Seperti Bintang

Seperti Bintang
Bab 9


__ADS_3

...Kita mempunyai bahagia tersendiri, dan caraku bahagia sangat sederhana, yaitu berbagi sesama....


.


.


.


.


Ku nikmati minggu pagiku ini berolahraga di stadion gelora. Menghirup udara segar dan keramaian orang-orang yang juga sedang berolahraga sambil berkuliner tentunya.


Bila ada Fathur mungkin dia lebih suka berolahraga mengelilingi aparteman dari pada di stadion gelora, apa lagi di hari minggu. Fathur paling tidak suka dengan keramaian saat berolahraga. Sangat sensitif sekali, bila tau aku memakai baju ketat sampai membentuk lekuk tubuh dan dadaku terlalu menonjol saat berolahraga. Fathur akan mereog, cerewet dan marah-marah seperti anak kecil.


Dan Fathur akan mengancam.


" Ganti, kalau tidak aku sobek baju mu di sini."


Kalau sudah seperti itu ancaman Fathur, aku pun tidak bisa membantah. Aku Akan menurut seperti anak kecil sambil bibirku merucut dan komat kamit memaki Fathur.


Dan cukup sekali Fathur mendiamiku karena aku tidak pernah menuruti perkataannya hanya perkara baju.


Menyebalkan bukan?


Tapi memang seharusnya wanita tidak terlalu boleh menunjukkan lekuk tubuhnya atau dada yang terlalu menonjol bukan. Itu akan membuat para lelaki mata keranjarang tergiur dan akan menggodanya hingga berakhir dengan pelecehan sexs*al.


Kadang wanita sendiri yang membuat dirinya rugi.


Rasanya aku perlu bersyukur bisa memiliki teman seperti Fathur, dia akan mengingatkan aku dan akan menjadi pelindung untukku. Aku seperti sangat berarti dalam kehidupannya, padahal aku dan Fathur tidak memiliki ikatan darah. Tapi dia selalu memperlakukan aku lebih dari seperti teman.


Aku berlari sendiri, menikmati lari pagiku dengan alunan lagu dari airpods yang ada di telingaku. Berpakaian santai, memakai training hitam, baju putih, sepatu putih dan tidak lupa pula aku cepol rambutku sedikit tinggi agar keringatku tidak terlalu membasahi rambutku.


Aku kelilingi luar stadion satu putaran dan berhenti saat aku merasa lelah. Duduk meluruskan kaki dan mengelap keringat.


" Air putihnya Neng?" Tawar bapak-bapak, pedagang asongan membawa minuman dalam tremos besar di pundaknya.

__ADS_1


" Boleh, satu pak. Berapa."


Aku perhatikan beliau yang memakai satu tongkat untuk menompang tubuhnya, dan maaf, ternyata beliau memiliki kekurangan di bagian kaki kanannya.


" Lima ribu Neng." Katanya, mengulurkan minuman botol padaku.


Ku ambil satu lembar uang merah di dalam cassing hpku, selalu aku selipkan di dalam sana saat aku berolahraga di luar dan tak perlu repot membawa dompet. Tapi terkadang aku tidak perlu membayar bila ingin membeli sesuatu saat bersama Fathur, dia akan membayar semua jajanan yang aku inginkan.


Royal sekali kan Fathur? Siapa yang tidak mau menjadi pacar Fathur kalau begitu. Aku saja senang mendapatkan jajanan gratis apalagi kekasihnya nanti, pasti akan lebih royal.


Kenapa aku jadi tidak rela sih!


Tapi aku tidak rela bila Fathur di manfaatkan oleh kekesihnya nanti. Dan aku berharap Fathur mendapatkan pendamping baik seperti dirinya.


Ya, seperti dirinya yang baik padaku.


" Kembaliannya buat bapak saja." Kataku pada bapak pedagang asongan.


" Beberan neng?"


" Terima kasih neng, terima kasih." Ucap beliau senang. " Semoga rejekinya bertambah banyak neng." Imbuh beliau mendoakan aku di pagi hari.


" Amin." Jawabku tersenyum tulus.


Begitu lebar senyuman di bibirnya, terasa bahagia dan senang mendapatkan uang yang bagi beliau sangat banyak. Aku tau, tak seberapa untung banyak menjual minuman botol itu. Tapi mereka tetap menjualnya, demi kebutuhan hidup.


Aku lebih suka orang berjualan, bekerja jadi pemulung dari pada orang meminta-minta. Tapi terkadang, orang yang meminta-minta juga bukan keinginan mereka, mereka terpaksa karena mereka tidak mempunyai modal untuk berjualan asongan. Tapi ada juga yang naif dan lebih suka mengemis dari pada berjualan yang tidak memiliki untung banyak.


Manusia seperti itulah malas bekerja dan lebih suka mendapat belas kasihan dari orang-orang. Aku paling benci itu.


Seperti dia yang mengatakan padaku.


" Jangan pernah mengemis, karena harga dirimu bukan di beli."


Ya, harga diri tidak bisa di beli. Dan harga diri sangat berarti sampai mati. Sekalinya kau mengemis belas kasihan, seterusnya kau akan mendapatkan cacian, gibahan dan juga bullyan.

__ADS_1


Hingga itu kenapa aku ingin menjadi wanita sukses dan mandiri, bekerja keras tanpa meminta belas kasihan dari orang. Karena aku tau, sakit sekali rasanya di permalukan dan di hina saat aku masih belum menjadi apa-apa.


Matahari sudah mulai sedikit tinggi dan masih begitu ramai. Aku memutuskan pulang, dan enggan untuk membeli jajanan. Malas kalau tidak ada Fathur. Tapi aku teringat bila aku harus membeli makanan yang sudah di bungkus dengan rapi. Membeli beberapa bungkus makanan sebelum meninggalkan stadion.


Kebiasanku setiap pagi, di bawah jembatan layang. Berbagi sesama apa yang aku beli dan aku makan tanpa membedakan apapun.


" Terima kasih mbak."


" Makasih neng, semoga allah membalas kebaikan Neng."


" Makasih tante."


Masih banyak lagi, ucapan dan doa dari mereka yang mendapatkan sedakah pagi.


Rasanya senang bisa berbagi, hati menjadi bahagia, pikiran menjadi tenang dan tetap bersyukur menikmati apa yang kita punya.


Tetaplah berbagi meski tak seberapa besar nominalnya. Dan setidaknya, kamu bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal suatu saat nanti. Dengan kebaikan dan doa-doa baik dari mereka yang sudah kau beri tanpa pamrih.


Cukup Tuhan, aku dan mereka yang tau tanpa lagi menceritakan pada yang lain.


****


Selamat datang para tamu.


Aku berdiri di depan gedung bergaya eropa berkarpet merah. Berjalan bersama Nana memasuki gedung mewah berdekor bunga-bunga segar dan ucapan-ucapan selamat dari kerabat, teman, maupun perusahaan. dan tentunya juga ada nama butikku dalam rangkaian ucapan selamat ulang tahun untuk pelanggan butikku yang selalu memesan baju pesta di tempatku. Dan beliau mengundangku dalam acaranya.


Jujur, aku sedikit malas dan enggan sekali rasanya untuk datang di acara orang-orang kaya ini. Tapi demi beliau yang mengundangku secara langsung, rasanya segan sekali bila tidak datang. Aku datang bersama Nana, agar tidak sendirian dalam acara pesta orang kaya.


Kehidupan orang kaya seperti ini, menghamburkan uang banyak demi satu malam merayakan ulang tahunnya. Tidak peduli seberapa besar pengeluarannya, asal mereka bisa mendapatkan kesenangan. Dan tentunya, mendapatkan pujian dari mereka-mereka yang datang di acaranya.


Bukankah pujian itu akan membuat orang semakin sombong dan semakin tinggi harga dirinya.


Ah...


Dasar orang metropolitan.

__ADS_1


__ADS_2