Seperti Bintang

Seperti Bintang
bab 10


__ADS_3

Sepuluh tahun, tidaklah mudah untukku melupakan mu.


.


.


.


.


" Bu Mulan." Panggilku ramah, membuat beliau menoleh padaku.


" Mbak Dita?" Sapa riang bu Mulan, berjabat tangan dan saling menempelkan pipi.


" Selamat ulang tahun Bu Mulan." Kataku, memberikan paberbag hitam dan bunga untuk beliau. Tanpa memberikan lagi kata-kata manis.


" Terima kasih mbak dita. Terima kasih juga sudah datang."


Aku mengangguk dan tersenyum, sedikit mengobrol dengan beliau sebelum beliau kembali menjamu tamu-tamu yang datang menemuinya. Dan aku mencari tempat duduk yang sudah di tentukan pemilik pesta dan di beri nama di atas meja.


Aku berada di antara orang-orang kaya, menikmati jamuan hidangan dari pemilik pesta bersama Nana. Beruntung aku datang dengan Nana, bila aku datang sendiri mungkin aku akan jenuh, menyendiri sendiri dan seperti orang bodoh bingung dengan acara ini yang penuh orang-orang sosialita.


Sungguh, ini bukan tempatku.


Dan aku lebih suka menjadi orang biasa tanpa membedakan kasta.


Aku tidak terlalu mengenal para tamu orang-orang kaya, tapi aku sedikit mengenal para wanita sosialita yang pernah membeli dan memesan gaun-gaun pesta di butikku. Dan ada juga yang mengenaliku di acara ini tanpa aku menegurnya terlebih dulu.


" Mbak dita ya?"


" Bu Lista." Sapaku ramah, berdiri dari duduk dan berjabat tangan dengan beliau bersama suaminya.


" Di undang juga mbak Dita."


" Iya buk." Aku mengangguk tersenyum.


" Pa, ini yang pernah mama bilang ke papa. Dita namanya, Gadis cantik dan sukses di dunia bisnis baju." Puji Bu Lista.


" Ini yang Mama bilang itu?"


" Iya Pa, cantik kan?"


" Iya Manis." Ulang suami bu Lista.

__ADS_1


" Cantik Pa?"


" Sama saja ma."


" Terima kasih, tapi bu Lista juga lebih cantik." Potongku sedikit melerai perdebatan di antara suami istri ini, dan memuji Bu Lista di hadapan suaminya.


" Kalau yang ini memang sudah cantik dari dulu dan nomer satu di hati saya." Timpal suami bu Lista membuat beliau tersipu malu mendengarnya.


Aku tersenyum lebar, begitu romantis dan harmonis memuji istrinya di hadapan orang meski umur mereka tidak mudah lagi. Begitu banyak cinta dan sayang di mata suami bu Lista. Dan terlihat begitu setia hingga enggan memuji wanita lain selain istrinya.


Beginilah yang aku inginkan nanti setelah menikah, mempunyai anak hingga membersarkannya bersama dan hidup menua bersama dengan pendamping hidup, setelah anak-anak kita sudah menikah nanti. Dan tidak ada yang lebih nikmat lagi di hidup ini selain bersama belahan jiwa.


Tapi adakah yang mau menerimaku?


Andai, aku terlahir dari keluarga yang sempurna, keluarga cemara. Dari ibu yang... Oh Tuhan.


Ampuni hamba.


Aku tidak boleh membedakannya. Beliau adalah ibuku, meskipun beliau memiliki gangguan jiwa. Dan aku tidak perlu seorang bapak, yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.


Aku tidak perlu mencarinya, tidak perlu.


" Acara mau di mulai, kalau begitu saya ke tempat duduk saya dulu ya mbak Dita?" Pamit bu Lista.


" Mbak Dita kenapa?" Tanya Nana.


" Semoga aku kelak bisa kayak Bu lista ya Na, punya suami yang cinta dan sayang sama istri."


" Amin mbak. Aku juga pengen seperti Bu Lista mbak."


" Amin, semoga saja Na kita bisa punya suami seperti beliau."


" Amin! Sebiru amin mbak."


Aku terkekeh mendengar jawaban Nana. Dan kami kembali melanjutkan melihat acara-acara pesta.


Aku sedikit menikmati makanan yang sudah di sajikan pelayan, menikmati alunan musik di atas panggung dan menikmati senyuman sepasang suami istri yang akan memotong kue sebelum para tamu heboh dengan tamu lain yang baru datang.


Pemilik pesta turun dari panggung dengan langkah tergesa-gesa, dengan wajah sumringah menghampiri tamu undangan yang baru datang.


Sebegitu spesial, atau terkenal kah? sampai-sampai para tamu serta pemilik pesta menyambutnya dengan rasa hormat.


Aku tidak tau siapa yang datang, para tamu menutupi pandanganku yang juga penasaran siapa tamu spesial malam ini. Dia tamu lelaki, apa itu kolega bisnis pemilik pesta. Ya, mungkin saja.

__ADS_1


Tamu itu duduk di depan bersama , membuat aku hanya bisa menatap punggungnya dan penasaran siapa lelaki terhormat itu.


Acara mulai di lanjut, memotong kue dan tepukan tangan dari para tamu. Dan memulai kembali alunan musik di atas panggung.


Aku mulai jenuh, rasa ingin pulang, tapi acara belum juga selesai. Aku pun memutuskan untuk pulang, berpamitan terlebih dulu sebelum aku pergi acara pesta orang kaya ini.


" Maaf ya Bu Mulan, saya tidak bisa lama-lama, saya masih ada urusan dengan claen saya."


" Oh iya tidak apa-apa Mbak Dita, makasih sudah datang ya mbak."


" Iya buk." Aku mengangguk tersenyum, menjabat tangannya dan tak lupa kembali saling menempelkan pipi tanda perpisahan.


"Mbak Dita, aku mau ke kamar mandi sebentar."


" Iya, aku tunggu di lobby Na."


" Iya mbak."


Aku berjalan menuju lobby menunggu Nana yang sedang ke kamar mandi.


Ternyata, aku lebih suka kesunyian. Seperti di depan lobby yang hanya ada beberapa pengawal sedang berjaga di depan gedung menikmati kopi sambil berbicara.


Bintang-bintang bertaburan, bulan sabit pun bersinar terang. Seakan mengisi kesunyian malam dengan sinarnya.


Indah sekali bintang malam ini.


Aku perhatikan mobil berhenti tepat di depan halaman lobby. Aku menoleh ke belakang untuk melihat Nana, tapi justru yang aku lihat bukan kedatangan Nana. Melainkan dua orang lelaki berjalan tanpa beriringan. Dan yang membuat aku terkejut, ada lelaki yang aku rindukan.


" Rendy." Panggilku.


Dia berhenti saat aku memanggilya.


" Ren." Panggilku lagi dengan suara nyaris bergetar.


Dia berbalik dan jantungku semakin berdetak cepat melihat wajahnya. Wajah yang aku rindukan, yang aku tunggu selama sepuluh tahun ini.


Ya, dia. Rendy.


Aku berjalan cepat menghampirinya, dan memeluk tubuh yang hanya diam melihat diriku tanpa mengatakan sepatah katapun.


" Aku kangen kamu Ren, aku kangen kamu." Menumpahkan semua tangisanku, memeluknya begitu erat seakan aku tidak ingin di tinggalkan kembali dengan dia yang selalu aku nanti selama ini.


Dia kembali, dia kembali Tuhan.

__ADS_1


Alvarendy.


__ADS_2