SETH ROYKA (Pengawal Dari Penjara)

SETH ROYKA (Pengawal Dari Penjara)
Tantangan


__ADS_3

Jill mengetuk-etukan jari telunjuk pada meja rias, satu tangannya ia gunakan untuk menopang dagu, ia menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya.


"Ck, bagaimana caranya?" gumam gadis itu seolah bertanya pada dirinya yang ada pada cermin.


"Dia itu sangat kolot dan menyebalkan, tapi dia itu unik dan menarik," ucapnya lagi.


"Ah, Tuan Royka kenapa kau membuatku seperti ini?" Jill bermonolog tanpa berpikir bahwa yang ia lakukan saat ini hanya sia-sia. Bertanya pada diri sendiri yang tentunya tidak punya jawaban untuk hal yang ia tanyakan.


Brak ...


Jill terlonjak dan hampir terjengkang dari kursinya. Sungguh ia tidak akan mengampuni siapapun yang sudah mengganggu ketenangannya.


"Pa-Papa?!" Nyali Jill menciut bahkan tekadnya untuk memarahi orang yang mengganggu segera lenyap setelah mengetahui siapa orang tersebut.


"Apa ini?" Kaka melempar beberapa lembar kertas tepat di atas tempat tidur milik putrinya.


Jill yang tidak mengerti segera melihat dan mengambil salah satu lembar kertas yang ayahnya lempar. Gadis itu terkejut setelah melihat benda tersebut.


Terlihat foto dirinya yang sedang berciuman dengan Royka beberapa waktu lalu, juga foto semalam saat ia dipangku sang pengawal pribadi.


"Papa, ini. Tuan Royka tidak ber- ...." Jill merutuk dalam hati ia lupa jika sang ayah tidak suka siapa pun menyentuh dirinya yang merupakan putri tunggal.


Jill merasa cemas, bagaimana jika Royka dipecat dan dikembalikan ke penjara Rusia tempat pria itu berasal. Bagaimana jika Royka juga dihabisi oleh kemarahan ayahnya?


Entahlah, Jill merasa tidak rela akan hal itu. Awalnya ia memang ingin menjebak Royka dan membuat pria itu tampak buruk dan tidak profesional dalam bekerja.


Namun, saat ini Jill merasa perlu untuk menjelaskan pada sang ayah tentang yang sebenarnya terjadi.


"Mau sampai kapan kau seperti ini? Kau pikir Papa tidak tahu apa yang kau lakukan?" marah Kaka, dia memotong ucapan putrinya.


"Papa, itu kesalahanku," jelas Jill, ia berusaha untuk mengeluarkan kata yang tepat supaya tidak memperburuk kemarahan ayahnya.


"Kau keterlaluan, aku tidak akan tertipu lagi oleh permainanmu," ucap Kaka menahan amarah.


"Jika kau berani menggoda pengawalmu lagi maka aku akan membuat Royka berhenti dari pekerjaan ini!" Jill sangat terkejut mendengar ucapan sang ayah.


"Papa, maafkan aku!" kilah gadis muda yang terlihat putus asa.


"Hanya dia yang bisa melindungimu, aku lebih percaya pada Royka daripada putriku sendiri," ucap Kaka.


"Jika kau berani mengusik kehidupannya, maka jangan berharap nyawamu akan tetap aman!"


Setelah berucap demikian Kaka segera pergi meninggalkan putrinya sendirian.


Jill hanya menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati sang ayah, dan ia tahu di balik dinding kamarnya juga ada pengawal pribadi yang menjadi sumber perdebatan yang baru saja terjadi.


Tanpa alas kaki dia segera keluar dan benar saja Royka berdiri di luar, pria itu sedang melakukan pekerjaan seperti biasa.


Jill dan Royka hanya saling menatap sekilas kemudian si pria pengawal memutus tatapan itu dan kembali menatap ke arah lain.


"Aku heran, biasanya Papaku akan langsung memecat pengawal yang berani menyentuh walau itu hanya tanganku saja, tapi kau- ...." Jill tidak meneruskan ucapannya.


"Mantra apa yang kau berikan padanya sampai Papa memberi kepercayaan penuh kepadamu?" tanyanya kemudian.


"Aku menjanjikan loyalitas dan profesional," jawab Royka dengan singkat.

__ADS_1


"Cih, dia lebih percaya orang lain daripada putrinya sendiri," ketus Jill.


Royka yang semula berdiri membelakangi dinding, mengubah posisi dan membuat tubuhnya menghadap pada gadis majikannya yang berdiri di ambang pintu.


"Kesetiaan adalah harga mati bagi diriku. Dan untuk ayahmu, seorang pria tidak perlu mengungkap ribuan kata sayang pada sesuatu yang dia cintai," ucap Royka kali ini ucapannya sedikit panjang dari biasanya.


"Ucapanmu begitu bijak dan manis, tapi aku tidak suka rantai yang ia ciptakan untukku," ucap Jill dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


"Suatu saat kau akan mengerti," jawab Royka, sungguh itu jawaban yang tidak memuaskan untuk Jill.


"Rantai yang Papamu berikan akan menjadi pelindung bagimu," ucap Royka.


"Omong kosong, aku merasa menjadi seekor binatang peliharaan yang terikat dan tidak bisa pergi ke mana-mana!" teriak Jill.


"Aku kesepian, aku tidak memiliki banyak teman dan aku tidak bisa bebas seperti yang lainnya." Jill meluapkan emosi yang ia pendam selama ini.


"Kau tidak bersyukur pada apa yang kau miliki," ucap Royka dengan nada suara yang datar.


"Kau memiliki orang tua yang melindungimu dengan caranya sendiri," tambah Royka.


"Aku muak padamu!!" geram Jill yang hanya dijawab gestur bahu terangkat oleh Royka.


"Kau menyebalkan!! Mati saja sana!!" teriak gadis itu lagi, rambut panjangnya yang tergerai bergerak mengikuti arah gerakan kepala saat Jill meluapkan emosi.


Brak ...


Royka hanya terdiam ketika Jill membanting pintu, ia kembali berdiri di posisi sebelumnya. Raut wajahnya terlihat datar dan tidak terbaca.


...


Di sebuah ruangan kantor yang cukup besar. Seorang pria bertubuh tegap sedang berhadapan dengan satu orang lainnya yang duduk membelakangi cahaya.


"Bagaimana dengan tugasmu, Franklyn??" tanya si pria yang duduk di kursi kebesarannya.


"Semua berjalan lancar," jawab Franklyn.


"Kaka?" Si pria misterius kembali bertanya dengan perkataan kurang jelas tapi bisa dimengerti oleh anak buahnya tersebut.


"Dia sedang mengalami penurunan, semua bisnisnya terancam gagal," jawab Franklyn dan hal itu membuat sang atasan tertawa cukup keras.


"Tidak ada harapan, kita tunggu sampai dia mau menyerah dan mengakui kekalahan."


Kedua pria tersebut kemudian tertawa bersama seolah mereka benar-benar bahagia saat ini.


...


Jill mengacak rambut dengan frustrasi, ia kesal setengah mati karena berpikir Royka bersekongkol dengan Kaka untuk mengekang dirinya.


Jill kembali mengambil lembaran yang beserakan di atas tempat tidur bahkan di lantai yang beralas permadani abu-abu.


Dia melihat kembali gambar dirinya yang sedang berciuman dengan si pria matang Seth Royka. Seketika dadanya berdesir saat menyadari bahwa mereka--Jill dan Royka terlihat begitu intim padahal kenyataan mengatakan hal sebaliknya.


"Ah, Ya Tuhan. Foto ini bagus sekali," gumam Jill tanpa sadar.


"Kau terlihat seperti pria sejati," tambah gadis itu, "sayangnya itu memang benar. Kau adalah pria paling berani dan jujur yang pernah kukenal."

__ADS_1


Jill mengusap foto tersebut kemudian menyimpan salah satu dari gambar yang terbaik menurut dirinya. Gadis itu kembali menatap ke arah pintu yang ia banting tadi. Dan selalu ia tahu di luar sana ada Royka yang sedang berjaga.


"Siapa kau sebenarnya?"


...


"Aku harap kau bisa tahan pada sikap putriku," ucap Kaka pada pria dengan tubuh tegap yang setia berdiri di hadapannya.


Sang lawan bicara hanya mengangguk tanpa memberi jawaban berupa perkataan. Kaka cukup memahami sikap sang pengawal, Royka adalah pria dengan kepribadian yang begitu kuat.


Kaka memang percaya sepenuhnya pada Royka bahwa pria itu punya prinsip hidup dan begitu teguh dengan pendiriannya.


"Sejak kau menjadi pengawalnya aku benar-benar bisa merasa tenang karena kau bisa dipercaya," ucap Kaka dengan nada suara datar tapi terdengar tanpa kebohongan.


"Tidak baik mempercayai orang yang baru Anda kenal," jawab Royka dan itu membuat Kaka terkejut.


Dia tidak menyangka si pria dingin akan berkata demikian walaupun yang ia katakan seratus persen benar.


"Itulah yang membuatku suka pada sikapmu, kau berbeda, Seth Royka! Mungkin kisah hidupmu yang sudah membuat kau jadi seperti sekarang ini," ucap Kaka lagi.


Mendengar itu Royka menatap tajam Kaka yang merupakan majikannya tanpa rasa takut sama sekali. "Jangan mencoba untuk mencari tentang siapa diriku, Anda hanya butuh loyalitasku, tidak lebih!" tegasnya.


Kaka cukup tertegun pada ucapan Royka. Rupanya sang pengawal tidak suka ada seorang pun yang mengusik atau mencari tahu tentang masa lalunya.


"Tentu, sesuai yang kau inginkan. Jaga putriku dengan segenap jiwa dan ragamu!" ucap Kaka dan ia yakin Royka cukup mengerti maksud dari ucapan tersebut.


...


Sarapan pagi yang cukup menyebalkan bagi semua orang--terutama David, ia menatap sebal pada Royka, mungkin karena mengingat hidungnya masih berbalut perban saat ini.


"Kapan dia akan dipecat?" keluh David seolah orang yang ia maksud tidak mendengar.


Jill yang bermaksud menyuap makanan segera menyimpan kembali sendok yang sedang ia pegang. "Kau masih marah? Itu ideku, kau tahu itu, 'kan?!" keluhnya.


"Ah, rupanya ada yang mulai berubah sekarang," sindir Abigail. Gadis itu tentu paham jika Jill sedang membela pengawalnya.


Sementara orang yang mereka bicarakan hanya diam di belakang kursi sang nona seolah tidak mendengar apapun.


"Sudahlah! Kalian jangan ribut terus, masih banyak cara dan kita punya banyak waktu, benar 'kan, Jill?!" Olympia bertanya tanpa menyadari raut wajah lawan bicara yang berubah menjadi sendu.


"Tuan Royka, tolong siapkan mobil untuk kita pergi ke kampus!" perintah Jill tanpa menjawab pertanyaan dari ibu tirinya


Setelah Royka pergi, Jill segera beranjak. "Aku selesai, dan satu hal yang harus kalian tahu, untuk yang satu ini aku tidak akan melepasnya!" tegasnya kemudian pergi meninggalkan ruang makan.


Jill mengikuti langkah Royka sambil menatap punggung tegap pria itu. Ada perasaan bahwa ia tidak rela jika si pria dari penjara akan berhenti untuk menjaganya.


'Kau membuatku tidak waras, Tuan Petarung.'


TBC


Jill mulai berdebar ya gaess ...


Sementara si abang masih cool aja ...


Ya ada apa di next chap? Stay ya gaess ...

__ADS_1


See u and i love u all 🌺🌺🌺


__ADS_2