
Jill dan Gina terlihat bersenda gurau di sudut klub bersama beberapa orang pengunjung lain yang tidak mereka kenal.
Royka hanya mengawasi dengan jarak yang tidak begitu jauh. Sesekali ia mengalihkan perhatian pada ring yang berada tepat di tengah ruangan klub.
Bukannya menampilkan para penari erotis atau hiburan lain yang bisa membuat para pria di sana semakin bersemangat melewati malam. Klub yang Royka kunjungi ternyata menyuguhkan hiburan berupa pertarungan para petinju di atas ring tersebut.
Tentu hal itu sangat disukai Royka dan ia cukup menikmati pemandangan dua orang baku hantam dengan aturan dan teknik yang teratur.
Jill yang menyadari hal itu segera memberitahu Gina dan pada akhirnya mereka punya sebuah rencana untuk pria tersebut.
"Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanya Jill yang tentu saja dijawab anggukan oleh Gina.
"Tentu saja, kita harus lihat kemampuannya," jawab Gina.
"Ayo!!" Jill dan Gina pergi ke sudut lain klub tersebut, entah apa yang mereka rencanakan pada Royka yang jelas mereka menemui seorang host dari acara tersebut.
...
Royka masih betah menyaksikan pertarungan di atas ring yang selalu punya peraturan menang dan kalah, sampai pada akhirnya seorang pria bertubuh besar menjadi pemenangnya.
Royka memberi apresiasi berupa tepukan tangan seperti pengunjung lainnya. Ternyata pria di atas ring adalah juara tetap di klub tersebut.
Royka juga mendengar dari para pengunjung bahwa selama satu tahun terakhir pria itu tidak pernah terkalahkan.
"Yaa, malam ini akan berbeda dari biasanya, karena akan ada pendatang baru di ring, dan siapakah dia??"
Seorang pembawa acara berteriak di tengah ring, semua yang berada di sana bersorak untuk tontonan baru seperti yang disebutkan pria berdasi yang membawa microphone tersebut.
"Seorang penantang akan bertarung dengan juara bertahan kita, Xandro Rojas ... dan siapakah orang itu??" Semua orang bersorak bahkan Royka sendiri terlihat antusias.
Sementara Jill dan Gina tersenyum penuh arti karena hal yang akan terjadi adalah rencana mereka berdua.
"Seth Royka!!!" Suara itu menggema ke setiap penjuru klub. Royka sangat terkejut mendengar namanya dipanggil, tetapi wajah datarnya tidak menampilkan ekspresi tersebut.
Jill segera menghampiri Royka yang masih terdiam di bawah ring. "Tunggu apalagi? Aku membuat taruhan dengan pemilik klub ini, jika kau menang, kita bisa keluar dengan bebas, tetapi jika kau kalah maka para pria hidung belang itu akan melelangku," ucap Jill panjang lebar.
"Jadi berusahalah, Tuan Royka!" tambah gadis itu seolah yang baru saja ia lakukan hanyalah lelucon. "Supaya Papaku tidak kecewa padamu."
Royka menatap dingin pada Jill. "Kau gadis yang tidak punya otak," ucapnya dengan suara yang menggeram. "You're f*cking girl!"
Apakah Jill tahu bahwa lidah Royka selalu mengucapkan kata kasar? Jill kehilangan kata dan hanya bisa menatap pria itu dengan menahan amarah.
"You're f*cking dude!!" balas Jill pada Royka. Gina yang melihat itu hanya menelan ludah. Dia merasa terintimidasi oleh tatapan Royka, walaupun tatapan pria itu tertuju pada sang sahabat.
Itu adalah hal yang tidak baik untuk Jill dan Royka karena mereka terlihat tidak saling menyukai. Bagaimana mereka bisa menjadi rekan jika keduanya bersikap demikian?
Melupakan pemikiran Gina. Sekarang Royka naik ke atas ring karena panggilan si pria berdasi, ia bukan pengecut yang akan mundur.
Jill menatap setiap gerakan Royka yang juga menatap benci padanya. Sampai di atas ring Royka segera membuka kaos hitam yang ia kenakan, menyisakan pemandangan yang membuat para wanita di sana menatap takjup.
Gina juga tidak melewatkan pemandangan itu. "Oh My God!" ujarnya sambil menatap tubuh Royka yang bertelanjang dada. Bahu nya terlihat lebar dan kokoh, serta ada beberapa gambar tato khas di bagian punggung dan lengan pria itu.
Jill berdecak saat mendengar kekaguman Gina pada tubuh sang pengawal pribadi. Apa hebatnya bertubuh kekar? Semua pria bisa memiliki tubuh seperti itu dengan olahraga yang teratur.
...
Royka memulai pertandingan dengan pria bernama Xandro Rojas, dia pria Mexico bertubuh besar dan sepertinya bisa mengalahkan semua lawan.
Pria bernama Xandro melayangkan satu pukulan tetapi Royka berhasil menghindar dan justru memberi perlawan dengan mudah.
Mereka kembali beradu keterampilan bertarung. Royka tampak lebih tangguh walaupun tubuhnya lebih kecil dari pada sang lawan.
Dirasa pertarungan sangat lama dan bertele-tele Royka segera melawan dengan menggunakan beberapa kali tendangan salto dan ia menaiki tubuh Xandro seperti dia sedang menaiki tangga.
Dimulai dari lutut kemudian ke perut dan diakhiri dengan menendang dagu pria itu sampai ia terjengkang serta mulut yang berdarah.
Tubuh Xandro terkapar dengan luka yang cukup parah. Royka kembali menatap Jill seolah memperingatkan gadis itu untuk tidak meremehkannya.
Namun, saat mereka saling menatap, muncul beberapa orang pria dari arah belakang Jill dan merangkul pundak gadis itu untuk dibawanya pergi dari sana.
Mereka menatap Royka dengan santai seolah menantang si petarung yang sangat pemarah. Jill sendiri memberi tatapan seolah memberi tahu Royka bahwa pertarungannya belum selesai.
Royka yang tidak peduli pada luka memar yang ia dapat segera menyambar kembali pakaiannya kemudian menyusul si gadis merepotkan dan beberapa orang pria yang membawanya tadi.
Royka bukan pria bodoh yang bisa ditipu oleh para kriminal amatiran seperti pria yang membawa Jill. Tentu semua karena kebodohan Jill yang percaya pada orang-orang tersebut.
__ADS_1
Mungkin gadis itu berpikir bahwa orang-orang itu akan menepati janji untuk melepaskan dirinya jika Royka berhasil mengalahkan sang juara ring.
Inilah awal Royka harus menjadi seorang pengawal yang sesungguhnya. Dia menyusul para pria yang membawa Jill sampai ke pelataran parkir klub tersebut.
"Hey, lepaskan gadis itu sekarang juga!" Suara Royka terdengar menggema di pelataran parkir gedung tersebut.
Tiga orang pria yang membawa Jill berhenti dan berbalik. "Kau ada masalah dengan kami?" tanya salah satu di antara mereka.
Jill yang merasa sedikit keanehan mulai sedikit takut. Dia pikir semua akan berakhir saat Royka menang di atas ring, ia sadar sudah melakukan kesalahan dengan orang-orang seperti mereka.
"Hey, lepaskan aku! Bukankah perjanjiannya tidak seperti ini?" protes Jill sambil berusaha melepaskan diri.
"Kau yang ingin pria itu dikalahkan, jadi sekarang adalah pertarungan yang sebenarnya," jawab pria bertubuh tinggi yang sepertinya dia adalah pemimpin dari para preman tersebut.
Royka berjalan mendekati mereka tanpa terlihat ketakutan dalam langkahnya. Ia juga menatap Jill yang mungkin sedang merasa ketakutan.
"Jika kau terus melangkah maka dia juga akan mati!" ancam seorang pria yang sedang menodongkan pistol di kepala Jill.
Royka terus berjalan dan mendekat tanpa peduli ancaman si pria yang sudah menarik pelatuk. Jill hanya bisa memejamkan mata.
"Kau masih berani?!!" Pria itu menodongkan pistol yang semula berada di kepala Jill berpindah tepat di depan wajah Royka.
Tanpa menunggu hal lain Royka segera menangkis pistol sampai terjatuh, bahkan dia melayangkan sebuah pukulan di wajah si pria sampai Jill ikut terjatuh.
Royka segera menarik tangan Jill dan menjauhkannya dari para pria pria preman tersebut. Satu per satu dari mereka tumbang dengan mudah karena pukulan Royka yang tanpa perasaan.
Jill menatap tidak percaya, Royka memukul bahkan mematahkan tulang hidung mereka semua seolah itu adalah hal sepele.
Tanpa sepatah kata pun Royka kembali menarik tangan Jill dan memberi satu tendangan lagi pada perut si pria yang membawa pistol tadi.
Setelah membawa Jill masuk ke mobil, ia membanting pintu dengan keras, membuat gadis muda yang masih terkejut menjadi terlonjak.
"Sialan!! Kau ingin mobilku rusak?!!" teriak Jill saat Royka juga masuk.
"Jadi kau lebih menginginkan jika isi kepalamu yang rusak?" timpal Royka dengan tatapan tajam.
Jill terdiam sambil menahan amarah. "Gina masih berada di sana!!" ucap Jill, ia mengingatkan Royka supaya tidak meninggalkan sang sahabat.
"Temanmu jauh lebih cerdas dan ia pergi menyelamatkan diri," jawab Royka sambil menyalakan mobil dan berlalu dari tempat tersebut.
"Kau tidak bodoh, hanya pikiranmu itu begitu dangkal. Bertindak tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi." Royka berkata dengan suara yang begitu datar.
"Kau masih marah? Tadi aku hanya bercanda, lagipula kau menang di pertarungan tadi," kilah Jill.
"Ya, candaan yang tidak lucu, jadi kau suka membahayakan nyawa seseorang yang seperti lelucon bagimu?" timpal Royka, percayalah ia merasa menjadi pria cerewet sekarang karena ulah gadis itu.
"Aku- ...." Jill tidak meneruskan ucapannya karena perkataan Royka tepat mengenai sebuah kenyataan yang gadis itu ingkari.
Jill kalah beragumentasi karena ucapan Royka seratus persen benar. Jill hanya tidak mau mengakui kesalahannya di hadapan pria itu.
...
Setelah kalah beradu mulut dengan Royka, Jill dihadapkan pada sebuah kenyataan dimana sang ayah melakukan interogasi pada dirinya.
Kaka mengetahui apa yang terjadi pada dirinya dan juga sang pengawal. Percayalah nyali gadis itu menciut, dia takut. Entah dari mana Kaka tahu semua itu? Apakah Royka mengadu pada sang ayah?
Siapa yang bisa ia salahkan? Kaka sudah pasti tahu apa yang dilakukan setiap anggota keluarganya karena ia seperti memiliki mata di setiap penjuru Mexico.
"Aku hanya bermain-main." Jill berkilah saat ayahnya bertanya kenapa ia membuat onar, lagi.
Bukan sekali atau dua kali, Jill memang selalu seperti itu. Sampai semua pengawal pribadinya selalu celaka akibat ulahnya.
"Lagipula Seth Royka baik-baik saja, ia tidak terluka sedikit pun," tambah gadis itu sambil mengarahkan tangan pada pintu di mana pria yang sedang ia bicarakan berada di luar ruangan tersebut.
"Berhenti bermain-main!" Kaka memperingatkan putrinya lagi untuk ke sekian kali.
"Aku tidak suka padanya!" teriak Jill dan tentu saja Royka yang berada di luar pintu pasti mendengar ucapan gadis itu.
"Kau memang tidak pernah suka pada semua pengawalmu!" Kali ini suara Kaka sedikit keras membuat anak gadisnya terdiam.
"Jangan pernah mempermainkan nyawa orang lain." Kaka kembali berkata setelah melihat putrinya benar-benar diam tanpa perlawanan, mungkin ia takut.
"Nyawa mereka mungkin tidak berarti bagimu tapi di luar sana mungkin ada anggota keluarga yang menunggu kepulangan seseorang yang berarti," tambah Kaka. Mereka yang ia maksud adalah para mantan pengawal Jill yang lama.
"Sama seperti dirimu bagi diriku," ucap pria itu lagi, kemudian ia pergi meninggalkan Jill di ruang kerja miliknya.
__ADS_1
Saat membuka pintu ia bertemu Royka yang setia menunggu, pria itu meminta sang pengawal untuk mengikutinya.
...
Royka dan Kaka, serta para pengawal pribadi pria itu sedang melakukan pertemuan di sebuah tempat seperti dermaga yang sudah tidak terpakai.
Rupanya mereka melakukan transaksi obat terlarang dengan mafia Rusia, Royka tidak heran akan hal itu karena di negara kelahirannya ada begitu banyak komplotan mafia yang terorganisir.
Pria itu memang tidak melakukan banyak hal, mungkin ia hanya dibutuhkan jika para mafia Rusia melakukan hal yang tidak diinginkan.
Dengan kedok jual beli hasil laut, mereka menyembunyikan benda itu di dalam kotak penyimpanan ikan dan lobster.
Sebenarnya Royka tidak tertarik sama sekali pada hal-hal seperti pasar gelap yang menurutnya sangat beresiko.
Dia mungkin seorang kriminal tapi ia bukan penjahat yang melakukan segalanya demi uang. Dia hanya penjahat yang pernah membunuh di usia remaja.
Rupanya dunia yang luas pun terasa begitu sempit karena Royka mengenal beberapa orang dari anggota para mafia Rusia.
Mungkin sebab itulah Kaka menemukan dirinya di penjara Chornya Cholmi, itu karena koneksi para mafia tersebut.
...
Di tempat lain ...
Kediaman Ricardo Bosio--Kaka ...
Jill sedang bercengkrama bersama ibu tiri dan kedua sepupunya. Serta ada Gina yang mengunjungi dirinya.
Hubungan mereka memang kurang harmonis, tetapi mereka masih bisa beradaptasi dengan kehadiran satu sama lain di dalam satu ruangan.
Jill dan empat orang lainnya berada di ruang keluarga, Jill mengeluh pada mereka tentang Royka. Dia ingin sekali pria Rusia itu tidak lagi menjadi pengawalnya.
"Jika kalian masih ingin berada di sini maka bantu aku menyingkirkan pria itu!" Jill berkata pada semua orang termasuk Olympia.
"Akan sulit karena Royka adalah pilihan suamiku," jawab Olympia.
"Itu benar, Jill. Kau tahu keputusan paman tidak bisa diganggu gugat," ucap David sementara Abigail hanya mengangguk.
Jill memijat pangkal hidung karena rasa sakit di kepalanya. Gadis itu sedang memutar otak untuk mencari sebuah ide agar bisa menyingkirkan Royka.
"Keputusan papamu memang tidak bisa diubah tapi setidaknya masih ada jalan. Jika dia menyukai sesuatu maka buatlah ia menjadi tidak menyukainya," ucap Olympia.
"Maksudmu?" Jill bertanya dengan tidak sabar.
"Anak kecil sepertimu memang payah. Kau tidak akan mengerti," ejek Olympia.
"Jangan betele-tele!" ketus Jill.
"Oh ya ampun, kau tidak sabaran. Pikirkan ini! Papamu tidak suka siapa pun menyentuh dirimu atau mengganggu anggota keluarganya," jawab Olympia.
"Aku tahu!" Abigail berkata secara tiba-tiba membuat semua orang jadi terkejut.
"Kau goda saja Seth Royka dan Papamu tidak akan suka padanya. Itu jika kau berhasil membuatnya tertarik padamu," ucap Abigail, sangat terlihat ia meremehkan si sepupu perempuan.
"Kau meragukanku, Abigail?" tantang Jill, dua perempuan muda itu selalu mengibarkan bendera perang.
"Jangan bermain dengan pria dewasa! Hati-hatilah karena bisa saja kau yang akan terjebak!" Olympia kembali mengingatkan dua gadis tersebut.
"Apa ruginya? Seth Royka adalah pria yang sangat langka," ucap Gina secara tiba-tiba.
"Ginaaa!!!" rajuk Jill karena sepertinya Gina mengagumi si pengawal dari penjara.
"Baiklah, ambil jalan tengah saja, kalian para wanita berlombalah untuk membuat Royka tertarik, hasilnya kita akan lihat nanti!" David yang hanya menyimak obrolan, membuka suara tentang pendapatnya sendiri.
Jill dan yang lainnya hanya terdiam, tapi mereka semua memikirkan hal yang sama yaitu setuju pada pendapat David.
Itu demi membuat pekerjaan Royka berantakan.
TBC
Yaelah, Jill!!! Pas kamu ngebucin sama Royka, baru tau rasa kamu!!
Hmm, okey sampai sini dulu ...
See u on the next chap ...
__ADS_1
I love u all 🌺🌺🌺