SETH ROYKA (Pengawal Dari Penjara)

SETH ROYKA (Pengawal Dari Penjara)
Si Gadis Manis


__ADS_3

...


...


...


...


...🔥🔥🔥...


Katakan saat ini Jill sedang merajuk, atau lebih tepatnya protes pada sang ayah. Gadis itu mengikuti langkah pria nomer satu dalam hidupnya itu.


Mereka meninggalkan Royka sendiri di ruang tamu yang cukup luas. Pria itu setia berdiri dan terdiam cukup lama di sana.


Jill menyusul ayahnya yang sudah naik ke lantai dua rumah mereka, gadis itu ingin meminta penjelasan tentang pengawal baru yang sama sekali tidak sesuai dengan harapannya.


"Papa, tunggu aku!" Jill mulai hilang kesabaran karena ayah mafianya itu tidak menanggapi sama sekali. Kaka berhenti berjalan, dan menatap pada putrinya.


"Papa lelah dan ingin beristirahat!" jawab Kaka, sambil mengikuti arah pandang putrinya.


Jill melihat ke lantai bawah dimana dia masih melihat pria bernama Royka sedang berdiri di ruang tamu tepat di samping sofa mewah di kediamannya.


"Papa sedang bercanda, 'kan?" rajuk Jill sambil mengarahkan telapak tangan pada Royka.


"Tidak, dia akan melindungimu. Percayalah!" Kaka menjawab dengan yakin sambil tersenyum dan juga melihat ke lantai satu dimana Royka sedang berada.


"Bukankah Papa bisa mencari yang lebih baik dari pada orang itu?!"


"Jill, dia yang terbaik," jawab Kaka, jika sudah seperti itu Jill tidak bisa berbuat apa-apa.


Wajah ayahnya mungkin terlihat biasa dengan bibir yang tersenyum, tetapi saat melihat tatapan yang disertai sebuah kilatan tajam membuat nyali anak gadisnya menciut.


Dia tahu, itu artinya sang ayah tidak main-main dan itu pertanda bahwa Jill tidak bisa menawar lagi. Dia juga harus berhenti merengek.


...


Jill turun kembali ke lantai satu, dia menjatuhkan tubuh di atas sofa sambil menatap malas pada Royka yang masih berdiri dan pria itu juga menatap ke arahnya.


Wajah pria itu juga terlihat begitu dingin, tubuhnya kaku dan terlihat tidak menarik. Sebenarnya pakaian apa yang Royka kenakan? Dia terlihat lusuh dan kotor.


Jaket tebal berwarna coklat pudar membalut tubuh yang dilapisi kaos abu-abu usang di dalamnya. Celana kain yang seperti habis direndam di dalam lumpur dan sepatu yang juga terlihat buruk.


Apa benar Kaka membawa pria itu dari tempat yang jauh? Setidaknya, ayahnya yang punya banyak uang bisa membelikan pakaian yang lebih pantas untuk Royka.


"Hey, Tuan! Sekarang musim panas, kurasa jaketmu terlalu tebal dan itu sangat mengganggu," ucap Jill setelah beranjak kembali dan menghampiri Royka.


Pria itu bergeming, tetapi kemudian ia membuka jaket tebal tersebut menyisakan pemandangan tubuh kekar yang dibalut kaos berlengan panjang.


"Berapa tinggi badanmu?" tanya Jill.


Ayolah! Apakah dia sedang melakukan wawancara dengan finalis model atau semacamnya? Bukankah semua orang punya ciri khas dan tidak perlu sama dengan orang lain.


"Seratus tujuh puluh sembilan," jawab Royka tanpa keraguan.


Jill kehilangan kata, dia semakin kesal. Pria itu bahkan punya tinggi badan yang kurang menurutnya. Walaupun pria itu sudah jauh lebih tinggi dari pada tubuh mungilnya.


Apa salahnya jika tinggi tubuh Royka tidak mencapai seratus-delapan-puluh atau lebih dari itu? Tidak semua orang bisa terlihat sempurna tetapi percayalah dia punya kelebihan pada hal lain.


Apa yang diinginkan Jill sebenarnya? Royka hanya menatap dengan tatapan datar dan dingin. Ia hanya tahu bahwa gadis itulah yang akan ia lindungi.


Royka memang sudah melihat Jill sebelumnya melalui selembar foto yang ditunjukkan Kaka saat mereka berada dalam pesawat.


Seorang gadis muda yang lebih mirip dengan boneka hidup. Itu yang dipikirkan Royka tentang Jill setelah bertemu langsung dengan perempuan itu.


Bertahun-tahun dia berada di penjara dan hanya bertemu dengan orang-orang berpenampilan menyeramkan khas para kriminal.


Bukannya tidak pernah melihat perempuan, tetapi ketika melihat Jill membuat Royka sadar ada manusia yang tercipta dengan rupa yang indah dan cantik.


Walaupun berada di tahanan, ia cukup sering melihat para wanita saat ada turnamen. Tentu saja para mafia di Rusia selalu membawa pasangan mereka yang entah itu wanita panggilan atau istri masing-masing.


Selain itu pihak penjara juga mendatangkan para wanita untuk melayani tamu dan mengatur para pendaftar taruhan.


"Jangan menatapku seperti itu! Kau sangat tidak sopan!" ketus Jill ketika menyadari Royka tengah melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Royka yang juga tersadar hanya diam kembali dan tidak mengucapkan kata balasan. Dia bukan pria bodoh ketika menyadari tatapan tidak suka gadis itu pada dirinya.


Percayalah Royka tidak akan terganggu dengan hal kecil seperti itu, karena dia pernah menerima perlakuan yang jauh lebih buruk dari yang dilakukan Jill pada dirinya.


...


Setelah perkenalan yang menyebalkan bagi Jill. Kedua orang tersebut pergi ke tempat masing-masing.


Hal apa yang lebih buruk dari saat kita berada di kamar yang berhadapan langsung dengan kamar seseorang yang tidak disukai?


Jill merasakan itu sekarang, ayahnya menempatkan Royka tepat di seberang kamarnya. Memang kamar pria itu tidak sebagus kamar miliknya.


Anggap saja itu seperti kamar pelayan di rumahnya. Jill tidak mengerti dan baru mengingat kenapa ada kamar kecil di lantai dua.

__ADS_1


Kamar pelayan tentu saja berada di lantai satu itupun ditempatkan di bagian belakang setelah atau bersebelahan dengan dapur.


Kebetulan yang tidak menguntungkan, tetapi itu bukan tanpa alasan. Jika Royka ditempatkan di kamar bawah, bagaimana dia bisa dikatakan pengawal dan dia tidak akan bisa mengawasi gadis itu.


...


Lupakan Jill yang sedang merasa kesal. Di dalam sebuah kamar Royka sedang menata barang bawaannya yang pastinya tidak berharga bagi orang lain, dia memasukkan semuanya ke dalam lemari yang tersedia.


Kemudian dia terdiam dan duduk di tepi ranjang tidurnya, Royka menangkupkan kedua tangan seperti sedang melafalkan doa.


Royka mungkin bukan orang yang terlihat baik dari penampilan, tapi dia adalah seorang yang masih percaya akan adanya Tuhan dan dia selalu taat pada kepercayaan yang ia miliki.


Setidaknya di tengah ujian hidup yang ia hadapi, Royka masih berpegang teguh bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelematkan dan mampu menolong dirinya.


...


Hari pertama bekerja sebagai seorang pengawal, hal apa saja yang harus dilakukan Royka? Jawabannya ialah tentu saja dia akan terus berada dekat dengan si gadis.


Seperti sekarang, ia masih setia menunggu gadis itu untuk keluar kamar. Lebih dari enam-puluh menit ia menunggu dengan berdiri di depan pintu kamar Jill.


Pada awalnya ia hanya bisa mengetuk pintu kamar Jill, beberapa menit kemudian ia memutuskan untuk menunggu saja karena tidak juga mendapat jawaban.


Saat gadis itu keluar dengan mengenakan pakaian minim, Royka segera memperingatkan supaya tidak berpakaian seperti itu.


"Sebaiknya ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih baik!" ucap Royka dengan suara yang datar.


"Ck, kau tidak dibayar untuk menilai penampilanku," jawab Jill sambil menyilang tangan di dada, "aku harus pergi sarapan. Jangan terlalu repot untuk mengomentari pakaian ku, oke?!"


Jill segera pergi ke tempat yang ia maksud. Royka yang tidak memberi ucapan balasan hanya bisa mengikuti ke mana gadis itu pergi.


Mereka berada di ruang makan saat ini--tepatnya Jill yang sedang makan dan Royka hanya melihatnya saja.


Saat anggota keluarga lain datang mereka sedikit terkejut setelah melihat kehadiran Royka, mereka adalah Olympia dan dua saudara sepupu Jill.


Jill semakin merasa sebal karena mereka terus menggoda dan mengganggunya saat makan.


"Terbaik dari yang terbaik, huh?" Salah satu sepupu laki-laki Jill menatap Royka dengan tatapan mengejek. Sang pengawal sedang berdiri tepat di belakang kursi yang Jill tempati, ia tampak tidak terganggu sama sekali.


Jill memastikan bahwa hal tentang sang pengawal sudah mereka ketahui. Sudah jelas mereka tahu dari Olympia yang berstatus istri ayahnya.


Apalagi kebiasaan seorang istri selain mengorek semua hal yang sedang dilakukan suaminya, Olympia pasti tahu informasi bahwa Royka memang dipilih oleh ayahnya.


'Terbaik dari yang terbaik.'


"Apa ayahmu membawanya dari tempat sampah?" Setelah terdengar ucapan itu, suara tawa terdengar dari ke tiga orang tersebut.


"Oh, Jill. Aku tidak menyangka kau punya selera yang sangat rendah." Kali ini suara seorang gadis seusia Jill juga menimpali seolah mereka sedang mengucapkan lelucon.


"Jangan menilai dari penampilan, Abigail! Apa kau lupa, kekasihmu yang terlihat tampan ternyata hanya penipu kecil, penjaga tiket bioskop, eh?" timpal Jill dengan senyum meremehkan.


Kedua gadis itu saling menatap sengit, Olympia sang ibu tiri tidak mengindahkan sikap mereka, wanita itu hanya sibuk dengan sarapannya sendiri.


"Hmm!!!"


Semua orang yang berada di meja makan segera menghentikan perdebatan yang selalu terjadi hampir setiap pagi. Kehadiran sang kepala keluarga membuat mereka semua terdiam.


Sudah jelas terlihat aura dan kharisma tingkat tinggi pria tersebut yang tidak lain adalah Kaka si mafia elit dari Mexico.


"Selamat pagi, Royka?! Selamat bertugas!" Kaka menyapa Royka saat ia melewati sang pengawal sambil menepuk pundak si pria dari penjara, kemudian duduk di kursi kebesarannya.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Kaka yang hanya dijawab anggukan oleh Royka.


Tentu saja seorang pelayan sudah memberi sarapan sebelum semua penghuni rumah terbangun. Sarapan sederhana yang pastinya jauh lebih baik dari makanan di penjara, walaupun hanya beberapa roti lapis dan segelas teh hangat.


Jill yang teringat pada Royka, ia kembali merasa kesal setengah mati pada ayahnya, karena hal itu justru menjadi bahan lelucon bagi semua keluarganya.


"Kurasa jika tidak diberi makan dia akan tetap kuat." Tatapan Jill kembali menajam pada David. Dia mendengar dengan jelas pemuda itu berbisik pada saudarinya--Abigail.


"Selamat pagi, Sayang!" Kaka menyapa putri kesayangannya itu kemudian memberi kecupan di pipi kanan gadis yang duduk di sebelah kiri.


Jill hanya menjawab dengan senyuman yang terpaksa, biar bagaimana pun Kaka hanya ingin melindunginya dan berusaha memberi yang terbaik, termasuk sang pengawal--Royka.


...


"Aku selesai, aku akan pergi ke kampus. Semoga harimu menyenangkan, Papa!" Jill mengecup pipi ayahnya sambil beranjak.


"Ayo, Tuan Royka!!" perintah gadis itu pada sang pengawal.


Seperti hewan peliharaan yang setia Royka kembali mengikuti langkah si gadis muda yang menuju pelataran parkir.


Jill melempar kunci mobil pada pria itu, tentu Royka akan merangkap menjadi sopir pribadi si gadis majikan.


"Bawa aku ke rumah Gina! Hari ini aku malas pergi ke kampus!" perintah Jill, ia sudah janjian dengan Gina untuk membolos karena suasana hatinya sedang buruk.


"Gunakan GPS jika kau tidak tahu arah!" Gadis itu berucap seolah tahu bahwa Royka sama sekali tidak tahu jalur lalu lintas di Mexico.


"Aku tidak mau menjadi penunjuk arah untukmu. Dan satu hal, jangan salah paham tentang kejadian tadi! Aku tidak membelamu, aku hanya tidak suka pada sikap sepupuku!"

__ADS_1


Jill berucap panjang lebar dan menjelaskan keributan kecil saat di meja makan, ia tidak mau Royka salah paham dan berpikir Jill membelanya.


"Itu bukan urusanku!" jawab Royka. Sungguh dia seperti pria berhati batu.


"Bagus!" Jill sedikit heran dengan sikap Royka yang terkesan acuh dan dingin.


...


Jill merasakan guncangan saat di dalam mobil, membuat kepalanya malah terasa pusing. Penyebabnya tentu karena keterampilan mengemudi Royka yang sangat kaku.


"Kau bisa menyetir atau tidak?" tanya Jill dengan suara yang keras. Bagaimana bisa mobil mewah miliknya terasa seperti mobil murahan yang rusak.


"Aku belajar menyetir satu minggu lalu," jawab Royka dengan jujur.


"Apa? Kau ingin kita berdua mati?" Jill kehilangan kata karena jawaban Royka. Belajar menyetir dalam waktu satu minggu? Katakan Royka pasti sedang bercanda.


"Lelucon yang tidak lucu," gerutu gadis itu, tetapi Royka sama sekali tidak menjawab. Apakah itu artinya dia bersungguh-sungguh baru belajar menyetir.


Jill kembali mengumpat di dalam hati kepada ayahnya. Hanya orang tidak waras yang berani membawa kendaraan ke jalan raya tanpa keterampilan yang matang.


"Bisakah kau menepi?!" pinta Jill.


"Rumah Gina masih jauh," jawab Royka sambil melihat ke arah penunjuk arah.


"Kita batalkan saja! Kau harus ganti baju dengan yang lebih baik. Aku tidak mau jika Gina juga akan mengejekku karena penampilanmu itu!" ucap Jill seolah tidak takut jika lawan bicaranya akan tersinggung.


Dia menatap Royka melalui kaca depan dan tentu saja tatapan sengit gadis itu terkunci pada tatapan Royka yang sangat datar.


"Apakah penampilan menjadi masalah?" tanya Royka.


"Setidaknya kau pakai baju yang lebih layak," jawab Jill, dia berkata demikian karena pakaian yang dikenakan Royka adalah pakaian yang kemarin ia kenakan.


"Ini pakaian lama, jadi wajar jika terlihat buruk." Jill cukup tertegun dengan Royka yang bicara apa adanya.


"Memangnya kau tidak pernah pergi ke toko baju? Kau tidak tinggal di hutan, 'kan?"


"Aku tinggal di penjara, Papamu yang menyewaku."


"Baiklah! Kau ikut aku sekarang!" perintahnya pada sang pengawal.


...


Sebuah departemen store besar menjadi tujuan Jill dan Royka kali ini. Bukan tanpa alasan Jill hanya ingin mengubah sedikit penampilan pria itu supaya terlihat lebih pantas.


Dia sedikit terkejut saat mendengar ungkapan Royka, bahwa selama ini dia hanya seorang tahanan penjara di Rusia.


Kaka tidak menceritakan hal tersebut, dan Jill sendiri tidak menanyakan tentang tempat asal dari sang pengawal.


Seharusnya ia merasa takut karena Royka hanya orang asing dan jangan lupakan bahwa pria itu seorang kriminal.


Namun, Jill memang tidak merasakan ancaman yang berarti dari sikap Royka. Mungkin ayahnya punya alasan tersendiri kenapa memilih Royka yang berasal dari penjara.


...


"Sempurna!!" ucap Jill saat melihat penampilan baru Royka.


Sebuah kaos hitam membalut tubuh pria itu dengan sangat pas, celana jeans juga terpasang di bagian bawah.  Jill membuang pakaian lama Royka serta sepatunya, karena tidak ingin lagi mendengar ejekan semua orang pada sang pengawal.


"Sekarang kita bisa pergi ke rumah Gina!" ucap Jill sambil berjalan lebih dulu.


...


Apakah hanya Gina yang tidak waras atau seleranya rendah? Jill tidak mengerti kenapa temannya itu seperti terpukau melihat Royka.


"Kau serius, Jill? Pengawal barumu?" Gina berucap girang pada sang sahabat.


Jill hanya mendelik tidak suka. "Aku yakin jika kau melihatnya sebelum ini, kau pasti akan muntah. Aku tahu seleramu, Gina!" keluh Jill, saat ini mereka sedang melihat ke luar jendela kamar Gina.


Mereka memerhatikan Royka yang sedang menunggu di luar, Jill mulai terbiasa pada sikap diam pria itu, tetapi dia tidak meragukan kesiagaan pria itu.


"Dia itu seperti barang yang sudah rusak. Dia sudah tua, pendek dan katanya lututnya sudah cidera. Apa kau pikir pria itu bisa menjagaku dengan maksimal?" Jill terus mengeluh pada sang sahabat.


Gina hanya tertawa mendengar kekecewaan Jill. "Sudahlah! Lagipula hidupmu tidak selalu dalam bahaya, 'kan?" tanya Gina kemudian.


"Bagaimana jika kita cari hiburan saja? Klub malam?" Wajah Gina terlihat sumringah saat mengajak Jill.


"Setidaknya kali ini ada Royka yang akan melindungimu dari para berandalan di sana, bagaimana?" bujuk Gina yang berhasil membuat semangat Jill kembali bangkit.


Mereka mencari hiburan khas anak muda, dan tidak pernah berpikir dalam bertindak. Jill dan Gina tidak tahu bahaya apa yang akan mereka hadapi di tempat umum tersebut.


TBC


Yoo, chapter 2


Masih flat ya gaess...


But ... Untuk next chap ada adegan aksi lagi ya ... Mungkin 😄

__ADS_1


C u & i love u all ❤❤❤


__ADS_2