 7


__ADS_3

" Pagi."


" Pagi juga." Sapaku, dan duduk manis di depan Fathur yang sedang membuat sesuatu di dapurku.


" Masak apa?"


" Apa yang ada di dalam kulkas."


Dan menunjukkan telur omelet yang sudah matang dari penggorengan. Tidak lupa pula roti gandum sudah di panggang dengan sempurna di sajikan di bar meja.


Setiap dia menginap di apartemenku selalu saja Fathur yang lebih dulu bangun dan menyiapkan sarapan untukku. Sedangkan aku, jarang sekali membuat makanan bila bukan karena ingin dan tidak malas.


Dan aku menyiapkan stock roti beserta selai, karena Fathur lebih suka dengan sarapan paginya tanpa karbohidrat.


Ya, semalam dia menginap di apartemenku menikmati nobar film bersama hingga aku melupakan pekerjaanku dan aku tertidur di sampingnya dan Fathur yang memindahkan aku ke kamar tanpa membangunkan aku tentunya.


Fathur selalu begitu bila di apartemenku, yang membuatku tidak boleh sibuk bekerja di saat dia sedang bersamaku. Dan harus menikmati malam dengan tenang tanpa ada gangguan pekerjaan.


Fathur lebih sering menginap di apartemenku, bisa di bilang dalam satu minggu tiga sampai empat kali dia menginap dan jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya atau ke apartemennya sendiri.


Dan banyak sekali baju-baju Fathur di apartemenku yang ada di lemari kamar ke dua yang sudah di anggapnya kamarnya sendiri.


Aku dan Fathur masih mempunyai batasan, meski dia sering menginap di apartemenku. Dan kami tidak pernah tidur bersama, meski kami satu ruangan.


" Makasih." Aku terima sanwist buatan Fathur.


" Besok aku ke luar kota, mau oleh-oleh apa." Tanyanya, sambil menikmati sarapan bersama denganku.


" Lama?"


" Cabang di pabrik mengalami kendala. Mungkin iya, lama. Bisa sampai satu minggu lebih."


" Sendirian lagi nich!" Sedikit memelaskan suara dan sedikit merajuk di tinggal dirinya yang akan pergi ke luar kota.


Fathur tersenyum dan menggelengkan kepala melihatku merajuk.


" Heran, kalau ada di anggurin, kalau gak ada di kangenin. Maunya apa sih!"

__ADS_1


" Sapa juga yang kangen."


" Yakin gak kangen!"


" Enggak." Menggelengkan kepala dan mencibirnya.


Ya memang aku selalu membuatnya menunggu dan membuatnya harus bersabar bila aku sedang mengerjakan pekerjaanku yang tidak boleh di ganggu oleh siapapun.


Aku gila pekerjaan dan ambisiku begitu kencang untuk mendapatkan hasil yang baik. Karena aku masih ingin mengejar catatan masa depan sebelum aku menuju ke jenjang yang lebih serius bersama dia.


Ya, dia.


Yang selalu aku nanti. Dan entah sampai kapan selalu menantinya.


" Yakin?" Godanya.


Aku melihatnya, dan aku mencibir sekali lagi. " Jangan lama-lama, cepat pulang." Ucapku, Yang membuat Fathur tersenyum lebar.


Tidak bisa aku pungkiri, aku akan merasa kesepian bila Fathur bekerja di luar kota. Selama tujuh tahun aku berteman dengannya, hanya dia dan dia yang selalu ada menemaniku hingga aku tidak merasa sendiri lagi.


Bila dulu aku sering menutup diri dan selalu di kucilkan. Hanya Fathurlah yang menerimaku apa adanya, mau membantu dan menolong kesulitanku di kota. Fathur jugalah yang menjagaku dari mereka yang membullyku.


" Boleh! Jam berapa penerbangannya."


" Jam delapan."


Aku menoleh kebelakang, melihat jam dinding yang menunjukkan angka di jam tujuh lebih dua puluh menit, Aku melototkan mata dan Fathur kembali tertawa.


" Ayo?" Ajaknya, selesai sarapan dan berdiri dari duduknya.


" Fathur!!!" Teriakku. Dan membuat Fathur semakin tertawa kencang.


Sudah berapa kali Fathur membuatku menjadi wanita tidak tau malu ketika mengantarnya ke bandara dengan penampilan acak-acakan yang belum mandi.


Dan Fathurlah yang sudah mengetahui keburukanku setiap pagi.


****

__ADS_1


" Pagi mbak Dita." Sapa wanita ramah penampilan kantor.


" Pagi juga mbak Ita." Sapaku balik, muka tebal menahan malu mengantar Fathur ke bandara dengan penampilan acak-acakan.


Hanya memakai training dan baju longgar di tambah ikat rambut cepol, tapi masih beruntungnya aku sudah membasuh muka dan sikat gigi sebelum keluar dari kamar menemui Fathur dan di ajaklah dia mengantarkannya ke bandara.


Sungguh memalukan dengan penampilanku kali ini.


Bukan kali ini, tapi berkali-kali. Dan Mbak Ita sudah paham dengan muka maluku ini. Mbak Ita ini sekertaris Fathur, yang sudah hampir dua tahun menemaninya bekerja tapi tidak menemani Fathur untuk pergi ke luar kota.


Fathur lebih suka bekerja di luar kota sendiri tanpa di temani sekertarisnya. Bukan karena tidak PD, tapi untuk menjaga nama baik serta fitnahan di luaran sana.


Karena Fathur tau, sekertarisnya sudah memiliki suami dan juga mempunyai anak. Dan tidak elok bagi seorang atasan bepergian dengan sekertarisnya berdua saja, meski itu tentang pekerjaan.


" Ini tiket untuk anda Pak." Ucap mbak Ita menyerahkan tiket pada Fathur.


" Makasih mbak." Jawab Fathur dan menerima tiket dari Mbak Ita.


" Aku berangkat dulu ya, jaga kesehatan dan jangan telat makan." Kata Fathur padaku.


" Iya.. Bawel."


Fathur mengacak rambutku dan memelukku sebelum dia masuk ke dalam ruang tunggu. Tidak ada rasa canggung saat memelukku di hadapan sekertarisnya.


" Kenapa enggak nikah saja sih Dit, sama Pak Fathur." Ucap Mbak Ita, setelah Fathur masuk ke ruang tunggu.


Aku dan Mbak Ita sepakat bila ada Fathur dia akan memanggilku mbak, dan bila tidak ada Fathur kami akan berbicara dengan santai dan akan memanggilku tanpa embel-embel 'Mbak atau Nona'. Aku tidak tau alasannya kenapa, tapi mbak Ita segan sekali bila memanggilku nama di depan Fathur.


" Kan sudah aku bilang mbak, aku dan Fathur hanya berteman saja tidak lebih."


" Ya tapi kamu sama Pak Fathur serasi banget tau! Apa lagi Pak Fathur kelihatan sayang banget sama kamu."


" Sayang sebagai teman, tidak lebih." Jawabku.


Dan memang Fathur menyayangiku sebagai teman tidak lebih dari itu, dan aku tidak masalah.


" Ingat, tidak ada teman atau sahabat di antara dua lawan jenis. Dan aku tau, di antara kamu atau Pak Fathur yang sedang memendam rasa." Kata Mbak Ita, yang membuatku hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala.

__ADS_1


Tidak, tidak ada cinta di antara aku dan Fathur, Karena aku dan dia sudah sepakat tidak ada antara cinta di dalam pertemanan.


Karena aku, mencintai dia dan aku tidak bisa berpaling dari dia.


__ADS_2