
Hari yang ditunggu-tunggu Talia pun tiba. Malam itu bulan purnama bersinar terang. Makan malam sudah usai, dan Talia berasumsi kalau proses seleksi perkumpulan dimulai setelah jam makan malam usai. Ia langsung kembali ke asrama lantas mencari jubah hitam yang biasa dia gunakan untuk menyelinap keluar.
“Ini dia,” gumam Talia sembari mengangkat jubahnya yang memiliki penutup kepala besar.
Gadis itu segera mengenakan jubah tersebut dan menutupi wajahnya dengan rapat. Tak lupa ia membawa Kristal menghilangnya untuk bisa keluar dari asrama tanpa ketahuan. Token berbentuk kelinci emas bermata batu delima turut dia kantongi, entah untuk apa nantinya.
Setelah semua persiapan selesai, Talia pun menggenggam Kristal birunya untuk menghilangkan diri. Setelah memastikan keadaan di luar kamarnya sudah sepi, gadis itu pun mulai menyelinap.
Talia tidak bertemu dengan banyak orang sepanjang perjalanannya. Hanya ada beberapa anak yang bergerombol di lorong lantai dua dan ruang rekreasi asramanya. Talia mengendap-endap tanpa suara melewati rombongan anak-anak perempuan yang sedang asyik mengobrol sebelum pergi tidur. Sepertinya mereka adalah siswi tingkat dua.
Hal yang paling menantang dalam penyelinapan Talia adalah membuka pintu keluar asrama. Pintu keluar itu berada tepat di seberang ruang rekreasi, dimana beberapa anak sedang mengobrol tak jauh dari sana. Pintu asramanya mengeluarkan bunyi derit yang pasti akan menarik perhatian anak-anak itu. Talia harus memutar otak agar bisa keluar tanpa ketahuan.
Hal yang pertama terpikirkan olehnya adalah untuk mengalihkan perhatian rombongan gadis-gadis itu. Talia mengedarkan pandangannya mencari benda yang berpotensi untuk menarik perhatian. Ia pun menemukan sebuah pot bunga besar yang menghiasi sudut ruang rekreasi.
__ADS_1
Sejujurnya Talia tidak ingin merusak tanaman itu, tetapi melihat dari bentuk daunnya, Talia yakin kalau pot itu berisi tanaman Mandragona. Tanaman itu sangat sensitif dan akarnya akan berteriak ketika daunnya disentuh atau mendapat guncangan. Talia bisa keluar dari pintu asrama setelah membuat keributan kecil itu.
Maka sambil berkonsentrasi pada energi sihirnya, Talia pun melambaikan tangannya ke arah pot tanaman Mandragona tersebut. Talia membuat gerakan mencengkeram dan sontak, pot itu pecah berkeping-keping, menimbulkan suara yang mengejutkan semua orang. Talia menggunakan kemampuannya mengendalikan elemen tanah dan membuat pot itu meledak dari dalam. Kini tanah lembab berserakan di lantai, berikut pecahan porselen dari pot tersebut.
Rombongan gadis yang sedang berbincang-bincang di sudut ruangan sontak mengalihkan pandangannya ke arah pot yang pecah itu. Mereka begitu kaget hingga tak sanggup berkata-kata. Tak berapa lama kemudian, suara teriakan melengking akar Mandragona membahana memenuhi asrama. Para siswa di ruang rekreasi itu otomatis menutup kedua telinga mereka karena suara tersebut begitu menyakitkan. Inilah kesempatan Talia untuk kabur. Dengan perlahan ia membuka pintu asrama yang suara deritnya kini kalah oleh teriakan akar Mandragona. Talia segera menyelinap keluar tanpa disadari siapa pun.
Setelah berhasil keluar dari asrama dengan mode menghilang, gadis itu pun segera melesat ke arah hutan terlarang. Hutan itu berada di belakang gedung Departemen Beast Tamer. Talia harus melewati lapangan di sisi danau dan menyeberang menuju gedung Akademi yang sudah gelap.
Beruntung bulan purnama bersinar cemerlang malam itu. Cahaya bulan itu membantu Talia untuk melihat jalan yang harus dia lewati. Sepanjang jalan, Talia tidak bertemu dengan banyak orang. Talia hanya nyaris berpapasan dengan para faun penjaga saat lewat dekat gedung Akademi. Pim Pruxen, faun penjaga Departemen Alkimia tampak sedang mondar mandir di depan gedung akademi. Tak jauh dari sana, Talia kembali bertemu Shif Gnolxot, faun penjaga Departemen Beast Tamer di dekat hutan terlarang.
Setelah berhasil menghindari dua faun tersebut, Talia akhirnya sampai di bibir hutan. Talia berhenti sejenak. Sekalipun ia berhasil melewati penjagaan dua faun, tetapi masalah sebenarnya dimulai di sini.
Hutan terlarang memiliki pelindung sihir yang tidak bisa sembarangan dimasuki oleh pihak yang tidak berkepentingan. Talia jelas bukan orang yang bisa keluar masuk hutan tersebut dengan leluasa. Selain karena ia bukan murid dari Departemen Beast Tamer, Talia juga tidak pernah dibekali akses untuk masuk ke dalam hutan terlarang secara legal. Bila ia nekat melakukannya, Talia hanya akan kembali terlempar berulang-ulang keluar tanpa berhasil mencapai lebih dari dua langkah dari bibir hutan.
__ADS_1
Talia menghela napas sambil berpikir. Anggota perkumpulan tidak mungkin mengundang kandidat ke tempat yang mustahil didatangi. Pasti ada sesuatu petunjuk agar Talia bisa melewati penghalang sihir di hutan terlarang ini. Talia mencoba memikirkan semua informasi yang dia dapat dari Susan kemarin siang, dan pikirannya pun kemudian tertuju pada bros berbentuk kelinci yang dikirimkan padanya melalui surat misterius.
Buru-buru Talia merogoh kantongnya dan mengeluarkan bros tersebut. warna emasnya berkilau tertimpa cahaya bulan, sementara batu delima merah jambu yang tersemat di mata kelinci itu juga terlihat cemerlang. Selama beberapa detik, Talia mengamat-amati token itu sambil berpikir bahwa mungkin benda ini adalah item yang digunakan untuk melewati pelindung sihir.
Mempertimbangkan hal itu, Talia pun menyematkan bros kelinci itu di jubahnya. Setelah terpasang sempurna, ia pun mulai melangkahkan kakinya memasuki hutan dengan lebih percaya diri.
Satu langkah pertama tidak terjadi apa-apa. Talia kembali melangkah, dua kali, tiga kali hingga jauh masuk ke dalam hutan. Perjalanannya mulus, dan ia pun tidak kembali terlempar keluar hutan. Itu artinya, dugaan Talia memang tepat. Bros kelinci itu adalah kunci akses untuk memasuki hutan terlarang.
Dengan hati yang lebih ringan, Talia pun melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan. Pepohonan berbatang raksasa tumbuh rapat di dalam hutan tersebut. kini cahaya bulan tidak lagi bisa menerangi jalan Talia. Ia harus mencari sendiri setapak hutan dalam keadaan gelap, nyaris tak terlihat.
Talia sudah melepaskan genggamannya pada Kristal menghilang. Toh di dalam hutan itu tidak ada siapa pun dan Talia sudah mengenakan jubah hitam yang membuat keberadaannya tersamar. Meski begitu, ia sebenarnya tidak terlalu yakin harus pergi ke arah mana. Hutan itu terlalu gelap dan menyesatkan. Tidak ada petunjuk yang bisa diikuti oleh Talia. Tebih dari itu, ia juga belum pernah masuk ke dalam hutan terlarang itu sebelumnya.
Di tengah kegalauan itu, mendadak sebuah anak panah melesat di hadapan Talia dan menancap begitu saja di depan kakinya. Sontak Talia memekik kaget hingga jatuh terduduk ke belakang.
__ADS_1
“Apa-apaan … ,” desahnya dengan jantung berdegup karena kaget.