
Jill masih menunggu jawaban dari Royka yang sedang menyetir, rupanya pria itu sudah piawai dalam mengemudi, ah tidak maksudnya dia cepat belajar dan menguasai dengan mudah.
Royka mengendarai mobil dengan kecepatan normal setelah cukup jauh dari kediaman Kaka, tentu setelah ia memastikan tidak ada yang mengikuti dan mereka berada di jarak aman.
"Bagaimana? Apa sekarang kau bisa mengatakan apa yang sedang terjadi? Aku butuh penjelasan dan aku cemas pada ayahku yang berada di sana! Kau paham itu, huh?!" Suara Jill kembali terdengar setelah ia diam karena intruksi dari sang pengawal.
"Kupikir kau cukup peka untuk bisa mengetahui keadaan, kau bukan anak kecil yang harus kuhibur atau kualihkan pembicaraan dengan hal yang bukan sebenarnya," jawab Royka panjang lebar setelah mengalihkan perhatian sekilas.
"Apa maksudmu? Kau ingin aku berpikir ayahku tidak selamat?" protes Jill tidak terima pada jawaban tidak memuaskan dari Royka.
"Jangan seperti anak kecil! Setelah semua yang terlihat apa ada peluang bagi ayahmu untuk selamat?" Jill terdiam, ia tahu itu dan sebagai anak ia masih memiliki harapan bahwa semua hal buruk tidak terjadi.
"Tega sekali kau berkata seperti itu padaku," keluh Jill dan tubuhnya seperti melemah secara perlahan.
"Kurasa kau faham arti dari hukum rimba, jika tidak memangsa maka kau yang akan dimangsa, kewaspadaan ayahmu sedang menurun dan ia- ...." Royka menghentikan ucapan setelah mendengar suara isak tangis gadis di sebelahnya.
Sang pengawal tetap mengemudi tanpa melakukan hal berarti untuk menghibur sang gadis majikan, ia tidak tahu caranya. Dia hanya tahu tentang memukul dan berkelahi.
Sekarang ia tahu menghadapi emosi seorang wanita lebih sulit dibandingkan harus berhadapan dengan pria berotot besar.
"Tugasku sekarang hanya membawamu keluar dari Mexico dan hanya ada satu tempat yang kuingat di kepalaku, Rusia."
Mendengar ucapan Royka, si gadis kembali terkejut. Apa ia akan dibawa pria itu tanpa perlindungan dari sang ayah? Rusia? Ayolah Jill tidak mau itu terjadi, bagaimanapun caranya ia harus menyelamatkan sang ayah.
"Ayahmu sudah memberi tugas ini sejak kami bertemu untuk pertama kali," ucap Royka setelah melihat tatapan bertanya dari Jill.
"Jika ayahmu selamat, maka beliau akan segera menemukan kita," tambah sang pengawal meyakinkan gadis yang sedang patah hati karena memikirkan ayahnya.
Entah apa yang dikatakan sang pengawal Jill hanya bisa pasrah antara rasa cemas, putus asa, dan berharap. Ia juga tidak tahu bagaimana keadaan keluarga yang lainnya.
...
Jill tidak mengira ternyata semua keperluan untuk pergi ke Mexico sudah disiapkan dengan begitu lengkap tanpa kurang satu apapun.
Pasport dan tiket pesawat sudah ditangan, bahkan pakaiannya dan sang pengawal sudah berganti, mungkin itulah yang disebut penyamaran.
Jill harus memikirkan kewarasan yang sedikit goyah, di tengah rasa cemas karena sang ayah, ia dan Royka malah menyamar seperti pasangan turis yang akan pergi berwisata.
Royka juga tidak melepaskan pelukan di pinggang gadis majikan, bukan untuk mencari kesempatan. Dia hanya berusaha agar gadis itu tidak lepas dari penjagaannya.
__ADS_1
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Jill, mungkin lebih tepatnya negara Rusia bagian mana yang akan mereka datangi.
"Entahlah, aku tidak yakin tapi mungkin ke rumah lamaku," jawab Royka sambil menunduk.
Jill terdiam sepertinya Royka benar-benar ragu mengatakan hal tersebut. Sudah jelas bahwa hal itu bukan yang diinginkan Royka.
"Setidaknya itu tidak akan membuat data dirimu terdeteksi di hotel manapun," jawab pria itu lagi.
Jill paham sekarang, sangat masuk akal semua demi keselamatannya sendiri. Para musuh ayahnya juga pasti mencari ke setiap hotel yang mereka kunjungi.
"Baiklah," jawab Jill kali ini dia tidak banyak berdebat dengan sang pengawal karena dia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan menghubungi Gina atau siapapun, sebaiknya jangan menggunakan ponsel untuk sementara!" Royka kembali mengingatkan Jill tentang hal itu, setelah keluar dari penjara ia belajar tentang banyak hal termasuk kecanggihan alat tersebut.
Jill mengangguk lemah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya dia tidak tahu, hanya berusaha percaya pada sang pengawal yang benar-benar setia pada pekerjaannya.
Si gadis majikan hanya menatap pada sang pengawal yang sedang memejamkan mata, entah kenapa ia merasa pertemuannya dengan Royka adalah hal paling tepat untuk dirinya.
Bagaimana sang ayah juga seperti percaya pada pria itu sepenuhnya, ia menyadari bahwa semua adalah takdir untuk keduannya.
'Aku sangat menyukaimu!'
"Kau mengatakan sesuatu, Nona?" tanya Royka sambil menatap si gadis majikan.
Wajah Jill memerah seperti kepiting rebus, ia segera menggelengkan kepala dan Royka kembali memejamkan mata.
Bagaimana bisa Royka mendengar apa yang ia katakan di dalam batinnya. Itu aneh atau ajaib? Jill menepuk pipinya beberapa kali, ia merasa malu sendiri tapi ia memang merasakan hal itu dari dalam lubuk hatinya.
...
Setelah penerbangan yang cukup lama akhirnya Jill dan Royka sampai di bandara Domodedovo. Cukup melelahkan walaupun mereka juga tertidur di pesawat tapi itu tidak cukup untuk membuat tenaga menjadi pulih.
Jill juga harus beradaptasi dengan cuaca yang sangat berbeda dari Mexico, salju tebal menyelimuti seluruh kota di Rusia sehingga itu membuatnya lebih kesulitan.
Setelah dari bandara mereka hanya mencari penginapan atau motel terdekat untuk beristirahat karena akan beresiko jika pergi ke hotel berbintang.
"Apa kau akan menyewa dua kamar?" tanya Jill setelah mereka sampai di senbuah motel kecil.
Royka hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya itu cukup beresiko karena bisa saja ia lengah dan mempertaruhkan keselamatan gadis majikannya.
__ADS_1
"Aku hanya takut kau merasa terganggu," jawab Royka.
Jill menatapnya dengan heran, ucapan sang pengawal memang benar adanya, ia akan terganggu tapi bukan karena kehadiran pria dewasa Seth Royka melainkan itu karena perasaannya sendiri.
Jill mulai merasa tersiksa oleh perasaannya, dia terus bertanya pada hati dan pikiran kenapa dia harus terpesona pada pria itu.
Usia yang berbeda jauh, narapidana, sikapnya buruk, itulah hal yang paling rasional untuk tidak tertarik pada si kriminal Seth Royka.
Namun, tidak ada hal yang rasional jika itu tentang sesuatu bernama cinta. Ada pepatah mengatakan bahwa cinta itu buta, tapi Jill masih berpikir apakah itu cinta atau hanya sebuah obsesi semata.
Menaklukan Royka adalah misi pada awalnya, lalu membuang dan mengembalikan pria itu demi kebebasan tapi sekarang dia terjebak permainannya sendiri. Dan hal itu terjadi di saat yang tidak tepat dimana ia juga harus memikirkan bagaimana nasib sang ayah.
"Jika kau terus melamun jangan salahkan aku jika kepalamu terbentur pintu!" Ucapan Royka seperti menguap karena Jill masih larut dalam pemikirannya.
Di depan pintu kamar motel sang pengawal hanya menatap Jill sambil menyilang tangan di dada, tapi detik berikutnya dia menarik tangan Jill dan gadis itu menabrak tubuhnya.
Tubuh kekar Royka menahan tubuh mungil sang majikan yang sedikit oleng karena tarikan tadi.
Bukan tanpa alasan Royka menarik tangan Jill, gadis itu memang terus berjalan dan kepalanya benar-benar akan terbentur pintu jika tidak dihentikan.
"Gadis bodoh, apa yang sedang kau pikirkan?!" geram Royka, wajah Jill memerah sekarang ia baru sadar bahwa tubuhnya berada dalam dekapan sang pengawal.
"Istirahatlah dan jangan terlalu banyak pikiran!" titah Royka setelah melepas dekapan dan membukakan pintu untuk sang nona.
"Papa, maafkan aku! Bukannya memikirkanmu aku malah memikirkannya," guman Jill sambil bersandar di daun pintu setelah ia menutupnya.
"Haa, bagaimana ini?" Jill menyalahkan diri karena terbawa perasaan.
Entah kenapa ia merasa bahwa tidak ada hal buruk yang akan menimpa ayahnya. Anak buah Kaka tidak mungkin lengah begitu saja.
"Apa ini mimpi?" Jill menepuk pipi lagi dan lagi untuk beberapa kali berharap semua akan baik-baik saja.
Wajah Jill kembali memerah karena masih teringat pada tubuhnya yang mendapat rangkulan dari otot-otot berisi dan keras milik sang pengawal pribadi.
Benar-benar kokoh tapi begitu hangat dan menggairahkan membuat Jill merasa semakin gila saja.
"Oh Tuhan tolong aku!" Jill membenamkan wajah di bantal, entah karena malu atau hanya meminimalisir rasa frustrasi dalam hati dan pikirannya
TBC
__ADS_1
C u on the next chap ❤❤