Sight Of Future

Sight Of Future
Persiapan Selesai


__ADS_3

Talia masih tidak percaya dirinya bisa memanggil spirit api. Dia mengamat-amati dua telapak tangannya sembari tiduran di atas ranjang. Susan sudah kembali ke kamarnya sendiri sejak tiga puluh menit yang lalu. Asrama itu kini sunyi karena sebagian besar penghuninya sudah tidur.


Meski begitu, Talia tidak bisa tidur. Ia masih penasaran dengan kejadian sore tadi, saat seekor phoenix muncul dari sihir apinya. Gadis itu ingin mencoba bertemu dengan spirit api tersebut sekali lagi. Karena itu Talia pun berencana untuk menggunakan sihir apinya sekali lagi.


Ia bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Sembari menarik napas dalam, Talia mengangkat tangan kanannya dan mulai mengumpulkan energi sihir. Kini energi sihir tersebut terasa lebih stabil. Talia tidak lagi merasa ragu untuk membuat nyala api di telapak tangannya. Alih-alih, nyala api itu justru seolah sudah tunduk padanya, dan patuh saat gadis itu memerintahkannya membesar atau mengecil.


“Kau memanggilku, Gadis Kecil?” Mendadak sebuah suara muncul dalam kepala Talia. Sensasi yang sama seperti ketika ia pertama kali akan memunculkan Phoenix.


“Apa kau spirit api?” tanya Talia kemudian.


Tiba-tiba lidah api kecil di telapak Talia membesar lalu melompat ke udara dan mewujud menjadi seekor burung api kecil yang hanya seukuran kepalan tangan. Burung itu sama sekali tidak menyerupai phoenix yang dikeluarkan Talia sebelumnya, alih-alih justru lebih mirip burung pipit yang terbakar.


“Halo, Gadis kecil. Akhirnya kita bertemu lagi. Kau sudah membangunkanku setelah tertidur selama sepuluh tahun,” cicit burung api tersebut.


Kedua alis Talia bertaut. Burung dihadapannya begitu mungil dan menggemaskan. Wujudnya ternyata bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.


“Kenapa kau memilihku?” tanya Talia kemudian.


Burung kecil itu terbang berputar-putar mengitari tubuh Talia. “Aku tidak memilihmu. Kemarahanmu yang membangunkanku. Dan tentu saja karena kau punya energi sihir yang murni.”


“Aku tidak tahu kalau aku punya energi sihir murni.”


“Yah, semua orang memang tidak bsia menduga kalau energi sihirnya murni atau tidak. Beberapa penyihir dengan kondisi yang sama sepertimu bahkan menua dan mati tanpa mengetahui tentang kemampuannya ini. Apa secara kebetulan kau berlatih sihir api secara terus menerus belakangan ini?”


“Benar. Aku memang melakukannya. Kupikir aku tidak terlalu berbakat menguasai elemen api. Tapi ada hal yang membuatku harus bisa melakukannya. Karena itulah aku berlatih keras.”


“Itu juga bisa menjadi salah satu pemicu kau memanggilku. Normalnya sihir api memang muncul dari kekuatan tekad atau emosi yang kuat. Kau sudah melakukan keduanya. Tekad dan kemarahanmu sudah cukup menjadi katalis pemanggilanku,” terang burung kecil itu yang kini sudah hinggap di jemari Talia.


“Jadi sekarang aku sudah bisa menguasai elemen api?” tanya Talia sekali lagi memastikan. Rasanya begitu tidak nyata. Ia tidak pernah membayangkan dirinya menjadi seorang penyihir api.

__ADS_1


“Tentu saja. Seluruh kekuatan api ada di bawah kendaliku. Kau bisa bebas memerintahkan mereka setelah kau membuat kontrak denganku.”


“Kontrak?”


Burung api itu terbang lagi, kini membumbung dan berputar-putar di langit-langit kamar Talia. “Beri aku nama. Dengan begitu kita sudah menandatangani kontrak,” cicitnya sembari membuat percikan api yang cantik. Nampaknya sang burung api tersebut bermaksud memamerkan kemampuannya.


Talia berpikir sejenak. Ternyata semudah itu membuat kontrak dengan spirit. Akan tetapi ia perlu memikirkan nama yang tepat untuk burung api ini.Phoenix terlalu umum. Bisa-bisa spirit apinya dianggap seperti hewan sihir biasa.


“Smoke. Itu namamu,” ucap Talia yang mendadak mendapat ide.


Burung itu berhenti membuat karya seni dengan percikan api. Sebagai gantinya ia terbang dengan marah menuju atas kepala Talia dan mematuk-matuknya penuh emosi.


“Bisa-bisanya kau memberi nama asap pada spirit api yang agung. Aku bahkan tidak membuat asap saat membakar sesuatu,” ocehnya kesal.


“Baik. Baik, aku akan menggantinya,” cicit Talia sembari menyelamatkan puncak kepalanya yang sudah berbau hangus. Rambutnya sepertinya terbakar. Kalau dibiarkan, bisa-bisa kepala Talia menjadi botak.


“Apa ini?” tanya Talia kebingungan.


“Ini tanda kontrak sudah dibuat,” jawab Smoke yang kini sosoknya mulai berubah menjadi besar.


Beberapa detik kemudian, Sosok Smoke sudah berubah sepenuhnya menjadi seekor burung Phoenix yang gagah sekaligus cantik. Ia melayang di hadapan Talia dengan anggun.


“Talia Ortega, sejak saat ini, aku menerimamu sebagai penyihir yang menguasai api. Kontrak kita akan berlangsung selama kau masih hidup,” kata Smoke yang kini suaranya berubah menjadi lebih dewasa.


“Baiklah, Smoke. Mari kita bekerja sama dengan baik ke depannya,” sahut Talia tersenyum puas.


Esok paginya, saat sarapan, Susan dan Leo langsung memberondong Talia dengan beragam pertanyaan. Keduanya sangat tertarik dengan spirit api yang sudah berhasil dipanggil oleh Talia.


“Kalau dengan kemampuan seperti itu, seekor hewan sihir kecil tidak akan menjadi masalah untukmu, Talia. Spirit apimu bisa melindungimu, bahkan saat kau terjaga,” komentar Susan senang.

__ADS_1


“Apa itu artinya aku tidak perlu membuat alat pendeteksi makhluk sihir? Padahal sudah hampir jadi,” keluh Leo muram.


“Kurasa aku tetap membutuhkannya, Leo. Ada baiknya aku berjaga-jaga sebelum pterotos itu datang,” ujar Talia jujur.


Akhirnya semua persiapan pun sudah selesai. Talia sudah merasa lebih mantap untuk menghadapi segala macam ancaman yang akan dikirim oleh Ludwig. Leo memberikan sebuah alat kecil berbentuk lingkaran pipih. Katanya Talia hanya perlu meletakkan alat tersebut di dekatnya saat malam tiba, lalu benda itu pun akan berbunyi jika mendeteksi energi dari hewan sihir. Leo bahkan sudah menyelesaikan pembuatan sarung tangan transparan yang kemarin dia janjikan. Benda inilah yang lebih menarik perhatian Talia.


Sarung tangan itu berwarna putih bersih sebelum digunakan. Terbuat dari bahan yang sangat halus dan lembut. Panjangnya hingga mencapai siku Talia. Gadis itu pun mencoba mengenakannya saat mereka berada di ruang rahasia sehabis jam pelajaran usai.


Begitu digunakan, sarung tangan tersebut lenyap seketika. Tangannya sama sekali tidak berubah, masih seperti biasanya. Bahkan Talia pun tidak merasa seperti menggunakan sarung tangan sama sekali.


“Coba sentuh aku,” kata Kyle sembari mengulurkan tangannya.


Talia tampak ragu-ragu. Leo dan Susan mengawasi dengan penuh rasa penasaran. Sembari menarik napas panjang, Talia pun merahi jemari Kyle secara perlahan. Gadis itu menutup matanya dan bersiap untuk segala kemungkinan. Ajaibnya, tidak terjadi apa-apa.


Talia masih berada di ruang rahasia bersama ketiga sahabatnya yang menatapnya penuh perhatian. Saat membuka mata pun ia mendapati Kyle yang berdiri di depannya sembari tersenyum.


“Apa kau melihat sesuatu?” tanya pemuda itu.


Talia menggeleng pelan. “Sarung tangan ini bekerja dengan baik.”


“Yes!” pekik Leo sembari meninju udara.


“Kau memang luar biasa, Dean,” komentar Susan lega.


“Baguslah. Satu masalah berhasil dipecahkan. Sisanya tinggal tunggu malam nanti. Kalau sesuai perhitunganmu, mungkin Ludwig akan mengirim monster mulai hari ini. Meskipun kau sudah berhasil memanggil spirit api, tapi aku tetap akan berjaga di sekitar asrama kalian. Berteriaklah kalau kau butuh bantuan,” kata Kyle.


“Kyle … tolong jangan memprovokasi Ludwig,” pinta Talia serius.


“Aku berjanji tidak akan melakukan apa-apa kecuali kau benar-benar terdesak.”

__ADS_1


__ADS_2