
Hidup sederhana itu simpel, hanya pola pikir kita saja yang membuatnya rumit.
.
.
.
" Hari ini pembukaan cabang butik aku, doain ya.. Semoga usaha aku lancar terus?" Ucapku, sambil mengupas kulit jeruk dan memberikan pada wanita di sampingku yang sedang duduk menggendong boneka bayi.
Beliau menerimanya, bukan menyuapkan untuk dirinya, tapi menyuapkannya untuk boneka yang di gendongnya.
" Buat kamu juga." Ucapku lagi, memberikan satu jeruk padanya.
Beliau kembali menerimanya, menyuapkannya dalam mulutnya sendiri. Expresi begitu senang menyicipi jeruk yang aku kupas begitu manis. Semanis wajahnya saat beliau tersenyum.
Aku pun memberikannya lagi, bersabar menunggu apa yang akan beliau lakukan. Beliau cantik, beliau terawat di sini dan beliau selalu menyendiri duduk di bawah pohon sambil menimang boneka bayi.
Boneka yang selalu di anggapnya anak.
Dan tidak boleh lepas darinya sedikitpun, bila lepas dan tidak ada di sampingnya ia akan mengamuk seperti dulu.
Aku bersyukur, pada akhirnya beliau di bawa ke tempat penampungan yayasan rumah sakit jiwa. Beliau mendapatkan penanganan lebih baik dari sebelumnya. Dan aku memindahkan beliau ke kota besar saat aku sudah tak lagi tinggal di desa. Aku ingin selalu bersamanya, bagaimanapun keadaan beliau, beliau akan selalu bersamaku meskipun kami tidak bisa satu atap lagi.
Jangan tanya sebelumnya bagaimana keadaan beliau di luaran sana. Tentunya tidak akan ada yang menerima keadaan beliau. Semua orang menganggapnya wanita gila, dan akan selalu di anggap gila meskipun sudah mempunyai anak. Beliau akan marah bila ada seseorang yang membuatnya tidak senang. Sama seperti aku yang juga akan marah melihat teman-teman kecilku menghina ibuku. Dan beliau bisa sedih, aku pun juga sama sedih bila melihatnya menangis.
Beliau tertawa, tapi tidak dengan bibirku Yang bungkam akan apa yang aku lihat saat beliau tertawa mendapat ejekan dari teman-temanku semasa kecil. Mereka menggodanya, tapi aku tidak terima. Hati kecilku marah, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya kepalan dua tangan dengan mata memerah untuk menahan semua itu.
Menangis, tentu aku manangis.
Karena aku gadis kecil yang sendiri dan takut dengan keadaan.
Bukankah ikatan batin itu lebih kuat? Hingga memenuhi perasaan yang mendalam. Meskipun beliau tidaklah sempurna di mata orang.
Siapa yang memasukkan beliau ke rumah sakit jiwa?
Itu aku. Ya, aku yang memasukkannya beliau ke rumah sakit jiwa saat umurku menginjak enam belas tahun.
__ADS_1
Apa aku malu?
Jawabanku tentu tidak, tidak lagi saat aku menerima keadaan. Keadaan di mana aku harus memaksa untuk menerimanya pelan-pelan hingga aku iklhas dengan semua garis takdir sang pencipta.
Sungguh. Dia yang mengajarkanku untuk mengiklaskan semua dan dia pernah berkata padaku.
" Yakin, kamu pasti bisa."
Ya, Aku yakin aku pasti bisa. Bisa berjuang tanpa harus meminta belas kasihan, Tanpa harus di kasihani. Aku yakin, dengan kemampuanku, dengan bakatku dan dengan semangatku untuk berjuang hidup lebih baik.
Dan akan aku buktikan. Tidak selamanya buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya.
" Sudah sore, ayo masuk ke kamar?" Ajakku pada beliau.
Sudah lebih dari dua jam aku menemani beliau di bawah pohon. Melihat beliau bermain, mengajaknya mengobrol dan menemaninya makan bersama boneka bayinya.
Bukan setiap hari aku datang ke tempat ini, tapi aku akan selalu menyempatkan waktuku menjenguk beliau meskipun aku sekarang terlalu sibuk dengan pekerjaanku di butik. Dan tak lupa, doa-doa manisku meminta pada sang pencipta untuk beliau selalu tetap sehat.
Ya, sesimpel itu aku meminta doa. Karena aku tau, sulit sekali untuk menyembuhkan beliau dengan sang pencipta yang sudah membuat beliau menjadi seperti itu sejak kecil.
Ibu.
*****
Membalas lambaian tangan, aku hampiri lelaki yang sedang menungguku di tepi jalan. Lelaki tujuh tahun ini yang aku kenal di tempat kuliahku.
Fathur.
Lelaki yang sudah aku anggap sebagai sahabat, saudara, dan sebagai tempat teman keluh kesah tentang pekerjaan.
Hanya dia yang menjadi temanku sampai saat ini, hanya dia yang mengerti tentang aku, tentang kehidupanku dan tentang siapa aku.
Dia yang mau berteman denganku, dia yang ada di saat aku merasa sendiri dan dia yang selalu ada kala aku susah. Dia yang tidak pernah meninggalkan aku di saat dia mengetahui tentang keluargaku dan perjuangan dia yang mau menjadi temanku tanpa pamrih.
" Sudah bertemu sama ibuk?" Tanya Fathur setelah aku berada di depannya.
" Sudah." Jawabku.
__ADS_1
" Silahkan masuk Nona Dita."
Aku tersenyum tipis, lihat perlakuannya yang membuatku malu sendiri hanya perkara membuka pintu mobil untukku masuk.
Manis, tapi menggelikan.
" Mau ajak aku kemana?" Tanyaku, duduk manis di samping pengemudi.
" Ke pernikahan saudara."
" Makanya ajak aku."
" Ya, biar di sangka aku punya pasangan. Kalau gak gitu nanti malah di jodoh-jodohin, males banget aku." Jelasnya, sambil mengemudikan mobil.
" Makanya cepat cari pasangan, biar gak di jodoh-jodohin. Masak umur dua puluh delapan belum punya pasangan sampai sekarang." Cibirku.
Berdecak." Sabar, yang di tunggu masih ngejar karir.." Jawab Fathur.
" Penasaran,siapa sih! Sampai segitunya nunggu."
" Ada, gak perlu tau."
Aku pun berdecak, Fathur selalu begitu bila di tanya tentang pasangan dan kapan akan menikah. Fathur dan aku selisih setahun, lebih tua dia dan kami sama-sama masih mengejar karir yang apa sudah kami inginkan sejak dulu.
Dan aku memang tidak perlu memusingkan pasangan, Karena bagi aku jodoh sudah ada yang atur, tidak perlu di cari dia akan datang dengan sendirinya.
Tapi...
Aku sedang menunggu dia, dia yang selalu menyemangatiku dengan kata-kata bijaknya.
Seperti dia pernah bilang padaku.
" Bintang memang tidak bisa di gapai, tapi cobalah untuk menjadi sinarnya. Karena sinar bintang bisa membuat mata semua semua orang tertuju padanya."
Ya, bintang memang tidak bisa di capai, tetapi mencoba menjadi sinarnya sangatlah susah. Butuh perjuangan dan butuh tekat kuat untuk aku bisa membuktikan bila aku bisa dan tidak lagi di pandang sebelah mata hanya karena anak dari seorang wanita gila dan tidak tau siapa ayahnya.
Aku, adalah anak haram..
__ADS_1