SETH ROYKA (Pengawal Dari Penjara)

SETH ROYKA (Pengawal Dari Penjara)
Taruhan Cinta


__ADS_3

Setelah berdebat sambil menunggu kedatangan Noe dan Silas, akhirnya mereka muncul juga. Dua orang pengawal saling berhadapan untuk memulai pertarungan.


Royka membuka jaket terlebih dahulu supaya tidak membuat gerakannya terhambat. Pria itu melempar ke sembarangan tempat.


Jill menatap cemas pada dua orang pria yang sedang baku hantam dengan menggunakan teknik. Royka dan Silas adalah petarung yang punya seni dan gaya, jadi mereka tidak menyerang secara membabi buta.


Royka punya keterampilan lengkap dengan ilmu bela diri, sedangkan Silas seperti menguasai teknik tinju. Hal itu bisa terlihat saat mereka menunjukkan semua gerakan.


Dengan kata lain, Royka adalah petarung yang lengkap, ia menguasai beberapa jenis ilmu bela diri. Teknik bertinju, capoeira yang mengandalkan gerakan kaki, bahkan ia piawai dalam ilmu bela diri yang berasal dari negri ginseng--Korea yaitu Taekwondo.


Namun, tetap saja hal itu tidak membuat Jill merasa tenang. Ukuran tubuh Silas yang dua kali lebih besar dari Royka membuat gadis itu putus asa.


Dia hanya berpikir secara logika, Silas mempunyai peluang untuk menang dan mengalahkan Royka. Bisa saja tubuh sang pengawal pribadi terluka parah atau patah di semua bagian.


Ternyata dugaan Jill benar terjadi, satu kali pukulan Silas di wajah Royka membuat ia terjengkang dan dia mendapat luka di sudut bibirnya.


Royka menyadari kecemasan Jill, untuk pertama kalinya ia merasa seperti dipedulikan orang lain, karena sebelumnya ketika ia bertarung semua orang hanya bersorak berharap ada yang menang walaupun akan ada yang terluka parah.


Melihat hal itu Royka menjadi sedikit punya semangat yang lebih dari pada sebelumnya, dan kali ini ia memutuskan untuk lebih santai dan fokus terhadap serangan Silas.


Beberapa serangan dari Silas berhasil ia hindari dan saat serangan itu melemah Royka menggunakan kesempatan untuk melawan.


Saat Silas ingin memukul, Royka dengan cepat menghindar dan ia memutar badan dan berhasil menyikut dada Silas. Membuat pria besar itu kesakitan.


Dengan begitu Royka bebas memberi banyak pukulan di wajah dan tubuh Silas. Tentu dia berhasil menumbangkan si pria besar sampai terjengkang karena ia memberi tendangan akhir dengan kedua kaki tepat di dada Silas.


...


Jill menyilang tangan di dada sambil melihat ke arah Noe, sedangkan Silas dan Royka sudah selesai dari pertarungan mereka.


Pengawal Noe mengaku kalah dan setelahnya mereka saling berjabat tangan seolah tidak terjadi apapun sebelumya. Bahkan si pria besar mengatakan untuk tidak sungkan jika suatu saat Royka butuh bantuan.


"Bagaiman, Noe? Sudah aku katakan untuk yang satu ini aku tidak akan mencari pengganti," ucap Jill dengan sangat percaya diri. Padahal sebelumnya ia sangat cemas.


Noe yang mengakui kekuatan Royka hanya mengangguk. "Baiklah, aku mengaku kalah, kita berjumpa lain kali, Jill!" jawabnya.


Noe dan Silas kemudian pergi meninggalkan Jill juga Royka yang masih berada di tempat tersebut.


"Apa yang kau menangkan sekarang?" tanya Jill dengan raut wajah yang menunjukkan kekesalan. Dia menyerahkan kembali jaket milik Royka yang tadinya berada di atas pelataran parkir. Tentu sejak awal ia sudah mengambil jaket tersebut.


"Tentu saja kemenangan," jawab Royka dan mengambil kembali jaket dari tangan Jill.


"Hanya itu? Lalu, lukanya?" tanya Jill dengan mengangkat dagu seolah menunjuk pada luka di bibir Royka.

__ADS_1


"Ini hanya luka kecil." Royka kembali menjawab dengan nada suara yang datar.


"Biar aku obati!" ucap Jill sambil mendekat pada sang pengawal.


Tangan Jill terangkat untuk menyentuh sudut bibir Royka, tetapi pria itu menepisnya. "Aku bisa sendiri," jawabnya dingin.


"Aku hanya ingin melihatnya saja!" rajuk Jill.


"Jangan mencari alasan!" Jill kehilangan kata mendengar ucapan Royka, apa maksud pria itu bicara demikian? Apakah Royka tahu apa yang sedang ia pikirkan?


Sebenarnya itu memang alasan dirinya untuk memberi perhatian, entahlah Jill merasa harus memikirkan kewarasan supaya tidak memperlakukan pria itu secara berlebihan.


"Alasan apa?" tanya Jill dengan gugup.


"Alasan untuk menambah lukanya semakin parah," jawab Royka.


Jill berkedip beberapa kali, rupanya apa yang Royka pikirkan sangat berbeda dengan dirinya.


'Dasar pria tidak peka!'


"Kau itu bodoh!!" marah Jill dan Royka hanya menatapnya saja.


Tidak ada yang tahu bahwa ada sekelabat bayangan dalam pikiran Jill tentang suasana romantis seperti di film-film yang pernah ia tonton, dimana ketika adegan wanita mengobati pria yang terluka.


Royka menghancurkan pikiran indah Jill dengan kata-kata yang mirip dengan kerikil tajam. Gadis itu kesal karena si pengawal tidak paham sama sekali.


"Itu bukan prioritasku." Lagi dan lagi jawaban Royka seperti gada yang memukul hati Jill dengan keras.


Apakah tidak ada kesempatan untuk wanita manapun di dunia ini termasuk dirinya yang bisa membuat pikiran pria itu berubah?


"Baiklah, Tuan Petarung. Aku ingin minta satu hal," ucap Jill.


"Ah tidak. Ini perintah untukmu!" tambah gadis itu.


Royka hanya terdiam dan menatap, mulutnya tertutup rapatseperti tidak ingin menghamburkan kosakata yang tidak berguna baginya, mungkin.


"Aku masih ingin pergi ke suatu tempat!" pinta Jill.


"Sudah lewat tengah malam, tidak baik bagi seorang gadis untuk berkeliaran," jawab Royka, dia begitu tegas dan tidak ragu dalam berucap.


"Aku bukan anak kecil, aku bosan di rumah, aku kesepian," rajuk gadis tersebut.


"Itu bukan alasan untuk berkeliaran, terlebih tengah malam buta seperti sekarang!" timpal Royka.

__ADS_1


"Ucapanmu tidak seperti seorang kriminal," sindir Jill.


"Aku melakukan kejahatan dengan tanganku bukan mulutku, aku pernah membunuh orang dan aku bisa melakukannya lagi jika kau keras kepala!" Apakah Royka berkata panjang lebar? Jawabannya, iya.


Jill menelan ludah, ia tahu Royka bukan pria yang banyak bicara, tentu itu bukan omong kosong.


"Kau mengancamku?!" rajuk Jill.


"Aku tidak mengancam, aku akan melakukannya bila perlu," jawab Royka.


Detik berikutnya Jill dibuat terkejut karena tiba-tiba Royka memangku dirinya di pundak pria itu seperti karung beras.


"Ah, apa yang kau lakukan? Turunkan aku, bodoh!!" teriak Jill sambil menendang asal.


Tanpa peduli teriakan si gadis muda, Royka berjalan menuju arah mobil milik Jill dan segera menghempaskan tubuh gadis itu di kursi penumpang.


"Sialan kau!!" teriak Jill tidak terima.


"Merepotkan!!" timpal Royka kemudian menutup pintu mobil dengan cara membantingnya, membuat Jill terlonjak.


"Akan kupastikan kau dihukum oleh Papaku!!" ancam Jill sambil terus berteriak.


"Shut up!!" timpal Royka sambil menyalakan mesin mobil dan membawa tubuh mereka menjauh dari pelataran parkir klub yang masih ramai.


"Pria tua menyebalkan!" Jill mendesis tepat di samping Royka sambil menatap tajam sang pengawal. Dia kesal karena apa yang ia inginkan tidak dipenuhi oleh pria matang tersebut.


"Aku bersumpah kau tidak akan bertemu dengan wanita yang mencintaimu!!"


"Aku tidak peduli," jawab Royka. Sementara Jill masih berteriak sumpah serapah pada pria itu.


"Aku tidak menginginkan wanita manapun terutama kau!!" Ucapan Royka membuat Jill terdiam.


"Baiklah, kita bertaruh sekarang. Sebagai pria sejati kau tidak boleh mundur!"


"Kita lihat siapa salah satu dari kita yang akan menang. Aku akan mengubah pola pikir bodoh yang ada di kepalamu itu!!"


"Silakan saja, apapun yang terjadi aku tidak peduli!" jawab Royka.


"Kau akan menyesal, ingat itu!!" tegas Jill dengan yakin, padahal kata itu keluar dari mulutnya begitu saja. Salahkan Royka yang sudah membuatnya kesal.


'Ya Tuhan, mati aku!'


TBC

__ADS_1


Maaf telat up ...


See u on the next chap ...


__ADS_2