
"Kurus! Cepat lari kedepan!"
Seorang anak kurus dengan napas tersengal-sengal dan kaki yang gemetar, berlari susah payah masuk ke kotak penalti lawan, ia berusaha dengan segenap tenaganya untuk mengatasi rintangan dan posisi bertahan lawan, dengan penuh tekad menerima umpan lambung dari rekannya.
Namun, umpan panjang dari tengah lapangan itu meluncur deras seperti peluru, tidak selaras dengan kecepatan lari dari anak kurus itu yang tampak kewalahan dan terlalu lambat untuk menjangkau bola tersebut. Bahkan demi mempercepat larinya, ia mengerahkan seluruh tenaganya sampai melewati batas kekuatan larinya yang membuatnya terhuyung dan akhirnya terjatuh berguling-guling ke tanah dalam kelelahan yang menyedihkan.
"Ba ha ha ha ha!"
Semua teman-temannya di tim tertawa dengan penuh cemoohan dan kekejaman, merendahkan cara berlari dan jatuhnya dari anak kurus itu, menambahkan rasa malu yang memilukan dalam hatinya.
"Lucu sekali melihat kamu berlari, Al!"
"Tengkorak mana bisa lari. Ketiup angin aja terbang! Dasar tengkorak hidup! Makanya jatuh kamu!"
Tengkorak hidup adalah sebutan untuk Alfie, seorang anak remaja yang terlihat sangat kurus sekali sehingga semua tulang di tubuhnya hampir terlihat dengan jelas seperti kekurangan gizi, memperlihatkan kondisi fisiknya yang rapuh dan rentan, menyiratkan betapa rendahnya rasa empati dan kekejaman dari teman-teman satu timnya.
"Dia pasti sengaja memberi umpan panjang yang cepat seperti itu," gumam Alfie hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Lain kali sebelum bertanding makan dulu Al, ha ha ha!
"Dia sudah makan, tapi nggak jadi daging cuma jadi angin, ha ha ha!"
Semua hinaan selalu terlontar dari semua teman-temannya yang kejam dan tidak memiliki belas kasihan, hanya karena fisiknya yang kurus, mengungkapkan betapa dangkalnya pandangan mereka terhadap bentuk fisik yang sebenarnya, menghancurkan rasa percaya diri dan meruntuhkan harga diri Alfie dalam keadaan yang lebih terpuruk.
__ADS_1
Pritt!!!
"Baiklah latihan selesai!"
Pelatih meniup peluit tanda berakhirnya sesi latihan sepak bola di Regina High School, Jakarta, sambil memberikan instruksi terakhir kepada para pemain untuk berkumpul di tengah lapangan dan memberikan umpan motivasi. Sementara raut kelelahan dan kekecewaan terpancar dari wajah Alfie yang masih terduduk sendiri di tengah lapangan, tersisa kesedihan dan pertanyaan tentang tempatnya dalam tim.
***
Sore hari langit tampak gelap ditutupi awan-awan kelabu yang semakin tebal, menimbulkan hujan yang perlahan turun dengan tetesan air yang menyentuh wajah Alfie, namun ia tetap gigih mempercepat laju sepedanya pulang menuju ke rumahnya, ia dengan lihai meliuk-liuk dengan keahlian yang seakan menari di antara jalanan yang dipenuhi dengan mobil dan motor yang berlalu lalang, seolah-olah menciptakan harmoni antara gerakan sepedanya dan irama keriuhan lalu lintas, menampilkan aksi penuh keberanian dan keanggunan di tengah kondisi cuaca yang mempengaruhi jalan yang licin dan tidak ramah.
Tampak sebuah mobil yang melaju sangat kencang dengan lampu sorot yang terang memotong kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan yang terburai di sekitarnya, mobil itu lalu menyalip motor yang sedang melaju sangat pelan, menyusul melewati garis-garis pembatas jalan dengan arogansi yang memperlihatkan kecerobohan dan ketidakpedulian terhadap keselamatan di tengah kerumunan kendaraan, kecepatan yang tak terkendali dan tanpa memberikan cukup ruang bagi kendaraan lain, menghadirkan atmosfer tegang dan meningkatkan risiko kecelakaan di tengah situasi lalu lintas yang padat.
Sheengg!!!
Cuaca semakin memburuk, hujan pun semakin deras dengan tetesan air yang membentuk gumpalan-gumpalan lebat, menghalangi pandangan dan menimbulkan bunyi gemuruh yang menggema di sekitar, namun, Alfie tampak semakin bersemangat melajukan sepedanya. Ia melepaskan tangannya di setang sepeda, lalu dihempaskan ke atas, dan berteriak, menggambarkan kebebasan yang merayap di dalam jiwa yang tak terbendung, semangat pemberani yang tak tergoyahkan dan keinginan yang kuat untuk menaklukkan tantangan dalam cuaca yang tidak bersahabat, seakan-akan menjadi satu dengan elemen-elemen alam yang bergemuruh di sekitarnya.
"Tuhan! Apa salahku sehingga Kau memberikanku tubuh yang sangat kurus ini!"
Seorang wanita tua terlihat menyeberang dengan langkah gemetar dan ragu di lintasan yang akan dilalui oleh Alfie, wanita tua dengan payung yang goyah melebar berjalan perlahan menuju ke sisi trotoar yang ingin ia tuju. Alfie terkejut melihat ada seorang wanita tua yang tiba-tiba muncul di hadapannya, matanya terbelalak sangat lebar, tangannya langsung kembali mencengkram stang sepedanya dengan erat, hatinya berdebar cepat dalam kebingungan dan kewaspadaan yang mendadak terpampang di wajahnya, menggambarkan kepanikan dan ketegangan yang melanda dirinya dalam menghindari tabrakan yang mungkin terjadi dengan wanita tua tersebut.
“Aaaa!!!”
Beruntung ia dapat dengan cekatan membelokkan sepedanya dengan refleks yang tajam dan lincah, menghindari dengan sempurna tabrakan yang tak terelakkan dengan wanita tua itu, perasaannya sangat lega karena kembali terhindar dari kecelakaan yang hampir terjadi di depan matanya, seolah-olah napasnya kembali terasa segar dan kehidupan terasa berharga, seiring dengan rasa syukur yang memenuhi dadanya karena berhasil melindungi wanita tua tersebut dan menjaga keselamatan keduanya dalam momen yang penuh kejutan dan adrenalin.
__ADS_1
Akhirnya ia sampai di depan rumahnya yang teduh, langit masih diliputi oleh awan kelabu yang menandakan hujan belum berhenti sepenuhnya, laju sepedanya diperlambat dan turun berjalan di halaman depan sambil mendorong sepedanya, merasakan tetesan hujan yang masih basah di wajahnya, langkahnya penuh dengan kelelahan namun dipenuhi dengan kepuasan setelah melalui perjalanan yang penuh dengan tantangan, dan dengan perlahan ia berjalan di halaman rumahnya.
Dhuarr!!!
Sebuah petir tiba-tiba muncul dan menyambar kepalanya dengan cahaya menyilaukan dan suara gemuruh yang memekakkan telinga, membuatnya seketika jatuh sempoyongan ke tanah dan pingsan. Tak lama kemudian, ia tersadar lalu berdiri kembali dengan terhuyung-huyung masuk ke dalam rumahnya, wajahnya mencerminkan kebingungan dan kecemasan setelah mengalami kejadian yang menakutkan, dalam keadaan yang masih terguncang dan tubuhnya bergetar akibat insiden yang mengejutkan tersebut, mencari perlindungan di dalam rumah yang memberikan rasa aman dan ketenangan setelah mengalami momen yang penuh dengan kejutan dan bahaya.
"Ma, Alfie pulang!"
"Alfie, kamu kehujanan yah sayang? Ko, kamu jalannya kaya orang yang baru kesamber geledek?"
"Aku memang tadi kesamber petir ma."
"Ha ha ha! Mama cuma bercanda sayang. Hujan memang lebat tapi nggak ada petir sama sekali dari tadi."
"Nggak ada petir? Jelas-jelas tadi ada petir," gumam Alfie.
***
Alfie menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya, lalu memejamkan matanya untuk beristirahat sesaat.
Ding!
[Sistem telah selesai diaktifkan]
__ADS_1
"Hah, suara apa itu?"