
Jill membuka pintu kamar Royka tanpa mengetuk terlebih dulu, dan ia sedikit terkejut karena sang pengawal sedang berganti pakaian. Secara spontan gadis itu langsung berbalik karena merasa malu.
Royka yang bertelanjang dada serta tubuh yang masih meninggalkan jejak air hanya menatap sekilas seolah tidak merasa terganggu, mungkin dia baru saja selesai dari ritual membersihkan diri di pagi hari.
Berbeda dengan Jill yang gugup dan salah tingkah, Royka justru terlihat tenang bahkan begitu santai saat mengenakan pakaian.
"Aku tidak tahu jika seorang nona bisa masuk ke kamar pengawalnya dengan sesuka hati," ucap Royka dengan nada suara seperti biasanya.
"Maaf, aku tidak tahu kau sedang ganti baju," sesal Jill, gadis itu kembali berbalik dan pemandangan menggiurkan yang ia lihat tadi sudah lenyap.
'Oh, Jill apa yang kau harapkan?'
"Aku ingin pergi ke pantai!" tegas Jill, jelas itu bukanlah permintaan tetapi sebuah perintah untuk sang pengawal.
"Aku tidak suka keramaian," jawab Royka tanpa keraguan.
"Aku yang memerintah di sini!" tegas Jill, tentu dia adalah bos bagi sang pengawal, tetapi pria matang itu menolak dengan seenaknya.
"Masih banyak tempat lain yang bisa kau kunjungi," timpal pria itu lagi.
Jill harus membuang nafas kasar, pria seperti Royka sulit dikendalikan. "Klub malam, pantai, kampus. Semua tidak kau sukai. Lalu apa yang kau sukai?!" teriaknya.
"Apakah kau hanya bisa memukul dan menyakiti orang saja? Kau suka sekali berbuat kejam." Mendengar ucapan Jill jelas membuat emosi Royka menjadi tersulut.
Royka melangkah untuk mendekat ke arah Jill dan tanpa ragu mencengkram dagu gadis itu cukup keras, membuat Jill merasa kesakitan.
"Jika kau tidak ingin bekerja dengan benar, enyahlah! Tidak ada yang menginginkanmu di sini." Dalam situasi yang sulit, mulut Jill malah mengeluarkan kata yang bisa memperburuk keadaan.
Wajah Royka semakin mendekat tanpa melepas cengkraman di wajah gadis muda tersebut. Dengan jarak yang begitu dekat mereka hanya saling menatap sengit. Mata Jill semakin memerah dan menggenang.
"Kau pikir aku suka menjadi pengasuh gadis dengan pikiran dangkal seperti dirimu. Demi Tuhan aku tidak sudi dan sangat muak," geram Royka sambil menghempaskan tangan alhasil tubuh Jill sedikit terjengkang.
"Kau pria sialan yang memperlakukan semua orang seperti binatang, pantas saja jika tidak ada yang menginginkan kehadiranmu!" balas Jill tanpa rasa takut pada sikap dingin sang pengawal, jangan lupakan tatapan Royka yang saat ini dipenuhi kebencian.
"Aku tidak butuh pengakuanmu!" geram Royka lagi sambil memukul dinding setelah ia menjauh dari gadis tersebut.
"Jika kau tidak suka semua tempat di dunia ini, mungkin akan lebih baik jika kau tinggal di pemakaman saja," ucap Jill, tidak hentinya dia melontarkan perkataan yang sepertinya membuat suasana diantara mereka semakin memanas.
"Cih, aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau alami saat ini, tapi jika kau hanya menjadikan diriku sebagai tumbal, kau akan menyesal, Nona!" Royka mulai menekan emosi, sepertinya ia lebih bisa memahami Jill sekarang.
"Jika kau mencariku hanya untuk melampiaskan amarah, aku tidak akan terpengaruh," tambah Royka.
Gadis itu terdiam dan menatap Royka. Dari sudut matanya terlihat genangan air yang siap meluncur dengan satu kedipan mata saja.
__ADS_1
Namun, pada akhirnya dia tidak bisa lagi membendung air mata yang semakin mendesak ingin segera keluar.
Jill menangis di depan Royka, tetapi sang pengawal hanya melihat tanpa berniat untuk menghibur sama sekali. Dia memang tidak tahu cara menghibur orang yang sedih.
"Ada baiknya jika kau belajar dewasa dan tidak menunjukkan masalah pribadimu pada orang lain!" ucap Royka setelah mendekat pada Jill sekadar memberi sedikit ucapan yang bisa membuat gadis itu sedikit terhibur.
Greb ...
Tanpa diduga Jill menghambur pada pelukannya, membuat sang pengawal hanya terdiam membisu. Wajah gadis itu tenggelam di dadanya. Royka tidak berani membalas pelukan sang nona muda dan ia hanya membiarkan tangannya tetap mengambang di udara.
Entah apa yang terjadi, yang jelas ia tahu Jill sedang mengalami tekanan dalam hatinya. Apa itu karena keluarga, teman, atau mungkin orang-orang di sekitarnya.
Flashback
Jill menatap sengit sang ayah setelah mendengar bahwa pria itu akan menjual beberapa aset keluarga peninggalan ibunya.
Pria itu bahkan tidak memberitahunya bahwa yang mendapatkan hasil penjualan adalah Olympia. Gadis itu merasa bahwa akan kehilangan semua kenangan tentang sang ibu.
"Aku tidak setuju, Papa! Terlebih jika uangnya untuk Olympia!"
"Apa kau masih perhitungan dengan Olympia?" tanya Kaka pada putrinya yang sedang merajuk.
"Ini tentang Mamaku, aku tidak mau kehilangan apapun yang ia tinggalkan!"
"Kehidupan yang mana? Aku bahkan tidak bisa bernafas di rumah ini!"
"Aku muak dengan semua ini!!"
Plak ...
Di hadapan Olympia sang ayah melayangkan satu tamparan yang cukup keras. Jill merasa kalah telak dan harga dirinya semakin rendah.
Dengan kemarahan yang bersarang dalam dadanya, Jill pergi karena tidak ingin lagi meneruskan perdebatan yang tidak menguntungkan untuk dirinya.
Flashback end
Entah keputusan bodoh apa yang dirasakan Royka, saat ini ia berada di sebuah pantai yang cukup ramai. Banyak orang berpakaian minim terutama para wanita yang mengenakan bikini.
Salahkan Jill yang sudah merajuk di pagi hari, Royka hanya ingin meringankan kesedihan gadis itu walaupun ia harus berkorban dengan pergi ke tempat yang tidak disukainya.
Jangan lupakan penampilan Royka yang hanya mengenakan celana pantai yang pendek, serta bertelanjang dada.
Jill sedikit kesal saat para wanita di pantai tampak tergoda pada sang pengawal pribadinya. Dia tidak menyadari bahwa Royka justru merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
__ADS_1
"Lihatlah, semua wanita di sini seperti menatapmu penuh minat!" ucap Jill sambil memindahkan kacamata hitam yang terpasang di wajah cantiknya ke kepala.
Royka hanya menatap sekilas, seperti biasa dia tidak terpancing sedikit pun oleh ucapan Jill.
"Mereka punya hak untuk melakukan apapun, ini tempat umum," jawab Royka.
"Ah, jadi kau tidak keberatan, begitu? Apa kau tidak merasa bahwa mereka ingin sekali melepas semua pakaianmu itu?" ketus Jill.
"Kenapa harus seperti itu?" tanya Royka yang membuat Jill kehilangan kata, apakah pria itu bodoh atau pura-pura tidak mengerti.
Jill mendekat ke arah sang pengawal, tanpa ragu ia berjinjit hanya untuk berbisik pada sang pengawal. Dada bidang sang pengawal bersentuhan dengan dadanya yang berbalut bikini.
"Mereka ingin bercinta denganmu, bergumul sampai puas dengan keringat yang hebat," bisik gadis itu.
Royka yang mulai merasa tidak nyaman pada posisi mereka mulai menjauhkan tubuh si gadis majikan, tidak lupa memberi tatapan tajam pada gadis itu.
"Jaga sikapmu pada orang yang lebih tua!" ucap Royka dingin.
Mendengar itu Jill justru tertawa. "Ah, kau kepanasan, ya?" ejeknya pada Royka.
"Aku hanya tidak tahu jika pemikiran anak muda zaman sekarang begitu dangkal," jawab Royka, dia menyilang tangan di dada hingga dada bidangnya tertutupi.
"Jangan sembunyikan apa yang kau miliki, Tuan Royka! Percayalah kau akan ketagihan jika sudah mengalaminya," goda Jill.
"Sangat berbahaya untuk gadis seusiamu membicarakan hal sensitif seperti itu, kau tidak tahu bagaimana sebuah kata bisa membuat pikiran seseorang menjadi jahat," ujar Royka panjang lebar membuat Jill merasa senang, rupanya Royka tidak sadar bahwa gadis itu sedang menggodanya.
"Apa kau juga seperti itu?" Jill kembali memancing reaksi sang pengawal.
Royka mendekat dan Jill hanya terdiam, wajah pria itu semakin tak berjarak membuat Jill menahan napas. Apa yang akan dilakukan pria itu. Gadis itu menutup mata perlahan.
"Jangan membangunkan singa yang sedang tidur! Bersikaplah sewajarnya, atau aku akan melemparmu ke laut dan membuatmu tenggelam," bisik Royka tepat di depan wajah Jill.
Setelah suara Royka menghilang Jill mencoba untuk membuka mata, ia melihat punggung Royka yang menjauh.
Gadis itu tersenyum, tidak terlihat kekecewaan di wajahnya. Ia tidak tersinggung sama sekali oleh ucapan sang pengawal.
"Argghh ... Kau memang berbeda," ucap Jill hampir memekik, ia seperti hilang akal karena pengawal bertubuh seksi itu.
TBC
C u next chap ...
I love u all ...
__ADS_1