
Seketika ketegangan menyelimuti mereka bertiga. Kyle mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah sedang menahan amarah yang begitu besar. Sementara Ludwig tetap menatap tajam ke arah sang adik tanpa berkedip. Talia seperti terjepit di antara mereka berdua. Rasanya benar-benar tidak nyaman menyaksikan kedua bersaudara itu bersitegang. Meski begitu, Talia harus mencoba mencairkan suasana.
"Mmm ... bagaimana kalau kita bicara di tempat yang lebih nyaman?" Akhirnya hanya kata-kata itu yang berhasil meluncur dari mulut Talia. Hawa permusuhan antara Kyle dan Ludwig membuat gadis itu sulit berpikir.
"Tidak ada yang perlu kubicarakan pada kalian berdua. Berhenti mengusikku," geram Kyle lantas berniat pergi.
"Aku melakukan kesalahan." Sekonyong-konyong Ludwig mengungkapkan pikirannya.
Kyle sontak berhenti melangkah, meski tetap tidak menanggapi dengan kalimat apa pun. Ludwig kemudian berjalan mendekat dan melindungi Talia di belakang punggungnya.
"Kau pasti membenciku. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Satu-satunya yang kuinginkan adalah agar kau bisa mengendalikan kekuatan gelapmu. Dan kupikir itu bisa terjadi kalau kau tidak berinteraksi dengan orang lain. Tapi aku salah," lanjut Ludwig tenang. Pemuda itu lantas melirik ke arah Talia.
"Anak ini membuatku sadar bahwa caraku memperlakukanmu sudah keterlaluan. Seharusnya aku membiarkanmu mengalami banyak emosi dengan orang lain. Bukan hanya emosi kehilangan, tapi juga suka cita, bahkan kasih sayang. Dengan begitu kau bisa belajar mengendalikan perasaanmu agar tidak tenggelam dalam kegelapan," ucap Ludwig panjang lebar.
Kyle mendengkus keras lantas menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan tajam. "Apa gunanya membicarakan hal itu sekarang? Aku sudah muak pada apa pun rencanamu. Aku tidak peduli alasanmu mengacaukan hidupku selama ini. Kau ingin aku hidup sendirian? Baik. Akan kulakukan," kecam Kyle penuh amarah.
"Kyle, Ludwig tidak bermaksud seperti itu lagi. Dia sudah menyesali perbuatannya dan ingin memperbaiki hubungan denganmu," timpal Talia mencoba menengahi.
Mata nyalang Kyle beralih pada Talia. Seulas senyum meremehkan menghiasi wajahnya yang tampak terluka.
"Konyol sekali karena aku pernah berpikir bahwa kau akan memihakku. Setelah apa yang kita alami bersama, sekarang kau juga menusukku dari belakang, Ortega? Sikapmu membuatku yakin untuk tidak menerima siapa pun lagi dalam hidupku," gumam Kyle.
Talia tercekat. Tanpa sadar ia sendiri sudah menambah luka di hati Kyle dengan sikapnya yang membela Ludwig.
"Apa tidak cukup kau melukainya kemarin? Sekarang kau mencoba menyakiti perasaannya juga?" kecam Ludwig tajam.
__ADS_1
Kyle mendengkus lagi. Kali ini ekspresinya benar-benar penuh cela. "Kau bahkan sudah pernah membunuhnya," geram Kyle sembari melotot.
Ludwig mengernyitkan dahinya tak mengerti. Pemuda itu lantas menatap Talia dengan ekspresi penuh tanda tanya. Talia hanya bisa menghela napas pelan. Ia belum menceritakan kepada Ludwig mengenai kehidupannya yang berulang.
"Kalian ... memang cocok satu sama lain," lanjut Kyle lantas berbalik pergi.
Baik Talia maupun Ludwig tidak bisa mencegah Kyle lagi. Talia kini berada dalam masalah baru karena kata-kata Kyle sudah memancing rasa penasaran Ludwig.
"Apa maksud dia barusan?" tanya Ludwig kemudian.
Talia tidak punya pilihan lain selain menceritakan masa lalunya. Sembari mendesah pelan, gadis itu pun akhirnya berbicara. "Aku sudah pernah mati satu kali. Itu karena seekor naga menyerangku," ungkapnya muram.
Kedua alis Ludwig bertaut. "Naga? Apa maksudmu naga hitam yang ada di lembah?"
"Kau bilang aku sudah membunuhmu di kehidupan yang lalu? Dengan seekor naga? Itu mustahil. Aku punya dua alasan yang bisa menguatkan alibiku, sekalipun kejadian tersebut sebenarnya belum terjadi saat ini," kilah Ludwig yang bahkan tidak terlalu terkejut dengan fakta bahwa Talia mengulang kehidupan. Sihir Kristal teleportasi yang tidak sempurna memang bisa mengakibatkan hal-hal di luar nalar seperti itu, kata pemuda tersebut.
"Apa memangnya?" tanya Talia kemudian.
"Pertama, aku sudah memberitahumu berulang kali kalau hewan-hewan buas itu tidak kuperintahkan untuk membunuh. Aku hanya meminta mereka untuk melukai targetku," ucap Ludwig.
Talia menghela napas sembari melipat tangannya. "Dan bagaimana kau tahu kalau targetmu itu cukup kuat untuk menerima serangan dari hewan buas? Para penyihir pemula seperti kami itu tidak sekuat hewan buas yang kau kirim," protesnya dengan nada merajuk.
"Tentu saja aku menyesuaikan hewan kirimanku dengan kemampuan mereka. Hewan-hewan buas itu juga bisa merasakan energi sihir kalian dan hanya akan menyerang sambil menyesuaikan dengan tingkat pertahanan musuhnya."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu setelah melakukan kejahatan," kecam Talia kesal.
__ADS_1
Ludwig menarik napas panjang, sejenak kehilangan kata-kata. "Aku bersalah. Oke? Aku sudah menyadarinya sekarang. Meski begitu aku bersumpah tidak pernah membunuh siapa pun," ujarnya serius.
Talia hanya berdecak ringan. "Jadi kau ini cuma semacam perundung yang mengancam anak-anak yang lebih lemah darimu," komentar gadis itu.
"Yah, terserah kau menganggapku seperti apa. Aku sudah menyesal dan berjanji padamu untuk tidak melakukannya lagi. Jadi jangan ungkit-ungkit soal itu lagi. Lalu alasan keduaku tentang naga itu adalah bahwa aku sama sekali belum punya cukup kemampuan untuk mengendalikan naga. Aku memang bisa berkomunikasi dengan kaum mereka. Tapi naga punya kecerdasan yang ... bisa kubilang lebih tinggi dari para penyihir sekalipun.
"Naga yang ada di lembah itu adalah salah satu naga yang berhasil dijinakkan oleh Taleus, pendiri Departemen Beast Tamer di masa lalu. Berkat sihirnya, naga tersebut bisa dikurung di area lembah dengan pintu masuk berupa gua. Kadang-kadang kami datang ke tempat itu untuk belajar berkomunikasi dengan naga. Tapi tidak lebih dari itu. Aku pun sesekali berkunjung semata-mata untuk mempertajam kemampuanku," tutur Ludwig panjang lebar.
Talia mencoba mempercayai kata-kata Ludwig tersebut. Tidak ada tanda-tanda kebohongan dari sorot mata pemuda itu. Ludwig juga tidak punya alasan untuk berbohong sekarang.
"Lebih dari itu, naga tersebut tidak mungkin bisa keluar dari batas sihir yang dibuat oleh Taleus. Ia seharusnya tidak bisa terbang jauh dari lembah, apa lagi sampai bisa mencapai akademi. Kami para murid beast tamer saja hanya bisa memasuki area tersebut dengan token khusus. Tidak ada yang bisa menghancurkan sihir pelindung Taleus. Karena itu tidak masuk akal sekali kalau kau bilang dia mengejarmu sampai ke akademi," lanjut Ludwig sungguh-sungguh.
Tampaknya Ludwig memang serius dengan kata-katanya. Lantas kenapa naga itu bisa lepas? Sudah begitu ia pun mengejar Talia seolah ingin menelan gadis itu bulat-bulat. Kini setelah kematian Talia, ia pun kehilangan kemampuan melihat masa depan. Mendadak Talia seperti menyadari kaitan di antara kedua masalah itu. Ia juga ingat ketika melihat masa depan Ludwig yang tengah berbicara dengan sang naga, hewan raksasa tersebut menyadari kehadirannya.
"Lu, aku pernah bilang tentang kemampuanku melihat masa depan yang hilang. Sejujurnya kemampuan itu hilang ketika aku mati karena serangan naga. Lalu, sebelum aku mati, naga itu juga sempat menyadari kehadiranku di proyeksi masa depan yang kulihat melalui sihir. Padahal seharusnya tidak ada siapa pun yang bisa melihatku saat aku ada di masa depan orang lain. Apa mungkin ... itu ada kaitannya?" tanya Talia kemudian.
Ludwig tampak tercenung sejenak.
"Ah! Dan aku ingat. Sehari setelah kejadian tersebut, aku mendengar suara desis aneh. Seperti bahasa yang kau gunakan saat bicara dengan naga itu," tambah Talia cepat-cepat.
Ekspresi wajah Ludwig tiba-tiba mengeras. "Naga itu berniat mencuri kemampuanmu untuk lepas dari kurungan," ucap pemuda itu penuh teror.
"Maksudnya?" tanya Talia belum siap mencerna.
"Akan kujelaskan di perpustakaan. Ayo," ajak Ludwig kemudian.
__ADS_1