
Setelah beberapa waktu menahan rasa sakit luar biasa, keempat elemen yang dikendalikan oleh Talia mulai bersatu melingkupi tubuhnya. Semuanya berpilin hingga membentuk kubah raksasa yang mengitari area luas. Talia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di luar kubah empat elemen itu. Namun samar-samar ia bisa merasakan tekanan kekuatan gelap Kyle yang mulai menyerangnya.
Waktu Talia semakin sempit. Ia harus bisa memanggil elemen cahaya yang menjadi kebalikan kekuatan Kyle. Gadis itu terus berkonsentrasi sembari berharap semua penyihir yang ada di bawah sana sudah menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Setelah perjuangan panjang penuh penderitaan, akhirnya secercah cahaya mulai muncul dari gabungan keempat elemen tersebut. Ujung kubah yang melingkupi Talia berubah menjadi kilau keemasan. Cahaya itu lantas terus merembet hingga sepenuhnya mengelilingi Talia.
Rasa sakitnya berangsur lenyap, digantikan oleh kehangatan yang membuat gadis itu merasa lebih nyaman. Bahkan tekanan kekuatan gelap Kyle pun tidak lagi terasa mengintimidasi. Alih-alih dominasi energi di tempat itu sekarang justru dilingkupi oleh cahaya emas yang menyilaukan.
"Apakah kau yang membangunkan tidurku, wahai anak manusia?" Sebuah suara sayup-sayup terdengar di telinga Talia.
Gadis itu menengadah. Sesosok makhluk bersayap emas terbang menaunginya. Makhluk itu berambut emas, panjang dan berkilau. Helai-helai rambut emas itu berkibar lembut diterpa energi dahsyat yang muncul.
"Benar. Akulah yang memanggilmu, spirit cahaya. Aku akan melakukan kontrak denganmu," tukas Talia kemudian.
Spirit itu menggeleng. "Cahaya dan kegelapan tidak melakukan kontrak. Kami hanya bisa dipanggil oleh energi yang kuat. Apakah kau bermaksud melawan anak dengan kekuatan kegelapan itu? Aku bisa membantumu, tapi dengan kondisimu yang sekarang, tubuhmu mungkin akan rusak parah setelah menerima berkat cahayaku. Apa kau tetap akan menerima bantuanku?" tanyanya.
Talia tahu bahwa resiko dari tindakan gegabahnya itu pastilah tidak akan mudah. Akan tetapi ia sudah membulatkan tekad.
"Ya. Aku bersedia menerima bantuanmu," jawab Talia tanpa ragu.
Seketika kubah cahaya Talia membuyar, meresap ke dalam tubuhnya sendiri. Gadis itu telah berubah menjadi cahaya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki Talia kini memancarkan kemilau emas seperti armor yang membuatnya merasa begitu kuat. Talia tidak pernah merasa sehebat ini sebelumnya. Energinya begitu melimpah, hingga ia merasa bisa mengalahkan monster sekuat apa pun.
__ADS_1
Begitu kubah emasnya hilang, Talia akhirnya bisa melihat Kyle yang sudah melayang di hadapannya. Pemuda itu benar-benar sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Kedua mata hitamnya menatap nyalang ke arah Talia, siap membunuh. Aura gelap pekat melingkupinya seperti sulur-sulur tanaman beracun pemangsa manusia.
"Kyle ... ," desah Talia mencoba memanggil sahabatnya yang tenggelam dalam kegelapan.
Alih-alih menjawab dengan ramah, Kyle justru melontarkan serangan dahsyat ke arah gadis itu. Semburan sulur hitam melesat kencang dan berusaha mencekik Talia. Namun sang spirit cahaya melindunginya dengan hempasan tangan seperti mengusir serangga. Elemen gelap Kyle langsung lenyap.
"Apa kau mau membunuhnya, atau menetralisir kekuatan gelapnya saja?" tanya sang spirit cahaya bersayap emas.
"Jangan membunuhnya! Aku harap ia bisa mengembalikan kesadarannya dan tidak lagi terpengaruh oleh kekuatan gelap," ucap Talia yang juga masih melayang di udara.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membuka jalan bagimu. Kau harus mendekati tubuhnya lalu menyalurkan energi cahaya ini padanya. Dengan begitu, kekuatan gelapnya tidak akan merajalela lagi," jelas spirit itu memberi perintah.
Begitu Talia sudah siap, spirit cahaya tersebut lantas mengeluarkan sebuah tombak dari tangannya. Dengan tombak itu, ia menyeruak elemen gelap yang menyelubungi Kyle hingga terbuka jalan bagi Talia untuk mendekat. Gadis itu segera memanfaatkan momen tersebut. Ia meluncur terbang ke arah Kyle yang masih menatapnya dengan bengis.
Di detik ketika tubuh Talia memeluk Kyle, tubrukan dua medan kekuatan yang saling berlawanan itu pun menimbulkan dentuman besar. Tubuh Talia seperti dialiri listrik ribuan volt hingga kesadarannya nyaris terputus lagi. Namun di saat yang bersamaan, seluruh kenangan perjalanan hidup Kyle sejak dia dilahirkan hingga saat ini, berputar cepat di dalam benak Talia.
Kilasan-kilasan kejadian tersebut berputar sangat cepat dan membuat Talia berada dalam kondisi trans. Hal yang sama juga terjadi pada Kyle. Pemuda itu turut menggali memorinya sendiri hingga berhasil menemukan titik dimana kegelapan jiwanya mulai muncul.
Keduanya berpelukan selama beberapa saat diiringi pusaran energi gelap terang yang membola melingkupi keduanya. Pada satu titik, ketika akhirnya seluruh rangkaian adegan kenangan Kyle selesai ditayangkan dalam benak mereka berdua, bola energi itu pun meledak keras sekali. Tubuh Talia dan Kyle pun terlempar jatuh ke tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri.
***
__ADS_1
Talia bermimpi bertemu dengan ibunya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Talia melihat sang ibu begitu hidup dan sehat. Selama ini ibunya terus berbaring di tempat tidur dengan tubuh yang lemah. Kini beliau berdiri bersama Talia di tengah padang bunga alyssum kuning yang menghampar luas.
"Ibu?" tanya Talia dengan mata berkaca-kaca. Tak tergambarkan betapa rindunya ia pada sosok tersebut.
Sang ibu pun tersenyum menatap Talia dengan penuh kasih. "Kau melakukannya dengan baik, Talia," ucap ibunya sembari mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Talia tak menghindar karena menyadari bahwa ia berada di dalam mimpi. Kemampuannya melihat masa depan mungkin tidak akan terpicu oleh sentuhan tersebut.
"Melakukan apa?" tanya Talia lagi.
"Kau sudah menyelamatkan banyak orang, terutama anak itu. Kau sudah menggunakan kemampuanmu dengan baik. Ibu bangga padamu," sahut ibunya masih tersenyum.
Talia tidak bisa lagi menahan air matanya. Gadis itu pun mulai terisak pelan dengan wajah yang basah. "Aku ... apakah kali ini aku benar-benar sudah mati?" tanyanya kemudian.
Ibunya merengkuh tubuh Talia dan memeluknya dengan hangat. "Ini belum waktunya untukmu. Kau akan kembali sebentar lagi. Sebelum itu, biarkan ibu memelukmu. Selama ini kita tidak bisa berpelukan dengan benar karena kekuatanmu, kan?"
"Ibu tahu kalau aku bisa melihat masa depan?"
"Tentu saja. Aku ini ibumu. Hiduplah dengan baik setelah ini. Kau dianugerahi dengan bakat luar biasa. Sejak kau lahir, ibu sudah tahu bahwa takdirmu memang cukup berat. Maaf karena ibu tidak bisa mendampingimu di dunia. Meski begitu ibu akan selalu melihatmu dari kejauhan," ungkap sang ibu turut menitikkan air mata.
Talia memeluk ibunya lebih erat. Gadis itu meluapkan seluruh kerinduannya selama ini. Selama beberapa saat, hanya desau angin dan harum bunga alyssum yang menguasai inderanya. Akan tetapi lambat laun rasa sakit mulai menyeruak di seluruh tubuh Talia. Gadis itu mengerang pelan lantas membuka matanya.
__ADS_1
"Talia! Kau sudah sadar, Nak?" Sosok Lord Ortega muncul di harapan Talia begitu gadis itu membuka mata. Ibunya sudah menghilang, dan padang bunga alyssum sudah berubah menjadi tempat tidur berkelambu yang ia kenal sebagai kamar tidurnya di mansion.
"Ayah?" gumam Talia dengan suara parau.