Sistem Sepak Bola : Penyerang Terhebat

Sistem Sepak Bola : Penyerang Terhebat
BAB 3. Sekarang Aku Tahu


__ADS_3

Terlihat Alfie yang sedari tadi duduk di kelasnya dengan tatapan kosong dan wajah yang serius, saking seriusnya ia tidak menyadari bahwa ada anak baru yang baru saja datang dengan perhatian yang berlebih, anak remaja itu adalah Leo, yang saat ini sudah duduk di kursi samping kirinya, menciptakan keadaan yang berdampingan antara dua jiwa yang terbungkus dalam misteri dan kehampaan yang saling melingkupi.


"Astaga! Bagaimana cara menekan fitur menu ini!!!" Alfie berteriak lalu menjatuhkan kepalanya ke meja dengan suara benturan yang keras, menggambarkan rasa frustrasi dan kebingungannya yang memuncak dalam situasi yang tampaknya sulit dihadapinya.


Semua murid yang ada di kelas terkejut mendengar teriakan dan benturan kepala Alfie ke meja, menyulut kegaduhan di ruangan yang tadinya sunyi, dengan sorotan tatapan penuh keanehan yang mengarah pada Alfie yang tampaknya sedang berjuang dalam situasi yang membingungkan.


“Ya ampun, si anak aneh, kenapa dia?”


“Sudah biarin aja nggak usah di peduliin.”


Perhatian para murid sesaat berpindah kepada Alfie, setelah itu Leo kembali menjadi pusat perhatian lagi, menciptakan ketertarikan yang tumbuh di antara mereka, dengan rasa ingin tahu yang semakin membara terhadap dua sosok yang terlihat begitu berbeda namun terhubung melalui misteri yang mengelilingi mereka.


Sepulang sekolah Alfie kembali berjalan bersama Shena, ia kembali melihat game yang dimainkan oleh Shena, dan kali ini ia memberanikan diri untuk bertanya, “Sen, game apa yang kamu maenin itu?”


“Ini game hero-hero gitu kita naekin level hero kita.”


“Naekin level?” tanya pelan Alfie


“Iya, ini game lagi viral, setiap hero punya sistem masing-masing untuk naekin level, masa kamu nggak maenin juga?”


“A-aku nggak suka maen game, Sen”


“Iya kamu mah sukanya tidur, Al.”


***


Malam hari, terlihat Alfie sedang rebahan di kamar tidurnya, sambil menatap langit-langit kamarnya yang dilapisi dengan warna biru lembut, menciptakan suasana yang menenangkan dan menghadirkan perasaan seakan berada di bawah langit malam yang tenang.


Ia mengingat kembali ucapan dari Shena, lalu bergumam dalam hati, "Di game ada Hero yang harus ditingkatkan levelnya dan setiap Hero mempunyai sistemnya sendiri-sendiri."


"Hmm, sistem yah? Apakah diagram yang mengambang di depan mata ku ini merupakan sistem yang aku miliki."


"Namun, kalau ini sistem punya ku. Kenapa aku nggak bisa untuk ngegunainnya! Cuma buka menu aja aku nggak bisa!"

__ADS_1


"Sistem! Sistem apa ini!!!"


[Sepak Bola]


"Hah! Ko ada suara di kepalaku? Suara apa itu?"


"Tunggu dulu. Tadi aku bilang apa yah?"


Alfie berpikir sejenak, dan tak lama kemudian, "Aku tahu!!!"


"Sistem! Buka menu."


Tiba-tiba tampilan diagram yang mengambang di matanya berubah, menjadi tampilan menu.


"Akhirnya aku tahu bagaimana cara memakai sistem yang ada di dalam tubuhku, yaitu dengan mengatakan awalan Sistem dulu, sekarang kebuka juga menunya"


"Sistem. Pilih Keluar."


"Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas juga."


***


Sore hari yang cerah dengan sinar matahari terik memancar di lapangan sepak bola tempat berlatih para murid yang bersemangat, terlihat seorang pelatih yang sedang berbicara kepada 5 anak remaja yang ada di hadapannya, memberikan arahan teknik serangan dan strategi permainan.


Pelatih itu bernama David, pelatih yang baru saja masuk di Sekolah Regina High School dan melatih semua pemain sepak bola dari sekolah ini. Ia adalah seorang pelatih yang sangat ambisius dan berdedikasi, ia sangat menyukai permainan sepak bola gaya menyerang dengan fokus pada kombinasi serangan cepat dan umpan-umpan akurat untuk mencetak gol, sekaligus mengembangkan keterampilan teknis dan kecerdasan taktik para pemainnya, dengan tujuan membawa tim mereka meraih prestasi tinggi dalam kompetisi-kompetisi sepak bola yang akan datang.


David merupakan mantan pemain Tim Nasional Indonesia, namun belum pernah sekalipun bertanding karena ia merupakan pemain cadangan mati yang tidak pernah dimainkan sama sekali, tetapi pengalaman dan pengetahuannya dalam dunia sepak bola telah membekas dalam pendekatan pelatihannya yang penuh kebijaksanaan dan pemahaman mendalam terhadap permainan.


Di hadapannya saat ini terdapat 5 orang remaja yang merupakan penyerang dari Sekolah ini, mereka adalah Leo, Alfie, Dicky, Tonny dan Tommy.


"Tommy dan Tonny, kalian berdua sudah kelas XII dan pemain senior di sekolah ini. Coach mau tahu, apa motivasi kalian untuk menjadi seorang penyerang hebat?"


"Aku ingin menjadi seperti Cristiano Ronaldo! Karena aku mempunyai kecepatan lari yang kencang! Tidak ada yang bisa mengejarku ketika aku dengan menggiring bola!" ucap Tommy dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Aku ingin seperti Mbappe, karena dia mengidolakan Cristiano Ronaldo, sama sepertiku yang mengidolakan kakak kembar ku Tommy," ucap Tonny dengan wajah yang bangga menatap ke wajah Tommy kakak kembarnya.


"Dicky kamu adalah murid kelas XI, termasuk senior di sini. Apa motivasi kamu menjadi seorang penyerang?" tanya Coach David.


"Kalau aku ingin seperti Lionel Messi, karena ia dengan tubuhnya yang pendek bisa dengan cekatan melewati para bek-bek lawan dengan mudah, sama sepertiku kecil-kecil cabe rawit!" ungkap Dicky dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Bagus masing-masing memiliki idola yang bisa meningkatkan passion kalian untuk menjadi penyerang. Sekarang Leo dan Alfie yang merupakan murid baru di sekolah ini. Apa motivasi kalian untuk menjadi seorang penyerang?"


"Aku tidak mempunyai idola. Aku mengidolakan diriku sendiri!" ucap Leo dengan wajah angkuh.


Mendengar ucapan Leo, Coach David sebenarnya sangat kesal, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tahu Leo merupakan anak pemilik sekolah dan harus menjaga sikap profesionalnya, meskipun ia merasa perlunya mengajarkan nilai-nilai kerendahan hati dan penghargaan terhadap idola-Idola yang menginspirasi dalam perjalanan menjadi seorang pemain sepak bola.


"Menurutku para pemain besar seperti Ronaldo dan Messi bisa menjadi legenda. 99 persen karena usaha dengan latihan intens yang terus menerus dan hanya 1 persen bakat!"


"Aku akan terus berlatih tanpa henti sampai melewati batas ku! Dan akan ku taklukan seluruh bek dari negara lain untuk menjuarai Piala Dunia!" Lanjut Leo.


"Ba-baiklah. Kalau kamu Alfie? Apa motivasi mu? Kalau kamu pasti punya idola kan?" tanya Coach David.


"Kalau aku, emm, itu, a-apa yah?"


***


Sebelumnya, ketika Alfie baru saja masuk ke Regina High School, ia dipanggil oleh seorang guru pembimbing untuk membantunya menentukan ekstrakurikuler apa yang mau diambil oleh Alfie


"Alfie, kamu mau ikut ekstrakurikuler apa? Sepertinya nilai-nilai kamu di SMP bagus dalam matematika."


"Kamu bisa memilih klub Matematika, Program Kalkulus, Komputer ilmu data dan Tim debat persuasi. Nanti kamu tinggal contreng saja mana yang akan kamu pilih yah."


Tiba-tiba Kepala Sekolah memanggil Guru pembimbing itu.


"Alfie kamu tunggu sebentar yah, ibu di panggil kepala sekolah."


"Hah, baik Bu."

__ADS_1


__ADS_2