
"Bagaimana tesmu?" tanya Kyle pada Leo ketika keempat sahabat itu makan malam bersama di meja Departemen Enchanter.
Dari tiga orang yang baru saja mengikuti tes bakat sihir hari pertama, hanya Leo yang berwajah kusut.
"Kacau ... kacau ... ," gumam Leo meracau. Ia mengacak-acak rambutnya coklatnya yang berkilau itu menjadi kusut.
"Apa kau tidak bisa mengerjakan misinya?" tanya Talia penuh simpati.
"Bukan. Bukan karena itu. Aku justru melakukannya terlalu baik," terang Leo tampak frustrasi.
Talia dan Kyle saling pandang tak mengerti.
"Dia membuat Excalibur." Susan menimpali sambil lalu.
"Excalibur?!" Talia dan Kyle memekik bersamaan dengan terkejut.
"Pedang legendaris itu?" tanya Talia memastikan.
"Replikanya ... ," desah Leo muram.
"Yang paling sempurna," tambah Susan sembari tertawa geli. "Profesor Rilley sendiri yang memuji-muji pedang itu sampai seluruh guru tahu," lanjutnya.
Leo berdecak kesal. "Bagaimana kau bisa tahu segalanya padahal aku belum bercerita apa-apa?" sergah pemuda itu sembari menoleh pada Susan yang duduk di sebelahnya.
Susan menarik sebuah perkamen dari tas kulitnya. "Surat kabar. Jangan lupa aku juga bagian dari jurnalis. Pedang besarmu itu masuk Headlinehari ini. Bintang Masa Depan Kerajaan Ramona. Kau sudah ditahbiskan menjadi blacksmith kerajaan bahkan sebelum memilih kelas penjurusan," goda Susan sembari melambai-lambaikan halaman Surat Kabar Akademi.
"Menyebalkan." Leo mendesis kesal lantas kembali mengacak-acak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Talia meraih surat kabar yang dibawa Susan lalu mulai membaca. Kyle turut membaca dari belakang punggung Talia. Dari artikel tersebut, dijelaskan bagaimana seluruh siswa tingkat pertama di Departemen Alkimia menjalani tes bakat sihir mereka di hari pertama. Mereka diberi tugas untuk membuat benda apa pun yang terpikirkan.
Sebagian besar anak membuat perkakas rumah tangga biasa. Hanya sedikit yang memutuskan untuk membuat senjata, termasuk Leo. Secara kebetulan, senjata buatan Leo berhasil digunakan untuk meghancurkan senjata-senjata lainnya. Karena itulah Leo menjadi siswa terbaik dalam tes tersebut.
"Kupikir kalau membuat senjata, aku mungkin akan gagal. Jaman sekarang, kerajaan nyaris tidak pernah berperang lagi. Hanya wilayah Duke Gothe saja yang sering bertempur melawan monster. Maaf Kyle, tidak bermaksud menyinggung," ujar Leo masih meratap.
Kyle hanya mengangguk-angguk ringan, sama sekali tidak tersinggung walaupun nama keluarganya dibawa-bawa. Toh kata-kata Leo memang benar.
"Dan aku juga tidak tahu kalau seluruh senjata yang dibuat akan diadu. Memangnya itu salahku kalau memiliki keterampilan di luar kehendakku," ratap Leo tak putus-putus.
"Anu ... Leo ... sebenarnya kenapa kau kesal? Bukannya kau menjadi siswa dengan nilai terbaik?" tanya Talia pensararan.
"Tentu saja karena aku tidak ingin masuk kelas menempa. Seharusnya aku melakukan yang terbaik saat ujian membuat ramuan. Ah, aku memang akan melakukan yang terbaik, sih. Tapi tetap saja. Kalau Profesor Rilley menilaiku secemerlang ini di ujian menempa, bisa-bisa aku benar-benar akan masuk kelas pembuat barang sihir," keluh Leo lagi.
"Sudahlah, Dean. Dengan rajin menempa, otot-otot kecilmu itu mungkin akan tumbuh semakin liat. Anggap saja kau membuat senjata sekaligus membentuk tubuh. Para ahli pembuat benda sihir biasaya bertubuh bagus," hibur Susan sembari menepuk-nepuk punggung Leo.
"Sama sekali tidak menghibur, Susan. Kulitku akan terbakar karena selalu di depan tungku raksasa. Tanganku kasar karena terus menempa. Sudahlah," ujar Leo murung.
"Yah, terima kasih, Talia. Kalian sendiri. Bagaimana tesnya?" Leo balik bertanya.
"Sejauh ini lancar. Kyle membuat sepetak Black Rubwort yang sangat subur. Kurasa itu setara dengan hasil panen selama satu tahun," kisah Talia geli.
"Yah, kau juga membuat banyak tunas Pink Poppy. Para alkemis bisa membuat ratusan botol ramuan cinta setelah ini," sahut Kyle ikut tertawa.
Mereka berdua pun tertawa bersama-sama mengingat kejadian pagi tadi. Masih ada tiga hari tes lagi bagi mereka berdua.
"Sepertinya kalian bersenang-senang," komentar Leo iri.
__ADS_1
Talia dan Kyle langsung merasa bersalah.
"Sudah, sudah. Sebaiknya kita segera berangkat tidur saja. Masih ada hari esok yang harus dijalani. Kalian masih harus melakukan tes lain besok. Mari kita kembali ke asrama," ujar Susan menengahi.
Pembicaraan mereka pun akhirnya selesai. Keempat sahabat itu kembali ke asrama untuk beristirahat. Talia berpisah dengan Susan di depan kamarnya. Setelah selesai mandi dan berganti piyama, gadis itu pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Karena kelelahan, Talia pun segera terlelap.
Awalnya, gadis itu tidak memimpikan apa-apa. Namun lambat laun, mimpinya muncul. Talia tengah berada di sebuah bukit yang tampaknya tidak asing. Bukit itu sepertinya pernah dia datangi, tetapi tidak dalam keadaan sadar.
Talia menyapukan pandangannya ke sekitar, lantas menyadari bahwa ia tengah berdiri di bukit tempat Kyle pernah menjatuhkan dirinya di masa depan. Talia sedikit terguncang karena harus kembali mengingat gambaran tersebut. Ia lantas kembali mengedarkan pandangannya. Gedung sekolah terlihat di kejauhan. Rupanya bukit ini masih berada di area Akademi, tepatnya di seberang hutan tempat penangkaran hewan buas milik Departemen Beast Tamer.
Talia menjelajahi bukit tersebut. Ia menyadari bahwa ia kini tengah berada di penglihatan masa depan yang tidak sengaja terjadi dalam mimpinya. Biasanya kejadian semacam ini terjadi jika ada sesuatu hal buruk yang akan menimpanya di masa depan. Semacam ramalan untuk membuat gadis itu waspada.
Saat tengah menyusuri bukit, Talia melihat sosok berjubah gelap yang tak asing: Ludwig Gothe. Pemuda itu berjalan tergesa-gesa menuju lembah yang ada di balik bukit. Talia pun berlari-lari kecil untuk mengikutinya.
"Orang itu lagi," geram Talia sembari terus mengekor pada Ludwig.
Tak berapa lama kemudian, suasana terang di atas bukit berubah remang. Ludwig terus turun ke lembah yang terjal di kaki bukit. Vegetasi di bawah sini sama sekali berbeda dari sebelumnya. Pepohonan tampak kering dan bahkan terlihat hangus dan berasap. Talia tidak pernah tahu kalau di belajang sekolah ternyata ada tempat semacam itu.
Ludwig terus berjalan tanpa ragu. Sesekali beberapa ekor hewan kecil aneh berwarna merah hitam muncul dan berlari mendekati Kyle. Pemuda itu menghentikan langkahnya setiap kali seekor salamander api datang. Mereka lantas berbicara dengan bahasa yang tidak dipahami Talia.
Tak lama kemudian, Ludwig berhenti di depan mulut gua. Hawa panas terasa keluar dari dalam gua tersebut. Talia merasakan ketegangan yang aneh saat melihat pemuda itu berdiri dan mendesiskan bahasa aneh. Mendadak, tanah di area tersebut bergoncang pelan. Suara gemuruh terdengar dari dalam gua.
Talia mundur secara otomatis, tidak siap akan apa pun yang mungkin muncul dari dalam gua. Namun Ludwig tetap berdiri tegak. Ia seolah sedang menunggu sesuatu. Tak lama kemudian, ketika goncangan tanah dan suara gemuruh semakin kuat, dari dalam gua muncul sesosok monster yang sama sekali tidak diduga oleh Talia, seekor naga!
Naga itu bersisik hitam dengan mata kuning yang nyalang. Begitu keluar dari mulut gua, sang naga tersebut melesat terbang satu putaran di atas langit sebelum akhirnya mendarat di depan Ludwig. Dengan patuh naga itu menundukkan kepalanya untuk disentuh oleh pemuda itu. Ludwig berbicara bahasa naga yang lagi-lagi tidak dipahami Talia.
Mendadak, mata naga itu menatap lurus ke arah Talia. Jantung gadis itu seperti mau berhenti. Ludwig pun ikut menatap ke arah mata naga itu melihat. Talia semakin panik karena keberadaan dirinya seperti sudah terungkap.
__ADS_1
"Siapa di sana?" seru Ludwig sembari mencari-cari di belakang punggungnya.
Talia membekap mulutnya, tak sanggup berkata-kata. Detik berikutnya, pandangannya berubah gelap. Ia terbangun di kamar asramanya.