
Talia menceritakan tentang rencana Ludwig yang akan mengirimkan pterotos ke asaramanya. Susan mendesis marah mendengar kabar itu. Ia pun menawarkan Talia agar menginap saja di kamarnya selama beberapa hari. Talia bisa saja menerima tawaran tersebut. Akan tetapi gadis itu tetap harus banyak berlatih agar ilmu sihirnya meningkat. Ia tidak bisa selalu bergantung pada orang lain. Akhirnya, Susan pun turut membantu Talia melatih sihir apinya.
“Seperti yang pernah kuajarkan kemarin, bayangkan saja lidah-lidah api itu menari di telapak tanganmu. Secara perlahan, alirkan energimu ke titik tersebut,” ucap Kyle sembari mengirimkan energi sihirnya ke tangan Talia, membantunya agar tetap stabil.
“Kalau kau melakukannya seperti itu, Gothe, hewan buasnya keburu mencungkil mata Talia,” komentar Susan sarkastik.
“Jangan hanya mencela, Muela. Memangnya kau punya teknik yang lebih baik selain daripada membuat Talia membakar separuh asrama?” timpal Kyle tak kalah sinis.
“Acungkan saja jarimu ke arah hewan buas itu, dan bakar tanpa ragu-ragu,” kata Susan sembari mempraktekkan kata-katanya. Ia mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Semburan api muncul dari ujung jarinya, lantas meluncur lurus hingga mengenai atap batu.
Setelah selesai melakukan aksi tersebut, Muela meniup telunjuknya dengan penuh gaya. “Seperti itu,” celetuknya bangga.
Talia hanya bisa melongo melihatnya. Jika itu adalah sihir air atau angin, mungkin Talia bisa melakukannya dengan mudah. Ia bahkan bisa mendatangkan tornado kecil kalau ia mau. Namun elemen api selalu menjadi kendala terbesarnya.
“Kau seharusnya memampatkan dulu energi sihirnya sampai benar-benar kuat.” Kyle tiba-tiba membuat bola api kebiruan di atas telapak tangan kanannya. Bola itu berpusar sedemikian rupa hingga mencapai ukuran sebesar bola rugby.
“Setelah cukup kuat, kau baru melemparkannya ke arah target, dan … .” BAM!
Suara ledakan keras terdengar dari ujung ruangan batu. Kyle melakukan sesuai kata-katanya. Bola api di tangannya tadi ia lemparkan begitu saja hingga mengenai salah satu meja marmer usang yang teronggok di sudut. Meja itu langsung meledak begitu saja, menyisakan kepulan asap dan noda hangus.
Talia dan Susan tidak bisa berkata-kata. Selama beberapa detik, mereka berdua hanya bisa menyaksikan meja marmer oval yang malang, hancur tanpa melakukan kesalahan apa-apa.
“Apa yang kalian berdua lakukan sekarang? Apa kita di sini untuk beradu kekuatan?” Talia melipat tangannya ke depan dada lanas menatap tajam Kyle dan Susan secara bergantian.
__ADS_1
Kedua temannya itu pun langsung menyadari kesalahan mereka. Kyle berdehem canggung, sementara Susan malah meringis penuh penyesalan.
“Maaf, maaf, Talia. Aku terbawa suasana. Ah, memang sebaiknya kau belajar pelan-pelan dulu saja. Sekarang coba buat nyala api di tanganmu. Kecil saja,” ujar Susan sembari berjalan mendekat.
“Kalau Leo ada di sini, mungkin dia sudah membuatkanmu alat berguna untuk perlindungan diri,” celetuk Kyle sembari merebahkan tubuhnya ke sofa.
Susan menghentikan langkahnya. “Dari yang kudengar, kabarnya Dean Leopold akan kembali ke Akademi. Anak-anak di klub membicarakannya. Katanya, begitu dia sembuh, Dean sendiri yang memohon sendiri pada Duke Gothe untuk bisa kembali ke Akademi,” ujar Susan mengingat-ingat.
“Leo … ke Akademi … ? Bertemu dengan ayah juga?” Kyle tampak terkejut. Entah yang mana yang membuatnya lebih kaget: kabar kalau teman baiknya akan kembali ke Akademi, atau mengenai Leo yang memohon pada ayahnya.
“Jadi kau malah tidak tahu kabarnya, ya, Gothe. Pantas saja kau dijuluki anak bawang di keluargamu,” kata Susan sambil berkacak pinggang.
Kyle menghela napas menanggapi. “Setidaknya sekarang aku tahu,” sergahnya kesal.
Talia mencoba mencairkan suasana. “Bukankah itu kabar baik? Kita bisa berkumpul lagi dengan Leo,” ucap gadis itu riang.
Talia tertunduk murung. Kata-kata Susan memang ada benarnya. Meski begitu, Leo adalah anak yang jenius. Dia pasti punya rencana setelah kembali ke Akademi.
“Aku akan berusaha lebih keras,” pekik Talia kemudian. Gadis itu pun kembali mengangkat tangannya untuk membuat nyala api. Ia berlatih dengan giat hingga jam makan siang berakhir.
Pelajaran selanjutnya berlangsung tanpa masalah berarti. Sayangnya tenaga Talia sudah terkuras habis karena terus-terusan mencoba melakukan sihir api. Sejauh ini ia berhasil membakar pinggiran sofa merah marun, sebuah meja kayu usang berubah menjadi arang dan sekedar membuat sebuah tabung logam memanas. Padahal Kyle memberi contoh dengan melelehkan tabung yang serupa. Pemuda itu bilang kalau ingin membunuh pterotos, setidaknya Talia harus membuatnya menjadi daging panggang.
Waktu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba jam pulang pun tiba. Talia dan Kyle bergegas menuju ruang rahasia untuk melanjutkan latihan mereka. Susan menyusul dengan tergopoh-gopoh dari lantai tiga. Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju gedung Departemen Alkimia.
__ADS_1
Perjalanan mereka tidak menemui banyak kendala. Talia tidak perlu menggunakan Kristal menghilangnya untuk menghindari siapa pun. Akhirnya mereka tiba di depan pintu ruang rahasia. Seperti biasa, Kyle membuka pintu batu itu dengan sebuah lingkaran transmutes. Pintu bergeser terbuka secara perlahan.
Begitu masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka dikejutkan dengan keberadaan sesosok pemuda yang terlihat tidak asing.
“Leo?!” pekik Talia tak menyangka.
Leo melambaikan satu tangannya sambil tersenyum. “Baru kutinggalkan beberapa waktu, tapi ruangan ini sudah kacau ya, Kyle. Dan sekarang kau juga membawa dua Nona cantik ke tempat sederhana ini,” ucap Leo sembari menyeringai usil.
Kyle tidak menjawab kata-kata Leo. Pemuda itu hanya berjalan mendekat sambil menyunggingkan senyum lega. Kawan lama itu pun berpelukan singkat.
“Kudengar kau menemui ayah,” tanya Kyle setelah melepas pelukannya.
“Begitulah. Orang tuaku berkeras karena ibu tirimu, Duchess Gothe, memintaku mengundurkan diri. Satu-satunya orang yang bisa kumintai bantuan hanya Duke. Karena itu aku nekat menemui beliau begitu kondisiku membaik,” jelas Kyle kemudian. “Ngomong-ngomong kau tidak ingin memperkenalkanku dengan teman baru kita?” Leo melirik ke arah Susan yang menatapnya ingin tahu.
Jelas sekali bahwa jiwa jurnalis Susan kini tengah menggelora. Susan terlihat seperti akan menerkam Leo dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan wawancara.
“Susan Muela,” ucap Susan tanpa menunggu jawaban Kyle. Gadis itu melakukan curtsy sopan. Gerakan anggun sebagai salam perkenalan.
“Uh … Dean Leopold. Kau bisa memanggilku Leo,” sahut Leo salah tingkah. Ia tak menyangka bahwa Susan ternyata begitu agresif. Meski begitu, Leo tetap membalas curtsy Susan dengan membungkukkan badannya.
“Aku lebih suka memanggilmu Dean. Rasanya lebih akrab. Itu juga kalau kau tidak keberatan.” Susan kembali berdiri tegak. Kini tangannya terulur untuk menyalami Dean dengan lebih santai.
Dean berdehem canggung. Pemuda itu tidak terbiasa menghadapi seorang lady yang begitu penuh percaya diri. Dengan gugup, disambutnya uluran tangan Susan. Mereka pun berjabat tangan.
__ADS_1
“Panggilan Dean itu … agak … . Tapi terserah kau saja. Panggil senyamanmu,” sahut Leo kemudian.
Sekilas Talia melihat mata susan berkilat-kilat. Senyuman puas tergurat di wajah gadis itu. Talia mungkin hanya salah melihat.