Sight Of Future

Sight Of Future
Kemarahan


__ADS_3

Hari itu Talia sedang sarapan bersama Susan. Tiba-tiba Kyle yang biasanya duduk sendirian tanpa mau didekati siapa pun, menghampiri gadis itu dengan ekspresi marah luar biasa.


“Apa yang kau rencanakan?” geram Kyle sembari berdiri di hadapan Talia. Sontak anak-anak yang ada di sekitar mereka pun menatap penuh rasa ingin tahu.


Talia balas menatap Kyle dengan bingung. “Apa maksudmu?” tanya gadis itu.


“Ikut aku, Ortega.” Kyle meraih pergelangan tangan Talia dengan kasar dan berniat menyeretnya pergi.


“Apa-apan kau Kyle? Menyeret orang sembarangan dengan kasar. Bicara baik-baik di sini,” sahut Susan sembari mencengkeram tangan Kyle untuk mencegahnya membawa paksa Talia.


“Jangan ikut campur, Muela.” Pemuda itu membalas dengan gusar.


Talia kini berada di tengah-tengah antara Kyle dan Susan. Masih tanpa mengetahui apa-apa, gadis itu lantas melepaskan tangan Susan dari cengkeramannya terhadap Kyle. Entah apa yang membuat Kyle begitu marah sampai-sampai memanggil nama belakangnya alih-alih Talia. Meski begitu Talia memutuskan untuk bicara pada Kyle. Itu mungkin kesempatannya untuk bisa memperbaiki hubungan.


“Tidak apa-apa, Susan. Aku akan bicara dengan Kyle sebentar,” ucap Talia menenangkan sahabatnya.


Susan tampak ragu. Kedua matanya masih menatap Kyle dengan tajam. Namun akhirnya gadis itu pun bersedia melepaskan cengkeraman tangannya dari Kyle.


“Jangan macam-macam padanya, Gothe,” kecam Susan sembari melepas pergi sahabatnya.


Kyle tidak menghiraukan peringatan Susan dan langsung berbalik pergi sembari menyeret Talia dengan kasar. Di sisi lain ruang makan tersebut, Ludwig pun turut meninggalkan mejanya dan mengikuti Talia serta Kyle.


“Kyle, tanganku sakit,” rintih Talia setelah mereka berdua keluar dari ruang makan.

__ADS_1


Kyle tidak bergeming dan terus membawa Talia sampai ke sebuah lorong yang sepi. Baru setelah tidak ada siapa pun yang ada di sekitar, Kyle baru melepaskan cengkeramannya. Talia segera memijit pergelangan tangannya yang sudah memerah karena kuatnya genggaman Kyle.


“Sebenarnya apa maumu?!” bentak Kyle tanpa penjelasan apa-apa.


“Kenapa kau tiba-tiba marah?” Talia balas bertanya.


Kyle menghimpit Talia hingga tubuh gadis itu  menempel ke dinding. Satu tangan Kyle yang mengepal lantas memukul tembok dengan keras hingga menimbulkan bunyi debam pelan. Talia sempat tersentak sejenak, tetapi gadis itu lantas menatap Kyle dengan lantang. Apa pun yang akan dilakukan Kyle kali ini, ia tidak takut lagi. Talia sudah berkali-kali melewati kondisi hidup dan mati. Ia bahkan sudah pernah mati satu kali.


“Hal konyol apa yang kau suruh Ludwig lakukan padaku?” sergah Kyle akhirnya mengatakan masalah yang mengganggunya.


Talia mengernyitkan dahinya. “Memangnya apa yangt terjadi?”


Kyle melotot semakin tajam. “Jangan berpura-pura tidak tahu. Orang itu mengatakan omong kosong tidak berguna.”


Kyle mengepalkan tangannya lebih erat lantas sekali lagi memukul tembok. Wajah pemuda itu sudah begitu dekat dengan wajah Talia hingga suara napasnya yang marah terdengar begitu jelas.


“Aku tahu kau yang ada di balik ini semua. Sungguh memuakkan,” desis Kyle dengan begitu kesal.


Talia menghela napas dengan sabar. “Aku tahu Ludwig sudah banyak menyakitimu, Kyle. Meski begitu ia melakukannya karena peduli padamu. Dengan cara yang salah tentu saja. Sekarang dia sudah menyesali perbuatannya. Aku tidak bisa memaksamu untuk memaafkannya. Itu terserah padamu. Tapi kuharap kau bisa melepaskan rasa sakit yang dia timbulkan dengan melepaskan peristiwa di masa lalu yang melukaimu. Setidaknya kau harus melakukannya untuk dirimu sendiri, bukan orang lain,” ucap gadis itu panjang lebar.


Kyle berdecih pelan sembari menyeringai penuh cela. “Dan siapa kau berani-beraninya ikut campur dalam masalah ini,” ucapnya.


Talia menatap Kyle dengan tajam. Meski ia tahu Kyle mengatakan kata-kata menyakitkan itu karena sedang marah, tetapi tetap saja hal itu membuat hati Talia mencelos. Ia benar-benar peduli pada Kyle, karena itu ia melakukan banyak hal yang membuat dirinya sendiri kesulitan. Meski begitu Talia tidak menyesalinya.

__ADS_1


“Sampai kapanpun aku tetap menganggapmu sahabatku, Kyle. Sekalipun kau tidak lagi mau berteman denganku, atau bahkan setelah kau menyerangku dengan kekuatan gelap–.” Tanpa sadar Talia menyinggung tentang kejadian tempo hari di hutan. Seketika raut wajah Kyle pun berubah.


Angkara murkanya sirna, berganti ekspresi muram penuh penyesalan. Kyle melepaskan tangannya yang menempel di tembok lantas mundur satu langkah. Ia tersenyum miris sembari menatap Talia.


“Aku memang tidak lebih baik dari orang itu. Maaf … ,” ungkapnya Lirih.


Talia menarik napas panjang, menyesali mulutnya sendiri yang justru meluncurkan kata-kata yang tidak dia maksudkan untuk menyinggung Kyle. Dengan lembut gadis itu pun meraih jemari Kyle dan menggenggamnya erat.


“Tidak, Kyle. Kau melakukannya tanpa sadar. Aku yang seharusnya meminta maaf karena memaksamu hingga melewati batas. Kau … kau pasti sangat menderita,” rintih gadis itu dengan suara bergetar. Rasa empatinya terhadap Kyle mulai terbit. Membayangkan penderitaan sahabatnya itu membuat Talia merasa pilu. Bukan salah Kyle kalau dia mewarisi kekuatan gelap.


Sementara itu Kyle tertegun sejenak. Pemuda itu terdiam sembari menatap Talia yan tertunduk sedih sembari menggenggam tangannya. Perlahan-lahan ia melepaskan genggaman tangan itu lantas melempar pandangan ke arah lain.


“Aku tidak sepantasnya memiliki teman. Setelah kejadian kemarin, aku sudah memutuskan untuk tidak terikat pada siapa pun lagi. Sejak awal seharusnya aku hidup sendirian. Hubungan dengan orang lain hanya akan membuatku sulit mengendalikan kekuatan gelapku,” tukas Kyle kemudian.


Talia menatap Kyle sembari menggeleng pelan. “Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian, Kyle. Kau layak untuk hidup seperti orang lain. Karena itu aku ingin membantumu. Setidaknya kuharap kau bisa memperbaiki hubungan dengan Ludwig,” ungkapnya tulus.


Kyle mendengkus pelan. Rasa kesal sepertinya muncul kembali di dirinya. “Jadi karena alasan itu kau membuat dia mendatangiku semalam dan bicara hal-hal tidak berguna?”


“Aku tidak tahu apa yang Ludwig katakan padamu. Tapi melihat responmu yang seperti ini, kemungkinan besar Ludwig tidak mencoba mencari masalah denganmu.”


“Ha?! Tidak mencari masalah? Ini masalah besar buatku. Siapa yang akan senang mendengar orang yang paling dibenci mengatakan kalau dirinya menyesal telah membuatku menderita selama ini. Berkata bahwa ia belum cukup dewasa untuk memahamiku dan hal-hal konyol tidak masuk akal lainnya. Apa kau tahu betapa muaknya aku mendengarnya?” hardik Kyle penuh emosi.


Talia kembali terdorong hingga punggungnya menabrak dinding. Kyle terus menekannya dengan penuh amarah. Pada titik ini, Talia mulai khawatir kalau emosi Kyle kembali memancing kekuatan gelap dan membuat pemuda itu kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


“Berhenti menekannya, Kyle. Ini urusan kita berdua. Jangan libatkan gadis itu lagi.” Sekonyong-konyong sebuah suara muncul dari balik punggung Kyle. Talia melongok dari atas bahu Kyle dan mendapati Ludwig sudah berdiri di belakang adiknya dengan tatapan yang tajam. 


__ADS_2