
Jill menatap Royka yang sedang mengemudi, saat ini mereka dalam perjalanan pulang setelah berlibur sejenak di pantai--itu hanya untuk Jill, selebihnya sang pengawal hanya bisa mengawasi.
Bibir Jill melukiskan sedikit senyum ketika mengingat kejadian di pantai tadi, tidak hentinya ia menggoda sang pengawal dengan berbagai cara, tapi itu sia-sia belaka.
Tidak sedikit pun sang pengawal terpengaruh pada rayuannya, walaupun kecewa Jill masih bisa merasa senang dan ia mengakui bahwa pria seperti Royka memang sangat langka.
"Berhenti menatapku seperti itu!!" Suara Royka mulai terdengar membuat Jill hanya bisa mengerucutkan bibir.
"Tuan Royka, aku ingin bertanya?" ucap Jill yang tidak ditanggapi oleh sang pengawal. Pria tangguh itu tidak menjawab pun memberi isyarat pada sang gadis majikan seolah perkataan gadis itu mengambang di udara.
"Aku benar-benar muak dengan sikapmu itu! Kalau kau tidak memesona sudah pasti kuusir dari dalam kehidupanku!" gerutu gadis cantik yang menyilang tangan di dada.
"Ck, Ya Tuhan, kau ini manusia atau batu? Hey? Aku bicara denganmu, bodoh!!" teriak Jill setelah berdecak karena tidak mendapat respon yang baik dari sang pengawal.
"Aku tidak ingat kalau penampilanku sangat berpengaruh untuk penglihatanmu," jawab Royka, mau tidak mau ia juga memberi balasan atas ucapan si gadis majikan karena perempuan muda tidak akan berhenti berbicara.
"Kau salah, sama hal nya ketika kita melihat tempat atau pemandangan yang indah, itu memberi dampak positif untuk kesehatan mata dan otak," timpal Jill, sepertinya dia cukup senang dengan respon sang pengawal.
Royka menatap Jill sekilas, ia hanya bisa membuang nafas kasar, sepertinya menanggapi ucapan Jill juga bukan hal yang tepat karena gadis itu malah semakin antusias mengajaknya berbicara.
Semua berbeda, saat berada di penjara ia hanya bicara seperlunya saja. Tidak ada yang pernah berinteraksi begitu lama dengan dirinya.
Namun, sekarang ia juga tidak terbiasa dengan seseorang yang terus mengoceh terlebih itu dengan lawan jenis.
Hanya dua wanita yang pernah ia kenal selama hidupnya. Seorang ibu dan teman lama yang mungkin sudah melupakan dirinya.
"Kau pernah punya kekasih?" Suara Jill kembali terdengar, Royka yang sedikit mengingat masa lalu kembali tersadar dari lamunan.
"Tidak, aku dipenjara saat usia lima belas tahun, jadi aku tidak memikirkan hal itu," jawab Royka panjang lebar.
Jill cukup tertegun, pria itu seperti tidak berpikir dahulu sebelum menjawab. Apakah dia malas untuk memberi jawaban atau memang dia tidak suka jika diberi pertanyaan yang sedikit pribadi.
"Maksudku, mungkin ada saudara, kerabat, keluarga, atau seseorang yang menunggumu di Rusia," ucap Jill walaupun penuh dengan keraguan.
"Ibuku sudah meninggal sangat lama," jawab Royka dengan tatapan dingin.
Jill terdiam, sepertinya ia salah memilih pertanyaan, bisa saja hal itu hanya akan mengungkit luka lama yang mungkin sudah dikubur oleh Royka.
"Tidak ada yang menarik dalam hidupku, jadi berhentilah bertanya! Lagipula aku tidak dibayar untuk menceritakan kisah hidupku."
Mendengar ucapan sang pengawal jelas membuat gadis muda keras kepala seperti Jill menjadi geram kembali, baginya ucapan Royka selalu merusak suasana bahkan menyulut emosinya juga.
__ADS_1
"Kau memang payah! Kau perlu menikmati hidup, setidaknya jika kau percaya pada Tuhan. Dia tidak akan memberi cobaan dibatas kemampuan." Royka kembali menatap nona mudanya.
Sepertinya itu adalah ucapan berguna yang ia dengar pertama kali dari mulut si gadis cantik tapi keras kepala alias Jill.
"Jadi ada hal berguna juga dalam kepalamu itu, Nona!" ucap Royka membuat Jill hanya bisa menatap sebal padanya.
"Kupikir hanya ada kesenangan dan kebodohan saja yang kau pikirkan," lanjut Royka.
"Berhenti mengejekku. Dasar pria tua tidak berguna!" balas Jill dengan kesal.
"Kau boleh menyebutku bodoh, tapi semua orang mengakui bahwa aku punya satu kelebihan-...."
"Wajahmu cantik? Kau berpikir begitu?" Ucapan Jill tertahan karena Royka memotong saat ia bicara.
"Aku pikir kau hanya anak manja yang rewel juga menjengkelkan. Selain itu kau kekanakan," tambah si pria dari penjara.
"Jangan terus menghinaku, apa kau tidak takut jika nanti kau malah jatuh cinta padaku," keluh Jill, ia juga sedikit memancing reaksi si pengawal.
Royka terdiam bahkan tidak menimpali ucapan si gadis majikan, apa ia terganggu atau malah tidak suka mendengar hal itu?
Jill menatap Royka, wajah pria itu kembali menjadi dingin. Apa Jill salah bicara? Atau memang Royka punya kisah di masa lalu atau masa kecilnya.
Setelah lebih dari setengah jam perjalanan, akhirnya Royka dan Jill tiba di rumah mewah milik sang nona majikan.
"Hey, ada apa ini kenapa semua nya gelap?" tanya Jill setelah mengetahui bahwa semua lampu di rumahnya belum dinyalakan, padahal waktu sudah cukup larut.
Royka terlihat diam tapi sepertinya pria itu memasang kewaspadaan, saat ini mereka masih berada di luar pintu gerbang.
"Tuan Royka?" Jill menatap Royka berharap mendapat jawaban dari pria itu.
"Tenanglah, sebaiknya aku periksa ke dalam. Jika sesuatu terjadi cepat pergi dan tinggalkan tempat ini!" ucap Royka, ia mulai membuka pintu mobil secara perlahan.
"Kemudikan mobilmu dengan cepat jika kau lihat ada yang mencurigakan!" Royka berkata tanpa menyadari si gadis majikan terlihat sedikit ketakukan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Jill dengan cemas, dia merasa khawatir pada pria matang tersebut.
"Jangan khawatirkan diriku! Tetaplah waspada!" Setelah berkata demikian Royka segera meninggalkan Jill sendirian di dalam mobil.
Keadaan rumah Kaka memang terlihat sedikit aneh, sebagai seorang pria yang terbiasa berurusan dengan hal tentang kejahatan Royka mungkin begitu peka untuk memahami situasi.
Kaka seorang mafia yang pastinya punya banyak musuh, dan hal yang terjadi sekarang pasti akan terjadi cepat atau lambat.
__ADS_1
Jill masih berada di dalam mobil, seperti yang dikatakan Royka dia harus tetap waspada, gadis itu mematikan semua lampu mobil dan memperhatikan keadaan sekitar.
Terlalu sepi, Jill tidak bisa mengenyahkan perasaan takut juga cemas pada ayahnya dan juga sang pengawal pribadi.
Setelah lama menunggu, Royka belum juga kembali dan ia semakin penasaran pada apa yang terjadi di dalam sana.
"Tuan Royka, kau ada di mana?" Jill hanya bisa membatin dan itu menguras kesabarannya.
Gadis muda itu memberanikan diri untuk keluar dari mobil, ia berjalan mengendap-endap menuju pintu samping seperti yang dilalui Royka sebelumnya.
Setelah masuk ia melihat beberapa mobil yang tidak dikenal terparkir di halaman rumah yang cukup luas
"Papa, apa yang terjadi?" Jill merasakan firasat buruk, ia bukan gadis bodoh yang tidak mengerti apapun. Tentu ia tahu bahwa nyawa sang ayah selalu terancam setiap saat, ia hanya berharap tidak terjadi apapun pada orang tua satu-satunya itu.
Jill memasuki rumah nya sendiri dengan cara seperti seorang pencuri, ia tidak tahu di mana Royka berada, dengan satu tangan memegang tongkat bisbol yang ia ambil di ruangan sebelumnya Jill segera menelusuri rumahnya yang sepi.
Dari sebuah ruangan ia bisa mendengar suara, tanpa pikir panjang Jill segera menghampiri dan mendekat ke arah pintu yang terbuka.
Mata Jill membola ketika mengintip dari balik dinding pintu, ayahnya diikat di sebuah kursi dengan wajah yang berlumur darah dan babak belur.
"Pa- ... Hmmp!!" Suara Jill tertahan karena seseorang membekap mulut dan merangkul tubuhnya membuat gadis itu segera meronta.
"Diamlah, Nona!!" Mendengar suara yang dikenal Jill segera diam dan menyadari bahwa itu adalah Royka, tubuh berotot pria itu masih merangkul pinggang ramping yang berada dalam pelukannya.
Royka segera menarik tubuh gadis itu untuk menjauh dan keluar kembali dari rumah. "Kita harus segera pergi!" tegasnya tanpa melepas tarikan pada tangan sang nona majikan.
"Papaku!" Jill berucap tertahan, ia tidak ingin pergi karena mencemaskan sang ayah.
"Kita tidak punya waktu lagi!" jelas Royka, ia kembali menarik tangan Jill untuk mengikutinya.
"Percayalah, ini yang diinginkan ayah anda, Nona!" Sepertinya Jill hanya bisa menuruti sang pengawal. Dia tidak punya pilihan selain percaya pada pria itu seperti yang sudah dikatakan ayahnya tempo hari.
Jill hanya perlu meminta penjelasan tentang apa yang terjadi karena sepertinya Royka sudah tahu tentang semua itu.
TBC
C u next chapter all you guy's ...
❤️❤️❤️
__ADS_1