
Talia mengikuti Ludwig masuk semakin dalam ke tengah hutan. Suara lolongan hewan buas terdengar dari kejauhan. Meski begitu Talia sudah tidak terlalu takut lagi. Kemarahan sudah menguasainya. Ia tidak bisa merasakan emosi lain selain rasa marah kepada Ludwig.
Meski begitu, Talia sudah mengembalikan Smoke ke alam spirit. Ia sudah melakukan kontrak tepat ketika spirit api itu keluar. Talia meneriakkan nama Smoke begitu saja, hingga kontrak terjalin dengan cepat.
Kini, kekesalannya itu hanya bisa dia pendam sendirian. Ludwig tampak tidak terganggu sama sekali meski Talia terus-terusan menatapnya dengan tajam.
"Kepalaku bisa berlubang kalau ka uterus melihatku seperti itu," guraunya saat berjalan di depan Talia. Gadis itu tak menjawab dan hanya melempar pandangan ke arah hutan yang gelap.
Setelah berjalan sejauh kurang lebih satu mil, mereka pun tiba di sebuah tanah lapang yang ada di jantung hutan. Talia tidak pernah tahu kalau di tengah hutan terlarang itu terdapat lapangan yang cukup luas.
Di tengah-tengah lapangan, menyala sebuah api unggun besar yang menjilat-jilat di udara. Beberapa orang berjubah tampak berdiri mengitari api unggun tersebut dengan mengenakan topeng bergambar wajah-wajah hewan. Ludwig berhenti tepat sebelum memasuki ruangan. Ia mengeluarkan dua buah topeng hitam dari balik jubahnya. Satu bergambar singa, dan yang lainnya bergambar serigala.
Topeng berwajah singa ia berikan pada Talia, sementara Ludwig mengenakan topeng berwajah serigala. Talia menerima topeng tersebut lantas turut mengenakannya. Tak lupa gadis itu pun menaikkan tudung kepala jubahnya agar dapat menutupi wajah. Kini penyamaran Talia sudah sempurna. Ia yakin tidak akan ada yang mengenalinya dalam penampilan itu.
"Ayo kita masuk sekarang," bisik Ludwig sembari berjalan mendahului Talia.
Gadis itu mengikuti dalam diam. Keduanya lantas ikut berdiri dalam barisan para penyihir lain yang sudah ada di sana lebih dulu. Ludwig mendekati seorang penyihir lain yang bertopeng merah dengan wajah rubah. Mereka tampak bercakap-cakap pelan. Talia tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan tersebut karena tersamar oleh suara keretak api unggun. Gadis itu pun tidak berselera untuk berdiri lebih dekat. Ia hanya mematung dua langkah di belakang Ludwig sembari menatap nyala api unggun.
Satu persatu pasangan-pasangan senior-junior bertopeng pun muncul dari balik hutan. Kurang lebih sekitar tiga puluhan penyihir sudah berbaris mengitari api unggun tersebut. Sebagian besar datang berpasangan dengan topeng yang warnanya senada. Akan tetapi ada juga yang muncul sendirian, tanpa junior yang mengikuti. Sepertinya mereka adalah penyihir senior yang anak pilihannya tidak lulus seleksi.
Setelah semua anggota sudah datang dan berkumpul, upacara tersebut pun dimulai. Pertama-tama mereka mengangkat tangan kanan ke arah api unggun lalu mulai mengucapkan sumpah yang sangat panjang. Talia hanya mengikuti dengan malas dari belakang punggung Ludwig. Setelah sumpah selesai diucapkan, sekonyong-konyong api unggun yang ada di depan mereka membasar dan membuat siluet wajah yang mengerikan.
__ADS_1
Talia terkesiap selama beberapa saat. Siluet itu menghilang sama cepatnya seperti saat ia muncul. Talia mencoba mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Akan tetapi, nyala api unggun itu sudah kembali seperti semula.
Setelah prosesi dramatis tersebut selesai, seorang penyihir dengan topeng berwujud burung merak naik ke atas podium tinggi di dekat api unggun. Penyihir itu lantas memulai pidato pembukaan.
"Selamat datang, anggota-anggota baru Taleodore. Kalian adalah anak-anak terpilih yang akan menjadi penerus dari perkumpulan ini. Mulai sekarang, kalian akan menjadi keluarga yang saling mendukung satu sama lain.
"Sesuai dengan sumpah yang sudah kalian ucapkan sebelumnya, dalam perkumpulan ini, setiap pasangan senior dan junior akan terikat dalam satu janji sihir. Selama di Akademi, setiap penyihir senior, wajib melindungi penyihir junior pilihannya. Sementara itu para penyihir junior juga wajib mematuhi perintah penyihir senior yang telah memilihnya.
"Lebih dari itu, segala fasilitas lain yang didapatkan dari perkumpulan ini meliputi: akses pembelajaran luar kelas, buku-buku sihir kuno dan kisi-kisi ujian setiap tahunnya akan di dapat secara otomatis oleh semua anggota.
"Token yang sudah berubah menjadi wujud kekuatan kalian akan menjadi akses permanen untuk memasuki hutan terlarang. Di tempat ini, kalian semua bebas melakukan praktik sihir di luar kelas tanpa melanggar peraturan," terangnya panjang lebar.
Gadis itu menoleh dan mendapati sosok berjubah dengan tubuh tinggi dan topeng ular merah. Ia mengagguk singkat sekadar untuk menanggapi.
"Yang bisa memilih junior dalam prosesi ini hanya para senior tingkat kedua. Karena setiap penyihir hanya diperbolehkan untuk memiliki satu orang junior. Seniorku berasal dari Departemen Alkimia. Kalau kau?" Pemuda itu memaksa untuk terus berbicara dengan Talia.
Talia menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin mengobrol dengan siapa pun. Ia hanya ingin segera kembali ke kamar asramanya saja.
"Apa kau juga tidak tahu siapa yang sudah memilihmu? Kau sangat beruntung kalau begitu," ucap pemuda itu. Talia hanya mendengarkannya sambil lalu, tanpa menjawab apa-apa.
"Kabarnya Kyle Gothe juga sudah dipilih oleh salah seorang senior penyihir di perkumpulan ini. Seniorku yang bilang begitu," lanjut pemuda itu terus berceloteh.
__ADS_1
Sontak Talia menoleh ke arah lawan bicaranya. Ia tak menyangka kalau nama Kyle disebut-sebut di tempat ini. Dengan resah gadis itu melirik ke arah Ludwig yang sepertinya tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Senior itu, yang sedang bicara di podium dengan topeng emas. Luceila Asgard. Dia yang memilih Kyle Gothe sebagai juniornya," terang pemuda itu tanpa basa-basi.
Beruntung Talia menggunakan topeng. Karena kalau tidak, ia pasti akan kesulitan menontrol ekspresi wajahnya. Ia tidak pernah tahu sebelumnya kalau Kyle merupakan anggota perkumpulan rahasia ini. Padahal selama ini Kyle selalu berada di dekat Talia. Jadi bagaimana mungkin Talia tidak pernah tahu?
Perasaan Talia benar-benar campur aduk sekarang. Ia merasa kesal tidak hanya pada Ludwig, tetapi juga pada Kyle. Pemuda itu sudah membohongi Talia di kehidupan sebelumnya. Walaupun kejadian itu sebenarnya tidak relevan jika dikaitkan dengan masa kini, tetapi rasa pengkhianatan itu tetap membuat Talia kecewa.
Ia semakin kesal karena sekarang pun Talia tidak mungkin menanyakan perihal itu pada Kyle secara langsung. Mereka sudah tidak berteman. Dan lebih dari itu, Kyle juga tidak mungkin mengingat kehidupannya yang lalu. Gadis itu lantas mendesah frustrasi. Hidupnya saat ini seperti bergulir keluar jalur. Talia nyaris tidak bisa mengendalikannya lagi.
Di tengah-tengah rasa frustrasinya itu, mendadak Ludwig berjalan mundur dan mendekatinya. Sang pemuda bertopeng ular yang sedari tadi mengoceh di sebelah Talia pun terusir pergi.
"Sepertinya kau sudah punya teman baru," komentar Ludwig yang kini berdiri di sebelah Talia.
Prosesi acara penyambutan masih berlangsung. Kini perwakilan dari anak baru sedang berbicara di podium.
"Aku bicara tanpa kuminta," sahut Talia ketus.
Ludwig mendengkus kecil. "Sebentar lagi acara ini selesai. Bersabarlah," gumam Ludwig kemudian.
Talia mengernyit bingung. Sejak kapan Ludwig menjadi begitu perhatian padanya. Seluruh bulu di tubuhnya merinding mendengar pemuda itu mengucapkan kata-kata lembut padanya.
__ADS_1