
Esok paginya, Talia tidak bisa tenang mengikuti tes hari kedua. Gadis itu masih terpikirkan mimpinya semalam yang tidak terlalu bisa dia pahami. Kenapa ia harus melihat saat Ludwig memanggil naga? Apa itu adalah ujian bagi para beast tamer? Lantas apa kaitannya dengan Talia sampai ia harus melihat masa depan itu dalam mimpinya? Belum lagi fakta bahwa naga itu bisa merasakan kehadirannya.
Mata sang naga jelas-jelas menatap ke arah Talia, sampai-sampai Ludwig ikut curiga. Hal itu membuat Talia semakin cemas. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Talia sama sekali tidak bisa fokus pada tesnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Kyle yang melihat Talia terus terlihat memikirkan sesuatu. “Apa sihir angin menyulitkanmu?” lanjut pemuda itu memastikan.
Talia tersenyum muram lalu menggeleng pelan. Ia belum menceritakan tentang mimpinya pada Kyle ataupun kedua temannya yang lain. Gadis itu tidak ingin membuat sahabat-sahabatnya ikut khawatir. Mereka sedang dalam masa ujian.
“Tidak apa-apa Kyle. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” ucap Talia berusaha meyakinkan.
Kyle tampak sangsi. Akan tetapi pemuda itu tidak mencoba memaksa Talia. Mereka berdua lantas kembali fokus mengamati kelangsungan ujian elemen angin.
Tempat ujian mereka hari itu adalah di ruang perpustakaan. Profesor Theia kembali hadir sebagai penguji. Beberapa kali sang profesor membuat seluruh ruangan itu berantakan. Buku-buku bertebaran di lantai dengan acak. Meja dan kursi baca bergelimpangan.
Para siswa diminta untuk menata ruangan tersebut dengan sihir angin. Ujian tersebut mungkin terlihat sepele. Akan tetapi, mengontrol elemen angin sebenarnya gampang-gampang sulit. Jika terlalu kuat, angin akan merusak barang-barang. Namun jika terlalu pelan, buku atau kursi-kursi tidak akan bisa digerakkan. Ketenangan sang penyihir adalah yang ditekankan dalam ujian ini.
Talia sama sekali tidak khawatir dengan hasil ujian prakteknya. Mengontrol angin adalah kemampuan yang juga dia dapat saat masih muda dulu. Kemampuan ini dia pelajari dari buku-buku yang ada di perpustakaan keluarganya. Talia sudah pernah membuat Shopie, dayang pribadinya, harus membereskan separuh isi perpustakaan rumahnya karena Talia tanpa sengaja memanggil tornado mini.
Kini, setelah berlatih mandiri selama bertahun-tahun. Talia sudah berhasil menguasai kemampuan pengendali udara dengan cukup stabil. Ia bahkan bisa menerbangkan tubuhnya sendiri dengan sapu terbang tanpa kesulitan.
__ADS_1
Giliran Talia datang lebih dulu daripada Kyle. Urutan mereka dibalik dari belakang ke depan sesuai abjad. Maka Talia pun maju lebih dulu daripada Kyle. Seperti sebelumnya, Talia pun disuruh untuk mebereskan kekacauan perpustakaan dengan kemampuannya mengatur angin. Buku-buku yang berserakan harus dikembalikan ke rak sesuai warna sampulnya. Meja dan kursi yang bergelimpangan harus ditata kembali.
Talia maju ke depan dengan percaya diri, seperti sebelumnya. Ia pun mulai mengangkat tangannya untuk membentuk pusaran angin kecil yang dikirim ke buku-buku yang berserak di lantai. Gadis itu mengelompokkan buku-buku itu menurut warna sampulnya satu per satu dengan sabar.
Sambil melakukannya, pikiran Talia masih sibuk membayangkan wujud naga yang dipanggil oleh Ludwig. Naga itu begitu besar dan mengeluarkan hawa panas luar biasa. Kedua mata hewan itu berwarna kuning, nyalang dan berbahaya menatapnya penuh intimidasi. Talia bergidik ngeri. Bayangan dalam benaknya itu membuat sihir anginnya tidak stabil dan alhasil ia pun mengacaukan tumpukan yang sudah dia susun sebelumnya. Talia jadi harus mengulang segalanya lagi dari awal.
Ia melirik Profesor Theia dengan gugup. Sang profesor tampak mencatat sesuatu di perkamennya dengan ekspresi kecewa. Talia sepertinya sudah mengacaukan tesnya hari itu sejak awal. Namun Talia tidak terlalu peduli. Toh ia sudah melakukan yang terbaik di sihir air. Dan dia juga separuh yakin bahwa dirinya akan masuk ke kelas elemen api karena sudah memiliki spirit.
Talia kembali menyusun buku-buku. Teman-temannya memperhatikan gadis itu dengan tenang, seolah menunggu Talia agar segera menyelesaikan ujiannya. Talia sedikit tertekan, tetapi berusaha tidak menghiraukan hal tersebut. Pikirannya kembali pada Ludwig. Pemuda itu membicarakan sesuatu dengan naga. Apa yang dia perintahkan pada naga itu? Apakah Ludwig berniat mengirimkan naga untuk membunuh Talia?
Sekali lagi kekhawatiran merayapi hati Talia. Emosinya kembali bergejolak dan membuat sihir anginnya tidak stabil. Talia terus-terusan membuat kesalahan. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba kembali berkonsentrasi dan mengenyahkan bayangan Ludwig dari benaknya.
Talia sepertinya membuat terlalu banyak kesalahan. Seandainya sang profesor tahu bahwa kegugupannya bukan disebabkan oleh tes terseut.
“Maaf, Profesor. Saya akan melakukannya sekali lagi,” ucap Talia merasa bersalah.
Teman-temannya yang lain mulai saling berbisik. Talia selalu menunjukkan performa yang baik selama kelas elemen sihir angin. Ia jarang membuat kesalahan serupa. Terlebih setelah melihat kemampuan Talia kemarin, teman-temannya mulai berasumsi bahwa Talia mungkin sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.
Talia ingin menyingkirkan segala dugaan itu. Ia merasa jengah karena membuat anak-anak yang lain menunggu giliran terlalu lama. Maka dengan ketetapan hatinya, Talia pun berusaha keras untuk hanya memikirkan ujiannya saja, dan tidak lagi membayangkan tentang Ludwig.
__ADS_1
Ia kembali menyusun buku satu per satu. Ketika sudah berhasil memasukkan seluruh buku ke dalam rak, dan mulai menata meja kursi, mendadak sebuah suara berbahasa asing terdengar di kepala Talia. Itu adalah suara desisan yang sama seperti saat Ludwig berbicara bahasa naga. Talia yakin itu bukan suara Ludwig, karena suara dalam kepalanya terdengar lebih rendah dan parau.
Karena terkejut, Talia tanpa sengaja mengeluarkan energi sihir yang berlebihan. Sebuah tornado mini muncul di tengah ruangan dan justru mengacaukan segala hal yang sudah dia tata. Kepanikan sontak memenuhi ruangan karena kini meja dan kursi kayu itu beterbangan ke segala arah.
Talia pun ikut panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Tornadonya masih berputar dengan hebohnya. Profesor Theia buru-buru melempar perkamen dan pena bulunya, lantas mengangkat kedua tangan untuk meredakan tornado. Sebuah meja kayu besar terbang ke arah Talia tanpa bisa dikendalikan. Gadis itu hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha melindungi diri dari benturan.
Dengan sigap, Kyle melompat ke depan Talia dan menghentikan laju lontaran meja tersebut. Meja itu pun berhenti di udara lantas melayang turun secara perlahan. Suasana kacau itu secara berangsur kembali tenang. Namun Talia tahu, bahwa ia sudah gagal dalam ujiannya kali ini.
“Silakan kembali ke barisan, Lady Ortega,” perintah Profesor Theia dengan tegas.
Talia berjalan murung mengikuti perintah sang profesor. Kyle yang ada di sisinya tampak khawatir.
“Apa kau yakin kau baik-baik saja? Elemen angin tidak pernah menyulitkanmu sebelum ini. kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu,” desak Kyle mencoba mengorek informasi.
Talia masih terdiam. Kedua tangannya gemetaran. Apa yang barusan dia dengar? Apa naga itu bicara padanya?
“Hei, Talia … ,” desah Kyle mencoba menyadarkan sahabatnya.
“Ah, maaf, aku … .” Kalimat Talia terpotong karena kali ini Profesor Theia sudah memanggil nama Kyle untuk maju ke depan.
__ADS_1