
Gelembung air besar memadat di hadapan Talia. Gumpalan air tersebut lantas berubah bentuk menjadi sosok ikan besar yang melayang-layang di udara. Ikan tersebut kemudian mengalir ke tubuh Ludwig yang dipenuhi api. Seketika seluruh api yang membakar tubuhnya pun padam. Tidak sampai disitu saja, aliran air yang kini melingkupi pemuda tersebut secara perlahan berpendar kebiruan.
Luka-luka bakar yang memenuhi tubuh Ludwig perlahan sembuh dengan sendirinya. Selama beberapa saat pendar biru itu terus menyala hingga akhirnya seluruh kulit Ludwig yang terkena luka bakar kembali seperti semula. Tubuhnya halus seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya jubah dan pakaiannya yang sekarang terlihat compang camping karena bekas hangus terbakar.
Setelah selesai menyembuhkan Ludwig, aliran air tersebut kembali melayang dalam wujud ikan besar berwarna biru transparan. Ikan itu bicara pada Talia melalui telepati di dalam benak gadis itu.
“Apa kau akan menjalin kotrak denganku, Master?” tanya ikan besar itu menatap Talia dengan mata biru yang berkilau.
Air mata Talia masih menggenang. Namun isakannya sudah reda. “Undine. Aku memberimu nama Undine,” ucap Talia tanpa berpikir panjang.
“Baiklah, Master. Silakan panggil aku kapan pun kau membutuhkan,” ucap Undine lantas lenyap menjadi tetesan air yang membasahi tanah di sekitar Talia.
Gadis itu kembali melihat kondisi Ludwig. Ia seperti tertidur di atas tanah lembab. Dadanya bergerak berirama naik turun, menandakan bahwa pemuda itu masih hidup. Talia cemas bukan main. Meski semua luka Ludwig sudah sembuh, tetapi ia belum bisa tenang sebelum Ludwig bangun.
Tiba-tiba jemari Ludwig mulai bergerak-gerak. Pemuda itu membuka matanya dengan perlahan lantas mendapati Talia yang habis menangis.
“Rupanya kau berhasil memanggil spirit keduamu,” komentar Ludwig begitu bangun.
Talia mulai menangis lagi. Namun kali ini karena ia merasa lega. Ia lega karena Ludwig masih bisa berkomentar sarkastis seperti biasanya.
“Kenapa kau melakukan itu?” sergah Talia kemudian.
“Lalu apa aku harus membiarkanmu mati?” Ludwig balas bertanya sembari bangkit dan duduk di atas tanah. Tubuhnya kering meski baru saja dilingkupi air. Ia memeriksa seluruh badannya yang sudah tidak ada jejak-jejak luka lagi.
“Kau bisa menyuruh salamander itu berhenti menyerang,” protes Talia masih dengan air mata berurai.
“Bagaimana dia bisa mendengarku kalau kau membungkusnya dalam gumpalan air?” balas Ludwig keras.
__ADS_1
“Tetap saja … itu berbahaya. Bagaimana kalau kau mati?” ucap Talia sembari mengusap air matanya.
Ludwig mendengkus pelan. “Sekarang kau mencemaskanku? Bukannya kau membenciku? Pilih salah satu,” sahutnya ringan.
“Aku cuma tidak ingin ada orang yang mati gara-gara diriku. Kenapa kau memanggil hewan berbahaya seperti itu.”
“Kau sendiri yang minta. Sudahlah. Kenapa aku jadi harus meladenimu bertengkar,” desah Ludwig sembari berdecak tak sabar.
Talia terdiam sejenak sembari menatap Ludwig lekat-lekat. “Syukurlah kau baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku, dan maaf karena telah membuatmu terluka,” ucap gadis itu lirih.
Ludwig hanya tersenyum simpul. Satu tangannya terulur ke arah wajah Talia, lantas mengusap air mata gadis itu dengan lembut.
“Kalau ingin menjadi kuat, kau tidak boleh berhati lemah seperti ini. Bagaimana kau bisa menghadapi orang lain kalau kau menangis setiap kali musuhmu terluka,” ucap Ludwig sembari tersenyum lembut.
Talia terdiam sejenak. Ia mengamati Ludwig selama beberapa saat hingga akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Ludwig melepas tangannya yang tengah menyentuh wajah Talia. Ia lantas tersenyum simpul sembari menatap gadis itu dengan ekspresi yang sulit dipahami.
“Entahlah. Kau sendiri yang bisa menilai aku orang seperti apa,” jawab pemuda itu.
...***...
Peristiwa di hutan terlarang membuat Talia sedikit trauma. Menyaksikan tubuh seseorang terbakar hidup-hidup membuat gadis itu merasa ngeri. Ia memimpikan hal tersebut hingga beberapa malam setelahnya. Meski begitu, kini Talia sudah berhasil menguasai spirit air yang dia beri nama Undine. Talia beberapa kali memanggil Undine di kamarnya untuk bercakap-cakap.
Dalam versi kecilnya, Undine serupa ikan lumba-lumba mini seukuran telapak tangan. Kehadiran spirit itu membuat udara di sekitar Talia terasa sejuk. Berberda dengan Smoke yang bisa menghangatkan temperatur, bahkan memanggangnya seperti duduk di sebelah tungku besar. Smoke yang mengetahui bahwa Talia telah memiliki spirit baru langsung protes terhadap kebijakan Talia memilih nama.
“Kau memberinya nama yang penuh makna, tapi kenapa namaku berarti asap – Smoke!” hardiknya kesal. Talia hanya tertawa setiap kali Smoke membicarakan hal tersebut.
__ADS_1
Selain dari protes Smoke itu, tidak ada lagi masalah lain yang terjadi. Kyle, Susan dan Leo justru semakin akrab dengannya. Mereka berempat selalu berkumpul saat jam makan atau pun di waktu-waktu senggang lain. Mengobrol bersama di ruang rahasia dimana Talia untuk pertama kalinya menunjukkan Undine pada mereka.
Susan dan Leo langsung memberi selamat pada Talia. Namun Kyle justru tampak terganggu. Talia sengaja menyembunyikan fakta tentang bagaimana ia mendapatkan Undine. Akan tetapi insting Kyle yang begitu tajam akhirnya memaksa Talia mengaku pada pemuda itu. Kyle menarik Talia dari kerumunan dan membawa gadis itu bicara empat mata di koridor sepi.
“Jujurlah. Bagaimana kau bisa mendapatkan spirit air itu?” tanya Kyle serius.
“Kenapa kau tidak mempercayaiku? Aku mendapatkannya saat berlatih sendirian di asrama,” kata Talia bersikeras.
“Jangan berbohong, Talia. Spirit air hanya bisa dipanggil dalam situasi yang membutuhkan pertolongan. Kenapa kau bisa terluka parah sampai spirit itu bisa muncul?”
Talia tertegun sejenak. “Jadi selama ini kau tahu cara memanggil spirit itu, Kyle?” tanyanya tak percaya.
Kyle menghela napas tak sabar. “Aku hanya tidak ingin kau berada dalam situasi berbahaya sampai terluka parah,” kilah Kyle beralasan. “Sekarang bukan itu masalahnya. Katakana padaku bagaimana sebenarnya kau bisa memanggil Undine?” lanjutnya tegas.
Didesak seperti itu, akhirnya Talia pun mengaku. Tidak bisa dibayangkan bagaimana marahnya Kyle mengetahui hal tersebut.
“Dari semua orang, kenapa kau meminta bantuannya? Kau bisa mati, Talia Ortega,” sergah Kyle penuh emosi.
“Tapi dia menyelamatkanku, Kyle. Ludwig yang nyaris kehilangan nyawa gara-gara aku,” sahut Talia mencoba menjelaskan situasi yang dialaminya pada malam tersebut.
“Itu karena dia sengaja memanggil hewan yang berbahaya. Orang itu mungkin memang sudah merencanakan semuanya dari awal.”
Talia memutar matanya tak sabar. “Bagaimana mungkin ada orang yang merencanakan hal gila berbahaya mengerikan seperti itu untuk dirinya sendiri?”
“Kau sendiri tahu bagaimana gilanya orang itu. Berhentilah membelanya. Apa kau sudah melupakan semua perbuatan orang itu di masa lalu? Dia bahkan mencoba melukai Leo,” ucap Kyle.
Talia kembali tercenung. “Kau … mengetahuinya?” tanya gadis itu.
__ADS_1
“Orang gila mana yang bisa mengirim seekor monster bertentakel masuk ke akademi dan tidak mendapat hukuman?” Kyle balas bertanya. “Dengarkan aku, Talia. Dia orang yang berbahaya. Berhetni menemuinya. Jangan berhubungan lagi dengannya untuk masalah apa pun,” lanjut Kyle tampak cemas. Talia hanya bisa menarik napas panjang. Menurutnya, semua anggota keluarga Gothe sama-sama berbahaya. Baik Ludwig, atau pun Kyle.