
Jill menatap diri di cermin, beberapa banyak model pakaian sudah ia coba kenakan, tapi dia merasa tidak ada satu pun yang cocok untuk saat ini.
"Menyebalkan!!" gerutunya.
Dia kembali berpikir dan hanya menatap isi lemari yang sudah berkurang setengahnya akibat ia mencoba semua baju.
Jill melangkah keluar dan membuka pintu. "Tuan Royka?!" sapa nya pada sang pengawal yang setia berdiri di luar kamar.
"Bisa bantu aku?!" pinta Jill.
Sang pengawal hanya menatap sekilas dan tidak memberi jawaban, hanya gestur tubuh yang ia tunjukkan sebagai jawaban 'iya'.
"Masuklah!!" ajak Jill pada Royka.
"Maaf, aku tidak bisa," jawab Royka tanpa berpikir panjang, "aku tidak diperkenankan untuk masuk ruang pribadi mu, Nona!"
Jill berdecak dia lupa tentang hal itu. "Kau sopan sekali hari ini," sindirnya.
"Baiklah, aku ingin bertanya sesuatu. Tunggulah!!" pinta gadis itu lagi.
Jill masuk kembali ke kamar kemudian kembali dengan membawa sesuatu di kedua tangannya.
"Aku ingin bertanya, dari sudut pandang seorang pria, menurut mu pakaian mana yang lebih cocok untuk ku?" tanya Jill sambil menunjukkan dua model pakaian yang sedang ia pegang.
Royka terdiam dan hanya menatap datar. "Dua-duanya tidak cocok!" tegasnya yang membuat Jill geram.
"Kau menyebalkan!" gerutu Jill, gadis itu kembali masuk, tetapi ia bertanya lagi dengan membawa model pakaian yang lain.
...
"Bagaimana?" tanya gadis itu setelah berulang kali bertanya dan tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari sang pengawal pribadi.
"Gunakan pakaian yang sederhana dan tidak berlebihan!" ucap Royka pada akhirnya setelah terus-terusan memberi jawaban tidak suka.
Jill tersenyum senang. "Kenapa tidak katakan sejak tadi?" ucapnya.
"Aku tidak tahu apapun tentang gaya busana, percuma kau bertanya padaku," jawab Royka.
"Aku tahu, tapi setidaknya kau punya mata untuk melihat apakah pakaian ku cocok atau tidak?" kilah Jill.
"Aku tidak tahu," jawab Royka yang membuat Jill terlihat kecewa, "bukankah kau bilang aku tidak dibayar untuk menilai penampilanmu?!
Jill kehilangan kata, ia lupa pada perkataannya sendiri. Tadinya Jill hanya ingin membuat pengawal pribadinya itu terkesan, walaupun ia sendiri tidak tahu kenapa ia harus repot memikirkan hal itu.
Rupanya Royka memang tidak punya selera apapun selain bertarung dan berkelahi. Hal itulah yang membuat Jill merasa tertantang untuk mengubah pola pikir aneh sang pengawal.
...
"Ah, kau perlu banyak diajari, Tuan Royka!" gumam Jill sambil menatap kembali cermin yang memperlihatkan bayangan gadis muda yang cantik dan modis.
__ADS_1
Wajah gadis itu merona saat mengingat ciumannya kemarin bersama sang pengawal--lebih tepatnya ia yang mencium lebih dulu.
Jill mungkin tidak berpengalaman dengan banyak pria, tetapi jika sekedar berciuman dia sering melakukannya bersama para mantan pacarnya dulu.
Royka sangat kaku dan dingin, Jill bisa merasakan itu saat bibir mereka bersentuhan. Jill menepuk pipi beberapa kali dan memukul kepala dengan telapak tangan, kenapa bayangan itu tidak hilang juga dalam ingatannya.
Tangannya masih bisa merasakan betapa kencang otot tubuh pria itu saat ia merangkulnya kemarin. Ah, Jill merasa sedikit gila karena merasakan sensasi baru dalam dadanya.
...
Seperti kebiasaan yang sudah menjadi kebutuhan. Royka kembali memukul salah seorang pria pengunjung klub yang menggoda gadis majikannya.
Kenapa gadis itu suka sekali pergi ke tempat yang sangat berbahaya untuk dirinya? Alangkah lebih baik jika dia diam dan duduk manis di rumah.
Royka hanyalah seorang pengawal, ia cukup tahu dengan posisinya. Dia tidak bisa melarang gadis itu pergi kemana pun yang ia suka, tapi ia merasa kesal pada gadis yang selalu bersikap seenaknya sendiri.
"Oh, jadi dia pengawal barumu, Jill?" tanya seorang pemuda sambil merangkul pundak gadis itu.
"Iya, begitulah! Dia dingin dan kaku, seperti robot. Wanita seksi seperti Olympia pun tidak mampu menggodanya," jawab Jill pada pemuda tersebut.
"Kau bilang dia dari Rusia? Kau pikir aku peduli? Rusia, Jepang, India atau dari manapun aku tidak akan takut," ujar pemuda itu percaya diri.
"Jangan meremehkan pengawalku! Dia berbeda, kau tidak ingin mengalami hal seperti David, 'kan?!" Jill mengingatkan pemuda yang tidak lain adalah teman kampus.
Pemuda itu juga berteman dengan David dan Abigail. Dia putra mafia lain dari Mexico yang sepak terjangnya hampir sama dengan Kaka.
Katakan saja pemuda bernama Noe adalah putra rekan ayahnya. "Apa kau ingin tanding denganku?" tanya Noe.
"Bagaimana kalau dia duel dengan pengawal pribadiku?" tanya Noe sambil melirik ke arah pria bertubuh tinggi dan besar.
"Apa kau gila, Noe? Dari postur tubuh saja mereka sudah berbeda. Kau ingin curang?" protes Jill.
Apa yang akan terjadi jika Royka bertanding dengan pengawal pribadi Noe--Silas Colus. Pria yang tinggi tubuhnya mencapai dua meter itu bisa mematahkan tulang Royka dengan mudah.
"Apa kau takut? Jika Royka kalah, kau tinggal ganti pengawal yang baru." Noe masih berbicara sedangkan Jill sama sekali tidak ingin membuat kekacauan seperti tempo hari.
Entah kenapa ada perasaan dia tidak mau membuat Royka terluka atau celaka. "Tidak, aku tidak mau melakukan itu," jawabnya sambil melihat ke arah Royka yang sedang berdiri dekat pintu masuk klub.
"Ayolah! Sejak kapan kau jadi pengecut, Jill?" ejek Noe.
Jill terdiam, dulu ia selalu menuruti semua ide Noe, tapi sekarang ia mulai berpikir untuk tidak melukai orang lagi.
Dia ingat perkataan ayahnya, bahwa nyawa orang lain juga berharga bagi orang-orang disayangi mereka.
"Tidak lagi! Aku harus pergi, semoga harimu menyenangkan!" Jill pamit dan segera beranjak, lebih baik ia pergi saja dari pada terus bicara dengan Noe.
Jill melangkah tapi tiba-tiba seorang pria bertubuh besar mencekal tangannya, dan hal itu tentu dilihat Royka.
"Hey, lepaskan aku, Silas!!" perintah Jill pada pria besar tersebut.
__ADS_1
"Tuan Noe masih ada urusan dengan Anda, Nona." Silas menjawab, rupanya saat Jill ingin pergi, Noe memberi isyarat pada sang pengawal untuk mencegah Jill.
Belum selesai dari rasa terkejut, Jill merasakan tubuhnya ditarik dan pelakunya tidak lain adalah Royka. Pria itu hanya berusaha menghalangi gangguan pada majikannya.
"Lepaskan!!" ucap Royka dengan tatapan yang mengintimidasi.
Silas tidak mendengar bahkan mengabaikan ucapan Royka. Sangat jelas ia meremehkan si pengawal dari penjara.
Dengan tubuh yang lebih tinggi dua-puluh centimeter dari lawan, membuat pria besar itu tidak terlihat gentar.
Saat suasana tegang, Noe menghampiri dan hanya memasang senyum puas. Pemuda itu tentu merasa kecewa pada sikap Jill yang berbeda dari biasanya.
"Percuma saja, Jill! Pengawalmu akan melawan Silas!" ucap Noe dengan penuh percaya diri.
"Tidak, Noe! Kumohon!" rajuk Jill, siapa yang tahu bahwa ia mencemaskan Royka.
"Dengar, aku tidak menyetujui idenya, percayalah padaku, Tuan Royka! Aku tidak tidak bermaksud membuatmu berkelahi dengan Silas," jelas Jill, gadis itu seperti menjelaskan sesuatu pada sang pengawal supaya tidak salah paham.
Royka yang awalnya tidak mengerti mulai memahami situasi antara Jill, Noe bahkan dirinya dan juga Silas si pria besar.
"Kita cari tempat di luar!" Singkat dan padat, ucap Royka yang tanpa basa-basi sambil melepaskan cekalan tangan Silas.
Royka membawa Jill keluar dari klub, tetapi gadis itu seperti menahan dan tidak ingin menurutinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu bertarung dengan Silas, aku- ...."
"Aku tidak takut," jawab Royka dengan nada yang dingin. Mereka berada di belakang klub sekarang sambil menunggu Noe dan Silas.
"Aku bersumpah tidak membuat kesepakatan dengan Noe," jelas Jill, ia merasa perlu melakukan itu, bukan karena ia takut pada Royka. Gadis itu hanya merasa cemas.
Cemas jika terjadi sesuatu pada sang pengawal.
"Papamu tidak akan tahu," ucap Royka seolah meyakinkan Jill bahwa ia bukan pengadu bermulut besar yang akan melaporkan gadis itu pada ayahnya.
"Aku tidak peduli tentang hal itu, aku hanya cemas padamu!!!" teriak Jill, ia kesal pada sikap keras kepala Royka yang sulit dihancurkan.
Pria matang itu menatap walaupun Jill tidak bisa melihat dengan jelas karena Royka berdiri membelakangi cahaya.
"Dunia tidak akan kiamat jika aku mati." Sungguh itu jawaban yang membuat Jill kesal setengah mati.
"Bodoh!! Kau memang menyebalkan!" gerutu Jill.
"I'll do my best," jawab Royka.
"Whatever!!"
TBC
Mulai, ya!
__ADS_1
Perasaan yang tidak disadari Jill sudah muncul dan Royka sendiri tidak peka maksimal
See u and i love you