Seperti Bintang

Seperti Bintang
Bab 8


__ADS_3

Perkataan mbak Ita membuat aku meragukan diri. Tidak mungkin aku dan Fathur memiliki perasaan lebih dalam. Fathur tidak mungkin mencintaiku dan aku juga tidak mencintai Fathur. Kami memang dekat, sebagai teman tanpa ada perasaan lebih dalam.


Tapi semua orang mengira aku dan Fathur sepasang kekasih yang selalu kemana-mana berdua dan tidak ada dari diriku atau Fathur pergi dengan yang lain.


Aku tidak memiliki perasaan lebih pada Fathur, hanya memiliki perasaan sayang sebagai teman yang sudah membantu melindungiku, dan yang selalu ada untukku.


Aku masih ingat Fathur memelukku erat saat aku menangis ketakutan karena ada yang mencoba melukaiku. Fathur berjuang keras melawan dua preman sendiri, tidak mempedulikan dirinya yang juga terluka hingga akhirnya preman itu kalah dan pergi meninggalkan kami.


Betapa takutnya aku kala itu sampai aku tidak mau di tinggalkan sendiri meski aku sudah berada di apartemennya.


Seperti anak kucing, aku tidur di sofa panjang berbantal paha Fathur dan meringkuk sambil memegang tangannya. Begitu setianya dia menemaniku tidur sampai menjelang pagi.


Begitu banyak sekali pengorbanan Fathur, banyak sekali dan tidak bisa aku lupakan sampai saat ini.


Suara ketuka pintu membuatku tersadar dari lamunan.


" Masuk?" Ucapku, sambil membenarkan dudukku.


" Maaf mbak, ada claen kita bernama mbak Jana di bawah." Kata Nana.


" Iya, Sebentar lagi saya turun. Tolong siapkan punya Mbak Jana ya Na." Perintahku.


" Iya mbak."


Ku hembuskan nafas, tidak boleh aku memikirkan apa yang di katakan Asisten Fathur. Aku berdiri, membersihkan buku-buku yang berserakan dan keluar dari ruangan untuk menemui claenku.


Ternyata claenku tidak sendirian, dia bersama dua orang wanita paruh baya dan pasangannya.


" Selamat siang." Sapa ku ramah, berjabat tangan dengan sepasang pengantin dan tersenyum ramah pada dua wanita paruh baya.


" Siang mbak Dita." Balas Janna senyum mengembang.


" Bagaimana mbak baju pengantin saya."


" Sudah jadi mbak, silahkan di coba dulu ya." Pintaku, menyuruh sepasang calon pengantin untuk mencobanya. Dan meminta dua karyawanku untuk membantu calon pengantin wanita.

__ADS_1


Aku sempat mengobrol bersama dua wanita paruh baya yang ternyata itu ke dua orang tua calon pengantin. Beliau memang ingin melihat hasil baju pengantin yang di pesan anak-anaknya dan juga ingin mencari baju untuk dirinya sendiri, dan berseragam dengan besannya.


Melihat keakrapan dan kompaknya calon-calon besan membuatku tersenyum. Aku membayangkan tentang diriku sendiri, bagaimana nanti aku mempunyai calon mertua dan apa calon mertuaku nanti bisa menerima ibuku?


Kenapa tiba-tiba aku tidak menjadi percaya diri seperti ini? Kenapa pikiran otakku terpenuhi tentang hal yang negatif.


Tidak, aku tidak boleh berpikir negatif. aku tidak boleh memikirkan apa yang belum terjadi, aku juga belum mengenal orang tua dia.


Aku belum mengenal keluarganya, dan aku berharap ke dua orang tua dia menerimaku dan ibuku. Ya, aku berharap.


Seperti dia yang menerimaku dan ibuku. Dan seperti dia yang pernah mengatakan.


" Apapun keadaan keluarga mu, aku akan tetap menerima kamu."


Ya, dia menerima keluargaku. Tapi dia meninggalkan aku demi mewujudkan apa yang di inginkan ke dua orang tuanya dan akan kembali setelah dia mendapatkan apa yang di inginkannya.


Menunggunya, sudah Sepuluh tahun.


Hampir sepuluh tahun, dan aku belum pernah sama sekali bertemu dengannya. Hanya kenangan foto dan hadiah-hadiah berharga yang dia kirimkan setiap ulang tahunku.


" Wah.. Cantik sekali!" Seru wanita paruh baya melihat penampilan putrinya.


" Iya mbak, cantik sekali Nak Jana." Puji calon mertua.


Aku tersadar dari lumunan dan melihat ke arah calon pengantin wanita memakai baju pesta pengantin. Begitu elegan dan indah, sesuai apa yang di inginkan wanita berhijab ini. Baju pesta tertutup dan tidak terlalu menunjukkan lekuk tubuhnya.


" Bagus mbak, saya suka!" Riang calon pengantin wanita.


" Syukur kalau mbak Jana suka, pilihan warna mbak jana juga bagus. sesuai dengan temanya di luar kan mbak?"


" Iya mbak Outdoor."


Aku mengangguk tersenyum, Pilihan warna yang sangat cocok untuk merayakan pesta pernikahan di area outdoor. Gaun pengantin muslimah berwana abu-abu dengan full payet dan aku tambahkan kain drapery di bagian punggung agar terkesan anggun. Tidak lupa pula untuk penggunaan hijab aku tambahkan kain tulle yang menjuntai.


Dan aku menoleh pada calon lelaki yang juga memakai jas yang sama senada dengan gaun pengantin wanita. Mereka begitu serasi dan begitu cocok memakai baju pengantin yang aku rancang sesuai apa yang di inginkan calon wanita.

__ADS_1


Kepuasan dan pujian mereka pada gaun yang aku rancang sangat membuatku senang dan bersyukur aku mendapatkan inspirasi baru dengan tema gaun muslimah.


Puas rasanya.


Setelah mencoba dan membayar sisa dp gaun pengantin, mereka berpamitan pulang membawa baju pengantin dengan rasa bahagia. tidak lupa pula calon pengantin memberikan aku undangan pernikahannya untuk aku datang di acaranya.


Tentu aku akan datang, memberikan rasa terima kasihku pada calon pengantin yang sudah mempercayakan aku sebagai perancang gaun pengantinnya.


Tapi kali ini, aku tidak akan datang bersama Fathur karena Fathur masih berada di luar kota.


Belum genap sehari aku sudah merindukan Fathur, lucu sekali.


Benar yang Fathur bilang. 'Kalau ada di anggurin, kalau gak ada di cariin.'


Lucu ya hati ini, bisa membolak balikan perasaan.


" Mbak Dita?" Panggil Nana.


" Hhmm, ya."


" Ada paket untuk mbak Dita." Kata Nana, menyerahkan paket box sedang berwarna biru padaku.


" Makasih Na."


" Sama-sama mbak."


AKu mengerutkan kening melihat box itu, dan aku tidak tau dari siapa pengirimnya. Tidak ada nama pengirim, hanya namaku yang ada di tulisan itu.


Aku membukanya, dan melihat di dalam kotak box. Aku mengambilnya, tersenyum melihat snowball atau hiasan bola kaca, terdapat dua beruang saling berpelukan di bawah turunnya hujan salju.


Lucu sekali, dan aku melihat kembali di dalam box yang ternyata ada surat kecil.


Aku buka surat kecil itu, aku mulai membaca dan semakin tersenyum lebar saat mengetahui siapa yang mengirimi hadiah manis untukku.


Dari, Fathur tertampan.

__ADS_1


Hanya itu isi suratnya, dan membuatku tidak bisa menahan tawa serta senyum mengembangku melihat kekonyolan Fathur.


__ADS_2